BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 15. TERLALU PEDAS


__ADS_3

Saat Devani asyik menikmati sarapannya di kamar, terdengar seseorang mengetuk pintu.


"Siapa?" tanya Devani.


"Mama! Ayo cepat turun Van! kita sarapan dulu, semua sedang menunggu kamu di ruang makan," pinta Mama.


"Ma, aku sudah makan lho," ucap Devani sambil membuka pintu kamarnya dan menunjukkan piring serta mulutnya yang sedang mengunyah spaghetti.


"Bagaimana sih kamu Van? Kami menunggu dari tadi eh kamunya malah sarapan di dalam kamar. Pokoknya Mama nggak mau tahu, kamu harus tanggung jawab."


Sejenak mama terdiam lalu melanjutkan ucapannya, "Sekarang juga, ayo turun! Temani kami makan. Kamu tega membiarkan Annisa tidak makan! Kamu 'kan tahu jika kakakmu selalu menyuapi Annisa setiap pagi," ucap Mama.


Devani tahu itu, tapi menurutnya, di sana 'kan ada Mahen, masa cuma suapin makan putrinya saja tidak bisa.


"Ayo, ngapain malah diam di sini, bawa makananmu ke bawah dan lanjutkan makan bersama kami, atau uang saku kamu mau mama potong!" ancam Mama Intan.


"Jangan Ma! Mama kejam amat sih sama anak, masa uang sakuku mau dipotong. Iya deh...aku turun, tapi janji ya, Mama jangan ngetawain masakanku jika rasanya tidak enak."


"Oh... Mama tahu, kamu tidak pede kan? jika ada yang mengkritik rasa masakanmu. Jangan takut untuk di kritik, walau terasa pedas tapi hasilnya malah membangun dan bisa lebih baik lagi."


Akhirnya Devani turun, dia melihat semua menunggunya dan belum ada satupun yang menyentuh makanan.


"Pagi Pa...maafkan aku, telah membuat Papa dan yang lain menunggu."


"Hemm...duduklah! Ayo kita mulai makan. Annisa Sayang, baca doa ya sebelum makan," pinta Papa Andara.


"Iya Eyang," jawab Annisa.


Papa dan mama menikmati Roti bakar sementara Mahen menyendok nasi goreng ke dalam piringnya. Dalam batinnya Mahen berkata, 'Biasanya kamu yang menyendokkan nasi kepiringku Yang.'


Mahen mendesah, dia melamun sambil mengaduk-aduk nasi goreng yang ada di piringnya. Papa dan Mama tahu, Mahen pasti sedang teringat dengan ah istrinya.

__ADS_1


Kemudian Papa berkata, "Makanlah dulu Hen, nggak enak nanti jika makanan kamu dingin."


Mahen tersentak, lalu dia menjawab, "Iya Pa."


Devani memperhatikan Mahen sejak tadi, dia menduga pasti Mahen tidak berselera dengan nasi goreng buatannya. Kemudian Devani mengambilkan nasi goreng untuk Annisa, tapi Annisa juga tidak menyentuhnya.


"Sayang...ayo di makan nasi gorengnya, biasanya kamu paling suka sarapan nasi goreng. Itu sengaja lho, Bunda masak spesial buat kamu," ucap Devani kepada Annisa sambil melirik Mahen. Dia ingin tahu bagaimana reaksi pria itu..


"Terimakasih Bunda, tapi Nisa ingat mama, biasanya mama selalu suapin Annisa saat sarapan," ucap Nisa sedih, air matanya sudah mengambang di pelupuk matanya.


"Oh gitu ya....sini! Biar Bunda yang suapin," ucap Devani sembari mengambil nasi goreng yang ada di hadapan Annisa.


Kemudian Devani mengulurkan sesendok nasi goreng ke mulut Annisa. Sejenak Annisa terdiam, dia mengecap-ngecap nasi goreng itu lalu menutup mulutnya dan berlari ke wastafel untuk membuangnya.


Mahen yang melihat hal itu segera mencicipi, dalam batinnya dia berkata, 'Sebenarnya masakannya enak, tidak kalah dengan masakan mendiang istriku tapi cabenya terlalu banyak. Biarlah aku makan, aku tidak ingin mereka bilang tidak bisa menghargai jerih payah orang.'


Annisa yang sudah kembali ke meja makan langsung mengambil segelas air minum dan langsung meminumnya hingga habis.


Devani merasa bersalah dan gagal, lalu dia bertanya, "Nggak enak ya Sayang masakan Bunda?"


"Oh...maafkan Bunda. Bunda buatkan yang baru ya, Nissa tunggu dulu di sini," ucap Devani sembari bergerak dari kursinya.


Annisa menarik tangan Devani, lalu berkata, "Nggak usah Bun, Nisa minum susu saja dan minta roti bakar Eyang, sepertinya enak roti bakar buatan Bunda," ucap Annisa.


Devani yang melihat Mahen menyantap nasi goreng buatannya tanpa komentar apapun merasa tidak enak. Dia tahu, Mahen juga kepedasan karena dia bolak balik minum.


Lalu Devani menarik nasi goreng yang ada di hadapan Mahen sambil berkata, "Sudah jangan dimakan lagi! Nanti kamu sakit perut. Maaf aku tidak tahu selera kalian," ucap Devani menyesal.


Selama ini Devani memang tidak pernah membantu almarhumah kakaknya dalam hal memasak dan Devani juga tidak terlalu menyukai nasi goreng, makanya nasi goreng yang almarhumah Devina masak cuma khusus untuk Mahen dan Nisa saja.


Mahen yang sudah menghabiskan setengah piring nasi goreng, hanya diam saat Devani menarik piringnya. Lalu diapun mengambil satu gelas susu dan meminumnya perlahan.

__ADS_1


Mama kemudian menawarkan roti bakar kepada Mahen, tapi Mahen menolak dengan alasan sudah kenyang.


Mereka pun selesai sarapan, Mahen bersama Annisa kembali ke kamar sedangkan papa Andara berangkat ke kantor karena ada hal penting yang harus beliau urus, sementara Mama dan Simbok pergi ke pasar.


Devani membereskan sisa makanan dan alat makan yang kotor, lalu dia mencucinya setelah itu Devani punkembali ke kamar.


Mahen masih memandangi foto almarhumah Devina, dia merasa hidupnya kini hampa. Bekerja keras pun rasanya sia-sia, lelah bekerja juga tidak ada yang menantinya untuk pulang ke rumah.


Annisa yang melihat Sang Papa memandangi foto Mamanya pun mendekat, lalu mengelus foto tersebut sambil berkata, "Nisa rindu mama, Pa! Kenapa mama ninggalin kita," ucap Annisa yang hampir nangis.


Kemudian dia berkata lagi, "Sekarang... Nisa tidak bisa seperti teman-teman, yang setiap hari di antar jemput mamanya dan saat hari libur, pergi jalan-jalan bersama Mama Papa mereka."


Hati Mahen sakit mendengar ucapan putrinya, lalu dia menarik gadis kecil itu ke dalam pelukannya sambil mengelus rambut Annisa yang panjang, halus dan lembut.


Kemudian Mahen pun berkata, "Kan masih ada Papa! Papa yang akan antar jemput kamu, terus kita akan pergi jalan-jalan kapan dan kemanapun Nisa mau."


"Tapi tidak akan sama Pa? Lagipula Papa 'kan sibuk dengan urusan kantor, mana mungkin bisa jemput Nisa setiap hari dan Papa juga kadang lembur dan keluar kota."


Mahen terdiam, memang yang dikatakan oleh Nisa semua benar, tapi mulai hari ini dia harus bisa meluangkan waktunya demi Annisa.


Melihat papanya terdiam, Annisa jadi merasa bersalah, lalu dia berkata, "Pa...maafin Nisa ya, Nisa nggak bermaksud membuat Papa sedih. Dari sekarang Nisa harus bisa mandiri. Yang antar jemput Nisa ke sekolah Pak sopir aja dan kita jalan-jalan kalau Papa tidak sibuk," ucap Annisa lagi.


"Tapi, Papa akan tetap usahakan Nak untuk meluangkan waktu buat kamu," ucap Mahen sambil mencium kening putrinya.


"Oh ya Pa, kapan Oma dan Opa kesini? Apa Opa belum sembuh Pa? Om Hans juga janji ke Nisa untuk secepatnya datang. Katanya Om Hans akan bawa banyak oleh-oleh dari Turki buat Nisa."


"Tunggu Opa keluar dari rumah sakit dan Om Hans juga masih di Amerika untuk pertemuan bisnis. Jika Opa sudah sembuh mereka pasti datang kesini secepatnya."


"Kapan-kapan kalau Papa tidak repot, kita ke Turki ya Pa! Nisa pingin jalan-jalan lagi ke sana sambil jenguk Opa dan Oma," pinta Annisa.


"Pasti Nak! Suatu saat, Papa pasti akan meluangkan waktu untuk membawamu kesana," ucap Mahen.

__ADS_1


"Hore..." sorak Nisa.


"Nisa ke kamar Bunda dulu ya Pa?" pamit Nisa sambil berlari keluar kamar tanpa menunggu persetujuan dari Sang Papa.


__ADS_2