Beruntung Menikahimu

Beruntung Menikahimu
Berselisih Paham


__ADS_3

"kenapa aku tak boleh melihat isinya ?" ucap Angga yang masih penasaran dengan isi plastik yang sudah di sembunyikan oleh Anggun


"mmm bukan apa-apa..." ucap Anggun singkat dan hanya menundukkan kepalanya.


"kamu sudah makan ?" tanya Angga karena tahu salah satu dari isi plastik itu adalah nasi bungkus


Anggun hanya mengangguk pelan dan terlihat sangat bohong membuat Angga menghela nafas panjang


"ayo kita keluar, kita cari tempat makan dulu..."


"tidak, kalau ada yang mau di bicarakan langsung saja. aku merasa tak nyaman kalau nanti ada pemilik kosan yang datang melihat kita berdua di sini" ucap Anggun yang semakin berdebar jika didekat suaminya.


"kan kita sudah menikah, jadi masalahnya dimana ?" ucap Angga lagi yang membuat Anggun mematung


"kamu makan dulu, aku tau kamu belum makan. itu tadi nasi bungkus kan"


"langsung ke intinya saja, aku mau kamu cepat pergi dari sini"


"aku takkan mulai bicara sebelum kamu makan dulu" ucap Angga lagi yang tetap tak mau kalah membuat Anggun akhirnya bangkit dari duduknya menuju lemari dan mengambil nasi bungkus itu.


dia mulai memakannya dengan memunggungi Angga, dia merasa sangat tak berselera namun tetap di paksakannya. dia menyendokkan makanan itu ke mulutnya dengan cepat agar rasa mual itu terdorong kembali.


Anggun baru saja menghabiskan nasi bungkusnya membuat Angga sedikit terkejut, Anggun segera meraih sebotol air mineral yang di belinya. baru saja ingin di teguknya namun rasa mual itu kian menjadi.


Anggun dengan cepat berlari ke kamar mandi dan segera menguncinya lalu memuntahkan semua makanan itu, terdengar suara irama air mengalir bersamaan dengan suara Anggun.


Angga yang mendengar dari luar berusaha masuk tapi sayangnya di kunci, Angga semakin penasaran sakit apa sebenarnya dia.


Anggun keluar dengan wajah yang merah, di usapnya wajahnya berulang kali. Angga mendekat dan merangkul tubuhnya menuju sebuah kursi.

__ADS_1


"kita ke rumah sakit sekarang ya..." ucapnya dengan lembut sembari meletakkan telapak tangannya di kening Anggun namun dengan cepat di tepis istrinya.


"aku mau sendiri, kalau kamu tak mau bicara apapun kamu bisa pergi sekarang" ucap Anggun lagi dengan tatapan sayu.


"aku tak mau pergi ke manapun, aku akan jaga kamu. aku minta maaf karena terlalu egois selama ini. kamu boleh menghukumku atau marah sekalipun tapi jangan ada lagi kata cerai." ucap Angga sembari menggenggam kedua tangan istrinya.


"kenapa harus di pertahankan kita sama-sama tersiksa dengan pernikahan ini. kamu juga pasti menyesal karena menikahi aku. aku ingat ucapan kamu dulu yang mau menikah karena dipaksa mama kan ?" ucap Anggun menahan agar air matanya tak keluar.


"iya itu benar, tapi aku sedang belajar jadi suami yang baik untukmu"


"suami yang baik, maksud kamu yang bisa mengatur hidupku sepenuhnya?"


mereka berdua akhirnya hening, Angga masih memikirkan kembali ucapan mamanya agar mampu menemukan titik kelemahan Anggun.


"ini hadiah untuk mu, selamat ulang tahun istriku" ucap Angga kemudian setelah mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


Anggun tersadar dari tatapan sayunya melihat heran kearah Angga yang entah tahu dari mana kalau dia berulang tahun kemarin.


"maaf, aku memang bukan lelaki yang romantis bahkan tak tau ukuran jemarimu" ucap Angga lagi namun Anggun hanya menatap ke arah cicin yang melekat di jarinya dengan tatapan sulit diartikan.


"kamu pasti lelah, sekarang kamu istirahat dulu ya. aku mau mandi" ucap Angga yang mengangkat bahu Anggun lalu menuntunnya ke atas ranjang.


Angga kembali ke mobilnya mengambil koper kecil dan kembali masuk ke kosan itu lalu mengunci pintu tak lupa menaruh kunci itu di saku celananya. dia tak ingin Anggun kabur lagi. Anggun menatap sinis kearah Angga yang melakukan itu, dia kembali merasa hidup di tahanan.


Angga membasuh tubuhnya yang sangat lengket karena sudah dua hari dia tidak mandi dan hanya menghabiskan waktu di dalam mobilnya. Angga keluar dan sudah dengan pakaian bersih di lihatnya Anggun memejamkan mata seolah tidur padahal dia tahu kalau Anggun hanya berpura-pura.


Angga menarik selimut sampai ke bahunya lalu mencium kening Anggun beberapa kali. membuat jantung Anggun kembali berdetak cepat dan semakin bingung dengan perasaannya kini.


"haruskah aku mengatakan kalau aku sedang hamil ?" batin Anggun bertanya karena masih ragu apakah harus mempertahankan rumah tangganya atau cukup sampai disini.

__ADS_1


Angga duduk dan menaruh lengannya diatas meja kecil dia mulai memainkan hp nya, memberi kabar ke Nica dan Dewi juga mamanya kalau dia sudah menemukan istrinya. namun tak ingin memberitahu alamatnya karena masih ingin menyelesaikan masalahnya dengan istrinya.


waktu sudah menunjukkan jam tujuh sore dan Anggun masih berada diatas ranjang, entah sejak kapan dia tertidur. terdengar suara ketukan darinluar dan Angga segera membukanya. Angga memesan makanan dari aplikasi dan beberapa kebutuhan lain juga. beberapa kali terdengar suara ketukan dan membuat Anggun melirik sejenak.


"maaf sudah membangunkanmu, ini aku sudah membelikan makan malam. kamu makan dulu ya" ucap Angga mendekat ke arah Anggun yang hanya memejamkan mata tanpa berkutik


Angga terus membujuknya mengangkat bahunya membuat Anggun dalam posisi duduk dan bersandar. Angga melihat wajah Anggun yang pucat lalu berinisiatif untuk menyuapinya. tapi baru saja Angga mendekatkan makanan membuat Anggun mual lalu dengan cepat menuju kamar mandi


Angga dengan cepat berlari mendekati Anggun dan melihat istrinya mengeluarkan isi perutnya. Angga mengusap lembut bahu istrinya.


"kamu sakit apa sebenarnya ?" tanya Angga namun Anggun hanya menepis tangannya.


"keluarlah... aku bisa mengurus diriku sendiri" ucap Anggun membuat Anggun sedikit mundur dan memperhatikan istrinya sedang membersihkan wajahnya.


Anggun kembali ke ranjangnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. dia kini tak peduli lagi dengan lelaki yang sejak tadi mengekorinya. dia hanya berharap rasa sakit di tubuhnya secepatnya pergi.


Angga terjaga memandangi tubuh istrinya dia bahkan tak berani tidur disampingnya dan memilih duduk dan meletakkan kepalanya diatas meja. dia kembali teringat dengan plastik yang di sembunyikan Anggun tadi.


perlahan dia berjalan dan membuka lemari itu, mengambil plastik itu lalu mengeluarkan semua isinya.


"ini obat penambah darah, kalau yang ini apa ?...." Angga membaca dalam hati dan merasa bingung dengan beberapa obat lalu mengambil gambarnya dan menanyakan ke dokter Reza yang di temui kemarin.


****


Anggun kembali terbangun jam lima pagi karena rasa mualnya dia terkejut karena melihat Angga yang melipat kedua lengannya dan menjadikannya bantal diatas meja.


"aku kira kamu sudah pulang" ucap Anggun sembari berlari ke kamar mandi.


dia menutup pintu kamar mandi dan menyalakan air keran agar tak terdengar oleh suaminya tapi tetap saja suara mualnya cukup keras dan membuat Angga terbangun.

__ADS_1


Angga menghampiri Anggun yang baru saja keluar dari kamar mandi, dia mengusap lembut kening Anggun yang terlihat sedikit basah.


"kamu mau makan roti sedikit ya, perut kamu kosong karena terus saja muntah" ucap Angga namun Anggun menolak pelan, Angga menyodorkan air mineral dan kali ini diterima oleh istrinya.


__ADS_2