
Angga menaril selimut dan menutupi mereka berdua, sementara Anggun masih terpaku menatap langit-langit kamar karena merasa tak percaya dengan bisikan suaminya tadi.
flashback..
Angga mengirim foto obat yang di sembunyikan Anggun di lemari, dia mengingat pertemuannya dengan dokter Reza saat membuntuti Anggun kala itu. segera dia menanyakan fungsi obat itu.
"fungsi obat ini untuk penambah darah sepertinya dia mengalami anemia, dan obat ini adalah vitamin dan penambah nafsu makan, kemudian yang ini biasanya untuk wanita hamil karena kandungannya yang rentan" balas dokter areza setelah Angga menunggu cukup lama
membaca isi pesan itu membuat Angga masih tak paham lalu meminta dokter Reza melihat rekam medis atas mama Anggun Wijaya, namun di tolak mentah-mentah dengan alasan kode etik dokter dan rahasia pasien.
Angga menghela nafas berat, lalu akhirnya menceritakan bahwa wanita yang di tunjuk dokter Reza kala itu adalah istrinya, dia juga mengurimkan bukti bahwa mereka sudah menikah.
"kamu sudah menikah ? wahhh selamat ya, tapi kenapa tak mengundang saya" balas dokter Reza lagi sembari mengenang persahabatannya dengan papa Angga
"saya minta maaf om, karena waktu itu memang yang mengurus semuanya mama. saya tak paham sama sekali masalah tamu undangan" balas Angga lagi via pesan
"tunggu sebentar ya, saya cari tahu datanya dulu. saya harus ke ruangan dokter kandung karena itu memang bukan ranah saya" balas dokter Reza yang akhirnya mau membantu anak sahabatnya itu.
setelah beberapa menit menunggu sebuah pesan baru pun masuk dan tak sabar Angga pun membacanya
"selamat ya, sebentar lagi kamu jadi ayah. ternyata Anggun memang sudah hamil di sini catatannya mengatakan usia janin baru lima minggu jadi wajar kalau dokter memberinya resep obat itu" Angga tersenyum membaca pesan itu sesekali melirik ke arah Anggun yang sedang tertidur pulas di sampingnya.
Angga mulai menceritakan kebiasaan aneh Anggun termasuk mual dan tak mau makan, dan dokter Reza menjelaskan dengan semuanya sampai Angga paham. dia bersyukur karena langsung menanyakannya ke dokter itu.
__ADS_1
"terimakasih banyaknya dok untuk informasinya, maaf sudah mengganggu tengah malam begini." balas Angga masih dengan keadaan tersenyum
"iya, sama-sama. santai saja kebetulan saya baru saja selesai operasi dan baru membuka hp" balas dokter Reza yang kebetulan memang sedang dinas malam.
Angga mulai sibuk berselancar di internet dan membaca banyak artikel seputar kehamilan, dia sesekali mengangguk paham alasan kenapa Anggun mual terus-menerus.
"wanita hamil juga mudah sensitif..." baca Angga dalam hati dan mulai berpikir bagaimana caranya agar Anggun tak mudah sedih atau marah karena hal kecil.
****
"kamu tahu darimana...." ucap Anggun lirih dan belum berani melirik ke arah suaminya.
"dari kebiasaan kamu yang tak mau makan dan suka mual, aku lihat di internet" balas Angga yang berbohong karena takut membuat Anggun ngeri kalau tau ternyata dirinya di ikuti sepanjang hari olehnya.
Angga menghela nafas panjang lalu meletakkan lengannya diatas kepalanya lalu mulai bercerita panjang lebar tentang perjalanannya mencari Anggun. mulai dari menghubungi keluarga wijaya, ke pemakaman mama Anggi, dan mengikuti ke cafe tempatnya bekerja sampai ke kosan itu.
Anggun pun paham kenapa bisa Angga menemukan alamatnya kini.
"apa kata ayah saat tau aku kabur ?" balas Anggun yang membayangkan raut wajah ayahnya dikala marah
"hmmm... aku tak mengadu, saat dia menanyakannkeadaan kamu dari situ aku tau kalau kamu tidak ada di sana" balas Angga lagi dengan jujur
"ohhh jadi kamu yang menabur bunga di pemakaman mama ?" balas Anggun yang sempat merasa heran karena bunga tabur belum juga kering
__ADS_1
"hmmm iya, kamu tak pernah membawaku ke sana. jadi aku berangkat sendiri saja" balas Angga dan kali ini mereka saling beradu tatap.
air mata Anggun kembali keluar setelah mendengarsemua cerita itu, Angga yang semakin mendekat lalu mengusapnya lembut berulang kali.
"kamu kenapa menangis ? maaf ya kalau aku seperti psikopat yang mengikuti kamu" balas Angga yang mengira kalau Anggun akan merasa ngeri karena mendengar kelakuannya saat mencarinya.
Anggun menggeleng pelan lalu memeluk erat tubuh Angga, dia menumpahkan tangisnya di dada suaminya. berulang kali Angga mengusap lembut punggungnya sampai tangis itu pun reda.
"kita ke rumaha sakit ya..."
"mmm buat apa ?"
"kita periksa dulu, aku takut kamu dan si bayi jadi sakit gara-gara ulah ku tadi" ucapnya sembari mengusap lembut perut istrinya.
Anggun tersenyum mendengar ucapan suaminya itu
"tapi kan tadi belum melakukan apapun" ucap Anggun yang merasa tak ada perasaan aneh sampai sekarang apalagi rasa perih di perutnya
"tapi tadi hampir saja, setelah mendengar desahan kamu makanya aku akhirnya berhenti" ucap Angga tersenyum mengingat kejadian tadi dan Anggun mencubit perutnya karena merasa malu.
"aduh... tolong ya kamu jangan pancing aku. kamu sekarang ini..." ucap Angga yang merasa sakit karena cubitan Anggun lalu membuka selimut dan melihat milik Anggun membuat wanita itu semakin malu lalu menarik lagi selimut untuk menutupinya.
mereka pun tertawa renyah disana melepaskan emosi yang sudah tumpah karena kesalahpahaman itu. mereka sampai lupa kalau waktu berjalan cepat dan sudah menunjukkan jam sepuluh, Angga teringat akan sarapan yang di pesannya tadi. mereka pun menikmati sarapan itu meski Anggun merasa agak sedikit mual.
__ADS_1
selesai menghabiskan sarapannya, mereka bergantian untuk mandi karena akan pergi ke rumah sakit.