
Mahen dan Devani sudah kembali ke rumah dan para orangtua pun sangat khawatir melihat ada perban di wajah Devani, lalu mereka bertanya sebenarnya apa yang terjadi sampai Devani bisa terluka.
Keduanya sepakat untuk menyembunyikan kejadian yang sebenarnya, lalu Mahen beralasan bahwa Devani jatuh saat hendak naik ke eskalator karena menolong seorang anak yang hampir saja terjatuh. Sedangkan pelipis Devani terbentur tangga eskalator sekuatnya hingga berdarah dan membengkak.
Saat ini para orangtua pun percaya dengan kebohongan Mahen, tapi kelanjutannya dia tidak tahu jika mereka nanti merasa curiga, yang penting saat ini selamat dari pertanyaan para orangtua.
Sebaiknya kalian istirahat. Hen, antarkan Devani ke kamarnya, lain kali kalian harus lebih hati-hati. Ingat! Pernikahan kalian sudah sangat dekat, jadi jangan sering bepergian, darah manis kalau kata orang-orang," ucap Mama Mahen yang memang asli orang Jawa dan masih kental dengan budaya adat istiadat.
Kalau Papa Emir sih berkebangsaan Turki jadi tidak ada pantangan yang seperti itu. Hal itu hanya naas saja menurutnya.
Mahen pun mengantarkan Devani ke kamarnya, lalu dia memintanya untuk beristirahat. Tapi sebelum keluar, Mahen minta izin kepada Devani untuk bertemu temannya yang sore tadi telepon, Mahen berjanji akan pulang secepatnya.
Devani pun memberikan izin dan berkata, "Tapi kamu harus berhati-hati ya, ingat pesan mama tadi."
Mahen pun mengangguk, lalu dia mencium kening gadis itu sambil berkata, "Tidurlah Sayang, jika butuh sesuatu, minta tolong Mbok Ijah ya, untuk mengambilkan, sampai aku kembali."
"Iya Hen, kamu jangan khawatir, aku bisa kok melakukan semuanya sendiri. Pergilah! nanti kelamaan temanmu menunggu," ucap Devani.
Mahen pun menutup pintu kamar Devani, lalu turun ke bawah untuk pamit kepada para orangtua yang ternyata masih berkumpul di sana.
"Ma, Pa, aku izin keluar sebentar ya!" pamit Mahen.
"Mau ke mana lagi Kamu Nak? Kamu baru saja pulang kok sudah mau pergi lagi? Lihatlah Devani celaka sekarang, malah kamu mau keluar lagi, mama takut nanti terjadi hal tidak baik juga terhadap mu!" ucap mama Mahen.
"Sebentar saja kok Ma! Aku sudah terlanjur janji dengan teman, nggak enak jika menolaknya, sebab sudah sebulan kami tidak bertemu," ucap Mahen.
"Ya sudah pergilah! Tapi ingat jangan terlalu larut pulangnya," pinta Papa Emir.
"Nggak apa-apa lho, Jeng. Masa kita melarang Mahen bergaul, sebentar lagi dia 'kan akan menikah, otomatis pergaulannya juga terbatas. Biarlah malam ini dia bertemu dengan temannya," ucap Mama Intan.
"Nggak lama kok Ma, paling sekitar 1 jam-an lah aku sudah kembali," ucap Mahen lagi.
__ADS_1
"Setelah para orang tua mengizinkan Mahen pun pergi, tapi saat dia sudah diambang pintu, Hans muncul di anak tangga dan bertanya, "Kamu mau ke mana Hen? Aku boleh ikut! Aku ingin membeli sesuatu dan mataku juga belum mengantuk," ucap Hansen.
"Ya sudah ayo, jika kamu mau ikut. Aku juga senang kok, jadi ada teman," ajak Mahen.
"Sebentar ya Hen, aku ambil jaket dulu, tahulah udara malam. Sekarang musim orang sakit, nanti jika aku sakit bisa berabe 'kan?mana acara pernikahan kalian sudah dekat, aku tidak mau melewatkannya karena sakit," ucap Hans.
Hans pun berlari menaiki anak tangga menuju kamar Mahen, karena selama tidur di rumah Andara, Hans tidur bersama sang kakak.
Setelah mengambil jaketnya Hans pun kembali menemui Mahen dan diapun pamit kepada para orang tua sebelum berangkat.
Mahen melajukan mobilnya ke arah club malam, di mana dia telah berjanji untuk bertemu dengan Gara.
Hans heran, kenapa sang kakak malah mengajaknya ke club malam. Kemudian dia bertanya," Memangnya kita mau ngapain Hen datang kesini?" tanya Hans.
"Kamu jangan macam-macam lagi ya! Pernikahanmu sudah dekat, kenapa kamu malah mau berbuat yang aneh-aneh," ucap Hans yang ingin mengingatkan.
"Enak saja, kamu bilang aku mau berbuat aneh? Sudah tenang, ayo ikut! Ada seseorang yang mau aku temuin di dalam sana," ucap Mahen.
"Tenang Hans, Kamu pikir aku sebodoh itu, mau merusak hari bahagiaku. Aku sadar kok, apa yang kulakukan kemaren itu sangat salah, aku beruntung bisa mendapatkan wanita seperti Devani, dia telah menyadarkanku bahwa tindakanku selama ini adalah keliru," ucap Mahen.
"Ayo, tidak lama kok, makanya aku bersyukur kamu ikut, jadi kamu bisa mengingatkanku. Cepat Hans, Gara pasti sudah menungguku," ucap Mahen lagi sambil menarik tangan Hans.
Hans pun mengikuti Mahen, masuk ke dalam Club. Ternyata benar, dia melihat di sana seseorang telah menunggu Mahen.
Gara yang melihat kedatangan Mahen pun melambaikan tangan.
Mahen menghampiri Gara sambil berkata, "Hei! Apa kabar teman. Maaf ya, sudah lama aku tidak ke sini dan tidak memberi kabar padamu, maklumlah keluargaku datang ke Indonesia makanya aku fokus menghabiskan waktu bersama mereka," ucap Mahen.
"Pantas Hen, aku heran kenapa sudah hampir sebulan kamu tidak pernah menampakan batang hidungmu di sini dan aku juga menelponmu, ponselmu tidak aktif. Untung saja aku tadi bertemu Lusy, jadi aku minta nomormu yang lain dari dia," ucap Gara.
"Iya maaf deh. Oh ya, kenalkan ini adikku, namanya Hansen. Dia tinggal di Turki dan menggantikanku mengurus perusahaan orang tua kami saat aku putuskan untuk menetap di Indonesia," ucap Mahen.
__ADS_1
"Wah satu lagi pengusaha muda yang hebat, aku salut dengan kalian. Masih muda sudah jadi pengusaha terkenal, aku jadi iri melihat keberhasilan kalian," ucap Gara.
"Kamu juga bisa jadi pengusaha sukses, aku lihat kerja kamu sangat bagus. Hanya kamu saja yang tidak ingin menekuninya, kalau kamu bersungguh-sungguh Gar, pasti kamu jauh lebih hebat dari kami," ucap Mahen.
"Ah, kamu bisa saja Hen, jadi naik telingaku mendengar pujianmu," ucap Gara.
"Sungguh! Aku tidak main-main, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku akui kerjamu sangat bagus, makanya aku jamin kamu akan menuai kesuksesan, jika serius," ucap Mahen lagi.
"Tapi aku malas Hen, untuk apa aku kerja mati-matian sementara tidak ada yang aku tanggung jawab-in," ucap Gara.
"Makanya, kamu segera cari pendamping, banyak wanita baik kok di dunia ini. Tidak semua wanita itu jahat Gar, seperti mantan istrimu," ucap Mahen.
"Aku masih trauma Hen, Aku rasanya belum siap untuk mencari lagi. Susah cari wanita baik di dunia ini, rata-rata wanita hanya menginginkan harta saja dan mereka pasti juga cari yang lebih gagah dari kita," ucap Gara.
"Jangan pesimis, tidak semua wanita seperti itu. Alhamdulillah, aku sudah menemukan wanita baik dan istimewa, dia yang telah menyadarkanku dan aku bersyukur sebentar lagi dia akan menjadi pendampingku, menjadi Mama dari putriku," ucap Mahen.
"Oh, selamat kalau begitu Hen, kamu beruntung. Perkenalkan dong! Aku 'kan penasaran, wanita seperti apa yang telah membuat Mahen luluh," ucap Gara lagi.
"Mahen yang begitu dingin terhadap wanita, yang mengusir mereka di sini saat mendekat, eh...ternyata sudah menemukan tambatan hati. Pokoknya kamu harus kenalkan aku sebelum kalian menikah," pinta Gara.
"Baiklah, besok siang aku akan ajak dia, kita bertemu di cafe dekat kantor. Lusa kami menikah lho Gar, kamu datang ya! Kami hanya buat acara sederhana saja," undang Mahen.
"Oh, selamat Ya. Aku pasti datang. Jam berapa acara pernikahan kalian?" tanya Gara.
"Jam 9 pagi, awas jika kamu telat," ancam Mahen.
"Beres, aku pasti datang," ucap Gara.
Gara senang, informasi yang ingin Lusy tahu, sudah dia dapatkan. Setelah Mahen pulang, dia akan segera menelepon Lusy untuk memberitahukannya.
Hansen hanya diam mendengarkan percakapan sang Kakak. Selagi masih dalam batas wajar, Hansen tak perlu khawatir, tapi ketika dia melihat seorang waitres membawa beberapa botol minuman, Hansen pun menyenggol lengan Mahen.
__ADS_1
Apakah Mahen akan kembali terjebak dengan minum minuman beralkohol?