BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 7. MENCERITAKAN KEJADIAN


__ADS_3

"Papa!" teriak Annisa sambil berlari memeluk Mahen.


"Maaf ya Nak, kelamaan ya menunggu," ucap Mahen.


Annisa pun mengangguk, "Memangnya mama kemana Pa? Bukannya tadi, kata Bu guru mama yang akan jemput Nisa?"


"Oh...mama kamu sedang tidak enak badan! Pamit sana kepada Bu guru!" jawab dan pinta Mahen.


Annisa segera menghampiri Bu Lidya, "Bu...Nisa pulang dulu ya! Terimakasih ya Bu, sudah temani Nisa sampai papa datang," ucap Annisa.


"Iya Nisa, jangan lupa kerjakan tugas dan hafalan surat pendeknya ya!" ucap Bu guru.


"Iya Bu," jawab Annisa sambil memberi salam kepada Bu Lydia.


"Maaf ya Bu, gara-gara kami ibu jadi telat pergi ke Dinas," ucap Mahen.


"Nggak apa-apa Pak, jadi bagaimana dengan Bu Devina, apa sudah ada kabar Pak?" tanya Bu Lydia.


"Belum Bu...nanti, jika tidak ada kabar juga, paling saya minta bantuan pihak kepolisian untuk mencarinya dan memeriksa setiap klinik maupun rumah sakit yang searah dengan jalan menuju kesini," jawab Mahen lesu.


"Semoga Bu Devina cepat ditemukan ya Pak!" ucap Bu Lydia.


"Iya Bu, terimakasih sekali lagi. Kami pamit ya Bu," ucap Mahen sambil mengacungkan tangannya kepada Bu Lydia.


Setelah berpamitan, Mahen menggendong Annisa, berjalan menuju parkiran, dimana supirnya menunggu di sana.


"Ayo Pak kita jalan!" perintah Mahen.


Dalam perjalanan pulang, Annisa bertanya lagi, "Tadi Papa bilang sama Bu Lydia, belum ada kabar dari mama, memangnya mama hilang ya Pa?" tanya Annisa.


"Tidak Nak!" kamu sambil menghafal ya, surat pendek yang di suruh Bu guru, Papa mau periksa ponsel dulu, siapa tahu ada panggilan penting dari klien Papa yang belum papa, angkat," ucap Mahen.


Annisa pun menuruti perintah sang Papa, sambil melihat ke arah jalanan diapun mulai membacakan surat-surat pendek dengan fasih.


Sementara Mahen memeriksa ponselnya, berharap ada berita tentang Devina. Dia akhirnya penasaran dengan begitu banyak panggilan tak terjawab dari Devani, adik iparnya.


"Huh...sebenarnya ada apa sih dengan gadis ini! Kenapa tadi, dia telephone aku terus, padahal dia 'kan sedang di kampus mana mungkin dia tahu kabar tentang Devina," monolog Mahen.


"Siapa Pa?" tanya Annisa.


"Oh bukan siapa-siapa, kamu belajar lagi ya, biar makin mahir," ucap Mahen kepada putrinya.


"Oke Papa!" jawab Annisa.


Mahen lalu membuka aplikasi WhatsApp nya, di sana terlihat beberapa pesan dari kolega bisnisnya dan satu pesan dari Devani.


'Ternyata dia mengirim pesan, coba aku buka, apa sebenarnya yang gadis itu inginkan," batin Mahen sambil membuka pesan dari Devani.


Saat membaca pesan itu mata Mahen membulat, tangannya bergetar dan ponsel yang ada di tangannya pun terjatuh hingga membuat Annisa terkejut, lalu bertanya, "Ada apa Pa? ini ponsel Papa," tanya Annisa sembari mengambil ponsel dan memberikannya kepada sang Papa.


"Pak kita langsung ke rumah sakit Persada ya, dan tolong kecepatannya tolong ditambah Pak!" pinta Mahen.


"Baik Bos, tapi ini masih area macet, nanti jika kita sudah lewat lampu merah di ujung jalan sana ya Bos!" jawab Pak sopir.

__ADS_1


"Pa, Nisa lihat Papa sedang cemas, memangnya siapa yang di rawat di rumah sakit?" tanya Annisa.


"Mama Nak," jawab Mahen lalu menarik Annisa ke dalam pelukannya.


"Hiks...hiks...hiks, memangnya mama kenapa Pa?" tanya Annisa lagi sambil mengelap air mata yang mulai menetes di pipinya.


"Papa pun belum tahu jelas, tapi kata Bundamu, Mama kecelakaan."


"Huaaa...mama...Nisa mau ketemu mama...," ucap Annisa dalam tangisnya.


"Iya Sayang, kita sekarang mau ketemu mama, kamu jangan nangis ya, bantu doa biar mama tidak kenapa-kenapa. Satu lagi doain juga adik kamu yang ada dalam perut mama," ucap Mahen sambil mengelus dan mencium rambut putrinya.


"Adik Pa! hore...Nisa mau punya adik. Nisa mau... adik nanti seperti Raihan Pa! Baik, ganteng, pintar dan jago main bola lho Pa," ucap Nisa dengan mata berbinar-binar.


Annisa sangat bahagia, saat mendengar akan punya adik dan dia mendambakan seorang adik laki-laki seperti temannya yang bernama Raihan.


Mahen pun tersenyum mendengar ucapan Annisa, seandainya Tuhan mengabulkan harapan putrinya, tentu saja Mahen lah yang paling bahagia. Memang sejak lama, Mahen mengharapkan Devina hamil lagi, untuk mendapatkan anak laki-laki.


Sejenak Mahen terhibur mendengar perkataan dan sorak bahagia Annisa, tetapi ketika dia ingat lagi akan Devina, pikirannya kembali dipenuhi oleh rasa cemas.




Di rumah sakit.



Trias menghampiri Bastian yang mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu dia menepuk pundak Bastian sambil bertanya, "Bagaimana kondisi Devina Bas?"




"Memang itu Devina lho Bas! jika kamu tidak percaya, ini... tanya dengan mamanya," ucap Trias sambil memandang ke arah mama Intan.



"Iya, saya memiliki putri kembar, namanya Devina dan Devani. Saat ini yang berada di dalam adalah Devina, kakak dari Devani dan Devani sendiri saat ini sedang ada di luar, sebentar lagi juga kesini," ucap Mama Intan.



Mendengar penjelasan dari Mama Intan Bastian spontan mengelus dadanya, menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan.



"Hei...kamu kenapa?" tanya Trias yang merasa heran.



"Nggak tahu lah, rasanya jantungku seperti mau copot. Melihat Devaniku terkulai tak berdaya, aku ingin menggantikannya saja," ucap Bastian pelan dan nyaris tak terdengar.


__ADS_1


"Nah... sekarang setelah kamu tahu itu bukan Devani, kamu merasa lega, makanya kamu tadi mengelus dada," ucap Trias.



"Ssst, jangan keras-keras ngomongnya," ucap Bastian.



"Ya...antara lega dan tidak sih, tapi lumayanlah kembali normal detak jantungku," ucap Bastian lagi.



"Bagaimana kejadian sebenarnya Dek Bastian? hingga anak saya bisa kritis?" tanya mama Intan.



Kemudian Bastian menceritakan sekilas kejadiannya, tapi karena dia berada di iringan paling belakang, makanya dia tidak tampak dengan jelas, bagaimana kronologis kejadian sebenarnya.



Dalam waktu hitungan detik, Bastian hanya melihat sebuah mobil BMW yang dikendarai oleh Devina menghantam sebuah pohon.



Sementara semua temannya kabur, hanya Bastian sendirilah yang tidak bisa pergi begitu saja dan lari dari tanggung jawab.



Bagaimana pun dia merasa ikut bersalah dan tidak mungkin membiarkan seseorang terluka di depan matanya, apalagi saat melihat mobil Devina mengeluarkan asap.



"Jadi Devina kecelakaan disebabkan oleh kamu dan teman-temanmu!" ucap Mama Intan marah dan menarik baju serta memukul lengan Bastian.



"Maafkan aku Tante," ucap Bastian pasrah, dia hanya diam di pukul oleh Mama Intan.



"Sabar Tante, semua bukan murni kesalahan Bastian, bukankah dia sudah berusaha menunjukkan rasa tanggungjawabnya dengan tidak kabur bersama teman-temannya!" ucap Trias menengahi.



Sejenak Trias terdiam, lalu dia melanjutkan ucapannya, "Biarlah pihak kepolisian yang akan menyelidiki kasus ini Tan, dan Bastianlah yang akan menjadi saksi atas kecelakaan tersebut."



"Di sana juga ada saksi mata, dua orang pedagang es dan rujak yang mangkal di persimpangan jalan, dekat tempat terjadinya kecelakaan," timpal Bastian.



Kemudian Bastian melanjutkan ceritanya lagi, "Tadi saat aku membawa korban kesini, polisi juga sudah tiba, mereka sedang memeriksa mobil yang terbakar. Mungkin sebentar lagi juga ke sini untuk meminta keterangan dariku," ucap Bastian lagi.

__ADS_1



Mama Intan pun terdiam, dia memang tidak bisa menyalahkan Bastian sepenuhnya, sebelum ada bukti-bukti. Trias kemudian mengajak Mama Intan untuk mencari tempat duduk, guna menenangkan hati.


__ADS_2