
Anggun sangat tersentuh dengan kepedulian mama mertuanya yang bahkan rela pulang awal ke rumah hanya untuk melihat keadaannya. padahal Angga jugsa sejak tadi berada didalam kamar dan sibuk di meja kerjanya.
tok...tok...tok..
Monica lalu membuka pintu perlahan lalu melirik ke arah Angga yang juga menatap ke arah mamanya. mereka berdua saling bertukar isyarat karena tak ingin Anggun terbangun.
dengan perlahan Monica berjalan dan tepat berhenti di samoing Anggun, menatap lekat wajah pucat itu. dia membayangkan dirinya sendiri yanh kebetulan selalu mengalami asam lambung. orang lain mungkin menganggapnya sepele tapi baginya rasa sakit itu sangat menyiksa.
Monica lalu berjalan pelan menghampiri Angga dan berbisik menanyakan keadaan Anggun.
"dari tadi mual ma, di suruh minum air putih dia gak mau setelah tidur baru agak tenang" ucap Angga yang juga berbisik dan mendapat anggukan dari mamanya.
Monica lalu keluar dari kamar itu dan bergegas ke dapur menyiapkan makan siang menantunya, kali ini dia sendiri yang membuatkannya bubur.
Angga masih menatap layar laptopnya sampai sebuah panggilan telepon berbunyi dan segera diangkatnya agar Anggun tak terbangun namun sayangnya wanita itu sudah terbangun dan bergerak lemah membalikkan tubuhnya.
Angga keluar dari kamar dan berbicara di balkon selama beberap menit lalu masuk lagi ke kamar namun tak melihat Anggun berbaring. baru saja Angga menutup pintu kamar dan mendengar suara dari kamar mandi segera Angga membuka pintu lalu menatap Anggun yang berdiri didepan wastafel dengan mengandalkan kedua lengannya sebagai penopang.
"kamu muntah lagi, apa perlu kita k...."
"pergilah, aku bisa mengurus diriku sendiri" ucap Anggun mengusap mulutnya dengan tubuh yang bergetar segera menyuruh suaminya itu pergi meninggalkannya.
hal itu membuat Angga sedikit kecewa namun masih enggan pergi, dia masih memegang tubuh Anggun khawatir kalau Anggun tak sanggup berdiri lagi.
"keluarlah, aku bisa....." belum selesai Anggun mengucapkan kata-katanya kembali dia memuntahkan makanan yang tadi dimakannya.
Angga mengusap lembut bahu Anggun namun dengan sisa tenaga dia mendorong tubuh Angga untuk menjauh.
"kamu kenapa Anggun ? kenapa sulit sekali menerimaku ? sebenci itu kamu padaku sampai tak ingin melihatku apalagi menyentuhmu ?" ucap Angga yang mulai habis kesabarannya namhn masih dengan nada rendah.
"pergi, tolong..." ucap Anggun lagi hanya menunduk menatap wastafel rasanya mualnya tak kunjung membaik.
__ADS_1
"kenapa ?! kenapa kalau aku tetap disini hah...?" ucap Angga yang emosinya hampir di puncak jaraknya hanya selangkah dari Anggun.
"aku gak mau orang lain liat aku sakit, apalagi muntah dan lemah begini" ucap Anggun menaikkan suaranya dengan susah payah karena rasa kesal dan sakitnya bercampur.
"bukan masalah besar kalau aku liat kamu sakit, aku akan jaga kamu. mama juga sering sakit dan aku terbiasa merawatnya. gak ada rasa jijik kalau melihat mama muntah apalagi keadaan kamu sekarang sangat pucat" ucap Angga yang akhirnya mendekat dan menyentuh bahu Anggun.
degg...
hati Anggun bergetar mendengar ucapan Angga, dia merasa nyaman dengan perlakuan Angga.
"dia bilang mau jaga aku, apa karena itu dia todak berangkat kerja ? ahhh jangan terlalu banyak berharap Anggun, dia hanya simpatik karena karena mama juga sering begini" batin Anggun yang tak ingin jadi besar kepala.
Angga mengusap bersih mulut Anggun dengan air mengalit di wastafel, lalu menuntun Anggun perlahan menuju ranjang lalu dengan telaten menyelimuti tubuhnya.
"terimakasih mas Angga" ucap Anggun kemudian lalu mulai memunggungi Angga.
"dia baru saja bilang terimakasih, kalimat sederhana tapi kenapa bisa membuatku begitu senang" batin Angga yang hatinya sedikit tersentuh dengan ucapan wanita di depannya itu.
"buburnya sudah siap ya ma, biar Angga aja yang bawa ke kamar. mama makan siang aja dulu" ucap Angga yang sudah mengisi gelas kosong yang tadi digenggamnya.
"biar mama aja, kamu aja duluan makan siang" ucap Monica menolak ketika Angga ingin meraih nampan berisi semangkok bubur yang masih panas.
"Angga masih kenyang ma, tenang aja, harusnya mama yang mengkhawatirkan diri mama nanti jangan sampai asam lambungnya kambuh juga nanti. atau jangan-jangan kalian berdua jodoh ya ?" ucap Angga yang mulai cerewet sembari mengambil paksa nampan dari tangan mamanya.
"hih.... kamu ini, iya mama sama Anggun berjodoh puaskan ?" ucap Monica yang membuat Angga terkekeh lalu berjalan meninggalkan mamanya.
Anggun menatap ke arah Angga yang membawa nampan lalu duduk tepat di sisinya.
"kamu makan siang dulu biar bisa minum obat lagi ya" ucap Angga ramah dan segera Anggun menurut sembari menyandarkan tubuhnya.
Angga mulai mengaduk semangkuk bubur itu namun Anggun menolak untuk disuapi, akhirnya Angga mengalah dan membiarkan Anggun makan sendiri dengan menaruh nampan di pangkuannya.
__ADS_1
"kenapa dia masih disini dan menatapku, padahal aku menolak di suapi agar dia menjauh. aduhhh ini jariku seperti kesemutan susah sekali mengambil sendok ini" batin Anggun yang dengan lambat mengambil sendok dan menyendokkan bubur ke dalam mulutnya.
"huah,,.." ucap Anggun kemudian belum sempat memasukkan semua kedalam mulutnya karena masih panas.
dengan cepat Angga meraih sendok yang sedikit bergetar di jemari Anggun.
"biar aku suapi saja ya, ini minum dulu" ucap Angga yang meraih gelas dan menyodorkannya ke bibir Anggun.
dengan sabar dia menyuapi Anggun makan, baru dua sendok namun Anggun sudah menggelengkan kepalanya namun di paksa lagi oleh Angga. dia memaklumi kondisi Anggun saat ini yang selera makannya berkurang sama persis seperti yang dialami mamanya. Angga juga biasanya membujuk mamanya agar makan banyak jika sedang sakit.
selesai minum obat, Anggun kembali merebahkan tubuhnya dan diselimutinoleh Angga. kemudian Angga berjalan keluar sembari membawa nampan yang sudah tersisa mangkok kosong.
Monica ternyata menungguinya dan karena biasanya Angga sangat malas makan sendiri. Monica lalu menyiapkan makan siang putranya dan Angga hanya menerima saja.
"Anggun makannya habis ya?" ucap Monica yang berdiri di depan wastafel
"iya ma, Angga paksa dari tadi. kalian memang sama susah sekali untuk makan" ucap Angga sembari menikmati makananya
Monica kemudian kembali ke tempat duduknya dan menatap Angga dengan jahil.
"kamu ini, tapi kan kamu jadi tau caranya merawat istri kalau lagi sakit" ucap Monica sembari mencolek Angga membuat putranya itu hampir tersedak.
"padahal mama sudah banyak berharap tadi waktu lihat Anggun mual" ucap Monica mengingat kejadian tadi pagi.
"berharap apa ma ?" ucap Angga yang penasaran sembari mengkerutkan keningnya.
"ya berharap kalau Anggun sedang hamil" ucap Monica yang membuat Angga membulatkan kedua bola matanya sembari menelan kasar makanannya hampir saja dia tersedak.
"huh... mama berharap terlalu banyak, Angga bahkan gak yakin dengan pernikahan yang baru seumur jagung ini" batin Angga lalu meneguk habis minumannya.
menatap lekat kearah mamanya yang terlihat benar berharap penuh, seolah belum puas mempunyai cucu dari kakaknya Dimas dan adiknya Niki. mereka berbincang cukup lama dimeja makan, siang itu suasana rumah cukup tenang dan tak terlalu sepi seperti biasanya.
__ADS_1