Beruntung Menikahimu

Beruntung Menikahimu
Terkejut


__ADS_3

ketiga wanita itu barus benar-benar tersadar setelah tidur cukup lama, sudah siang hari. perut mereka keroncongan membuat keadaan tubuh mereka terlihat lemas. Dewi memanggil pembantu dari atas, sembari berteriak memanggil nama pembantunya. suaranya menggema mengisi rumah yang sepi itu.


pembantu pun menunjukkan batang hidungnya dari bawah dan menatap ke atas mendengar ocehan nona mudanya lalu mengiyakan dan segera menyiapkan makan siang mereka.


Eza yang sudah bangun sejak tadi hanya duduk di taman belakang dan setelah mendengar suara nona nya dia akhirnya masuk dan melihat pembantu itu menyiapkan tiga piring makanan.


"bi... mereka sudah bangun ?" tanya Eza ke bi muni


"iya za, ehhh kamu bisa di pecat tuan kalau tak bisa menjaga nona dengan baik. kenapa kamu ijinkan dia pergi dan pulang mabuk-mabukan ?" ucap bi muni panjang lebar.


pengawal yang sebelumnya juga memang sudah di ganti dan Eza baru bekerja sebulan di keluarga itu. pengawal yang sebelumnya merasa kewalahan menangani Dewi yang suaranya bisa sangat melengking jika marah.


Eza memandang langkah kaki bi muni yang cepat menaiki anak tangga lalu mengetuk pintu kamar nona mudanya itu. setelah mendengar suara bi muni akhirnya masuk dan kelihat ketiga tampak berantakan.


"terimakasih ya bi, ohhh iya bi.... tunggu" ucap Dewi yang menahan langkah kaki bi muni sebelum menutup pintu kamar.


"papa sama mama sudah ada pulang ke rumah ?" tanya Dewi melanjutkan perkataannya yang tadi.


"belum non, hanya ada saya sendiri sebelum kalian datang" ucap bi muni lalu akhirnya menutup pintu kamar lalu menuruni anak tangga dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Dewi sudah menduga kedua orang tuanya masih saja tak berubah, jarang di rumah dan kalau sudaj di rumah pasti bertengkar.


mereka akhirnya menikmati makan siangnya, sebelum memutuskan kembali ke rumah masing-masing. apalagi Nica yang setelah memeriksa hp nya sudah banyak panggilan tak terjawab.


"waduh... bisa kena omel, banyak banget panggilan tak terjawab" ucap Nica sembari menunjukkan layar hp nya ke arah Anggun dan Dewi


Anggun pun tersadar dengan hp nya dan segera meraihnya dari dalam tas, dan ikut terkejut juga.


"sudah dua puluh tiga panggilan tak terjawab" ucap Anggun terkejut dan menunjukkan ke arah kedua sahabatnya itu.


mereka sedikit bercanda dan menakuti Anggun dan mendapat respon santai dari Anggun.


setelah selesai makan siang, Anggun memutuskan segera mandi dan menghilangkan muka bantalnya. keluar dengan aroma tubuh yang segar. Nica juga segera masuk ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya. dia cukup lama berada di dalam karena masih asyik berenda, dan memainkan busa.


Anggun yang tampak greget akhirnya menggedor-gedor pintu


"Nica sayang.... ayo, mau pulang jam berapa. ingat panggilan tak terjawab" ucap Anggun setengah berteriak membuat Nica kembali gusar.


"ihhhh, sebel. dasar cerewet" ucap Nica yang membuka pinta dengan cepat, dia keluar memakai jubah handuk.

__ADS_1


sedangkan Dewi asyik memainkan hp nya entah melakukan apa.


mereka berdua diantar oleh Eza setelah mendapat perintah dari Dewi. sesampainya di depan rumah Anggun segera melambaikan tangannke arah Nica lalu masuk ke dalam rumah.


suasana rumah tampak sepi, Anggun mampir sejenak di dapur dan meneguk segelas air putih lalu beranjak menuju kamarnya.


"baru pulang dari mana saja ?" ucap Angga dengan nada datar setelah Anggun membuka pintu kamar.


deg....


"kenapa dia ada di sini, gawat..." batin Anggun yang menyadari kesalahannya karena mengabaikan panggilan dari suaminya.


Angga bangkit dari tepi ranjang dan mendekat ke aran Anggun, sementara Anggun bersiap untuk kabur jika Angga berbuat macam-macam.


dia masih diam terpaku di depan pintu, Angga semakin mendekat dan mengunci kamar lalu menarik kuncinya. kejadian yang sebelumnya kembali teringat oleh Anggun.


"tenang Anggun dia gak akan berani macam-macam di rumah ayah" batin Anggun yang mencoba mengayur nafasnya.


Angga mengamati seluruh tubuh Anggun dari atas ke bawah.


"baru tiga hari sudah terlihat kurus, kantong mata yang tebal" batin Angga yang merasa sedikit prihatin


"ohhhh biasa aja" jawab Anggun setelah menyentuh kedua matanya yang merasa tak ada masalah belum menyadari kalau bola matanya terlihat merah dan mata panda yang terlihat.


Angga menyeret langkah kakinya kembali ke tepi ranjang dan duduk bersandar. sementara Anggun masih berdiri dan tampak heran.


"dia tidak marah seperti waktu itu ?" batim Anggun lagi yang sedikit tenang.


"ceritakan apa saja yanh kamu lakukan selama aku tidak ada" ucap Angga yang menatap ke sisi lain


"mmm... pergi dengan kedua sahabatku" ucap Anggun yang semakin bingung dengan pertanyaan Angga


"pergi ke mana? ke club dan berlaku seperti wanita lajang? kamu luoa sudah menikah ?" tanya Angga yang menatap tajam ke arah Anggun.


"kenapa raut wajahnya sangat sulit di tebak, sebentar marah sebentar tenang" batin Anggun yang mendadak gugup dan tak menjawab pertanyaan suaminya.


"kamu benar lupa memang ya, buktinya panggilan dari ku diabaikan selama tiga hari ini" ucap Angga yang semakin membuat Anggun tersudut.


Angga melambaikan tangannya dan menyuruh Anggun mendekar agar tak berdiri saja di depan pintu. Anggun dengan ragu akhirnya melangkah lalu duduk di samping suaminya itu.

__ADS_1


"jawab pertanyaannku !" ucap Angga yang menyentuh dagu Anggun agar menatap kearahnya.


"maaf... aku lupa memeriksa hp ku selama disini" ucap Anggun lalu memalungkan pandangannya lagi namun tangan Angga belum turun dari dagu istrinya itu


"ohhh jadi kamu lupa sudah punya suami ya"


"bu...bukan begitu..."


"jadi apa ?" ucap Angga dengan sedikit mencengkeram dagu Anggun agar menatap kearahnya. Anggun sedikit meringis dan belum menjawab.


"biar aku buat agar kamu gak lupa sudah punya suami" ucap Angga yang sudah mulai kesal dengan kelakuan istrinya lalu menarik tubuh Anggun sampai terlentang.


Anggun melakukan perlawanan namun Anggun dengan cepat membekap mulutnya.


"kamu mau teriak? biar mama sama ayah tau. silahkan...!" ucap Angga yang melepas tangannya dari mulut Anggun.


lalu mulai ******* bibir Anggun dengan kasar, sedangkan Anggun jadi bingung antara harua diam atau berteriak.


Angga tak membiarkan istrinya kali ini, dia mulai bermain di leher istrinya membuat Anggun merasa geli dan memberontak.


"jangan..." ucap Anggun lirih namun tak di dengarkan Angga


pakaian Anggun dilepas paksa dan di buang kasar membuat Anggun menangis sejadinya tanpa bersuara.


Angga memaksa untuk memasukkan kepemilikannya ke tubuh Anggun


"Aargghhhh... hikss.hiks...hiks.." Anggun menjerit kecil lalu menangis dengan kedua tangan yang mencengkeram erat seprei.


Angga terus melakukan aksinya sampai dia menghentakkan dengan kasar pertanda mengakhiri semua lalu menindih tubuh istrinya dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Anggun sembari mengatur nafas yang berpacu sejak tadi. lalu berbaring disamping Anggun yang masih menangis dan menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.


Angga menarik selimut dan menutupi tubuh mereka. tak lama setelah itu Anggun beranjak menuju kamar mandi lalu menatap lekat seluruh tubunya yang merah. jerit tangisnya pecah lagi.


Angga terdiam dan mengingat kejadian baru saja terjadi lalu menatap ke arah seprei yang meninggalkan bercak merah. Angga menyentuhnya dan masih terasa basah.


Angga masuk ke dalam kamar mandi yang kebetulan tak di kunci dan melinat Anggun mengusap kasar lehernya dengan masih di balut selimut.


Angga memeluknya dari belakang sangat erat.


"jangan menangis lagi istriku, maaf karena aku terlalu kasar. aku harap kamu tak lupa kalau sudah menikah" ucap Angga lalu menggendong tubuh Anggun ke atas ranjang lalu memeluknya dengan erat sampai Anggun berhenti menangis dan tidur.

__ADS_1


__ADS_2