
Nica yang sudah bangun tepat tengah hari, menjerit sampai memekikkan telinga Dewi yang masih menikmati tidurnya.
dengan cepat Nica membalas isi obrolan group, membuat Dewi yang sejak tadi hanya mengintip kecil terpaksa mengeluarkan suara untuk memecahkan rasa penasarannya.
"apa....!! Anggun kecelakaan?" sahut Dewi yang masih setengah sadar.
Nica hanya mengangguk asal saja lalu bergegas ke kamar mandi lalu membasuh tubuhnya, beberapa menit kemudian dia keluar hanya menggunakan handuk. Melihat Nica selesai mandi, Dewi segera bergegas masuk dan mandi juga.
dengan terburu-buru mereka berdua pergi menuju rumah sakit yang di sebutkan Anggun.
sementara di rumah sakit, Anggun sudah membawa buah-buahan untuk kelima korban kecelakan itu. beberapa kali dia menanyakan keadaannya dan meminta maaf dengan tulus.
Nica dan Dewi yang baru saja tiba, segera menghubungi Anggun karena bingung di ruangan mana. segera Anggun menghampiri kedua sahabatnya itu.
"astaga Anggguuunnn..... bagian mana yang sakit" jerit Nica yang mulai panik, Dewi juga ikutan heboh dengan pertanyaan bercabangnya membuat Anggun kewalahan untuk menjawab. apalagi kini mereka menjadi tontonan.
"kita keluar yuk, kalian belum makan pastinya kan ?" sahut Anggun yang sudah tau pasti keduanya langsung ke rumah sakit, dilihat dari tampang mereka yang ala kadarnya.
"ohhh... iya baru nyadar, belum makan apapun" ucap Nica yang setuju, , mereka akhirnya keluar mencari tempat makan yang tak jauh dari rumah sakit itu.
setelah selesai makan, ketiganya tampak duduk tenang sejenak.
"ehhhh ceritain awal mulanya..." ujar Dewi kemudian karena sejak tadi masih penasaran kenapa sahabatnya bisa menabrak dan menghancurkan tiga warung sekaligus. Anggun menceritakan dari awal sampai akhir, namun tak menceritakan pertengkarannya kemarin malam.
****
"ma... Anggun kemana?" tanya Wijaya setelah kedua matanya melirik menyusuri seluruh ruangan dan akhirnya duduk di tepi ranjangnya
"Anggun tadi pagi pamit mau ke rumah sakit mau liat keadaan mereka yah..." balas Kesya yang baru saja selesai menata bunga di atas meja.
__ADS_1
Wijaya masih terdiam sejenak, entah apa yang dipikirkannya. keheningan pun terjadi. hingga akhirnya terdengar suara ketukan dari luar membuat kesya bergegas keluar. dari ruang tamu terdengar suara tawa renyah yang membuat Wijaya penasaran dan memutuskan untuk melihat.
mereka akhirnya bertegur sapa dan saling menanyakan keadaan, Monica adalah teman Anggi, almarhum mama Anggun. persahabatan mereka cukup erat. bahkan diwaktu mama Anggun sakit, Monica kerap datang menguatkan keluarga itu.
"sudah sangat lama sekali kita gak ketemu" ujar Wijaya
"iya, kami sekeluarga memutuskan merantau ke luar kota. mencoba peruntungan. dan akhirnya betah di kota x" sahut Monica sembari mengenang kembali masa-masa sulit dulu, sebelum memiliki usaha butik seperti sekarang.
Monica yang paham dengan lirikan Wijaya segera memperkenalkan anaknya, yang sejak tadi menyetir dan mengelilingi komplek sampai akhirnya menemukan rumah Wijaya.
"kenalin Angga, anak kedua ku." sahut Monica yang di sertai anggukan oleh Wijaya. Angga pun menganggukkan kepala sembari melempar senyum hangat.
mereka mulai membicarakan kenangan dulu, sampai membahas bisnis mereka sekarang. Monica menceritakan masa sulit mereka dua tahun lalu setelah suaminya meninggal, dan keadaan perusahaan memburuk. ketiga anaknya saling bekerja sama memperbaiki keadaan, meskipun mereka sudah menikah namun tak abai dengan urusan keluarga apalagi menyangkut bisnis yang papanya bangun.
"kedua anakmu sudah menikah? " tanya Wijaya sesaat setelah mendengar cerita Monica.
"hmmmm... iya, anak sulung ku dimas sudah menikah dan memiliki 1 anak, dan si bungsu Niki juga sudah menikah dua tahun lalu sebelum papanya meninggal dan sekarang tengah hamil anak pertama" sahut Monica sembari meneguk minumannya.
"Anggun sudah lulus kuliah sejak setahun lalu, tapi masih menikmati masa mudanya. kalau Amel sedang sibuk persiapan kelulusan SMA nya. dan anak kami sibungsu Niko akan beranjak dewasa" sahut Wijaya yang membuat Monica mengangguk setelah tau bahwa kedua anak manis itu telah tumbuh dengan baik dan memiliki adik jagoan yang akan melindungi kedua kakaknya.
Monica kembali terkenang dikala Anggun masih kecil sangat lucu dan mirip dengan Anggi sahabatnya. matanya akhirnya berhenti di sebuah foto keluarga dan masih menerka bahwa itu Anggun. Kesya yang mengikuti lirikan mata Monica akhirnya mengiyakan.
"itu Anggun dan Amel" sahutnya sembari menunjuk dengan jari telunjuknya.
"kedua putri kalian sangat cantik, jagoan kalian juga sangat menggemaskan" ujar Monica, sementara Angga hanya menyimak sejak tadi. sesekali dia meminum teh yang dibuatkan Kesya.
setelah cukup lama mereka akhirnya pamit pulang ke Kota x. mereka ke sini karena kebetulan ingin mengunjungi kerabat lalu bermaksud segera pulang. waktu yang di tempuh dari kota ini ke kota X sekitar dua jam saja, jadi tidak terlalu memberatkan.
****
__ADS_1
setelah selesai dengan urusan rumah sakit, mereka bertiga memutuskan untuk kembali pulang dan istirahat. masa senggang mereka hampir habis, mengingat besok adalah hari senin dan akan mulai sibuk sampai sabtu. berbeda dengan Anggun yang hanya pengangguran semua hari dianggap sama saja.
"huahhhh.... besok harus kerja lagi" ucap Nica sedikit mengeluh seolah tak terima liburannya sangat singkat
"hmmm.....harus banyak istirahat, kalau datang terlambat atasan bakal ngomel"
ujar Dewi kembali mengingat atasannya di hotel yang sangat arogan
sedangkan Anggun hanya tersenyum melihat keduanya mengeluh,
"hmmm.. pengangguran mah bebas kan ya" ucap Nica yang sedikit iri dengan Anggun
"kenapa iri, harusnya kalian bersyukur karena hidup kalian gak membosankan" sahut Anggun.
Sebenarnya dia dia juga ingin bekerja, namun belum menemukan tempat yang tepat. dia tidak ingin orang lain mengenalnya sebagai anak Wijaya. dia ingin mandiri.
mereka akhirnya berpisah, Anggun melajukan mobilnya. sedangkan Dewi berada di mobil Nica.
setibanya di rumah, Anggun mendapati kedua orangtuanya dan kedua adiknya tengah duduk santai di ruang tamu.
Amel yang melihat kedatangan kakaknya segera menyapanya.
"kak Anggun darimana aja?" sahut Amel yang masih menikmati cemilannya.
"anak kecil gak perlu tau" balas Anggun yang kemudian merebut cemilan Amel lalu berlari kecil menuju kamarnya. membuat Amel sedikit cemberut.
hubungannya dengan keluarganya cukup dingin sejak lama, sangat jarang bicara dari hati ke hati hingga kerap terjadi kesalah pahaman. kedua orang tuanya sudah bingung harus bagaimana lagi untuk memberikan pengertian pada Anggun.
sedangkan Anggun di dalam kamarnya, sudah selesai mandi dan memakai pakaian bersih. mulai sibuk memainkan hp nya dan melihat sosial medianya. dia tak terlalu suka mengumbar kehidupan pribadinya di media sosial, namun dia memilikinya hanya untuk mengisi kekosongan. atau kadang melihat video lucu dan tertawa lepas seakan tak punya beban.
__ADS_1
itulah Anggun, wanita yang mampu menutupi kesedihannya. meski akhirnya orang salah menilainya.