
dua minggu setelah kejadian itu, para koran sudah bisa pulang ke rumah masing-masing. dan seperti janji Wijaya semuanya kerugian akan di tanggung oleh mereka.
Anggun merasa lega, karena para korban sudah membaik. selama dua minggu ini juga Anggun tak berani pulang mabuk ke rumah meski masih sering ke club.
matahari sudah mulai menampakkan diri, meski sisa titik embun masih terlihat membayangi. Anggun yang terbangun segera ke dapur untuk mengambil segelas minuman dan bertemu dengan Kesya yang tengah sibuk dengan alat masaknya.
"tante masak apa? " tanya Anggun sembari meneguk segelas air putih, sangat jarang mereka bicara. apalagi Anggun duluan yang memulai pembicaraan
"ohhh ini, Amel kemarin minta di buatkan mie goreng. kamu mau makan apa sarapannya?" tanya Kesya yang merasa agak aneh karena Anggun memulai pembicaraan.
"gak usah tante, Anggun bisa makan apa aja yang di hidangkan. terimakasih" balas Anggun lalu mencuci gelas di wastapel lalu bergegas pergi setelah menyimpan gelas itu.
deg...
perasaan Kesya sangat tersentuh, mendengar ucapan Anggun. sederhana namun sangat manis baginya
"sangat jarang mendengar Anggun bilang terimakasih" gumamnya sembari terukir senyum tipis di sudut bibir dan mulai fokus memainkan peralatan dapurnya.
mereka sarapan bersama, sebelum akhirnya Amel dan Niko harus berangkat ke sekolah dan diantar oleh ayahnya.
seperti itulah kegaduhan di setiap paginya, keduanya akan terlihat sangat repot menyiapkan keperluan sekolahnya. Kesya hanya sesekali menggelengkan kepala lalu mengabsen setiap keperluan anak-anaknya.
kadang jika kesabarannya habis, kesya akan mengomel panjang lebar namun tidak pernah memukul. kedua anak itu akhirnya pamit sembari mencium punggung tangan mamanya dan juga Anggun.
hanya mereka berdua yang masih berada di meja makan, Anggun kemudian bangkit berdiri dan masuk kedalam kamarnya lagi. sementara Kesya sibuk dengan tugasnya sebagai ibu rumah tangga
****
"hallo.... bisa datang ke perusahaanku sekarang juga" sahut Wijaya setelah terdengar panggilan dari hpnya
tak berselang lama, sosok pria berperawakan tinggi dan suka melempar senyum ramah tiba lalu mengetuk pintu dan masuk setelah dipersilahkan.
pria itu adalah Angga, yang sudah dikenalnya sejak dua minggu yang lalu. mereka sedang membangun kerjasama. Wijaya tampak tertarik berinvestasi di kota X. dan setelah mendengar cerita Monica di telepon kalau Angga sedang ingin membangun hotel dan mencari beberapa suntikan dana.
mereka berbincang cukup lama sampai akhirnya saling menandatangai kontrak kerja. melihat sosok Angga, membuat Wijaya kagum dan yakin bahwa Angga adalah laki-laki yang bertanggung jawab dalam pekerjaannya.
****
__ADS_1
Wijaya memutuskan akan pergi sekerluarga ke kota x di akhir pekan , untuk melihat lokasi yang akan dibangun hotel sekalian untuk liburan keluarga. Anggun yang sebenarnya sangat malas hanya bisa menurut. sepanjang perjalanan dia memilih diam, mendengarkan musik atau melirik media sosialnya. sementara Amel dan Vino asik dengan game nya. sedangkan ayahnya fokus menyetir ditemani ibu sambungnya di sampingnya.
setelah dua jam perjalanan mereka tiba di rumah Monica. mereka di sambut hangat. mereka sudah memberi kabar akan berkunjung Monica menyarankan untuk menginap meski hanya sehari saja. keluarga itu pun menyetujui.
mereka tampak berbincang-bincang di ruang tamu, tak lama setelah itu Angga muncul lalu memberi salam kepada mereka dan ikut duduk. Anggun dan angga sempat saling menatap sejenak lalu kembali fokus mendengarkan obrolan kedua orang tuanya.
setelah cukup lama Angga pun bergegas pergi karena Wijaya tak sabar ingin melihat lokasinya. istrinya, Amel dan Vino yang juga bersemangat mengarungi kota ini ingin ikut juga, seolah tak merasakan lelah setelah menempuh dua jam perjalanan.
"Anggun, kamu di rumah aja ya sama tante" sahut Monica dengan lembut setelah melihat reaksi Anggun biasa saja disaat kedua adiknya bersemangat ingin ikut. Anggun hanya mengangguk.
kondisi ruang tamu kembali hening, Monica menatap dalam Anggun meski sebenarnya Anggun mengetahuinya berusaha untuk biasa saja.
"semakin dewasa kamu semakin mirip Anggi" ucapnya kemudian.
deggg...
jantung Anggun mendadak berdetak cepat, dia sangat sensitif jika itu menyangkut mamanya.
"tante kenal mamaku...?" tanya Anggun lirih dengan tatapan yang dalam dan melihat Monica mengangguk pelan sembari tersenyum.
"kamu udah lupa sama tante ya? dulu tante sering datang ke rumah kamu, dan waktu mamamu sakit tante juga sering menjenguk" ucap Monica sembari membelai rambut Anggun yang sebahu.
"sini deh.... tante mau tunjukin sesuatu" ajak Monica sembari menarik lembut tangan Anggun. mereka tiba disebuah ruangan kecil yang dipenuhi buku-buku, lebih tepatnya perpustakaan mini.
Monica lalu mengeluarkan foto album yang terlihat sangat lama. lalu membukanya dengan perlahan. mata Anggun pun terbelalak, melihat sosok yang selalu dia rindukan.
"mama.... kau cantik sekali" batin Anggun sembari meraba lembar foto yang kini berada di pangkuannya. sembari mendengarkan cerita tante Monica panjang lebar. Anggun menyadari bahwa persahabatan mamanya dengan tante Monica sangat dalam.
lama bercerita tak terasa waktu sudah sore, tante Monica mengajak Anggun ke dapur dan mulai sibuk memasak, masih dengan cerita seputar kisah persahabatannya dengan mama Anggun.
"Anggun, kamu suka masak?" tanya Monika yang membuat Anggun mematung sejenak lalu menggeleng pelan.
"kamu harus bisa masak ya, suatu hari nanti kalau kamu menikah. urusan dapur sudah jadi tugas kamu" ucap Monica lembut, seperti menasihati anak sendiri. Anggun hanya membalas dengan tersenyum.
suara mobil terdengar berhenti di garasi, menandakan mereka baru saja tiba. Angga yang masuk terlebih dulu segera menghampiri mamanya lalu mencium tangannya.
"kalian jalan-jalan kemana aja, lama banget nyampe rumah?" tanya Monica penasaran kepada Angga
__ADS_1
"sekalian ke pantai ma, kan gak jauh lagi" balas Angga dengan senyum sembari memeluk erat tubuh mamanya.
sedangkan Anggun tetap fokus mengaduk masakan didalam wajan, khawatir kalau nanti gosong. Angga yang melirik sejenak lalu memutuskan untuk bergegas ke kamar untuk mandi.
Monica akhirnya menghampiri keluarga itu yang baru saja memasuki ruang tamu, menanyakan pengalaman mereka setelah setengah hari di kota ini. mereka berbincang sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi.
"kalian mandi saja dulu ya, makan malam udah di siapin sama Anggun" ucap Monica hendak bergegas kembali ke dapur hampir lupa kalau dia meninggalkan Anggun di sana.
"kak Anggun masak tante ?" tanya Niko keheranan, pasalnya dia belum pernah melihat kakaknya menyentuh wajan. dan Monica pun mengiyakan sebelum meninggalkan mereka.
kedua orang tuanya dan juga Amel ikut keheranan dan saling melempar tatapan. lalu perlahan masuk ke kamar tamu dan membasuh tubuh mereka yang kelelahan.
makan malam keluarga tampak hangat, di selingi obrolan dan tawa.
"di rumah sebesar ini hanya kalian berdua?" ucap Kesya keheranan sembari menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
"tidak, biasanya ada pembantu tapi dia sedang pulang kampung, kami selalu bertiga. kedua anakku setelah menikah memutuskan tinggal di rumah masing-masing" balas Monica yang sebenarnya kadang merasa sepi, namun karena kesibukan di butik mampu mengusir rasa sepi dan bosannya.
****
obrolan mereka masih berlanjut meski sudah tengah malam, sedangkan anak-anaknya sudah terlelap di kamar.
Wijaya, Kesya dan Monica masih bercerita banyak hal seolah melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu.
"Aku sudah menganggap Anggun seperti putri ku, seringlah berkunjung kemari" sahut Monica sembari meneguk secangkir teh hijaunya.
"tentu saja, baru beberapa jam disini kami dibuat kaget. seumur hidup belum pernah melihat Anggun membantu mamanya memasak" sahut Wijaya sembari melirik ke arah Kesya.
"Dia anak yang manis, meski sedikit pendiam dan cuek" sahut Monica yang mampu membaca sifat Anggun dengan cepat.
"meski dia sudan dewasa, kami tetap saja mengkhawatirkannya. suatu hari nanti dia akan menikah dan semakin jauh dari kami. apakah hidupnya akan bahagia, huffftt" sahut Kesya dengan meremas tanganya menahan tangis meski terdengar nadanya bergetar. dia sudah membayangkan sangat jauh jika Anggun anak sambungnya itu akan menikah kelak.
"kalian sudah mengenal kekasih Anggun" tanya Monica yang juga tak mau kalau Anggun salah pilih pendamping. pertanyaan itu membuat wijaya dan kesya saling melirik kemudian hanya menggeleng.
"mungkin saja Anggun masih sendiri, persis seperti Angga. yang tak pernah membawa kekasihnya ke rumah ini" balas Monica lagi sembari menggeleng membayangkan wajah Angga anaknya yang tak terlalu peduli dengan pendamping hidup.
"mungkin mereka berdua memang sudah di takdirkan berjodoh" sahut wijaya dengan tersenyum dan mulai memiliki rencana.
__ADS_1
"kita suruh aja mereka menikah" balas Wijaya masih dengan tersenyum sedangkan kesya tampak terkejut dengan isi pikiran suaminya.
sementara Monica ikut tersenyum sembari menganggukkan kepala, tanda setuju.