
mereka akhirnya tiba di club yang di janjikan, mereka belum pernah memasuki club ini. setelah melihat Alex menyapa akhirnya mereka ikut masuk ke dalam, suasana nya agak ramai dan tentunya tak ada satupun yang mereka kenal selain komplotan Alex. mereka akhirnya duduk dan menikmati minuman yang sudah dipesan oleh Alex.
mereka mulai ikut menari, meski sebenarnya Anggun merasa mulai tak nyaman. mereka sudah mengajaknya menari tapi Anggun hanya menggeleng.
"mungkin karena bukan di club biasanya, aku merasa tak nyaman" batin Anggun lalu meneguk lagi minumannya.
sementara Alex hanya ikut menari dengan yang lainnya membiarkan Anggun duduk sendiri. hampir satu jam mereka di sana dan mulai merasa mabuk, Dewi dan Nica masih memiliki kesadaran hanya terus mengoceh saja sementara Anggun sudah tak sadarkan diri.
Alex bersama temannya hanya tertawa melihat keduanya, niat jahat Alex akhirnya terlihat. dia sudah lama mengincar ketiga wanita ini. dan kali ini masuk jebakan.
Alex dan ketiga temannya membawa ketiga wanita ini keluar dari club dan memasukkannya ke dalam mobil. mereka tertawa sesekali melirik ke arah mereka yang sudah tak sadarkan diri.
mereka membawanya ke sebuah gang sempit namun masih bisa dimasuki mobil, begitu sampai mereka kemudian mengangkat tubuh mereka. Alex menggendong tubuh Anggun. dia sudah mulai tertawa bahagia bahwa kali ini akan bersenang-senang dengan tiga wanita cantik sekaligus. namun sebelum menikmati itu, Alex bersama temannya mulai menghirup sesuatu melalui hidungnya sampai mereka merasakan kesenangan yang mendalam.
salah satu dari mereka yang sudah tak sabar akhirnya mendekat dan melirik ketiga wanita itu, Alex melarangnya menyentuh Anggun karena itu adalah bagiannya.
brakkk....
sebuah dombarakan pintu sangat keras mengejutkan mereka.
"angkat tangan, jangan melakukan perlawanan. tempat ini sudah di kepung" ucap salah seorang dengan nada keras dan tatapan tajam lengkap dengan sebuah pistol di tangannya.
meski demikian tetap saja mereka ingin kabur namun terlambat karena tempat persembunyiannya sudah di kepung. mereka hanya bisa merintih kesakitan setelah di paksa tiarap oleh beberapa polisi.
mereka adalah bandar narkoba yang sangat cerdik untuk bersembunyi, bahkan memiliki beberapa tempat persembunyian. polisi sudah menyelidiki cukup lama sampai akhirnya berhasil menangkap mereka.
****
sudah tengah malam, Wijaya baru saja menyelesaikan laporannya hendak bergegas tidur. ketika berada di kamar mandi sebuah telepon masuk dan diangkat oleh istrinya hang sudah tidur sejak tadi. mendadak sebuah kepanikan pun terjadi membuat Wijaya segera keluar dari kamar mandi dan menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Apa....?! astaga Anggun....." ucap Wijaya kemudian lalu mengganti pakaiannya dan bergegas menuju kantor polisi sementara istrinya di suruh di rumah untuk menjaga Amel dan Niko.
setelah semua diperiksa Anggun dan kedua sahabatnya juga positif menggunakan narkoba. keadaan Anggun yang masih setengah sadar masih berada di ruangan khusus. Wijaya sangat marah mendengar penjelasan polisi.
mereka bahkan tidak di ijinkan untuk pulang dan harus tetap di kantor polisi sampai cukup bukti. hati seorang ayah yang sedang hancur namun tetap setia mendampingi putrinya. dia bahkan ikut menunggu di kantor polisi sampai pagi menjelang.
ketiganya lalu memberikan penjelasan awal mula mengenal sosok Alex, dan mereka bahkan tak tau kalau mereka menggunakan narkoba. dari keterangan Teman-temannya mengatakan zat terlarang itu sudah di campur kedalam minuman mereka semalam. hal ini tentunya membuat Anggun, Dewi, dan Nica tampak marah. sementara Alex tetap tak mau berkata jujur.
orang tua Dewi dan Nica juga akhirnya datang setelah mendapat kabar pagi ini, mereka sangat kecewa dengan tindakan anak-anaknya. hampir seharian penuh mereka berada di kantor polisi, waktu sudah menunjukkan jam 6 sore akhirnya mereka bisa meninggalkan tempat itu. berbeda dengan Alex dan teman-temannya yang terus dipaksa menunjukkan markas mereka yang lainnya.
ketiga wanita itu bernafas lega karena tak harus mendekam di balik jeruji. mereka akhirnya masuk ke mobil orang tua mereka, dan berpisah di sana. suasana sudah gelap, sepanjang jalan Wijaya hanya diam dan fokus menyetir. sesampainya di rumah Kesya yang sangat was-was sejak tadi lalu menghampiri keduanya. Anggun hanya tertegun.
Kesya melihat suaminya sangat menahan amarah segera menyuruh Anggun membersihkan diri di kamarnya. Anggun hanya melangkah, namun ternyata Wijaya mengikutinya dari belakang dan mengunci kamar Anggun. Kesya yang tertinggal hanya mampu mengetuk pintu dari luar.
"mulai sekarang kamu jangan keluar rumah lagi, kamu akan segera menikah dan keputusan ayah gak bisa di ganggu gugat.!" ucap Wijaya dengan datar masih menahan amarah.
deg...
"Anggun menikah dengan siapa?" tanyanya bergetar berharap ini hanya sebuah gertakan.
"Angga, anak tante Monica. secepatnya pernikahan akan di urus" balas Wijaya lagi
"ayah, maafin Anggun. kali ini memang benar-benar fatal. tapi Anggun gak pernah memakai narkoba. selama ini memang sering mabuk-mabukan tapi..."
"ayah gak minta penjelasan kamu, atau pembelaan dari kamu. ayah sudah benar-benar kewalahan mendidik kamu !" bentak Wijaya yang sudah kehilangan batas kesabarannya.
"kalau ayah mau usir Anggun bukan begini caranya, Ayah menyuruh menikah agar Anggun keluar dari rumah ini kan !" nada suara Anggun ikut meninggi, kini butiran bening jatuh dari pelupuk matanya.
"ayah cuma mau ngasih yang terbaik buat kamu. !"
__ADS_1
"yang terbaik buat ayah belum tentu sesuai buat Anggun. kalian semua egois hanya mementingkan perasaan kalian saja. kalian gak pernah dengerin apa yang Anggun mau kan. kalian orang tua macam apa hah ? !" teriak Anggun yang membuat Kesya semakin panik di luar. memancing Amel dan Niko menghampiri dan menatap lekat wajah mamanya itu.
parrrr
sebuah tamparan mendarat di pipi Anggun, membuatnya bungkam dan hanya menyentuh pipinya yang terasa perih.
"kalau kamu gak mau nikah, ada satu syaratnya !" balas Wijaya yang membuat Anggun menaikkan pandangannya berharap suatu hukuman yang lain selain dipaksa menikah.
"jangan pernah datang ke pemakaman ayah, umur ayah gak akan lama lagi kalau terus menghadapi tingkah kekanakanmu !" ucap Wijaya lalu membuka pintu kamar dan menguncinya lagi dari luar.
hati Anggun bergetar mendengar ucapan itu, jeritannya akhirnya keluar dan masih terdengar sampai diluar kamar. membuat hati Amel ikut bergetar meski belum tau kesalahan apalagi yang dibuat kakaknya sampai amarah ayah benar-benar meledak. dia bahkan tak berani bertanya.
Wijaya masuk ke dalam kamarnya dan di tenangkan oleh Kesya yang sudah menangis sejak mengetuki pintu tadi. Wijaya akhirnya membersihkan diri didalam kamar mandi, sementara istrinya menyiapkan pakaiannya. mereka bahkan saling diam.
makan malam pun tiba suasananya begitu dingin, Amel dan Niko yang biasanya saling meledek ikut diam. selesai makan malam Wijaya bergegas menuju kamar. kunci kamar masih berada di tangannya padahal Anggun belum makan sama sekali.
Istrinya membujuk suaminya agar memberikan kunci namun Wijaya hanya diam.
"yah.... Anggun belum makan malam, dia juga pasti terguncang. jangan sampai dia sakit. lihat tubuhnya sudah kurus" bujuk Kesya sembari mengusap lembut bahu suaminya itu yang sedang membaca buku di tepi ranjang.
"tak makan sehari belum tentu membuat orang mati !" ujar Wijaya masih setia menatap bukunya
"ayo, kita beri makan dulu. ayah yang membukakan pintunya kuncinya biar ayah saja yang pegang" bujuk istrinya lagi, yang membuat Wijaya akhirnya mengalah lalu bangkit berdiri.
Kesya tersenyum senang lalu bergegas menuju dapur membawakan banyak makanan membuat Wijaya sedikit ngeri. dia melihat ada sepiring makanan, sepiring buah-buahan, cemilan lalu air minum.
Wijaya lalu mengeluarkan kunci dari saku celananya lalu membuka pintu kamar Anggun tanpa melirik sedikit pun, Kesya masuk lalu mendapati Anggun bersembunyi di balik selimut tebalnya terdengar suara sesegukan.
"nak, kamu makan ya. jangan bersedih terus menerus. apapun yang ayahmu lakukan itu demi kebaikanmu. kami sayang padamu" ucap Kesya sembari mengelus lembut selimut itu lalu keluar dan pintu di kunci lagi.
__ADS_1
Anggun kembali menangis sesegukan,