
setelah dua hari Anggun hanya berdiam diri dalam kamar akhirnya dia sudah sembuh dan sudah mampu berjalan lega. rasa mual yang mengganggu itu pun sudah tak dialami lagi.
Anggun ikut dengan Monica pergi ke butik meski sebenarnya mertuanya melarang namun dia memaksa ingin ikut karena merasa sangat bosan jika hanya di rumah saja.
di butik pun Angga lebih banyak duduk dan mengamati karyawan yang melayani pelanggan, sesekali dia sibuk memainkan hp nya sekedar melihat sosial media nya
Anggun mengirimkan kegiatannya di butik kepada Nica dan Dewi membuat kedua wanita itu takjub dengan suasan butik itu. mereka berdua sangat suka berbelanja berbeda dengan Anggun yang tak terlalu peduli dengan penampilan.
kalaupun dia memakai barang mewah itu karena ikutan saja atau meluapkan kekesalannya namun biasanya tak bertahan lama karena dia sering menyumbangkan ke acara lelang untuk mendukung kegiatan sosial, lebih sering Anggun menyumbang untuk panti asuhan.
kedua wanita itu ingin sekali menuju kota x dan mengunjungi butik itu dan Anggun dengan tangan terbuka menerima saja. sesekali senyumnya merekah membaca ocehan dari keduanya.
****
malam telah tiba, Anggun merasa sangat bosan. hanya berdiam diri didalam kamar. tak lama setelah itu Angga masuk ke dalam kamar lalu menyiapkan laptopnya terdengar suara panggilan yang membuat Anggun senyum tipis karena Angga akan segera pergi untuk keperluan meeting besok.
"hati-hati di jalan" ucap Anggun lalu mencium punggung tangan suaminya itu
"iya, kamu juga jaga kesehatan ya. kalau ada apa-apa telepon aja. asa mama dan bi susi juga di rumah" ucap Angga sembari mencium pucuk kepala istrinya itu.
Anggun berdiri menatap kearah jendela lalu menatap mobil Angga sudah tak terlihat lagi. Anggum akhirnya melompat girang lalu segera merias diri dan mengganti pakaiannya.
dia menuruni anak tangga dengan perlahan agar tak terdengar oleh mama dan bi susi, namun sayangnya bi susi melihat dan segeta menyapa nona nya itu.
"non Anggun mau pergi kemana ?" ucap bi susi yang sedikit heran dengan gelagat Anggun.
"pergi sebentar ya bi, mau beli sesuatu. bi susi jangan berisik nanti mama terganggu. Anggun sudah bawa kunci sendiri ya." ucap Anggun sembari berbisik dan membuat bi susi sedikit bingung.
Anggun lalu pergi dengan mengemudikan mobilnya meninggalkan garasi, tawanya kian merekah. dia akhirnya tiba di sebuah club.
__ADS_1
Anggun mulai memesan vodka dan menikmatinya, sesekalindia berbincang dengan bartender yang menunjukkan kebolehannya meracik minuman itu.
Anggun hanya duduk saja namun masih menikmati alunan musik Dj, setelah merasa cukup puas dia akhirnya mengeluarkan kartu untuk membayar. kasir baru saja meraih kartu itu namun di tarik Anggun lagi lalu mengganti dengan kartu lain.
"jangan sampai ketahuan Angga, bayarnya pakai kartu kredit dari ayah saja" batinnya setelah mengingat kejadian dulu yang membuat Angga tau kemana uangnya pergi.
Anggun mengemudikan mobilnya dengan perlahan, diliriknya jam yang sudah menunjukkan jam 11 malam.
"semua pasti sudah terlelap" batinnya
Anggun membuka pintu dengan kunci duplikat lalu menguncinya lagi dengan perlahan. lalu menaiki anak tangga tanpa menimbulkan suara. dengan santai dia masuk ke dalam kamar dan menyalakan lampu.
Angga sudah duduk sejak tadi di tepi ranjang dengan tatapan tajam kearah pintu, sontak membuat Anggun terkejut dan menutup mulutnya agar tidak teriak.
"kamu mau menjelaskan apa yang aku lihat tadi ?" ucal Angga menahan emosinya
"dia tahu darimana? tadi kan sudah pergi. atau dia pura-pura pergi ?" batin Anggun yang merasa tertangkap kedua kalinya.
"iya maaf, aku keluar sebentar karena sedang bosan" ucap Anggun mengatur nada suaranya dan tak berani menatapmke arah Angga.
"kamu ada minta ijin ke suami mu ?" ucap Angga semakin kesal karena Anggun melupakan perkataan Angga.
"apa perlu setiap hal harus minta ijin, kenapa hidupku semakin terkekang disini" ucap Anggun yang kini duduk di meja rias membersihkan riasannya.
"kamu baru saja sembuh, kamu lupa rasa sakit dan mual-mual kemarin hah...!" teriak Angga yang membuat Anggun mengangkat bahu karena terkejut.
"kalaupun aku sakit tak perlu peduli, lagipula kita menikah karena paksaan orang tua kita !" ucap Anggun yang berdiri dari duduknya dan ikut berteriak kearah Angga.
Parrrr....
__ADS_1
sebuah tamparan akhirnya melekat di pipi nya. membuat Anggun menunduk sembari menyentuh pipinya.
"ini kedua kalinya dia menamparku...." batin Anggun yang mengingat kejadian sebelumnya, dia melihat sosok Angga sama seperti ayahnya yang suka menamparnya.
"lalu kenapa kamu tidak menolak saja, kamu pikir aku mau menikah sukarela dengan wanita murahan sepertimu, hah !!" ucap Angga lagi dengan tatapan yang sangat marah.
"kalau bukan karena mama mu, aku takkan menikah juga... kamu cuma lelaki lemah yang tak punya pendirian tak bisa menentukan pilihan sendiri tak bisa jadi pemimpin" teriak Anggun menahan agar air matanya tak jatuh
parrr...
sebuah tamparan kembali mendarat dipipi Anggun membuat wanita itu tersenyum sinis. rasa kagumnya kemarin pun segera hilang. baginya kebaikan Angga hanya untuk menyenangkan hati mamanya bukan karena tulus mencintainya.
"kamu memang ba***gan" jerit Anggun lagi.
"iya, aku memang ba***gan setelah melakukan apapun yang dikatakan mama untukmu, setelah merawatmu" ucap Angga yang kini penuh amarah lalu menyeret tangan Anggun sampak ke atas ranjang.
dengan kasar Angga m****** bibir Anggun lalu mencengkeram erat kedua tangannya agar tak bisa memberontak, dengan paksa melepas pakaian Anggun bahkan terdengar suara robekan dan membuangnya ke sembarang arah. menikmati leher dan bahunya perlahan kian turun dan sampai ke puncaknya.
Anggun masih memberontak dan tetap menyebut lelaki itu ba***gan semakin membuat Angga ingin melakukannya. Air mata Anggun mengalir melihat semua perlakuan Angga. dengan kasar dia menghentakkan tubuhnya disertai deru nafas yang kian memburu, Anggun hanya bisa pasrah. masih terasa sakit sama seperti kejadian pertama kali di rumah ayahnya dan kali ini masih tetap sama karena dia tak mampu untuk berteriak minta tolong.
"aku memang ba***gan dan kamu akan semakin melihat itu dariku, mulai dari sekarang aku tak memberimu ampun jika berbuat kesalahan. kamu yang memintaku untuk berbuat kasar." ucap Angga yang masih menaruh wajahnya di ceruk leher istrinya.
Angga m****** bibir Anggun lagi dan kali ini tak ada perlawanan, dia hanya diam mematung. lalu Angga menggeser tubuhnya ke samping.
"jangan pernah menyalahkan mamaku untuk pernihakan sialan ini, mamaku wanita yanh baik tidak sepertimu wanita yang tidak tau diri" ucap Angga meluapkan segala kekesalannya lalu menarik selimut dan tertidur
Anggun menatap langit-langit kamar menangis getir mendengaf perkataan Angga yang sangat menyakitkan. dia segera bangkit berdiri dan melihat pakaiannya berserakan dan tak bisa dipakai lagi.
"mama, aku kangen mama...." batin Anggun yang membasuh tubuhnya didalam kamar mandi, tangisnya kembali pecah.
__ADS_1
Angga sebenarnya tak tidur dia hanya memejamkan mata, dia ingin menghamoiri wanita yang tengah menangis itu karena merasa kasihan.
"biarkan saja aku harus mendidiknya dengan keras agar dia tau dimana posisinya" batin Angga yang menutup matanya dengan lengannya.