
Angga tampak bersantai di dalam kamarnya setelah cukup lelah bekerja di kantor, terdengar suara ketukan pintu. dengan cepat Angga membukakan dan wanita kesayangannya pun masuk ke dalam.
"gimana kerjaan kamu hari ini nak ?" tanya mamanya penuh perhatian lalu duduk di tepi ranjang, mengamati kondisi kamar anaknya yang rapi.
"lancar aja ma, tapi ada kendala sedikit masih kurang dana. nanti Angga mau cari investor lagi" sahut Angga yang duduk di samping mamanya.
"kamu harus jaga kesehatan, jangan gila kerja. " ucap Monica yang mendapat anggukan pelan dari Angga. mereka cukup lama mengobrol mulai dari pekerjaan sampai mengenai rumah tangga kakaknya Dimas dan Adiknya Niki.
"jodoh itu ada di tangan Tuhan ma, Angga bisa kok cari wanita baik dan cantik. tapi gak mau asal-asalan. dia harus bisa dekat sama mama" balas Angga sembari tersenyum dengan cerewetnya wanita itu kalau masalah pendamping hidup.
"bagaimana menurutmu dengan Anggun?" tanya mamanya yang mencoba menggoda Angga
"mmmm... Anggun anak pak Wijaya, dia agak pendiam. anaknya baik" balas Angga setelah cukup lama mengingat kembali Anggun yang pernah menginap di rumahnya.
"mama suka sama Anggun, kamu nikah aja ya nak sama Anggun. dia cocok untukmu"
deg.....
mendengar ucapan mamanya Angga tampak terkejut keheranan, karena selama ini mamanya tidak pernah memperkenalkan wanita manapun untuknya. dan masih berharap itu hanya candaan, meski raut wajah wanita kesayangannya tampak sangat serius menanti jawaban dari mulutnya.
"hahahha mama bercandanya keterlaluan, mama tenang aja ya nanti juga Angga bakal bawa calon menantu yang baik dan gak mengecewakan" ucap Angga merangkul bahu mamanya namun segera di tepis oleh mamanya.
"Angga, mama serius. mama yakin dengan pilihan mama"
"Angga bisa menentukan pilihan sendiri ma, tolong....."
"mama selalu ngasih yang terbaik ke kamu nak, mama sudah kenal Anggun sejak kecil. mama harap kamu bisa memikirkannya." ucap mamanya sembari menepuk bahu Angga lalu bangkit dari duduknya dan mengayunkan langkah kakinya meninggalkan kamar Angga.
__ADS_1
Angga tampak keheranan dengan tingkah mamanya kali ini, selama ini apapun yang mamanya mau selalu di penuhi Angga. baginya kebahagiaan sang mama adalah tujuan hidupnya.
****
lampu disco mengisi keramaian di club itu, ketiga dara itu sudah berada di tengah dan menari sepuasnya. meliuk-liukkan tubuhnya, sembari membawa segelas minuman beralkohol semakin menambah panas suasana hati mereka.
sesekali mereka bertiga tertawa karena joget mereka yang dibuat-buat sampai terlihat aneh. suasana kian panas, muncul beberapa pria dengan membawa minuman juga lalu ikut nimbrung dengan mereka.
mereka ikut berbaur tertawa tanpa saling mengenal. minuman di gelas Nica sudah habis segera dia kembali untuk memesan yang kedua kalinya, Anggun juga sudah meneguk sampai tetesan terakhir akhirnya berjalan mengikuti Nica. sementara Dewi masih ikut berjoget dan sesekali mengobrol dengan pria yang ada di dekatnya.
sesekali tampak tawa Anggun dan Nica mengembang entah membicarakan apa, seorang pria yang sejak tadi berada di dekat mereka akhirnya membuka suara.
"hai...... kok gak ke sana lagi" sahutnya sembari menunjuk ke arah Dewi yang masih setia di lantai dansa, Anggun dan Nica spontan menatap kearah suara lalu mengikuti arah jari telunjuknya.
"mmmm iya kita istirahat sebentar" ucap Nica sementara Anggun tengah meneguk minumannya
"Alex... nama kalian berdua siapa?" tanyanya sembari mengayunkan telapak tangannya yang di sambut hangat oleh Nica dan Anggun sembari menyebutkan nama.
mereka akhirnya mengobrol cukup lama bersama beberapa pria yang juga teman Alex.
****
sementara hari-hari Angga di sibukkan dengan pekerjaannya, bahkan hal yang ingin dia capai. sosok panutannya adalah almarhum papanya. dia ingin terus mengembangkan perusahaan papanya, dan memulai bisnis yang baru.
sementara Monica yang sehari-hari sibuk dengan urusan butiknya, juga mulai membuka restoran yang tak jauh dari butik. dia ingin menyibukkan diri sehingga tidak merasakan sepi.
"semua berjalan lancar, beberapa yang sudah di setujui harus di tanda tangani" ucap Dimas kakaknya Angga.
__ADS_1
"iya kak, kerjasama dengan Doughty Group kita lanjut atau di stop di sini?" ucap Angga lagi sembari menunjukkan kontrak kerja di depan kakaknya.
Dimas menyetujui saran Angga, mereka sangat kompak untuk mengembang perusahaan yang sudah dibangun ayahnya. Angga tidak merasa cemburu sedikitpun meski kakaknya menjadi direktur utama Patikala Group. justru dia belajar banyak dari Dimas hingga mulai memberanikan diri membuka bisnis baru, benar-benar dari nol.
"mama bilang kamu tak lama lagi mau menikah ya ?" ujar Dimas setelah selesai membicarakan bisnis, yang tentunya membuat Angga sedikit terkejut.
"mama hanya bercanda kak, sejak dulu mama selalu menyuruhku menikah tapi aku punya terget sendiri" jawab Angga setelah mengingat kejadian malam itu disaat mamanya menyuruhnya menikah dengan Anggun.
"apalagi yang mau kamu lakukan?" ucap Dimas sedikit bingung dengan adiknya yang hanya berbeda usia 4 tahun dengannya.
"perusahaan yang ku dambakan belum berdiri, ini sedang bertahap" balas Angga sembari menatap langit-langit kantor dan membayangkan impiannya.
"baiklah, kamu harus memberikan pengertian ke mama. jangan sampai membuat dia sakit hati" balas Dimas kemudian menepuk bahu Angga.
mereka kemudian keluar ruangan, karena sudah ada janji meeting dengan klien di sebuah hotel.
****
sudah hampir seminggu berlalu setelah perkenalan ketiga dara itu dengan Alex dan teman-temannya, mereka sering mengobrol via suara dan sering janjian di club malam.
Hampir setengah dari pengunjung club sudah di kenal oleh Anggun, Dewi dan Nica karena mereka jarang pergi ke club lain. dan Alex tergolong pendatang baru di club ini.
seperti janji mereka, semua sudah berkumpul di club dan memesan sebuah ruangan yang kedap suara. didalamnya terdapat tempat karokean juga. mereka duduk dan mulai menari dan menyanyi, tak sepadat di lantai dansa.
selama seminggu ini juga Alex mencoba mendekati Anggun, mulai dari sering menghubungi dan selalu dekat di club. saat kedua sahabatnya sibuk menari, Anggun hanya menyoraki sembari meminum vodka, Alex menghampiri dan duduk di sampingnya. mereka mulai mengobrol.
Alex selalu berempat bersama temannya, dan mereka sedang menari asik. Anggun tak terlalu memikirkan apapun, selama itu membuat kedua sahabatnya bahagia maka dia akan ikut saja.
__ADS_1
tepat tengah malam mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan club itu, meski nafas mereka sangat identik dengan aroma alkohol namun masih memiliki kesadaran. Alex menawarkan diri untuk mengantar Anggun, namun di tolak karena masih mampu menyetir mobil sendiri.
mereka besok malam akan pergi ke sebuah club untuk mengganti suasana seperti ajakan Alex dan ketiga temannya. dengan cepat kedua sahabatnya mengiyakan dan Anggun hanya ikutan saja.