BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 84. DI JUAL


__ADS_3

"Kemana kita Gar?" tanya Mahen.


"Bagaimana kalau ke tempat biasa, aku sudah seminggu nggak kesana gara-gara dikirim Papa ku untuk menggantikannya bertemu klien di Malaysia."


"Lho, aku kok tidak tahu kamu pergi ke Malaysia?" tanya Mahen.


"Kamu asyik bulan madu sih, jadi lupa dengan sahabatmu," ucap Gara.


"Kamu bisa saja. Kami baru akan bulan madu nanti Gar, saat Annisa putriku libur sekolah, rencananya mau ke Turki, sekalian menjenguk orangtuaku."


"Wah, jalan-jalan ke Turki! Asyik dong. Kamu memang selalu beruntung Hen, dua kali menikah dan keduanya sama-sama baik dan yang pasti menyayangimu," ucap Gara.


"Kamu benar Gar, aku sangat beruntung tapi cobaan rumah tangga ku berat, aku kehilangan Devina karena kecelakaan dan kali ini aku tidak mau kehilangan Devani karena penculikan," ucap Mahen.


"Iya ya, mudah-mudahan istrimu segera bisa di temukan," ucap Gara.


Mereka sudah tiba di Bar tempat biasa Gara minum. Untuk Mahen, gara memesan jus avocado dan untuk dirinya dia memesan minuman seperti biasa.


Dua wanita langsung menempel ke Gara, mereka tidak berani menghampiri Mahen seperti biasanya.


Kedua wanita itu melayani Gara, menuang minuman ke dalam gelasnya lalu bergelayut manja di lengan Gara.


Sementara Mahen meminum jus yang Gara pesan tadi sembari celingukan barangkali ada sesuatu yang bisa dia jadikan petunjuk tentang hilangnya Devani.


Karena segala kemungkinan bisa saja terjadi, Ditempat ini banyak wanita yang pernah Mahen kecewakan dan tolak, bisa jadi salah satunya sakit hati dan menjadi sang pelaku.


Salah satu pengurus Club datang menghampiri Gara, lalu berkata, "Bos! Aku punya barang baru! Jika Bos ingin cicip dan booking selama seminggu, aku beri diskon dan gratis satu malam."


"Virgin?" tanya Gara.


"Nggak sih, tapi jamin masih oke."

__ADS_1


"Harga masih sama 'kan?" tanya Gara.


"Khusus untuk Bos masih sama, pelanggan istimewa."


"Baiklah, aku ambil. Soalnya lagi pusing nih, sudah seminggu mikirin pekerjaan melulu, butuh penyegaran. Mudah-mudahan yang kamu tawarkan masih segar dan mampu menandingi ku," ucap Gara sambil menyeringai.


"Sip Bos, jadi kapan nih? biar tidak kami tawarkan ke orang lain."


"Mulai malam ini, juga boleh. Ini kunci villa dan kamarku, pembantu sedang pulang kampung, jadi tolong, kalian persiapkan dia di sana serta isi stok makanan di kulkas, jangan lupa kesukaanku ya. Aku tidak akan enjoy jika tidak di mulai dengan minuman. Nanti aku selesaikan biayanya sekalian. Oh ya, mungkin aku agak telat datang, karena masih ingin bersenang-senang bersama temanku," pinta Gara.


Sejak kegagalan rumah tangganya, hidup gara menjadi berantakan, dia tidak peduli mau berapapun uang yang dia habiskan, karena subsidi dari orangtuanya selalu mengalir.


Gara bergonta ganti wanita untuk memuaskan hasratnya. Memang sih dia selalu menjaga kebersihannya dengan menggunakan pengaman saat berhubungan.


Setelah pengurus Club pergi, Mahen berkata, "Berhentilah Gar, jangan seperti ini terus, sangat tidak baik bagi kesehatanmu," pinta Mahen.


"Tenang Hen, aku rutin check-up dan aku selalu pastikan dulu wanita itu benar sehat. Dan tempat ini selalu tahu apa dan seperti apa wanita yang aku mau," jawab Gara.


"Entahlah Hen, susah mencari wanita baik, mungkin aku lebih baik bebas seperti ini daripada terikat cuma di sakiti."


"Kamu terlalu pesimis, masih banyak wanita baik di luar sana, makanya jika kamu ingin mendapatkan salah satunya, perbaiki dulu dirimu Gar, menjadi orang baik," Nasehat Mahen.


Gara hanya tertawa, dia tahu yang dikatakan oleh Mahen memang benar.


Kemudian gara berkata lagi, "Aku akan coba Hen, aku usahakan kali ini yang terakhir. Soalnya aku sudah tidak tahan, kepalaku sakit," ucap Gara.


"Semoga ya, ini yang terakhir bagimu. Sebagai teman, aku tidak mau melihatmu sakit. Kamu pasti bisa bangkit seperti aku dan menemukan tambatan hati lagi, walau saat ini tambatan hatiku masih entah dimana rimbanya," ucap Mahen.


Pengelola Club merasa senang karena Gara menerima tawarannya, lalu dia mengebel Lusy untuk menyampaikan kabar baik tersebut.


"Hallo Mbak Lusy, sudah ada yang membooking wanita yang Anda tawarkan, jadi sore ini bisa kami jemput? Kami harus persiapkan dia dan membawanya ke tempat yang pelanggan kami perintahkan. Mengenai bayaran Anda, setelah kami pindahkan wanita itu, uang Anda akan segera kami transfer."

__ADS_1


"Kamu serius! Ternyata secepat ini, aku bisa mendapatkan keuntungan."


"Oh tentu, kami akan membayar orang yang bisa bekerja secara profesional. Sekarang, tolong sharelok, dan dua orang pengawal ku akan meluncur kesana."


"Oke, jika begitu. Semoga kerjasama kita bisa lancar untuk kedepannya."


Setelah pengurus club menutup panggilannya, Lusy berjingkrak. Dia sangat senang selain bisa menyingkirkan rifalnya, dia juga mendapatkan uang.


Lusy yakin menang kali ini, dia akan menyingkirkan penghalangnya untuk mendapatkan Mahen.


Setelah Devani kotor, pasti dia tidak akan punya muka lagi untuk pulang. Bahkan Lusy berharap setelah itu Devani akan melenyapkan dirinya sendiri karena malu. Dengan begitu dia akan lebih mudah untuk mendekati Mahen dan menjadikan miliknya.


Setelah men-share lokasi, Lusy buru-buru keluar kantor. Dia meninggalkan pesan ke bagian yang melayani karyawan untuk izin keluar selama dua jam, dengan alasan orangtuanya sakit.


Setelah mendapatkan izin, Lusy segera pergi ke rumah tempat dia menyekap Devani. Dia menyetir sendiri mobilnya menuju tempat tersebut.


Ketiga pengawal yang ada di sana sudah Lusy hubungi bahwa akan ada dua orang yang datang untuk membawa sandera.


Devani terkejut ketika pengawal membuka pintu, saat ini belum saatnya untuk mereka mengantar makan siang.


"Bersiaplah Nona, sebentar lagi, Bos akan datang dan memindahkan Anda!"


"Tolonglah Pak, lepaskan Saya! Apapun yang Bapak minta, akan Saya berikan, bahkan Papa dan suamiku, juga bisa memberikan apa yang Bapak mau," mohon Devani.


Kemudian Devani membuka dompet, mengambil uang serta dua kartu ATM. Setelah itu Devani melepaskan cincin serta kalung pemberian Mahen dan mengulurkannya kepada pengawal sambil berkata, "Ini saja cukup untuk biaya hidup Bapak dan keluarga selama 5 tahun, jika kurang, nanti kami akan mentransfer berapa yang Bapak minta," ucap Devani.


Pengawal itupun berpikir tapi kemudian dia menjawab, "Maaf, keselamatan keluargaku lebih penting dari itu. Aku tidak bisa menolongmu! Anak-anak ku masih kecil, aku tidak mau mereka di sakiti dan di bunuh," jawab pengawal tersebut, lalu pergi dan mengunci pintu kamar itu lagi.


Devani menarik nafas dan membuangnya dengan kasar, usahanya untuk keluar dari tempat itu gagal lagi.


Dia hanya berharap, di tempat yang baru nanti, dia bisa memiliki kesempatan untuk kabur, minimal menghubungi suami dan orangtuanya.

__ADS_1


__ADS_2