
Angga masih kesal namun terus mengurut lembut kaki Anggun, sesekali terdengar suara merintih yang di tahan dan Angga dengan cepat melempar tatapan tajam ke arah Anggun membuatnya menggigit bibir lalu menundukkan kepalanya.
"kenapa bisa jatuh dari tangga." ucap Angga dengan nada datar
"hmmm aku tidak jatuh hanya sedikit terkilir, hmmm.." Angga sesekalu menatap wajah suaminya namun dengan cepat menunduk lagi dan berkata dengan tersendat
"apa lantainya licin ?" tanya Angga lagi dan segera di balas gelengan oleh Anggun
"kamu memang....." Angga menghentikan ucapannya dan hanya geleng kepala melihat kecerobohan istrinya yang bisa membahayakan dua nyawa sekaligus
"sabar... kalau aku berlaku kasar lagi nanti dia bisa berbuat nekat..." batin Angga yang terus berusaha untuk menjiwai istrinya itu
"ma...maaf, aku..aku.terus saja membuat susah..." balas Anggun yang wajahnya memerah dan tangisnya pun pecah
membuat Angga merasa ikut sedih dan bersalah karena sudah memarahinya sejak tadi. tangannya berhenti menyentuh kaki Anggun dan kini beralih ke wajah istrinya yang kini menunduk sesegukan namun dengan cepat Anggun memalingkan wajahnya saat jemari Angga hampir mendarat ke pipinya.
Angga merasa sedikit kecewa karena mendapat penolakan dari Anggun.
"maaf karena aku membuat kamu sakit, aku hanya terlalu takut kamu dan si bayi terluka" balas Angga lirih dan tak mendapat balasan apapun dari Anggun.
Angga perlahan mengangkat tangannya lagi meski agak ragu lalu mendarat ke bahu istrinya lalu di usapnya lembut
"aku minta maaf karena sudah marah.... " balas Angga lagi yang ingin memeluk Anggun tapi tangan Anggun mendorong pelan membuat hati Angga semakin gusar atas penolakan itu.
"kalau kamu masih kesal dengan ku biar aku keluar sebentar, kamu cepat istirahat ya " balas Angga yang bangkit dari tepi ranjang lalu menutup pintu kamar dari luar
dia menghela nafas panjang dan terasa berat lalu menuruni tangga menuju ruang tamu dan memulai obrolan dengan mamanya. tapi pikirannya masih teringat ke kejadian tadi.
__ADS_1
sementara Anggun masih saja menangis meski berulang kali berusaha menenangkan diri, dia merasa bersalah karena sudah merepotkan Angga. apalagi mengingat wajah Angga saat menahan amarah terlihat menyeramkan.
Anggun menatap ke arah perutnya lalu beralih ke kakinya yang sedikit bengkak, lalu merebahkan tubuhnya dan menutupu seluruh tubuhnya dengan selimut tapi tetap saja air matanya mengalir.
"Anggun sudah tidur ya ?" tanya Monica ke putranya setelah beberapa menit mereka membuka percakapan
"iya ma, sepertinya dia kelelahan" balas Angga berusaha sesantai mungkin dan bahkan tak berani menatap ke arah wanita yang telah melahirkannya dia seolah fokus ke layar Tv
"iya wajarlah, ibu hamil memang mudah capek, itu belum seberapa nanti kalau si bayi tambah besar tambah susah bergerak" ucap Monica yang di pandang Angga dengam sangat lekat
Angga membayangkan kondisi mamanya saat mengandung mereka bertiga apalagi pekerjaan rumah tetap di kerjakannya.
"huffttt...." Angga menghela nafas panjang karena pikirannya kian kalut
"kamu kenapa ?" tanya Monica setelah mendengar putranya menghela nafas panjang
"mmm bukan apa-apa ma.."
Angga mulai menceritakan pertengkaran mereka tadi dan mamanya mendengarkan dengan seksama meski awalnya terkejut saat mengetahui kalau Anggun hampir jatuh dari tangga.
"kamu jangan terlalu keras dengan Anggun, nanti dia pergi lagi. besok kalian ke dokter kandungan ya" balas Monica sembari mengusap lembut bahu putranya
"memangnya besok ma jadwalnya ?" tanya Angga yang ingat kalau mamanya sempat berencana membuat janji terlebih dulu ke dokter
"memang harusnya beberapa hari lagi tapi ini kan keadaannya mendesak, nanti kasih tahu ke dokter kalo Anggun hampir jatuh. kita pastikan saja biar hati kita tenang ya" balas Monica yang membuat hati Angga semakin tenang.
mereka mengobrol banyak hal cukup lama sampai Monica sudah menguap beberapa kali dan melirik ke arah jam dinding.
__ADS_1
"sudah jam dua belas ternyata pantas mama sudah mengantuk sekali" ucap Monica karena biasanya dia akan tidur jam sepuluh malam.
anak dan ibu itu pun saling berpelukan dan meninggalkan ruang tamu, Angga menaiki anak tangga meski hatinya kembali gusar. perlahan dia membuka pintu dan mendapati Anggun tak ada di ranjang
Angga mulai masuk dengan cepat dan menyusuri setiap ruangan, namun tak mendapatkan bayangan Anggun bahkan di kamar mandi pun kosong.
"kemana Anggun, dia tak mungkin kabur. dari tadi aku di ruang tamu dengan mama. tak mungkin turun dari balkon" Angga mulai bersuara dalam hati lalu keluar dari kamar dan segera turun.
namun baru beberapa langkah kakinya terhenti lalu kembali naik dan melirik ruangan di sudut terlihat ada cahaya yang timbul dari pintu yang tak tertutup rapat
Angga mendekat dan membuka pintu perlahan, di dapatinya Anggun masih menatap Album foto. Angga semakin mendekat dan membuat Anggun terkejut.
"kamu kenapa belum tidur ?" ucap Angga mendekat dan menahan Anggun untuk bangkit dari duduknya
"mmm belum ngantuk" balas Anggun yang takut kalau nanti Angga akan marah lagi
Angga terdiam dan menatap lekat wajah istrinya yang menyisakan mata bengkak. tatapan Angga membuat Anggun risih dan kembali menunduk seolah masih sibuk mengamati setiap lembar foto
"ayo kita tidur sayang..." ucap Angga yang melihat sudah berupang kali Anggun membolak-balik album dan terlihat jelas sedang menghindari tatapan Angga
"iya mas..." balas Anggum lirih lalu bangkit berdiri dan menyimpan kembali foto album itu.
dia berjalan dengan pelan agar tetap seimbang, Angga berinisiatif merangkul bahu Anggun dan berjalan pelan meninggalkan perpustakaan mini itu.
suasana masih canggung meski mereka sudah merebahkan tubuh diatas ranjang, Angga berulang kali menarik selimut sampai menutupi leher Anggun agar tak kedinginan.
"maaf ya mas..." ucap Anggun memberanikan diri mereka berdua masih sama menatap langit-langit kamar.
__ADS_1
"sttt... jangan minta maaf lagi, aku yang salah. kamu jangan ingat kejadian tadi lagi. kamu bobo ya.." ucap Angga yang merubah posisinya dengan menyamping menghadap Anggun lalu mulai menepuk lembut bahunya dan sesekali ujung kepala seperti sedang menenangkan bayi agar cepat tidur.
Anggun tersenyum lalu mulai memejamkan kedua matanya, dia merasa nyaman dengan perlakuan Angga.