BERI AKU CINTA

BERI AKU CINTA
BAB 79. BERTEMU SAHABAT LAMA


__ADS_3

"Ayo Pa! kita harus segera mengecek motor itu, aku takut Devani dalam bahaya," ajak Mahen.


"Iya Hen," ucap Papa Andara yang langsung naik ke dalam mobilnya. Mahen telah melajukan mobilnya, dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di kantor polisi.


Sesampainya di kantor polisi, Mahen menemui petugas yang piket hari ini untuk menanyakan tentang motor yang baru saja di bawa kesana tanpa diketahui siapa pemiliknya.


Petugas piket lalu mengarahkan mereka ke dalam untuk mempertemukan Mahen beserta papa Andara kepada atasannya.


Setelah Mahen dan Papa tiba di dalam, papa Andara merasa terkejut saat melihat siapa pimpinan polisi yang sedang mereka temui. Keduanya saling menyapa lalu berpelukan, ternyata mereka adalah sahabat karib semasa sekolah.


Saat ini Papa Andara dan Mahen sedang ada di kantor Polres (Kepolisian Resor).


Kepolisian Negara Indonesia Resor diduduki oleh Polres beserta satuan tugasnya di tingkat kabupaten/kota.


Di kota-kota besar, Polres disebut sebagai Kepolisian Resor Kota Besar (Poltabes). Untuk Polres, pimpinannya dipegang oleh Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) sedangkan Poltabes dipimpin oleh Komisaris Besar Polisi (Kombes).


Ajun Komisaris Besar Polisi adalah tingkat kedua perwira menengah di Kepolisian Republik Indonesia. Sebelum tahun 2001, pangkat ini disebut Letnan Kolonel, sama dengan pangkat yang setara di militer. Tanda kepangkatan yang dipakai adalah dua bunga sudut lima. Sering digunakan penyebutan AKBP untuk pangkat ini.


Inilah pangkat dari sahabat Papa Andara saat ini, Ajun Komisaris Besar Polisi Wirya Atmaja.


Papa Andara menepuk bahu sahabatnya lalu mengacungkan jempol tandanya papa kagum akan keberhasilan sahabatnya itu.


AKBP Wirya juga bangga melihat temannya berhasil menjadi pengusaha sukses dan bahkan telah memiliki menantu, sementara dia sibuk berkarir dan telat menikah hingga putra-putrinya saat ini masih kecil, masih duduk di bangku SLTP.


"Salut aku sobat, kamu lebih berhasil daripada aku,kamu sudah punya cucu, sementara aku masih panjang perjalanan putra-putri ku," ucap AKBP Wirya.

__ADS_1


"Kamu juga, aku salut lho Wir, padahal menjadi polisi adalah cita-cita ku dulu, eh...malah kamu sekarang yang menjadi polisi," ucap Papa Andara sambil tertawa.


"Itulah An, nasib tidak ada yang tahu, tapi yang terpenting, kita semua jadi orang baik. Aku rasa itu sudah lebih dari cukup. Masalah titel ataupun jabatan hanya sebagai pelengkap saja," ucap Pak Wirya.


"Kamu harus tahu Dek, papa mertuamu ini, dulu paling pintar di sekolah dan aku tidak pernah bisa untuk mengalahkan peringkat rankingnya," ucap Pak Wirya sambil menepuk bahu Mahen.


"Sekarang juga masih paling pintar Om, hingga aku sulit bersaing bisnis dengan beliau," ucap Mahen hingga membuat Andara dan Wirya tertawa.


"Kamu bisa saja Hen, itu karena kamu menantuku jadi takut untuk menyaingi bisnisku. Coba, jika kita orang lain, pasti bisnisku hampir gulung tikar," ucap Andara.


"Papa ngada-ngada itu Om. Oh ya Om, sebenarnya kami kesini ingin minta bantuan Om, kami ingin melihat motor yang pagi ini anak buah Om angkut dari pinggir jalan menuju pasar. Kami curiga itu motor yang di kendarai oleh istriku yang pergi belanja ke pasar tradisional. Dan istriku menghilang Om, sampai saat ini belum ada kabarnya, ponselnya pun tidak bisa dihubungi.


"Oh, gitu. Ayo kita kesana. Kalian tahu nomor platnya 'kan?" tanya Pak Wirya.


"Aku ingat Wir, karena waktu itu aku yang ambil platnya dari dealer saat pembelian motor," ucap Papa Andara.


Mereka segera menuju ke halaman belakang kantor polisi, dan ternyata benar, motor yang di sebutkan ciri-cirinya oleh orang yang Mahen tanya di lokasi setelah di cek plat nomornya oleh papa Andara adalah milik Devani.


Mahen mengelap wajahnya dengan tangan secara kasar, firasatnya saat di kantor tadi ternyata benar.


"Bagaimana ini Pa! Jangan-jangan ini ulah Bastian lagi," tuduh Mahen.


"Tenang Nak! kita tidak boleh asal tuduh, jika tidak ada bukti. Nanti payah, kita bisa di tuntut pencemaran nama baik, apalagi papanya anggota Dewan Perwakilan Rakyat," ucap Papa Andara sambil menepuk lembut bahu menantunya.


"Memangnya siapa Bastian itu dan putra anggota DPR yang mana?" tanya AKBP Wirya.

__ADS_1


"Putranya Calvin," jawab Andara.


"Calvin itu sahabatku masa kecilku, memangnya ada persaingan apa antara kalian, sampai kamu menuduh dia menculik istrimu?" tanya Pak Wirya kepada Mahen.


Kemudian Mahen menceritakan semuanya, tentang hubungan Devani dulu dengan Bastian dan akhirnya Devani memilih dan memutuskan untuk menerima perjodohan dan menikah dengan dirinya.


"Oh, ternyata kamu memiliki putri kembar An, aku nggak pernah menyangka kamu dan istri tokcer, pasti putri kamu cantik-cantik dan baik, hingga Bos muda ini bisa jatuh cinta dengan keduanya," canda Pak Wirya untuk mencairkan suasana yang mulai tegang.


Kemudian Pak Wirya berkata lagi, "Atau pemuda ini yang terlampau hebat, makanya kamu tidak menginginkan menantu yang lain," ucap Pak Wirya lagi sambil menenangkan Mahen.


"Bapak bisa saja, sebenarnya aku yang beruntung Pak, keduanya punya keistimewaan yang tidak di miliki oleh gadis lain, yang pernah aku kenal," ucap Mahen.


"Baiklah, saya akan bantu. Kita selidiki dulu, jangan asal tuduh karena taruhannya jabatan saya. Jika salah tuduh, Calvin bisa saja mencampakkan aku ke pedalaman sana. Andara dan Calvin sama-sama sahabatku, aku akan bantu menyelesaikan masalah kalian tanpa pertikaian," ucap Wirya.


"Terimakasih Wir, kami juga akan mencari info, siapa tahu ada orang lain lagi yang punya kepentingan di balik menghilangnya Devani," ucap Papa Andara.


"Kami permisi dulu ya Om, terimakasih sebelumnya atas bantuan Om."


"Iya Dek, kamu yang sabar ya, pasti istri kamu bakal di temukan. Mengenai motornya biar di sini dulu ya, sebagai barang bukti. Jika nanti urusannya selesai dan istri kamu kita temukan, motor itu pasti di kembalikan," ucap Pak Wirya.


"Iya Om, saya paham."


Mahen dan papa Andara pun bergegas meninggalkan kantor polisi, lalu Papa berniat pulang untuk menenangkan Mama Intan, sedangkan Mahen ingin menyelidiki keberadaan Bastian.


Sebelum keduanya berpisah jalan, Mahen minta tolong kepada Papa Andara untuk menemani Annisa, karena dia pasti akan menanyakan keberadaan bundanya saat pulang sekolah nanti.

__ADS_1


Sementara Mahen mungkin akan pulang malam, dia ingin mencari di tempat dulunya Devani sering nongkrong bersama teman-temannya. Barangkali salah satu dari mereka bisa memberikan info tentang keberadaan Devani.


Papa Andara pun setuju, lalu mereka berpisah di perempatan jalan. Papa menuju ke rumah, sedangkan Mahen melajukan mobilnya ke cafe tempat anak-anak asuhnya berlatih.


__ADS_2