Beruntung Menikahimu

Beruntung Menikahimu
Perhatian


__ADS_3

Anggun berjalan perlahan ke kamar mandi menahan nyeri di seluruh tubuhnya, terdengar rintihan dari dalam membuat Angga terbangun dari tidurnya lalu mendekat ke arah suara. kamar mandi dikunci sehingga Angga tidak bisa masuk dan hanya bisa mengetuk pintu berulang kali.


"Anggun... buka pintunya, kamu kenapa ?" teriak Angga yang mulai panik namun tak kunjung di sahuti oleh Anggun membuatnya terus menerus memanggil nama istrinya itu.


beberapa menit kemudian Anggun pun membuka pintu kamar mandi.


"iya tunggu sebentar" ucapnya lirih menyembunyikan rasa sakitnya, Angga segera mendekapnya lalu membawa tubuh Anggun menuju ranjang.


perban di tangannya masih melekat dan luka lecet di beberapa titik di bahunya masih terlihat. dia memakai baju Angga yang terlihat longgar di tubuhnya.


Angga berjalan menuju meja dan mengambil obat salep dan kembali mendekat ke arah Anggun.


"jangan, biar aku saja nanti yang mengobatinya" ucap Anggun yang menolak saat Angga ingin menaikkan bajunya.


"biar aku saja" ucap Angga yang tak mau kalah lalu mengangkat bahu Anggun sampai bagian tubuhnya terekspos


Anggun merasa tak nyaman dan segera menutupi tubuhnya dengan selimut sementara Angga fokus pada luka lecet itu, dia juga mengganti perban yang melekat di sepanjang tangannya.


"pasti dia merasa sangat nyeri, tubuhnya tergores di aspal. kenapa dia tidak mengikhlaskan dompetnya saja daripada harus tarik-menarik dengan penjahat itu" batin Angga yang merasa ngeri di sekujur tubuhnya.


"ini pasti meninggalkan bekas" batin Anggun yang sedang memunggungi Angga karena bahu bagian belakang juga sedikit memar.


selesai mengolesi dan mengganti perban, Angga kembali memakaikan baju Anggun. dia bahkan tak ingin melihat tubuh Anggun. dia tau betul kalau wanita yang sudah menjadi istrinya itu tengah malu.


terdengar suara ketukan pintu dari luar, Angga segera bangkit dari tepi ranjang lalu menyeret langkah kakinya menuju pintu. bi susi datang dengan sebuah nampan berisi semangkuk bubur dan segelas minuman untuk Anggun.

__ADS_1


Angga menerimanya dan mengucapkan terimakasih sebelum pintu kembali tertutup. Angga melangkah lagi menuju tepi ranjang dan mulai mengaduk bubur yang masih panas itu.


"biar aku saja" ucap Anggun yang mencoba bangun dari tidurnya namun ditahan oleh Angga.


"biar aku saja, kamu cukup buka mulut" ucapnya lalu mulai menyendokkan bubur ke mulut Anggun.


Anggun hanya bisa pasrah dan membuka mulutnya.


deg...


hatinya berdesir mendapat perlakuan dari Angga, bahkan beberapa kali Anggun memalingkan pandangannya karena tak ingin melihat Angga. semakin mereka dekat semakin detak jantung Anggun berirama cepat.


sedangkan Angga fokus mengaduk bubur di mangkuk itu setiap kali menyuapi Anggun di pandanginya tubuh Anggun yang terlihat kurus apalagi baju Angga yang di pakai Anggun terlihat sangat longgar.


"apa dia merasa tak nyaman karena memakai baju ku, tapi bajunya semuanya terlihat pas jadi mudah tergesek dengan lukanya" batin Angga yang menatap lekat tulang selangka Anggun apalagi kerah baju itu longgar dan sesekali memperlihatkan bahu mungil Anggun. Hal itu tertangkap oleh Anggun sehingga dengan cepat menutupi bahu dan lehernya membuat Angga sedikit salah tingkah.


"mas Angga juga sarapan sana" ucap Anggun membuka suara karena merasa tak enak hati karena sejak dia sakit dia merepotkan Angga.


"hmmm.." ucap Angga singkat dengan nada yang dingin lalu membawa nampan dan berjalan meninggalkan kamar.


"dia pasti merasa terbebani karena aku sakit" ucap Anggun dalam hati karena melihat raut wajah Angga yang dingin.


sementara di bawah Angga tengah sarapan bersama mamanya, mereka mengobrol sejenak.


"keadaan Anggun gimana nak ?" ucap Monica kemudian setelah mereka selesai sarapan.

__ADS_1


"tadi sudah Angga ganti perbannya dan sudah mengolesi salep. dia juga sudan sarapan dan minum obat" ucap Angga menjelaskan agar mamanya tak terlalu khawatir.


"penjambretnya sudah ketemu belum ya ?" ucap Monica lagi dengan wajah yang sedikit kesal dengan penjambret yang membuat menantunya menjadi sakit seperti itu.


"belum ma, agak susah. karena dia memakai helm dan masker. bukan masalah besar kalau dompet itu hilang asalkan Anggun masih dalam keadaan baik" ucap Angga yang memang sudah melapor ke kantor polisi setelag melihat cctv yang tak jauh dari tempat kejadian.


untung saja ada cctv di depan sebuah toko yang tak jauh dari tempat Anggun di jambret. Angga segera menyerahkan rekaman cctv ke kantor polisi.


selesai sarapan Monica segera pergi pamit ke Angga, karena kebetulan akan menghadiri pesta pernikahan anak dari temannya. sementara Angga kembali menaiki anak tangga dan berjalan perlahan menuju kamarnya.


terlihat Anggun tengah berbaring meski tak tidur, dia menatap langit-langit kamar. Angga berjalan menuju meja dan mulai bekerja, sesekali Anggun menatap kearahnya


"dia pasti merasa terbebani karena aku sakit jadi tidak biaa perginke kantor" batin Anggun yang merasa bersalah


sedangkan Angga juga sesekali melihat ke arah Anggun yang tampak gelisah. Angga lalu berjalan mendekat ke arah Anggun dan menanyakan keinginan Anggun. namun Anggin hanya menggelengkan kepalanya.


"aku bisa mengurus diriku sendiri kamu berangkatlah ke kantor" ucap Anggun yang membuat Angga sedikit kesal.


"meski sakit dia masih menolak kebaikanku" batin Angga masih menatap lekat wajah Anggun.


"memangnya kenapa kalau aku tak pergi ke kantor ?" ucap Angga dengan nada suara yang datar namun tatapannya mulai menyipit


"aku hanya tak mau merepotkan mu" ucap Anggun yang memalingkan pandangannya ke arah yang lain


"kamu menolak kebaikanku hah ? kamu tak sudi menerima bantuanku? kalau begitu jangan ceroboh lagi seperti kemarin jangan membuat masalah lagi" ucap Angga yang meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


Anggun hanya menatap lekat wajah suaminya itu, ada rasa sakit di lubuk hatinya. lagi-lagi Angga berhasil melukai hati istrinya. Anggun menahan diri agar air matanya tak keluar


Angga berjalan cepat lalu duduk dengan kasar ke tempatnya semula lalu kembali fokus pada layar laptopnya.


__ADS_2