
"Ayo kita minum Hen, kita rayakan keputusan mu untuk menikah. Pokoknya malam ini aku yang traktir semua. Kalau kamu ingin kehangatan wanita juga boleh, untuk pertama dan terakhir, apa kamu tidak penasaran Hen? Nanti, jika sudah terikat pernikahan, nggak mungkin bisa lagi seperti ini," ucap Gara.
"Maaf Bung! Kami tidak minum dan tidak memerlukan kehangatan wanita. Jadi tolong, singkirkan ini. Kakakku tidak memerlukan ini lagi!" ucap Hans.
"Wow, ternyata kalian sama ya, kakak beradik punya prinsip yang sama," ucap Gara.
"Maaf Gar, aku tidak minum alkohol lagi, jika boleh aku minta dia gelas orange jus saja," ucap Mahen.
"Oh, tentu. Nona! tolong bawakan orange jus 2 gelas dan bawakan sekalian makanan ringan ya!" pinta Gara kepada waitres yang mengantar minuman tadi.
Waitres pun menjawab, "Baik Tuan Gara, ada tambahan lagi Tuan," ucap sang Waitres.
"Cukup itu dulu, nanti jika butuh sesuatu lagi aku panggil kamu," ucap Gara kepada Nona Waitres.
Gara menuang minuman ke dalam gelas, lalu menyesapnya, Hans yang tidak suka dengan bau minuman beralkohol segera memalingkan wajah dan menutup hidungnya.
Hans merasa pusing karena menurutnya baunya sangat tidak enak, tapi demi menemani sang kakak, dia terpaksa tetap bertahan duduk di sana.
Dulu Hans pernah kalah bertaruh dengan teman-temannya dan hukuman yang diberikan adalah minum alkohol sampai mabuk. Itulah kali pertama dan terakhir Hans mengenal minuman keras.
Saat itu dia merasa mulutnya menjadi kering dan sangat bau, keringat serta urine nya juga berbau asam. Dari kejadian itu Hans tidak pernah lagi menyentuh yang namanya minuman beralkohol.
Gara yang melihat hal itupun berkata, "Kamu belum pernah ya minum minuman seperti ini? sungguh nikmat," ucap Gara.
"Sudah, tapi aku memang tidak suka," jawab Hans.
Ketika Gara hendak menuang minumannya lagi, seorang wanita seksi datang menuangkan minumannya sambil bergelayut manja di lengan Gara dan mencium Gara.
__ADS_1
"Tuan Gara, biar aku saja yang menuangkannya," ucap wanita itu dengan manja.
Kemudian dia berkata lagi, "Selamat malam Tuan Mahen. Oh ya Tuan, siapa pemuda tampan yang ada di samping Anda? Boleh dong dikenalkan ke Saya," ucap wanita itu dengan nada genit.
"Kamu jangan ganggu dia. Tuan Hans sama seperti Tuan Mahen, dia kesini hanya sekedar ingin duduk dan menenangkan diri. Jadi jika kamu tidak ingin mereka usir, duduklah baik-baik dan temani aku saja," ucap Gara.
Hans jijik melihat kegenitan wanita club seperti itu, terlalu murahan baginya, daripada dia muntah di sana, lebih baik dia keluar dari tempat itu.
Maaf Hen, aku tunggu kamu di mobil saja ya, tolong jangan terlalu lama, aku masih harus membeli sesuatu," ucap Hans.
"Oh ya Tuan Gara, saya permisi keluar dulu. Senang berkenalan dengan Anda," ucap Hans.
"Jus nya belum datang Tuan Hans, kenapa Anda malah pergi?"
"Nggak apa-apa, biar Mahen saja yang habiskan, lagipula saya masih kenyang," ucap Hans.
Kemudian Hans keluar, perutnya mual, rasanya dia ingin muntah. Saat dia memegangi perut dan mulutnya seseorang datang menghampiri dan menyodorkan seloki air lemon.
"Minumlah Tuan, aku tahu Anda tidak terbiasa kesini. Itu untuk mengurangi rasa mual Anda, mudah-mudahan bermanfaat," ucap gadis itu.
"Terimakasih," ucap Hans.
"Jika Anda tidak tahan dengan aroma tersebut, kenapa Anda datang kesini?"
"Terpaksa, demi menemani kakak Saya," ucap Hans.
"Maksud Anda, Tuan Mahen kakak Anda?" tanya gadis waitres.
__ADS_1
"Iya, memangnya kamu kenal baik dengan kakak Saya?" tanya Hans.
"Nggak begitu dekat Tuan, tapi saya tahu, Tuan Mahen orangnya baik. Tuan mau minum tapi yang kadar alkoholnya rendah dan Tuan tidak suka wanita-wanita di sini mendekatinya. Tuan selalu menjaga jarak dengan semua wanita termasuk saya."
"Oh, syukurlah jika begitu," ucap Hans.
"Kamu kulihat gadis baik-baik, kenapa mau bekerja di tempat seperti ini?" tanya Hans.
Terpaksa Tuan, Saya membutuhkan pekerjaan, hanya tempat ini saja yang mau menerima orang tanpa menanyakan tamatan," ucap waiters tersebut.
"Lagipula gajinya lumayan besar di sini, kadang dapat tips yang lumayan banyak," ucap waiters itu lagi.
"Tapi resikonya terlalu besar, apa kamu tidak takut, jika di ganggu oleh pria-pria hidung belang seperti yang ada di dalam sana?"
"Sebenarnya takut sih, tapi mau bilang apa, jika aku tidak bekerja darimana bayar kontrakan dan biaya sekolah adikku, sementara kami sudah tidak memiliki orangtua lagi."
"Maaf Tuan, kok jadi curhat, saya permisi dulu. Takutnya para pelanggan nanti mencari saya," ucap gadis waitres tersebut sambil berjalan cepat meninggalkan Hansen.
"Hei tunggu! kita belum kenalan!" seru Hans tapi tidak di dengar oleh gadis itu karena suara musik sangatlah kencang.
Hans melihat jam, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dinihari, lalu dia menelepon Mahen agar segera pulang.
Mahen pun setuju, lalu dia pamit dengan Gara dan mengingatkan bahwa, besok tepat jam makan siang, Mahen tunggu di cafe dekat kantor.
Gara mengacungkan jempolnya tanda setuju dan dia pasti datang untuk berkenalan dengan calon istri Mahen.
Mahen pun pergi keluar, lalu dia pergi ke parkiran tapi tidak menemukan Hans di sana.
__ADS_1
"Setelah celingukan kesana kemari, tiba-tiba Hans nongol di belakang Mahen sambil merangkul dan berkata, "Aku di sini lho Hen, ayo kita pulang!" ajak Hans.
Mahen dan Hans pun segera meninggalkan tempat itu. Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah karena Hans sudah tidak berselera untuk membeli makanan.