Beruntung Menikahimu

Beruntung Menikahimu
Beban Baru


__ADS_3

Anggun akhurnya berhenti di tempat yang dulu sering di datanginya, tempat itu kini kosong. suasananya tak terlalu sepi karena kamar kosan yang berderet rapi. tempat itu pernah menjadi tempat kos Dewi sewaktu malas pulang ke rumah.


Anggun keluar dari mobil dan melihat tulisan yang menandakan kamar kos itu belum di isi penghuni baru. Anggun mengeluarkan hp nya dan menekan nomor yang tertera didepan pintu. suara ramah terdengar dari seberang dan beberapa menit pemilik kos pun datang.


namanya bu Tuti dia memang pemilik kos yang ramah dan rutin memeriksa keadaan kosan. Dewi sangat nyaman dengan pelayanan tempat itu. Bu Tuti juga sudah sering melihat Anggun berada di wilayah itu.


"seperti saya sering melihat kamu ?" ucap wanita paruh baya itu dengan lembut


"hmmm muka saya pasaran bu, saya orang baru di sini. saya baru mendapat pekerjaan dan di kontrak selama tiga bulan" ucap Anggun berbohong karena tak ingin orang lain tau keberadaannya apalagi kalau nanti bu Tuti melapor ke Dewi kalau dia ada disini.


"ohhh begitu ya, baiklah mari kita lihat kondisi di dalam" ucap Bu Tuti ramah lalu membuka pintu itu setelah melekatkan kunci.


suasananya belum berubah masih sama seperti saat Dewi berada disana, bahkan aroma khas parfum Dewi pun masih mengisi tempat itu.


"kalau yang ini satu juta perbulan karena fasilitasnya lebih lengkap" ucap Bu Tuti menatap ke arah Anggun yang tampaknya tertarik


Anggun pun setuju lalu mengeluarkan uang dari dompetnya, dia baru saja mengambilnya dari uang Atm nya sendiri.

__ADS_1


dia mulai merapikan kamar minimalis itu terkenang saat mereka bertiga sering berada disana untuk menghabiskan waktu. malam sudah mencapai puncaknya dia segera merebahkan diri setelah perjalanan panjang hari ini, meski sebenarnya hatinya masih tak tenang.


sementara Angga kembali ke kotanya setelah mendapat telepon dari kakaknya Dimas. sebenarnya dia tak ingin pulang sebelum membawa Anggun namun keadaan perusahaan tengah memburuk.


flashback


Angga memperhatikan mobil sepanjang jalan dan tal menemukan jejak mobil Anggun. tiba-tiba hp nya berbunyi di lihatnya nama kakaknya tertera. segera dia mengangkatnya meski dengan keadaan tengah mengemudi.


"kamu dimana sekarang ?" ucap Dimas setelah mendengar suara adiknya dari seberang


"ini lagi di kota X kak, memangnya ada apa ?" ucap Angga yang masih menatap ke sana kemari


Angga menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba, untung saja keadaan jalan sedang sepi. dia lalu meminggirkan mobilnya dan mendengarkan penjelasan kakaknya.


"tidak mungkin kak..."


"Ceo dari perusahaan Kars Company ternyata terlilit utang dan sudah melakukan penipuan ke beberapa perusahaan, selain itu dia membuat pengeluaran yang tak terkendali dan berdampak ke perusahaanmu" ucap Dimas menjelaskan.

__ADS_1


"aku sedang menuju perjalanan kak, kita ketemu di kantor besok" ucap Angga memutus pembicaraannya lalu meremas kasar rambutnya.


emosi nya kini sangat memburuk bahkan tak sadar kalau mengemudi dengan kecepatan tinggi, jam sudah menunjukkan jam satu pagi dan dia masih berada di dalam perjalanan menuju rumahnya.


ke esokan harinya dia bangun cepat atau lebih tepatnya dia tak bisa tidur hanya merebahkan diri lalu memejamkan mata namun pikirannya tetap berbicara. Monica yanh melihat wajah putra yang terlihat pucat menanyakan namun Angga menjawab dengan dingin.


dia bisa menangkap bahwa ada masalah dengan dengan putra namun mempercayakan bahwa Angga bukan lagi anak kecil. dia sudah dewasa dan sudah mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.


Angga pamit tak lupa mencium punggung tangan mamanya, lalu berjalan dengan cepat. Monica melihat ke arah piring putranya dan melihat makanan yang masih utuh.


****


"ada dengan wajahmu? kamu terlihat sangat stress" ucap Dimas yang melihat adiknya masuk ke ruangannya


"bagaimana ini kak, kenapa bisa aku yang akhirnya harus membayar ganti rugi " ucap Angga tanpa menjawab pertanyaan kakaknya.


Dimas cukup mengerti perasaan adiknya itu, sejak dulu dia memang bermimpi untuk membangun cabang perusahaan atas naman6a sendiri karena tak ingin terus bergantung dengan perusahaan yang di bangun oleh papanya dulu.

__ADS_1


Angga mempercayakan perusahaan itu untuk di kelola oleh kakaknya Dimas, karena dianggap sangat mirip dengan papanya ketika memimpin perusahaan.


Dimas memberikan penjelasan dan bersedia membantu adiknya untuk mencari jalan keluar, Angga selalu bisa menerima saran dari kakaknya itu. dia merasa bebannya sedikit berkurang meski belum memberitahu kepada siapapun terkait masalah rumah tangganya.


__ADS_2