
kondisi ketiganya sudah mabuk, namun yang mabuk parah adalah Dewi. sedangkan Anggun masih mampu mengangkat sepasang kakinya. dia menolak untuk bermalam di kosan Dewi karna tak ingin mendengar amarah ayahnya lagi.
Nica akhirnya memasukkan Dewi ke dalam mobilnya dan pergi menuju kosannya. dia menolak pulang ke rumah karena baginya itu hanya kapal pecah.
"yakin mau nyetir mobil? atau biar aku saja yang nyetir. besok ambil mobilmu" saran Nica yang melihat Anggun ragu. Anggun hanya menggelengkan kepalanya sambil menggerakkan telunjuknya tanda tidak mau.
"hati-hati Anggun" sahut Nica, setelah melihat Anggun masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan parkiran club.
Nica akhirnya masuk ke dalam mobil dan mulai menyetir pelan.
Anggun juga melajukan mobilnya dengan pelan, sesekali melirik ke pinggir jalan melihat kondisi jalanan yang belum sepi. maklum saja karena ini malam minggu, banyak muda-mudi menikmati waktu senggangnya sebelum akhirnya di sibukkan kembali di hari senin.
Anggun mengemudi cukup baik meski dia menambah sedikit kecepatannya agar cepat sampai di rumah, ingin segera tidur kepalanya sedikit pusing. ditengah perjalanan dia melihat seekor kucing tengah menyebrang tentu saja membuatnya terkejut lalu membanting stir mobilnya dan brakkk....
"Astaga..." batinnya setelah mengangkat kepalanya yang terbentur di stir mobil. dia baru saja menabrak warung makan di pinggir jalan dan kondisinya sangat parah.
beberapa orang lalu menghampirinya antara marah dan panik pun bercampur di air muka mereka. Anggun tertegun sejenak, pikirannya seolah kosong. sampai kaca mobilnya di ketuk berulang kali akhirnya dia tersadar lalu keluar dari mobil.
ada tiga warung yang hancur setelah di tabraknya, dan orang yang terluka ada lima orang. orang setempat dengan cepat menghubungi polisi dan ambulans, berselang beberapa menit korban dibawa ke rumah sakit, dan polisi membawa Anggun ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
orang tua Anggun tentu saja terkejut mendengar kabar itu, segera ayahnya menuju kantor polisi. wajahnya merah padam melihat raut muka putru sulungnya itu. tindakan Anggun benar-benar salah apalagi diketahui dia dalam kondisi setengah mabuk.
waktu sudaj tengah malam, namun mereka belum bisa istirahat dengan tenang. setelah selesai dari kantor polisi. mereka segera ke rumah sakit melihat keadaan korban.
"maafkan anak saya, pak, buk. saya akan ganti rugi semua. mulai dari biaya pengobatan sampai kerusakan warung usaha kalian. saya berharap agar kalian cepat sembuh" wijaya dengan lapang dada memohon maaf kepada korban yang terlihat beberapa tubuh mereka lecet, bahkan ada yang di perban karena patah tulang.
Anggun yang ikut masuk, hanya menundukkan kepalanya. merasa bersalah karena sudah membuat orang lain terluka. tapi untung saja tidak sampai meregang nyawa.
__ADS_1
kesya, selalu setia mendampingi suaminya itu. mengucap lembut bahunya. berharap agar amarah tidak pecah saat itu juga.
mereka akhirnya pulang menuju rumah. terjadi keheningan di dalam mobil, ayahnya hanya fokus menyetir. sedangkan Anggun duduk di belakang tetap memikirkan keadaan orang-orang yang dia tabrak, dia bahkan tidak memikirkan seberapa besar kemarahan ayahnya. baginya itu adalah hal yang biasa.
mereka tiba di rumah, Anggun segera menyeret langkah kakinya menuju kamarnya namun namanya di panggil.
"Anggun, urusan ini belum selesai..." sahut ayahnya datar, sementara istrinya tetap mendampingi agar tidak terjadi keributan di tengah malam ini. Amel dan Niki sudah tertidur pulas jangan sampai terbangun karena masalah ini.
"apa sebenarnya mau mu, ayah sudah sangat capek untuk mengajarimu. apakah kamu masih menganggapku sebagai ayahmu?" ucap wijaya dengan keadaan berdiri
sedangkan Anggun hanya menunduk diam, bahkan tak berani menatap wajah ayahnya.
"kamu hampir saja masuk penjara karena masalah ini, kamu lihat mereka terluka gara-gara kecerobohanmu !" sahut ayahnya lagi penuh penekanan
"mungkin jika ayah mati baru kamu senang iya kan ?" sahutnya lagi yang membuat hati Anggun bergetar.
"kamu lihat wanita ini, yang selalu kamu sebut tante kesya. dia cukup sabar dengan tindakanmu selama belasan tahun" sahut ayahnya lagi setelah melirik ke arah kesya.
"ayo, bicaralah..." ayahnya mulai kesal karena Anggun hanya terdiam sejak tadi.
"maaf, Anggun gak menyangka bisa terjadi begini. Anggun akan tanggung jawab dan mengurus mereka" suara Anggun sedikit bergetar dan lirih akhirnya keluar.
"katakan dimana kesalahan kami, sampai kamu memperlakukan kami begini" sahut ayah lagi
Anggun kembali terdiam, dia tak ingin memperpanjang lagi masalahnya. namun suara ayahnya akhirnya melengking mengulangi pertanyaannya dengan tangan yang terkepal. kesya hanya berharap agar Amel dan Niko tidak terbangun setelah mendengar suara barusan.
"Anggun kecewa sama ayah, karena gak peduli ke mama. waktu mama sakit ayah kemana?. malah sibuk pacaran dengan perempuan ini. setelah mama meninggal, kalian baru meresmikan pernikahan kalian" sahut Anggun dengan nada bergetar, butiran bening mulai membasahi pipinya.
__ADS_1
Wijaya dan Kesya tampak terkejut mendengar perkataan putri mereka.
dulu ketika kondisi perekonomiannya sangat terpuruk dengan keadaan istrinya yang sakit, dia berjuang mati-matian membangun usahanya, dan di bantu oleh kesya yang tak lain adalah temannya semasa kuliah. mereka selalu bersama namun bukan berarti Wijaya selingkuh. setelah istrinya meninggal, Wijaya hanya memikirkan pendamping yang akan mengurusi anak-anaknya yang masih sangat kecil, kala itu Anggun baru berusia 7 tahun san Amel baru 4 tahun.
karena tak ingin memilih yang salah akhirnya memutuskan untuk menikahi Kesya yang sudah cukup lama dia kenal.
namun, suatu hari Anggun mendengar obrolan ayahnya dengan temannya di ruang tamu, menceritakan perjuangam mereka berdua untuk membangun perushaan. hingga akhirnya Anggun terjebak dalam kesalahpahaman.
hal itu tak pernah di bicarakan oleh Anggun, dan akhirnya meluap saat ini juga.
"Anggun, tante sama ayah kamu dari dulu teman. tante tau betul rasa sayang ayahmu ke mamamu" balas Kesya pelan.
"tante gak usah banyak alasan, waktu mama sakit. kemana ayah kalau bukan sama tante kesya" balas Anggun dengan tangis yang kian meluap
"kalau bukan karena tante, ayah pasti akan meluangkan waktunya lebih banyak di sisa umur mama" ucap Anggun lagi, hingga Kesya kini mengerti kenapa anak sambungnya itu sangat sulit menerimanya.
"ayah dan tante kesya sama-sama berjuang untuk membangun usaha kita, sampai sebesar ini tapi....." belum selesai wijaya bicara Anggun segera berlari meninggalkan mereka berdua.
Menutup pintu kamar dengan kerasm mengunci diri lalu menangis sesegukan. kekesalan yang dipendamnya selama bertahun-tahun akhirnya tumpah saat ini.
dia menutupi tubuhnya dengan selimut dan menangis sejadinya sampai tidur kelelahan.
keesokan harinya, Anggun bangun dan menatap diri di depan cermin. matanya tampak bengkak. segera dia mandi lalu bergegas menuju rumah sakit.
Kedua sahabatnya belum tau kejadian semalam, mereka pasti masih tertidur setelah mabuk semalam.
Anggun lalu mengirimkan pesan ke group percakapan mereka dan menjelaskan awal mula kecelakaan itu, lalu pergi menuju rumah sakit.
__ADS_1