
sudah tiga hari Anggun di kurung di rumah, nasibnya sama buruknya dengan kedua sahabatnya. Dewi bahkan tak di ijinkan lagi untuk di kos dan diawasi oleh kedua kakaknya setelah mendengar amarah dari kedua orangtuanya. bahkan tak segan-segan menyewa pengawal agar dia tak berani keluar rumah. kedua kakaknya sangat menyayangi Dewi. mereka adalah laki-laki hebat yang mandiri dalam membangun usahanya, meski cukup tau keadaan kedua orang tuanya yang selalu saja gaduh. tapi mereka tetap menghormatinya.
Sedangkan Nica hanya bisa menangis, setelah kedua orang tuanya marah besar atas kejadian itu. sebagai keluarga pengacara nama baik mereka pun tercoreng. bahkan tak menyangka bahwa putri tunggalnya sering pergi ke tempat buruk begitu.
mereka saling meluapkan kesedihan di group obrolan yang hanya diisi oleh mereka bertiga. Anggun juga menceritakan hukuman yang diterimanya, membuat kedua sahabatnya turut prihatin.
"hari itu benar-benar sial, kenapa kita harus ketemu Alex br*ngs*k itu" pesan dari Nica terlontar dengan emoticon menangis dan marah.
"bertapa di dalam rumah, kak Doni dan kak Sammy gak sayang aku lagi" balas Dewi yanh meras frustasi karena tak bisa keluar.
"di pingit, lalu akan menikah. huaaaa aku ingin kabur dari sini. tolonggg" balas Anggun yang hanya diam diatas ranjangnya yang merasa hukuman ini seperti di pingit.
" maaf Anggun kita gak bisa nolongin kamu, selametin diri sendiri aja gak bisa" balas Dewi yang juga sedih dengan kisah Anggun
panjang lebar isi pesan mereka, setidaknya mampu mengurangi ras bosan ketiganya.
****
Wijaya dengan istrinya datang oergi ke kota x menuju rumah Monica, mereka memang sudah membuat janji untuk bertemu. setibanya di sana, mereka langsung duduk di ruang tamu. pembantu segera menyiapkan minuman untuk nyonya dan tamu itu.
"bagaimana, apa kalian tersesat menuju kemari ?" ucap Monica sesaat setelah mereka duduk.
"mmm tidak, tempat ini strategis. aku masih mengingatnya jelas" balas Wijaya yang masih bingunh merangkai kata-kata.
__ADS_1
"aku masih belum bisa meyakinkan anakku Angga, dimana Anggun?" sahut Monica sembari meneguk teh hangatnya.
"mmmm ada masalah beberapa hari yang lalu dan kami harus memberitau sebelum semuanya terlambat" ucap Wijaya lagi dengan ragu yang di serati tatap pasti dari Kesya bahwa harus berterus terang.
"ada masalah apa? katakan saja jangan sungkan" ucap Monica yang tampak bingung dengan raut muka kedua nya.
Wijaya dibantu istri menceritakan kasus yang menimpa Anggu, menceritakan sudah dua kali dia berurusam di kantor polisi dan menceritakan bahwa sampai saat ini dia sangat membenci Kesya.
Monica tampak terkejut mendengar itu, dia mulai ragu untuk meyakinkan Angga untuk menikahi Anggun. Namun disatu sisi dia bisa melihat bahwa Anggun sebenarnya anak yanh baik, bisa saja karena pengaruh lingkungan yang membuatnya demikian.
"tak perlu membujuk Angga untuk menikahi putri kami, sebelum semuanya merasa kecewa dengan sifat aslinya" ucap Kesya lagi dan dianggukan oleh suaminya.
"baiklah, kita biarkan seperti air mengalir saja" ucap Monica karena bagaimanapun anaknya yang akan menjalani rumah tangga.
perasaan lega akhirnya membuncah diantara keduanya karena sudah mengatakan keadaan yang sejujurnya, kalau Monica tetap mau menerima maka dengan senanh hati Wijaya akan menikahkan anaknya itu.
****
"Anggun, jangan lupa dimakan ya. kalau kamu butuh sesuatu bilang ke tante ya" ucap Kesya yang membelai lembut kepala Anggun.
"hmmm...... ia tante, terimakasih" sahut Anggun yang hendak tampak ragu mengatakan sesuatu. kesya tau ada yang mengganjal di hati putri sambungnya itu namun ia tak mau memaksakan untuk mengetahuinya.
sudah hampir seminggu Anggun di kurung di kamar, rasa bosan benar-benar merasukinya. hingga akhirnya pintu terbuka dan yang muncul adalah wijaya.
__ADS_1
"mandi dan bersiap-siaplah jangan lama-lama.!" kalimat sederhana yang terlontar setelah hampir seminggu tak menatap putrinya, lalu keluar dari kamar dan menguncinya lagi.
Anggun hanya menurut saja, bergegas ke kamar mandi lalu membersihkan diri. memakai pakaian yang rapi. merapikan rambutnya yang sebahu dengan sedikit ikal. memakai perona bibir agak tak terlihat pucat.
Kesya membuka pintu kamar lalu mengajak Anggun keluar menuju ruang tamu. membuat Anggun terhenti sejenak setelah melihat ke arah tante Monica yang duduk dan melempar senyum ke arahnya.
"jadi itu bukan gertakan, ayah sungguh akan menikahkan aku dengan anak tante Monica" batinnya yang mulai gusar
"apa kabar nak, sudah lama ya gak ketemu." sapa Monica lalu membelai rambut Anggun yang hanya menunduk, mukanya mulai merah hampir menangis.
"kamu mau kan menikah dengan Angga" celetuknya lagi yang langsung ke intinya membuat Anggun ingin menggelengkan kepala namun ragu setelah menatap kearah ayahnya.
"apakah kamu yakin, apa Angga sudah tau semua ?" ucap Wijaya yang tampak ragu karena Monica masih melanjutkan rencana mereka.
Monica hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya lalu terfokus ke arah Anggun yang terlihat sedikit gugup.
keluarga Wijaya tak mengetahui bahwa setelah mereka menceritakan kejadian itu, Monica lalu menyuruh kenalannya untuk mencari tau tentang club yang selalu di datangi Anggun. Club tersebut ternyata punya teman arisan Monica, jadi lebih mudah lagi mencari informasinya.
"gadis ini sudah sering datang kemari, tapi hanya untuk minum dan menari lalu pergi bersama kedua temannya. mereka selalu bertiga dan sangat jarang membawa pasangan " sahut bartender setelah melihat foto yang di tunjukkan oleh bos yang mengelola club ini.
selain itu, Monica mendapat informasi kalau Anggun juga sering berkunjung ke panti asuhan dan menjadi relawan jika di butuhkan. sering ikut melakukan bazar dan menyumbangkan barang-barang mewahnya. bahkan kedua orang tuanya tak tau kalau uang yang di habiskan Anggun sebagian untuk panti asuhan.
hal itu di ketahui setelah Monica menyuruh seseorang memeriksa latar belakangnya dimulai dari masa kuliah sampai di sosial medianya. yang kebanyakan dari anggota sukarelawan di panti itu. Anggun memang tak pernah mengposting apapun, bahkan tak ada foto tentang dirinya. hanya foto profil saja yang meyakinkan bahwa itu adalah dia.
__ADS_1
Monica tersenyum setelah melihat sejumlah bukti dan foto kebersamaan Anggun dengan anak yatim piatu itu.
"hatimu memang lembut seperti ibumu nak...." batinnya semakin yakin untuk menikahkannya dengan Angga.