
Monica tengah sibuk menata bunga didalam vas mereka yang baru saja tiba segera menghampiri mamanya dan mencium punggung tangannya. mereka ikut duduk dan memperhatikan kelihaian tangannya menata bunga itu.
"gimana keadaan keluarga disana ?" ucap Monica menatap ke arah Angga dan Anggun bergantian.
"baik ma, tadi ayah dan tante titip salam ke mama" ucap Anggun menjawab
Angga tampak berpikir keras karena sejak lama selalu mendengar Anggun menyebut tante Kesya bukan dengan panggilan mama seperti yang di lakukan Amel dan Niko. Angga hanya tau kalau mama mertuanya adalah ibu sambung dari Anggun.
"ohhh syukur lah kalau begitu, suruh mereka sering-sering berkunjung kemari, kita bisa jalan-jalan. disini banyak obyek wisata" ucap Monica tersenyum ramah ke arah Anggun.
sebenarnya dia sering bertukar kabar dengan besannya dan tau apa saja yang di lakukan oleh Anggun selama berada di rumah keluarganya. dia juga bingung bagaimana cara menasehati agar menantunya itu bisa bersikap baik dan menyenangkan hati kedua orang tuanya.
Anggun akhirnya undur diri dan memilih masuk kedalam kamarnya meninggalkan anak dan mama itu berdua di ruang tamu.
****
malam sudah berlalu dan pagi pun menyapa, semua mulai disibukkan dengan kegiatan masing-masing. bi susi dengan tugasnya di dapur, Monica yang menyirami tamannya yang hijau dan Angga yang sengaja olahraga mengelilingi komplek. Anggun sudah bangun sejak tadi namun enggan untuk bangun.
perutnya sangat sakit dan rasa mual membuatnya sulit bergerak. dia bingung dengan keadaanya sendiri karena sejak kemarin setelah kembali ke rumah keadaannya mulai terasa tak nyaman.
Angga masuk ke dalam kamar dan hendak mandi setelah tubuhnya dipenuhi keringat. di liriknya kearah ranjang dan melihat Anggun memejamkan mata dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"tumben masih tidur, biasanya sudah bangun. mungkin kelelahan setelah perjalanan kemarin" batim Angga lalu bergegas ke kamar mandi.
beberapa menit kemudian dia keluar dan masih mendapati Anggun tidur padahal biasanya Anggun sudaj menyiapkan pakaian untuknya. dengan ragu Angga akhirnya mendekat dan menyentuh kening Anggun.
Anggun yang terkejut akhirnya membuka kedua matanya denan tatapan menahan nyeri.
__ADS_1
"kamu sudah bangun ? kenapa masih rebahan ?" ucap Angga yang juga terkejut karena ternyata Anggun sudah bangun, segera dia menjauhkan telapak tangannya karena sudah mulai salah tingkah.
"iya, aku kelelahan" ucap Anggun lirih lalu memejamkan mata lagi tanpa bergerak.
Angga menyeret langkah kakinya menuju lemari namun tertahan karena masih ragu dengan sikap Anggun. lalu kembali memandang dan menarik selimut membuat Anggun kembali terkejut.
Angga terkejut melihat tubuh Anggun meringkuk sembari menyentuh perutnya.
"kamu kenapa ? bagian mana yang sakit?" ucal Angga sembari menyentuh perut Anggun dan mencoba meluruskan kaki Anggun namun dia menolak.
"jangan.... pergilah aku bisa mengurus diriku sendiri" ucap Anggun lirih.
"semakin besar bencinya padaku, sejak saat itu dia semakin dingin dan menolak bantuanku" batin Angga yang tersenyum kecum
Angga akhirnya memakai pakaiannya lalu turun ke bawah dan memberitahu mamanya, segera Monica menghampiri dan menanyakan keadaan menantunya itu.
Anggun mencoba bangun namun rasa sakitnya semakin menjadi, Angga memutuskan untuk menggendongnya meski awalnya Anggun menolak. dengan kecepatan tinggi Angga sampai di rumah sakit dan mengambil jadwal antrian. untung saja masih pagi jadi belum terlalu ramai dan menunggu tak terlalu lama.
dokter mulai memeriksanya dan Angga hanya melihat kearah Anggun yang menahan sakit.
"ibu Anggun, asam lambungnya kambuh jadi harus menjaga pola makan dan banyak istirahat. asam lambung bisa disebabkan beberapa faktor misalnya stres, pola hidup yang tidak sehat." ucap dokter itu menjelaskan dan melihat tatapan mata pasiennya itu sayu.
"jadi bagaimana dok, apa perlu dirawat di rumah sakit ?" tanya Angga berharap agar keadaan istrinya cepat pulih.
"jangan...!!," ucap Anggun setengah teriak karena tak suka harus berlama-lama di rumah sakit itu.
"di rumah saja juga sudah baik, asalkan istirahat yang cukup dan pola makannya harus dijaga" ucap dokter yang membuat Angga paham.
__ADS_1
Angga kembali ingin menggendong Anggun namun di tolak karena merasa malu.
"tak perlu, aku bisa jalan sendiri" ucap Anggun dingin lalu berjalan pelan menatap lantai rumah sakit. Angga hanya menurut saja lalu berjalan disampingnya.
****
"bagaimana keadaan Anggun ?" ucap Monica yang baru saja hendak berangkat kerja namun bertemu dengan keduanya di bawah tangga.
"cuma asam lambung ma" ucap Anggun lirih
"astaga, mama juga sering merasakan itu. sangat sakit, kamu harus banyak makan ya" ucap Monica yang merasa kasihan dengan Anggun yang mencoba terlihat baik-baik saja.
mereka berdua membantu Anggun menaiki anak tangga, sesampainya di kamar dengan telaten Monica merawatnya mengusap minyak kayu putih dan menyuapi Anggun dengan sabar. Angga juga ikut memperhatikan yang dikerjakan mamanya.
"nanti kamu makan bubur saja ya, biar mama suruh bi susi buatkan" ucap Monica yang melihat Anggun tak berselera dan Anggun hanya membalas dengan anggukan.
seusai makan kini gantian Angga yang merawatnya dengan memberinya obat dan segelas air hangat. mereka berdua akhirnya keluar dan membiarkan Anggun beristirahat.
belum lama setelah itu Anggun merasakan mual lagi, dengan perlahan dia masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan lagi makanan itu. Angga yang mendengar dari luar segera masuk ke dalam kamar dan melihat Anggun tampak lemah duduk di lantai.
Angga lalu menggendongnya keatas ranjang dan memberikan segelas air minum lagi. untung saja jadwalnya tak terlalu padat hari ini jadi bisa bekerja di rumah
Angga mulai membuka laptopnya diatas meja dan mulai mengetik sedangkan Anggun sudan memejamkan kedua matanya. sesekali Anggun menggeliat dan Angga menarik selimut sampai menutupi lehernya.
dia merasa kasihan dengan Anggun yang semakin hari terlihat kurus. meski dia juga tak ada perasaan apapun terhadapnya namun bagaimanapun juga dia tetaplah istrinya.
Angga memperlakukannya sama dengan adiknya Niki yang jika sakit pasti lebih manja dari biasanya. Angga merasa bersalah dengan tindakan kasarnya selama ini ke Anggun, meski sebenarnya itu hal yang wajar apalagi dia menuntut haknya sebagai seorang suami. bagaimanapun juga dia cukup lama menahan diri untuk tidak berbuat lebih namun agak sulit apalagi harus melihat wanita yang sah menjadi istrinya itu setiap hari di tempat yang sama, di kamar yang sama dan di ranjang yang sama pula.
__ADS_1
sementara Anggun semakin membenci Angga sejak melihatnya marah dan ****** bibirnya dengan kasar, apalagi dengan tindakannya saat berada di rumah ayahnya. jujur saja Anggun belum siap kala itu, dia selalu berpikir akan melakukannya dengan sosok yang di cintainya. yang terngiang dinpikirannya hanya perkataan kasar Angga yang pernah menyebutnya wanita rendahan dan pemaksaan yang dilakukannya hingga yang tersisa hanya rasa sakit. itulah alasannya tak ingin di gending oleh Angga, karena dia tak ingin berdekatan dengan orang yang dia benci.