
Monica baru saja tiba di rumah, setelah membujuk putri yang merengek karena tak ingin mamanya pergi. baru saja tiba di rumah Niki sudah menghubungi mamanya.
"Ma.... Amira mulai rewel lagi. dia sudah terbiasa dengan gendongan mama" Niki tampak kewalahan menenangkan putri sulungnya.
wajar saja karena baru seminggu dia menjadi seorang ibu dan masih perlu belajar banyak, dia sudah membaca buku parenting, dan mendengarkan saran dari teman-temannya juga.
"kamu pasti bisa nak, coba praktekkin yang mama buat kemarin" sahut Monica yang baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu dan mendengar suara rengekan cucunya dari seberang sana.
"udah ma, Amira udah mau diam. makasih ya ma" sahut Niki yang mulai merasa lega lalu pembicaraan mereka pun terputus.
bi susi yang mendengar suara di ruang tamu segera menghampiri dan menyapa majikannya.
"selamat pagi bu, sarapan sudah ada di atas meja" ucap bi susi dengan ramah
"selamat pagi bi, oh ya Angga sama Anggun dimana bi ?" tanya Monica sembari menyusuri ruangan sejauh mata memandang. mereka berjalan menuju meja makan.
" masih di atas bu, perlu saya panggilkan ? "
"tak perlu bi, biar mereka turun sendiri. bi, selama saya gak ada keadaan rumah gimana ?" tanya Monica menatap lekat bi susi
"semua aman aja bu, tapi jarang makan malam. non Anggun sama den Angga sibuk kerja. mereka sering pulang malam" ucap bi susi jujur dan apa adanya
"ohhh begitu, tapi semua aman kan bi? gak ada masalah ?" tanya Monica lagi penuh selidik karena tak ingin ketinggalan satu informasi pun
"non Anggun belakangan ini pergi keluar bu untuk jalan-jalan. setelah pulang malam lalu pamit pergi lagi. biasanya pulang tengah malam" ucap bi susi yang mengingat ucapan Anggun kalau dia ingin jalan-jalan namun selalu pulang larut malam.
"ohh ya bi...."
"selamat pagi ma, mama baru aja datang ya ?" ucap Angga menghampiri lalu mencium rambut kepala mamanya membuat Monica sedikit terkejut karena tak sadar kalau anaknya sudah di dekatnya. pembicaraannya dengan bi susi pun terhenti.
"ehhh anak mama, keadaan rumah baik aja kan selama mama gak di sini ?" tanya Monica sembari mengelus tangan anaknya.
__ADS_1
"hmmm baik aja ma, rumah jadi sepi kalau gak ada mama" sahut Angga yang selesai meneguk segelas air putih.
"Anggun mana nak ? biar kita sarapan bersama" ucap Monica yang melirik ke atas namun belum melihat tanda-tanda Anggun akan turun.
"Anggun masih tidur ma, mungkin kelelahan" ucap Angga mencari alasan agar mamanya tak jadi khawatir.
"ohhh gitu, ya sudah kamu sarapan dulu. mama mau ke atas" ucap Monica sembari menepuk bahu anaknya, lalu menaiki anak tangga dan mengetuk pintu kamar.
tokk...tokk..tok...
"Anggun, ayo kita sarapan ?" ucap Monica yang sabar menanti jawaban dari luar sembari mengetuk pintu.
belum ada suara juga, Monica memutuskan untuk masuk ke dalam kamar itu dan melihat Anggun masih bersembunyi di balik selimut. Monica mendekat dan mulai membangunkannya.
Anggun menggeliat lalu perlahan membuka kedua matanya.
"Anggun, mata kamu bengkak. kamu nangis semalaman ya ?" tanya Monica yang melihat jelas wajah menantunya berubah.
"hmmm gak ma, Anggun mungkin terlalu banyak begadang makanya jadi bengkak" ucap Anggun sembari bangkit dari tidurnya.
"cerita ke mama, kalau ada masalah. Angga membuat kamu sedih ?" tanya Monica sembari meraba pipi Anggun.
Anggun hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis, berulang kalu dia mengusap kedua matanya berharap agar bengkak itu menghilang.
"jangan di usap, nanti kita kompres. kamu mandi dulu trus kita sarapan di bawah ya" ucap Monica menahan tangan Anggun yang masih menyentuh kelopak matanya.
Anggun mengangguk lalu segera menuju kamar mandi dan membasuh tubunya, dia sedikit terkejut karena kedua matanya memang terlihat bengkak.
Monica segera turun lalu mengambil beberapa bongkak es dan memasukkannya ke dalam mangkok dan menyuruh bi susi mengambil sapu tangan.
"mama mau ngapain ?" tanya Angga yang heran melihat mamanya mengambil es
__ADS_1
"mau kompres mata Anggun, sepertinya dia semalam menangis" ucap Monica lalu meraih sapu tangan yang di berikan bi susi.
deggg...
"apa dia menangis semalaman? tapi aku tak mendengar suara apapun" batin Angga yang masih melahap sarapannya.
"kamu tau kenapa Anggun menangis? atau jangan-jangan karena ulah anak mama ?" ucap Monica yang duduk di samping Angga sembari menatap lekat membuat Angga salah tingkah.
belum Angga menjawab pertanyaan mamanya, muncul Anggun dengan pakaian yang sudah rapi namun matanya masih terlihat bengkak. Monica segera menyuruhnya duduk di sampingnya. sedangkan Angga yang baru saja melihat Anggun masih sangat penasaran
"wanita ini cukup misterius, entah apa saja yang di sembunyikannya dariku" gumam Angga yang meneguk minumannya. mata mereka saling bertatapan sejenak membuat Angga tersedak.
"pelan-pelan Angga, kamu kayak anak kecil aja" ucap Monica melirik pelan ke arah Angga lalu kembali sibuk mengompres menantunya itu.
Angga lalu memutuskan pamit dan mencium punggung tangan lalu mencium ujung kepala mamanya. langkahnya terhenti setelah mamanya berucap.
"Angga, kamu cuma pamit ke mama. kamu lupa sudah punya istri. lakukan seperti yanh kamu lakukan ke mama" ucap Monica sembari menatap ke duanya secara berganti.
Angga menghela nafas pelan, enggan menolak permintaan mamanya yang meminta dengan tatapan memelas. sedangkan Anggun yang tak mengerti situasi hanya diam.
"Aku berangkat kerja dulu ya" ucap Angga setelah mendekat ke arah Anggun lalu mendekatkan telapak tangannya membuat Anggun sedikit bingung.
Anggun menatap mertuanya dan suaminya bergantian karena bingung, Monica menggerakkan mulutnya tanpa suara menyuruh Anggun untuk mencium tangan suaminya.
Anggun mencium punggung tangan suaminya setelah paham dengan ucapan mamanya. Angga juga memcium ujung rambut Anggun, persis seperti memperlakukan mamanya. Monica hanya tersenyum dan mengangguk menatap Angga
degg....
Anggun menahan nafas sejenak mencoba menahan agar gemuruh hatinya tak terlihat oleh keduanya.
"i...iya hati-hati di jalan" ucap Anggun karena melihat mertuanya menyuruhnya untuk membalas ucapan Angga.
__ADS_1
Angga lalu pergi dan meninggalkan keduanya. tinggal mereka berdua yang menikmati sarapannya yang tertunda. Selesai sarapan keduanya pun pergi menuju butik. sepanjang perjalanan Anggun menceritakan hal yang terjadi selama Monica tak ada. Monica hanya mendengarkan meski sebenarna dia sudan mendengar dari asistennya. Monica sengaja bertanya agar pembicaraan mereka semakin dekat.
Monica melihat Anggun yang sudah terbiasa bekerja di butik, sesekali Monica tersenyum melihat Anggun yang ramah menyapa pengunjung.