
Anggun sudah siap untuk memulai hidup baru, dia bersemangat bekerja dan mengikuti keinginan hatinya tanpa di atur oleh orang lain. meski setiap hari selalu ada saja pesan masuk atau panggilan telepon yang di abaikannya. semakin sering di hubungi dan mengabaikannya semakin membuat perasaan Anggun sakit sendiri.
di satu sisi dia ingin mengangkat telepon itu namun bingung harus bicara apa, lidahnya terasa kelu untuk berucap. meski demikian mereka tak menyerah dan terus mengirimnya pesan.
Anggun mengemudikan mobilnya menuju cafe, dia sudah sangat semangat untuk bekerja. waktu berjalan cepat sudah seminggu dia bekerja di tempat itu dan sudah dua minggu lebih juga dia pergi dari rumah.
begitu tiba di cafe di menyapa semua teman sesama pelayan dan mereka mulai bekerja sesekali di suguhi gosip. Anggun bersyukur karena yang bekerja disana kebanyakan mahasiswa yang bekerja part time juga.
Meski Anggun masih berbohong ke mereka bahwa dia seorang mahasiswa yang baru saja cuti karena harus mengumpulkan biaya. anehnya mereka semua percaya saja, mungkin karena tubuh Anggun yang mungil sehinfga wajahnya terlihat seumuran dengan mereka, padahal sangat jauh lebih senioran Anggun di sana.
***
selama berada di kota x Angga menginap di rumah om Danu namum tetap menyembunyikan masalahnya. dia hanya menceritakan masalah perusahaan kecilnya yang dilanda masalah dua minggu yang lalu.
Angga sangat jarang berada di rumah bahkan hanya untuk makan bersama pun. Danu tak ingin ambil pusing melihat keponakannya itu.
__ADS_1
Angga sudah pergi entah kemana pun tanpa tujuan, dia menyiari kota itu hanya berharap bisa bertemu dengan Anggun. dia membayangkan kalau dia menemukan Anggun di pinggir jalan yang hendak menyebrang atau apapun, pikirannya melayang.
Angga berhenti sejenak di pom bensin setelah berkeliling cukup lama, dia mengamati isi pesan yang di kirimnya setiap hari demi untuk membujuk Anggun agar mau bicara atau paling tidak membalas pesannya. Angga menghela nafas dengan berat.
petugas di pom bensin sampai memanggilnya beberapa kali karena Angga tak berkutik dari lamunannya.
"pak...pak... maaf pak... sudah selesai" ucap petugas itu memanggil Angga yang sedang duduk di kursi pengemudi sembaru memandang hp nya
"ohh...ehhh iya, terimakasih" ucap Angga lalu menyodorkan uangnya lalu segera pergi meninggalkan tempat itu.
Angga kembali ke pemakaman umum untuk ziarah karena yang sebelumnya dia tak jadi karena terfokus setelah mengetahui kalau Anggun sempat berada disana. kali ini Angga sudah menyiapkan bunga untuk almarhum mama mertuanya.
Angga lalu berjalan perlahan menuju mobilnya yang di parkirkan di pinggir jalan. dia segera masuk lalu mengemudikan mobilnya meski bingung harus kemana. perutnya yang mulai berbunyi membuatnya tersadar kalay sejak tadi pagi dia belum sarapan atau bahkan semalam pun dia tak makan malam. hanya bermodalkan air putih untuk mengganjal semuanya, Angga memang begitu jika ada masalah dia bahkan sampai lupa makan namun tak melupakan minuman.
Angga akhirnya berhenti di sebuah cafe dia hanya sekedar lewat dan mengikuti mood nya, biasanya dia akan pergi ke tempat yang memang di rekomendasikan oleh orang terdekatnya. kali ini dia hanya asal memilih saja yang penting perutnya terisi.
__ADS_1
Angga duduk dan tak lama seorang pelayan menghampiri lengkap dengan buku menu nya. Angga melirik daftar menu lalu mulai memilih. tak berselang lama pelayan itu muncul lengkap dengan nampan yang berisi makanan.
Angga mulai mencicipi makanan itu meski masih sibuk dengan hp nya.
"aku seperti mendengar suara Anggun tadi " batin Angga lalu mengangkat kepalanya melirik ke sekitarnya.
"aku salah dengar sepertinya.." ucapnya lagi dalam hati lalu memanggil pelayan karena ingin membayar, padahal makanannya masih banyak tersisa.
***
Anggun yang sejak tadi mengantar makanan dan membersihkan meja pelanggan tampak masih energik. apalagi dua jam lagi dia akan kembali ke kosannya. sesekali dia tersenyum dan mengucapkan terimakasih karena telah mampir ke cafe itu.
"selamat siang, silahkan duduk di sini mba... mau pesan apa ?" ucap Anggun ramah lalu menyodorkan buku menu dia tak sadar kalau suaminya berada di tempat itu.
dia baru tersadar setelah Angga yang mengangkat tangannya memanggil pelayan, Anggun membelalakkan kedua matanya lalu segera menjauh. untung saja dia tak berada di dekat pelayan itu jadi Angga belum mengetahui keberadaannya.
__ADS_1
"itu mas Angga, kenapa bisa ada disini ?, mungkin dia ada urusan kantor... untung saja kami belum ketemu" batim Anggun yang bersembunyi di dapur sembari mengatur nafasnya.
Suasana hati Anggun mulai tak bersemangat, setelah jam kerjanya selesai dia melajukan mobilnya dengan pelan sembari membayangkan kejadian tadi di cafe. ada kerinduan di lubuk hatinya sekaligus rasa bersalah dan juga rasa benci, dia menjadi bingung dengan perasaannya sendiri