BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 83. MENCARI PETUNJUK


__ADS_3

Mahen, Papa, Mama, juga Annisa sudah berkumpul di ruang makan. Pagi ini mereka tidak bersemangat untuk makan.


Annisa hanya mengaduk-aduk nasi goreng yang ada di piringnya sedangkan Mahen juga hanya memakannya beberapa suap. Mama dan papa juga tidak menghabiskan sarapannya.


"Kok nggak di makan sarapannya Sayang?" tanya Mahen.


"Nisa mau nasi goreng buatan Bunda Pa," pinta Annisa.


"Sabar ya Sayang. Doain doang, semoga pekerjaan bunda kamu cepat selesai dan Bunda segera pulang," hibur Mama Intan.


"Iya Eyang."


"Ayo bersiap! Nisa 'kan harus sekolah. Itu bekal dan tas nya sudah di siapin simbok, sekarang Nisa ikut Papa ke kamar ya, biar papa yang pakaikan serangamnya," ajak Mahen.


Nisa pun mengangguk, lalu Shena menggendong putrinya, menaiki ana tangga menuju kamar Annisa.


Mahen bertanya, baju mana yang akan Annisa kenakan hari ini karena yang tahu jadwal pemakaian seragam adalah Devani.


Hilangnya Devani sangat terasa bagi Mahen dan putrinya, betapa penting peran istri dan ibu bagi keduanya.


Annisa mengambil pakaian seragam dari dalam lemari pakaiannya lalu berkata, "Biar Nisa yang pakai sendiri Pa, Papa ambilkan saja kaos kaki dan sepatu Nisa."


"Baiklah Nak, sebentar ya papa ambilkan sepatumu dulu."


"Mahen mencari sepatu sekolah Annisa yang terdapat di rak sepatu, lalu dia mengambilkan kaos kaki, setelah itu membantu Annisa untuk mengenakannya.

__ADS_1


Setelah selesai, Mahen pun membawa putrinya untuk pamit kepada Papa dan Mama Andara, baru mengantarnya ke mobil yang telah menunggu di halaman.


Annisa mencium tangan Mahen lalu melambaikan tangan. Mobil yang mengantar Annisa pun perlahan hilang dari pandangan Mahen.


Setelah kepergian Annisa ke sekolah, Mahen berniat keluar untuk mencari info tentang Devani, dia tidak bisa hanya diam di rumah, menunggu, sementara tidak tahu nasib sang istri di luar sana.


"Pa, Ma, aku pergi dulu ya, aku harus mencari Devani, aku tidak bisa hanya diam menanti kabar dari Om Wirya."


"Kamu akan mencari Devani kemana Hen? Sementara tidak ada petunjuk sama sekali," tanya papa Andara.


"Entahlah Pa! yang penting jalan dulu. Barangkali nanti menemukan petunjuk," ucap Mahen.


Mahen bergegas mengambil kunci mobil, lalu pergi ke arena balapan. Mahen ingin menemui Bastian yang kata anak-anak sedang melihat balapan di sana.


Orang tersebut adalah pedagang rokok keliling.


Setelah di mintai keterangan, pedagang itu hanya melihat saat Devani di bekap, lalu di masukkan ke dalam mobil box dan di bawa pergi.


Mahen mengepalkan tangan, dia marah, sebenarnya siapa yang membawa istrinya pergi.


Bastian yang melihat kemarahan Mahen berusaha menenangkan, sambil berkata, "Kita harus tenang Hen, pasti kita bisa menemukan petunjuk lain."


"Baiklah Bas, terimakasih atas bantuan mu, mudah-mudahan Devani bisa cepat kita temukan."


Kemudian Mahen pamit, dia akan ke kantor sebentar, guna mengecek laporan, setelah itu baru berusaha mencari Devani lagi.

__ADS_1


Bastian pun meneruskan kegiatannya, hingga balapan selesai barulah dia kembali ke butik.


Mahen memeriksa laporan dengan tidak konsentrasi, dia menghela nafas berat sambil mengacak-acak rambutnya dan memijat kepalanya. Hari ini Mahen sangat pusing dan terlihat kusut, dia stres memikirkan keberadaan Devani.


Lusy yang memiliki peluang untuk mendekati Mahen, lalu berkata, "Bapak sakit? biar Saya pijat kepala Bapak dan membalurkan fresh care agar terasa ringan Pak. Masalah jangan di pendam sendiri Pak, tapi di selesaikan. Saya bersedia mendengarkan keluh kesah bapak," ucap Lusy.


"Terimakasih, kepalaku memang sakit jadi tolong pijat tapi bawa seseorang kesini sebagai saksi karena aku tidak ingin timbul fitnah," ucap Mahen.


Mau tidak mau, Lusy menuruti permintaan Bos nya, padahal dia sudah sangat senang jika bisa berduaan di ruangan sambil memijat Mahen.


Seorang cleaning service pun masuk di ruangan Mahen, sembari mengelap barang-barang, dia juga sebagai saksi bahwa Mahen membutuhkan bantuan pijatan di kepalanya.


Lusy kesal, rencananya gagal, tapi dia tidak akan menyerah, masih banyak kesempatan untuk berduaan dengan Mahen selagi Devani masih dalam penyekapannya.


Setelah merasa sedikit ringan, Mahen meminta Lusy untuk menghentikan pijatannya, lalu Mahen meminta Lusy untuk membawakannya kopi.


Ketika Lusy pergi ke pantry untuk membuat kopi, Gara datang. Gara ingin mengajak Mahen keluar, sudah lama mereka tidak jalan bareng.


Gara tahu, saat ini sahabatnya sedang stres, makanya dia ingin mmenghibur Mahen.


"Hei, Pak Bos! Ayo kita jalan, aku tahu kamu sedang suntuk," Ajak Gara.


"Ayolah Gar, sekalian aku mau cari info lagi tentang istriku," ucap Mahen sambil membereskan mejanya. Setelah itu mereka pun pergi.


Lusy yang datang membawa kopi kesal, dia diabaikan gara-gara kedatangan Gara.

__ADS_1


__ADS_2