Beruntung Menikahimu

Beruntung Menikahimu
Ceroboh


__ADS_3

Anggun sudah lebih bebas pergi kemanapun dia mau, Monica tidak terlalu mengekangnya termasuk untuk pergi berangkat kerja bersama atau pergi kemanapun. Anggun merasa nyaman karena bisa mengendarai mobilnya sendiri. perlahan dia sudah hapal dengan keadaan kota x.


pagi hari dia sudah pergi ke butik dan bekerja dengan baik, Monica merasa menantunya sudah terbiasa dengan pekerjaan itu. Monica tidak ragu lagi jika menyuruh menantunya itu yang mengurusnya.


sore hari Anggun baru saja pulang dari butik lalu singgah sebentar di panti asuhan, menyapa penghuni yatim lengkap dengan makanan yang dibawanya. tentu saja dengan kartu kredit yang diberikan oleh Angga, dan itu selalu di ketahui oleh Angga walaupun Anggun tidak memberitahu.


Anggun sangat mudah akrab dengan anak disana, dia sudah punya keluarga baru di kota itu selain keluarga dari suaminya.


dia baru saja keluar dari panti asuhan dan berniat membeli jajanan yang berada di seberang jalan tepat di samping warung makan tempat Anggun makan bersama suaminya.


Anggun berjalan dengan menggenggam dompetnya menunggu jalanan sepi dan bersiap untuk menyeberang. pandangannya sudah tertuju pada pedagang itu, mendadak seseorang menarik dompetnya dan dengan cepat juga dia menarikknya lagi ke dalam genggamannya. dengan cepat orang tersebut kembali menarik dengan cepat lalu melajukan motornya.


Anggun jatuh terpental di jalanan beraspal, darah segar mengalir di lengannya.


****


Anggun yang merasa nyeri di beberapa bagian tubuhnya perlahan membuka kedua bola matanya.

__ADS_1


"syukur kamu baik-baik saja, untung langsung dibawa ke rumah sakit" ucap Angga yang membuat Anggun sedikit terkejut dengan suara Angga yang menahan tubuh Anggun agar tak banyak bergerak.


Anggun masih tampak bingung dengan perkataan Angga, masih merasakan peri dan diam sejenak mengingat kejadian yang di alaminya.


"dompetku...." ucap Anggun setelah mengingatnya


"sudah, itu bukan yang utama sekarang. lain kali jangan ceroboh. untung ada yang mengabariku jadi bisa cepat menjemputmu disana" ucap Angga memotong ucapan istrinya itu.


flashback


"hallo... kenapa nggun ?" ucapnya santai


"maaf pak pemilik hp ini baru saja kecelakaan di jl. x no x" ucap suara yang terdengar riuh membuat Angga bangkit dari duduknya dan membelalakkan kedua matanya.


"iya, sekarang saya kesana" ucapnya dengan cepat sembari setengah berlari.


"itu lokasi panti asuhan, tapi kenapa di bilang kecelakaan. kenapa dia?" batin Angga yang menyetir dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


sementara di tempat kejadian Anggun masih tak sadarkan diri dan orang kian berkerumuman yang tak lain adalah pengendara yang melewati jalanan itu.


Angga segera tiba lalu menatap keramaian di pinggir jalan segera turun dari mobilnya dengan perasaan yang gusar, dan setelah melihat wajah Anggun dia tampak lemas. Namun tangannya dengan cepat mengangkat tubuh istrinya dan dengan panik melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Angga tampak lega setelah melihat keadaan Anggun lalu duduk di samping Anggun berbaring. lengan dan bahunya terluka karena tergores di jalanan beraspal sehingga harus di perban. membuatnya terpaksa tak memakai pakaian dan hanya di tutupi selimut.


Anggun hanya mengingat kejadian tarik menarik dengan pencopet itu lalu jatuh setelah dompetnya lepas dari genggamannya dan jatuh. setelah itu dia tak tau lagi cerita lengkapnya sampai sudah berada di rumah sakit dengan perban di bagian bahu sampai ke lengannya.


"Aku mau pulang, aku tidak suka aroma rumah sakit. " ucap Anggun setelah dokter datang dan membicarakan keadaannya


"bisa pulang ke rumah asalkan diobati dengan benar agar cepat jangan sampai infeksi" ucap dokter setelah memeriksa keadaan Anggun berulang kali.


Anggun hanya mengangguk pelan dengan raut wajah yang senang dan lega karena tak harus tinggal di rumah sakit.


mereka pun bersiap pulang kerumah, sepanjang koridor Angga menjaga Anggun agar tidak terjatuh. setibanya di rumah Anggun segera masuk ke dalam kamar mandi lalu duduk menahan ras sakit yang ditahannya sejak tadi.


rasa sakitnya kian terasa, karena Angga mendengar rasa rintihan itu dari dalam segera membuka pintu namun di kunci. akhirnya Angga hanya mengetuk pelan meski sebenarnya dia mulai tampak khawatir.

__ADS_1


__ADS_2