
Anggun tampak terkejut karena pintu kamar terbuka dan melihat sosok suaminya muncul dan segera menutup pintu. Anggun baru saja selesai mandi dan masih mengenakan handuk menutupi tubuhnya dia sedang duduk di meja rias dan memakai lotion agar kulitnya lembab.
"mas Angga sudah datang...." ucap Anggum yang bangkit dari duduknya dan segera meraih telapak tangan suaminya lalu menciumnya.
Angga mengulurkan tangannya lalu dia segera duduk di tepi ranjang, membuat Anggun merasa sedikit heran karena biasanya dia akan mendapat kecupan di keningnya seperti tadi pagi.
dia tak ingin ambil pusing segera meraih pakaian dari lemari lalu kembali ke kamar mandi dan memakai pakaiannya.
Anggun kembali duduk di meja rias dan menyisir rambut basahnya, tatapan Angga terlihat dingin membuat Anggun mulai bertanya-tanya.
"apa aku berbuat kesalahan lagi ? padahal tadi pagi mas Angga masih baik" batin Anggun yang melirik suaminya dari pantulan cermin
"mas Angga, aku sudah memasak sesuai permintaan mas Angga tadi pagi" ucapnya bangkit berdiri lalu menatap ke arah suaminya
"hmmm iya aku tau" jawab Angga dengan nada datar tidak seperti dugaan Anggun. padahal Anggun sudah membayangkan kalau suaminya akan senang.
"kalau begitu kita makan..."
"aku tak berselera....." ucap Angga memotong ucapan Anggun
hati Anggun kembali sakit karena tingkah suaminya, dia semakin bingung dengan sosok di hadapannya itu. terkadang sangat baik dan manis namun terkadang terlihat jahat dan kasar.
"kenapa? tapi kan mas Angga bilang mau makan siang di rumah" ucap Anggun masih bingung dengan tatapan berkaca-kaca
"kamu lupa ucapanku semalam dan tadi pagi....?"
Anggun masih bingung hanya bisa diam mematung mencoba mengingat kembali kejadian semalam dan tadi pagi yang di maksud suaminya.
"hei....kamu ini polos atau memang sungguh bodoh. perintahku sekecil itupun tak bisa di lakukan dengan baik" ucap Angga yang kian kesal melihat istrinya hanya diam menunduk dan lagi-lagi berhasil membuat Anggun sakit hati.
"a..aku...." Anggun sangat bingung harus berkata apa, dia berusaha menutupi agar air matanya tak tumpah
"aku bilang jangan keluar dari rumah kalau ada perlu bisa telepon aku, tapi baru itu saja kamu tidak bisa lakukan. kamu pergi keluar dari rumah. dan itu tak sebentar" ucap Angga sedikit menaikkan nada suaranya membuat Anggun sedikit gemetar.
__ADS_1
"maaf, tapi kan hanya ke pasar sama bi susi untul beli..."
"intinya kamu tak minta izin, kamu tak meneleponku. kamu ngapain aja di pasar, kenapa bisa lama hah ?" ucap Angga memotong ucapan istrinya karena semakin kesal lalu mengusap kasar wajahnya.
"aku berkeliling dengan bi susi" ucap Anggun menjelaskan apa adanya
"dengan pakaian begitu ?" ucap Angga yang melirik tubuh istrinya dari atas sampai ke bawah karena melihat Anggun mengenakan kaos yang bisa di bilang ketat. Anggun menggeleng pelan.
"lalu pakaian yang bagimana ?" ucap Angga lagi sembari menghela nafas panjang
Anggun pun meraih pakaian yang dipakainya tadi ke pasar dan Angga segera bangkit dari duduknya dan merampas pakain itu. diamatinya dengan saksama.
"ini yang kamu pakai hah ?, lengan pendek celana pendek baju tanpa kerah. kamu mau memamerkan tubuh kurusmu hah ?" ucap Angga yang kian kesal karena pakaian yang dipakai Anggun ke pasar hampir sama dengan pakaian yang sekarang di kenakannya.
"biasa aku juga memakai pakaian ini, dan tak jadi masalah, kenapa...."
"biasa....biasa... biasa juga rambut pendek, biasa pakai baju ketat, biasa.... jangan samakan di rumah dengan di luar, jangan samakan di kamar dengan di luar" ucap Angga yang semakin jengkel dengan penjelasan istrinya sembari membanting pakaian yang di genggamnya kasar tadi.
Angga kembali duduk dan bersandar di atas ranjang, Anggun memutuskan keluar dari kamar lalu berjalan bingung harus kemana. semenyara Angga mengacak kasar rambutnya sudah mulai bingung harus bagaimana mengajarkan istrinya itu.
Anggun memutuskan memasuki perpustakaan mini lalu tangisnya pun pecah. dia memukul dadanya karena rasa sesak yang masih tersisa.
"kenapa aku selalu salah...." ucapnya lirih, lalu mengusap air matanya dengan telapak tangannya berulang kali.
setelah beberapa menit, Angga memutuskan untuk keluar dari kamar menuju meja makan namun tak mendapati sosok istrinya. hanya ada bi susi yang sedang merapikan makanan di kulkas sisa belanja tadi.
"Anggun mana bi ?" tanya Angga yang sudah duduk di kursinya
"saya belum lihat non Anggum di sini den" ucap bi susi bingung
Angga mengangkat tubuhnya menuju wastafel karena ingin mencuci tangannya lalu kembali melangkah menuju meja makan. langkahnya tiba-tiba berhenti setelah melihat warna merah di lantai dapur itu.
"ini apa bi...?" tanya sembari menunjuk dengan telunjuknya
__ADS_1
bi susi berjalan ke arah yang di tunjuk Angga lalu menatap lekat.
"ohhh ini sepertinya darah non Anggun tadi mengiris bawang di sini, setelah berdarah saya langsung menyuruh non Anggun membersihkan lukanya di wastafel " ucap bi susi yang ingat kejadian tadi lalu merasa bersalah lagi
Angga sedikit terkejut lalu berjalan perlahan menuju kursinya, dan ditegukkan segelas air putih untuk menenangkan pikirannya yang kalut.
"saya minta maaf ya den, harusnya saya tak mengijinkan non Anggun mengiris bawang" ucap bi susi yang masih berdiri di depan kulkas
"tak masalah bi, lagi pula itu keinginan Anggun sendiri kan. mungkin dia ingin belajar memasak" ucap Angga yang tau kalau Anggun pasti tak ingin merepotkan bi susi.
Angga kemudian mulai mencari istrinya mulai dari halaman belakang, tuang tamu sampai di garasi dan melihat mobilnya masih disana.
"kenapa dia bersembunyi...." batin Angga yang mulai panik
Angga duduk sebentar di ruang tamu, rasa lapar yang sejak tadi menyerangnya perlahan hilang digantikan rasa bersalah dan kepanikan. setelah beberapa menit dia duduk diam dia kembali teringat saat pernah memergoki Anggun menatap album foto di perpustakaan mini.
Angga menyeret langkah kakinya menaiki anak tangga dan berjalan cepat menuju menuju ruangan yang berada di ujung bersebelahan dengan kamar adiknya dulu di situlah perpustakaan mini itu.
dengan cepat Angga membuka pintu dan membuat Anggun terkejut segera dia bangkit dari duduknya lalu mengusap wajahnya dengan cepat. Angga memdekat dan lalu menangkap kedua tangan istrinya.
Anggun yang tak suka dengan perlakuan Angga pun memberontak pelan. tapi Angga tak kunjung membuka suara dan terus memeriksa tangan istrinya.
"aduh..." ucap Anggun kemudian menarik tangannya dan spontan melirik telunjuknya.
Angga pun ikut melirik dan menemukan yang dicarinya.
"ayo kita obati dulu di kamar ada kotak obat" ucap Angga menggenggam pergelangan tangan Anggun namun dengam cepat di tepis Anggun.
"aku bisa sendiri...."
"jangan keras kepala...." ucap Angga lagi dengan tatapan tajam lalu kembali menggenggam pergelangan tangan istrinya, menarik paksa meninggalkan ruangan itu dan masuk menuju kamar mereka.
Angga memberi obat merah ke luka Anggun meski wanita berulang kali menolak bantuan suaminya, namun tak di dengarkan oleh Angga.
__ADS_1