
mereka berangkat mengendarai mobil Anggun karena itu permintaannya tapi tetap saja Angga yang mengemudikannya. Anggun menunjukkan arah dan sesekali menikmati alunan musik.
mereka sudah tiba di tempat itu, udara pagi masih terasa hangat dan pengunjung belum terlalu ramai. mereka berjalan beriringan dan Angga menggenggam tangan Anggun. raut wajah Anggun terlihat malu dan sedikit salah tingkah.
Anggun bercerita banyak setiap kali Angga menanyakan tentang setiap sudut tempat itu, dia sudah seperti pemandu wisata sungguhan. Angga menatap wajah istrinya dengan seksama bukan fokus mendengarkan ucapan istrinya.
"ehhh sebentar ya, aku mau beli itu.." ucap Anggun yang melihat ke arah penjual popcorn, Anggun melepas genggaman suaminya lalu setengah berlari ke arah penjual itu.
Angga yang melihat ekspresi istrinya segera menghampirinya dan melihat Anggun tengah bernego dengan si penjual. setelah ada kesepakatan Anggun lalu membuka isi tasnya dan mengeluarkan dompetnya
Angga tak sengaja melirik ke arah dompet Anggun yang isinya hanya beberapa lembar uang pecahan, terlihat juga beberapa kartu yang tertata rapi di sana.
Anggun lalu membuka plastiknya dan segera menikmati popcorn itu.
"mmm enak... mas Angga cobain ini. gurih..." ucap Anggun setelah memastikan rasanya enak lalu menyodorkannya ke arah suaminya.
Angga awalnya menolak tapi tetap di paksa oleh Anggun akhirnya mengalah lalu mengunyah pelan popcorn itu. mereka mulai berjalan lagi menikmati pemandangan itu yang mulai terlihat di sinari panas terik matahari.
"kamu tak pernah pakai kartu kredit yang aku berikan ya ?" ucap Angga yang sesekali mengambil popcorn dari genggaman Anggun.
"mmm... tidak pernah lagi" ucap Anggun santai dan segera menyodorkan kotak popcorn karena paham melihat gerak jemari suaminya.
"kenapa ?" tanya Angga dengan santai namun menatap wajah Anggun yang masih fokus menikmati popcorn itu.
"mmm karena aku pikir aku semua akan ku kembalikan setelah menandatangai surat perceraian kita. aku merasa tak enak saja karena tak menjadi istri yang baik tapi masih menikmati uang suaminya" ucap Anggun santai mengelarkan isi kepalanya, tanpa dia sadari dia sudah mulai terbuka sedikit ke Angga.
Angga menatap lekat wajah Anggun masih dalam keadaan berkeliling. Anggun masih tak sadar dengan ucapannya hanya membalas tatapan Angga lalu menyodorkan lagi makanan itu.
"kita tidak akan pernah bercerai....ingat itu" ucap Angga dalam hati yang melihat istrinya tampak tak terlihat bersalah setelah berucap demikian.
"ehh mas, aku mau beli itu.." ucap Anggun lagi setelah melihat penjual es krim dengan cepat dia berjalan meninggalkan Angga lagi.
dengan cepat Angga mengekorinya dan hanya geleng kepala melihat sulitnya membaca isi pikiran istrinya itu.
"pantas saja aku susah mencarimu, kamu seperti kelinci saja. mendadak pergi ke sana, trus pergi ke sini. " ucap Angga dalam hati karena terus saja meras di tinggalkan oleh Anggun.
wajar saja Anggun ingin es krim karena setelah lelah berjalan sejak tadi dan matahari mulai menuju puncaknya. Anggun mulai melirik aneka varian lalu menanyakan pendapat Angga setelah tiba di belakangnya.
"rasa cokelat juga enak, kalau aku biasanya rasa vanila sih " ucap Angga yang sebenarnya sangat jarang makan es krim
Anggun akhirnya membeli dua es krik rasa vanila, dan menyodorkannya ke Angga. sesekali penjual es krim menatap heran ke arah Angga yang terlihat tak peka karena Anggun yang mengeluarkan isi dompetnya.
mereka kini duduk mengarah ke tepi danau dan menikmati es krim nya.
__ADS_1
"kamu belum kepanasan kan ?" tanya Angga yang menatap ke arah Anggun yang masih sibuk menikmati es krimnya.
"ini masih sehat, sekarang masih jam...... sebelas" ucap Anggun setelah merogoh isi tasnya hanya sekedar melirik jam di layar hp nya.
"biasanya wanita tak suka tempat terbuka karena takut kulitnya jadi gelap dan kering" ucap Angga dalam hati sembari mengingat mantannya dulu yang selalu mengomel kalau pergi ke tempat terbuka, Niki adiknya juga begitu meski tak terlalu secerewet mantannya.
"kamu kenapa ?" tanya Anggun yang melihat Angga tersenyum sembari menikmati es krimnya
"mmmmhhhh.... hanya merasa lucu karena aku sudah jarang makan es krim" ucap Angga berbohong tentang alasannya tersenyum namun tak berbohong kalau masalah jarang mencicipi es krim.
"ohhh...." balas Anggun dengan anggukan kecil lalu fokus menatap danau itu.
"kita naik bebek itu ya..biar kita kelilingi danau ini" ucap Anggun setelah melihat perahu dayung berbentuk bebek yang mulai muncul ke tengah danau
Angga hanya mengiyakan semua permintaan Anggun, mulai dari beli popcorn, beli es krim, meski sebenarnya Angga sangat ingin melarang Anggun untuk jajan sembarangan.
"kamu tunggu sebentar biar aku cari penyewa perahunya ya" ucap Angga sembari bangkit berdiri dengan tatapan menyusuri keliling tempat itu.
dia berjalan sembari menikmati es krim nya lalu mendekat ke dermaga kecil dan mulai bertanya ke orang disana.
Angga kemudian melambaikan tangan setelah memanggil nama istrinya, Anggun setengah berlari menghampiri Angga.
"kamu jangan lari...." ucap Angga singkat namun terdengar serius membuat Anggun merasa tengah di marahi.
Angga membantu Anggun untuk naik ke atas, ternyata Anggun merasa agak gugup karena perahu itu bergerak kecil. Angga memegang pinggang istrinya dan juga tangannya agar Anggun masih tetap bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
"tadi kamu semangat sekali mau naik perahu ini tapi ternyata ketakutan setengah mati saat mau naik" ucap Angga yang melihat tingkah lucu istrinya saat mendayung perahu itu.
"hahaha aku senanh naik perahu ini, tapi awalnya selalu kesulitan" ucap Anggun masih mencoba mendayung menyeimbangi kaki Angga.
"kamu pasti ke sini sama mantan kamu dulu ya" ucap Angga menerka saja
"ya... pernah tapi tak sering, sekitar dua kali lah. diantak suka tempat seperti ini. dia dulu lebih sering di cafe menikmati kopi sambil main game atau ngobrol sama temannya" ucap Anggun setelah pikirannya kembali mengingat mantannya itu.
"hufffttt... kalai setiap hari dayung si bebek pasti bisa kurus ya..." ucap Anggun yang wajahnya mulai merah karena terus mendayung.
"hahaha masa bisa kurus sih ?" ucap Angga yang merasa lucu dengan ucapan istrinya.
"iya lah, karena lemak di paha di bakar terus perut juga jadi sixpack" ucap Anggun sembari menunjuk paha dan perutnya membuat Angga tertawa geli karena belum pernah melihat atau mendengar orang olahraga mendayung perahu bebek agar punya tubuh sixpack
"memangnya kamu mau punya perut sixpack nanti aku merasa ngeri... ihhhh" ucap Angga lagi membayangkan perut rata istrinya berubah menjadi roti sobek
"ihhh kalau olahraganya begini aku tak mau, sekarang saja kaki ku sudah pegal dan perutku terasa keram karena terus mendorong semua tenaga untuk mengayuhnya" ucap Anggun sembari menunjuk perutnya
__ADS_1
"ehhhh jangan di dayung lagi, biar aku saja. " ucap Angga kemudian dengan cepat membuat Anggun terkejut dan menatap heran ke arah Angga yang sedang meraba perut Anggun.
"kenapa ?" tanya Anggun yang heran
"aku lupa kalo...." Angga tak melanjutkan ucapannya dan menarik tangannya dari perut istrinya.
"maksudku kamu tak perlu ikut mendayungnya, biar aku saja. kamu nikmati saja pemandangannya. lihat ikannya mulai terlihat" ucap Angga dan menekan kedua lutut Anggun agar berhenti mendayung.
"tapi biar kita cepat sampai di tengah danau ini" balas Anggun yang keras kepala
"tak perlu sampai ke tengah, di sini saja sudah terlihat bagus" ucap Angga lagi lalu menurunkan kaki Anggun yang masih melekat di kayuhan itu.
"kamu keras kepala sekali, tapi alu harus mengalah biar dia tak marah lagi" ucap Angga dalam hati dan sesekali melirik ke perut istrinya.
Anggun terlihat tertawa bahagia melihat pemandangan itu, air danau itu terlihat jernih dan menunjukkan dengan jelas keindahan di bawahnya.
Angga ikut senang melihat istrinya bahagia, dia terus mendayung kecil hingga tak terasa sudan kembali berada ke tepi dermaga. Angga membantu Anggun untuk keluar dari perahu itu.
waktu sudan menunjukkan jam satu siang, mereka memutuskan untuk pergi ke tempat lain untuk mengisi perut mereka.
Anggun menunjukkan restoran yang biasa dia datangi bersama Dewi san Nica, Anggun cerita banyak mengenai kedua sahabatnya itu. sementara Angga mendengarkan dengan seksama. Angga kinu paham bahwa Anggun adalah tipikal yang sangat suka di dengarkan.
mereka menikmati makan siangnya, suasana restoran itu terlihat ramai. baru beberapa suap Anggun memasukkan ke dalam mulutnya tiba-tiba...
huwekkk...
beberapa orang melirik ke arah mereka, Angga mulai merasa tak enak hati ke pelanggan di sana.
"kamu kenapa sayang ?" ucap Angga lirih sembari menggenggam tangan istrinya.
Anggun melepaskan genggaman tangan suaminya lalu berjalan cepat meninggalkan mejanya sembari menutup mulutnya. Angga juga ikut bangkit dari duduknya dan mengikuti Anggun.
bahkan tak merasa malu karena ikut masuk ke dalam toilet wanita, awalnya beberapa wanita didalam merasa risih dan melemparkan tatapan sinis ke arah mereka berdua.
"maaf ya mbak, istri saya sedang sakit.." ucap Angga meminta pengertiab, mereka hanya melongos pergi dengan tatapan tak nyaman.
Angga menepuk lembut bahu Anggun dan juga mengucap mulutnya dengan air mengalir.
"kita pulang ya, aku merasa tak enak hati ke mereka" ucap Anggun setelah merasa sudah mendingan
"tapi kamu kan masih belum selesai makan" ucap Angga yang paham isi pikiran istrinya
"aku tak nafsu maka lagi, nanti kita cari yang lain. sekarang aku mau pulang terus tidur" balas Anggun sembari menatap wajahnya di depan cermin lalu berjalan keluar di rangkul oleh Angga.
__ADS_1
Angga kemudian membayaf semuanya tak lupa mengatakan permintaan maaf ke beberapa orang yang melihat mereka sembari menundukkan kepala.
"mohon maaf atas ketidak nyamannya ya, istri saya sedang sakit" ucap Angga beberaoa kali membuat Anggun merasa sedih lalu ikut menundukkan kepala juga dan meminta maaf.