Beruntung Menikahimu

Beruntung Menikahimu
Pagi yang gaduh


__ADS_3

Anggun akhirnya kembali ke rumah yang lebih tepatnya dia anggap sampah, setelah tiga hari berada di rumah Dewi. dia merasa tak enak hati jika terus menumpang di kosan sahabatnya itu.


Kesya, mama tirinya yang mendengar suara mobil di garasi segera keluar menghampiri. namun di sambut dingin oleh Anggun dan segera menyeret langkah kakinya menuju kamarnya lalu kembali tertidur.


belum lama dia merebahkan tubuhnya, suara ketukan pintu terdengar di selingi suara bentakan. Anggun sudah tau pasti bahwa ayahnya akan sangat marah.


"kamu masih ingat rumah, hahhh !" bentak ayahnya tepat setelah Anggun membuka pintu yang tadi dikuncinya


"aduhhh, berisik yah. Anggun capek" sahutnya sekedar dengan memainkan kuku jarinya yang terawat


"sudah yah, biarin Anggun sebentar. ini masih pagi" Kesya membela anak sambungnya


"kamu sudah dewasa harus jadi contoh baik buat adikmu, kamu mau jadi apa kalau terus kelayapan!" raut ayahnya belum berubah dan bertambah kesal dengan melihat tampang Anggun yang tak peduli


"bukan urusan kalian, terserah Anggun mau ngapain pun. urus diri kalian!" sahut Anggun yang akhirnya amarahnya ikut tersulut


parrr....


sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya membuatnya menahan nafas sejenak, detak jantungnya seperti mau meledak.

__ADS_1


barrr.,,


Anggun segera membanting pintu lalu mengunci diri di dalam kamar. segera merebahkan tubuhnya dan menutupi telinganya dengan bantal, sementara dari luar kamarnya masih terdengar teriakan amarah ayahnya, Kesya mencoba menenangkan suaminya. Amel dan Vino akhirnya keluar dari kamar masing-masing setelah mendengar suara ribut.


belum sempat mereka bertanya, sang mama segera menyuruh menuju meja dan sarapan bersama.


Amel sangat sedih dengan tindakan kakaknya, jujur saja dia sangat merindukan masa kebersamaan mereka. Amel kini hanya bisa menyibukkan diri dengan tugas sekolahnya dan mencoba menikmati masa putih abu-abunya yang sebentar lagi akan usai. sedangkan Vino yang masih menikmati masa remajanya, tak lama lagi akan melepas seragam putih birunya.


Anggun memutuskan untuk mandi, lalu bersiap untuk pergi lagi. entah kemana dia pun belum memiliki tujuan. dia merasa lebih baik di luar daripada berada di rumah itu.


"kamu mau kemana nak?" tanya Kesya lembut setelah melihat Anggun keluar dari rumah dengan pakaian yang rapi berbeda jauh dari yang sebelumnya.


"kamu sarapan dulu ya, tante sudah siapin di meja"


"gak usah tante, makasih"


belum sempat dia melangkahkan kakinya, dihadang oleh ayahnya. kembali kegaduhan muncul.


"kamu mau kemana lagi hahh !"

__ADS_1


"ada urusan di luar"


"urusan apa? mau pergi ke club malam lagi? !!"


Anggun tak menyahut ocehan ayahnya, lalu menyeret langkah kakinya keluar menuju garasi.


"ayah belum selesai bicara Anggun !, dasar anak gak tau di untung. keras kepala seperti ibunya"


deg....


langkah kakinya terhenti tanpa menoleh ke arah suara, dia sangat tersinggung jika ada yang mengungkit tentang mamanya. mukanya sudah merah padam, menahan diri agar tak menangis.


menghela nafas lalu melanjutkan langkah kakinya yang kian semakin berat


"Anggun....!! kembali ke rumah, atau ayah akan sita semua kartu kreditmu !" ayahnya mulai mengancam, bukan sekali dua kali Anggun mendapat hukuman serupa. namun berkat bujukan Kesya istrinya dia juga yang mengembalikan kartu kredit Anggun.


Anggun masih tak menghiraukan lalu mulai memasuki mobilnya, suara decitan mobilnya tampak sengaja dilakukan ketika meninggalkan jejaknya di depan rumah itu. kini Anggun hanya berkeliling tanpa tujuan sampai akhirnya berada di sebuah Mall lalu berkeliling dari satu toko ke toko lain, ancaman sang ayah tak di hiraukannya, buktinya kartu kreditnya masih bisa di gunakan.


sementara Nica dan dewi tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mereka hanya akan melepas penatnya kalau berkumpul di club dan minum sampai mabuk, begitu seterusnya.

__ADS_1


__ADS_2