Beruntung Menikahimu

Beruntung Menikahimu
Tak ingin berlalu


__ADS_3

titik embun masih terlihat jelas menghiasi jendela kaca, matahari masih enggan menampakkan diri namun Angga sudah terbangun dan diraihnya hp nya untuk melirik waktu sekarang.


"masih jam 4 pagi... aku pikir akan terlambat bangun" batinnya lalu menaruh kembali hpnya di atas nakas lalu kembali menatap istrinya


di amatinya wajah Anggun yang sangat terlelap, tangannya tetap memeluk erat tubuh istrinya. Angga menarik lagi selimut sampai menutupi leher istrinya. dia tersenyum mengingat kejadian semalam.


hasratnya kembali memuncak, tangannya mulai beraksi lagi dan mengamati ceruk leher istrinya. bibirnya pun akhirnya menempel dengan lembut dan sesekali berhenti jika Anggun menggeliat pelan.


"huffttt.... untung dia masih tidur, pasti dia kelelahan. tapi aku masih ingin mengganggunya" batin Angga yang sebenarnya kasihan jika harus membangunkan Anggun namun juga enggan untuk berhenti


emosi Angga kian tak terkendali kini sudah berpindah ke bagian sensitif istrinya membuat Anggun yang merasa sedikit geli akhirnya menyipitkan mata menatap dalam keadaan mengantuk.


"hmmm....." ucap Anggun lirih karena masih sangat mengantuk


"maaf, aku membangunkanmu ya" ucap Angga yang membuat Anggun terkejut karena suaminya tepat di depan matanya.


"mas Angga, kamu...." ucap Anggun yang merasa tak percaya karena tubuhnya sudah di bawah suaminya


belum sempat Anggun melanjutkan ucapannya yang ingin protes, segera Angga membungkamnya dengan ciuman lembut. Anggun yang memberontak segera Angga menggenggam kedua tangan Anggun dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menyentuh lembut wajah Anggun agar berhenti menolak.


rasa kantuk yang tadi hinggap di pelupuk mata Anggun berangsur hilang, dia pun terbawa suasana dan menikmatinya. kejadian semalam akhirnya terjadi lagi di pagi buta.


Anggun sedikit khawatir kalau mengganggu seisi rumah karena ulah mereka berdua. padahal kamar itu kedap suara. lagi pula kamar mama mertuanya berada di bawah begitu pun kamar bi susi. Monica memang tidak suka naik tangga karena merasa kelelahan, dia selalu berkata kalau dia bertambah tua dan pikun. namun Angga selalu memuji mamanya awet muda membuat wanita paruh baya itu tersanjung.


"jangan di tahan...." ucap Angga yang mendengar lenguhan lirih istrinya segera mengangkat kepalanya dan melihat Anggun menggigit bibirnya.


"hmmm...." ucap Anggun yang merasa bingung harus bagaimana.


"cuma kita berdua diatas ini, dan kamar ini kedap suara" ucap Angga menjelaskan lalu melanjutkan aksinya.


"hmm...." ucap Anggun lirih masih merasa malu untuk meluapkan segalanya

__ADS_1


Angga yang semakin terpancing akhirnya melakukan aksinya dengan cepat membuat Anggun semakin kewalahan dan deru nafasnya kian tak beraturan.


"bagus, begitu saja. jangan di tahan" ucap Angga setelah mendengar lenguhan istrinya yang tegas dan tak malu-malu lagi.


"apa semua orang begini ya?" ucap Anggun yang sudah lelah namun Angga tetap melanjutkan meski sudah sampai puncaknya beberapa menit yang lalu


Angga terus melanjutkannya entah keberapa kalinya, Anggun bahkan tak mampu menghitung karena pikirannya sudah melayang entah kemana.


nafas keduanya pun saling berburu dan Angga kembali memeluk erat tubuh istrinya setelah aksinya selesai. Anggun terlihat sangat lemah. Angga mendekatkan kepala Anggun ke dada bidangnya, mereka tak saling bicara hanya deru nafas yang belum teratur yang berinteraksi.


waktu sudah menunjukkan jam 7 pagi, Angga akhirnya bangkit dari ranjang menyeret langkah kakinya menuju kamar mandi sedangkan Anggun masih merasa lelah.


namun sadar dengan kewajibannya segera dia meraih pakaian yang berserakan di lantai lalu memakainya dengan cepat dan berjalan pelan menuju lemari dan menyiapkan pakaian suaminya.


begitu selesai dari kamar mandi Angga keluar dan segera meraih pakaian di atas ranjang, Anggun segera masuk ke kamar mandi. dia meringis sedikit menahan nyeri di bagian tubuhnya.


"astaga banyak sekali tanda merah ini" batin Anggun yang merasa terkejut setelah menatap tubuhnya di depan cermin sembari mengusap lembut dengan kedua telapak tangannya.


"ayo kita sarapan..." ucap Angga yang menatap lembut ke arah Anggun, wanita itu hanya mengangguk pelan.


mereka menuruni tangga bersamaan, di meja sudah tersedia sarapan yang di siapkan bi susi sementara Monica masih di taman belakang. Angga segera menghampiri dan mengajak sarapan bersama.


mereka bertiga sesekali mengobrol banyak hal sembari menikmati sarapannya, terdengar tawa renyah sesekali. Monica menatap Anggun yang merasa tak nyaman dan terlihat di air mukanya yang menahan perih.


"kamu kenapa nak? masih sakit luka di tangan kamu? atau perut kamu sakit ?" ucap Monica kemudia karena air muka Anggun sangat terbaca


"gak kok ma, aku baik-baik saja" ucap Anggun yang sedikit terkejut lalu segera merubah raut wajahnya karena tak ingin membuat seisi rumah khawatir lagi


Angga juga ikut melirik kearah Anggi yang terlihat menyentuh perutnya dengan tangan kiri.


"kamu ikut aku ke kantor ya..." ucap Angga kemudian setelah selesai sarapan

__ADS_1


"a..aku, kenapa, kenapa aku ikut ?" ucap Anggun yang sedikit terkejut karena dia pikir hari ini akan ke butik dan restoran bersama mama mertuanya.


"biar kamu belajar mengurus perusahaan" ucap Angga dengan nada datar


"disana kan membosankan, palingan kerja ku hanya duduk dan diam seperti waktu itu" batin Anggun yang mulai tak bersemangat


mereka berdua akhirnya pamit sembari mencium punggung tangan mamanya, di dalam mobil Anggun hanya diam sementara Angga fokus menyetir mobil.


sesekali di liriknya kearah Anggun yang terlihat beberapa kali menyentuh perut dan pahanya dengan raut wajah menahan nyeri,


"kamu sakit ? kita ke rumah sakit sebentar ya " ucap Angga kemudian karena khawatir dengan keadaan Anggun


"jangan...jangan... tak perlu. aku baik-baik saja" ucap Anggun yang tak mau pergi ke rumah sakit


"tapi dari tadi kamu seperti menahan sakit, kamu harus jujur sakitnya dimana jangan menutupi sebelum semua semakin parah" ucap Angga lagi sesekali menatap kearah istrinya lalu kembali fokus menyetir


"kalau ke rumah sakit nanti bisa malu"


"ha... malu? kenapa bisa malu ?" ucap Angga yang sedikit bingung dengan ucapan istrinya


"iya, kalau dokter tanya sakit dimana trus aku kasih tau penyebabnya"


"memangnya sakitnya dimana dan gara-gara apa ?"


"sakitnya di sini dan penyebabnya kamu yang jahat...." ucap Anggun menunjuk dengan tatapan matanya ke bagian perut bawahnya lalu menatap kearah Angga.


Angga yang merasa sedikit malu akhirnya kembali fokus menyetir, dia berusaha menyembunyikan wajah merahnya.


"maaf, karena aku terlalu keterlaluan. yang semalam dan tadi pagi itu hukuman karena kamu tak memberi kabar pergi kemana" ucap Angga yang merasa sedikit bersalah namun tetap tak ingin kalah


Anggun hanya diam dan menatap ke depan, dia tak ingin salah ucap lagi apalagi hukumannya seperti itu.

__ADS_1


mereka sudah tiba di kantor dan benar saja dugaan Anggun, dia hanya diam dan mengamati pekerjaan suaminya.


__ADS_2