Beruntung Menikahimu

Beruntung Menikahimu
Rasa Memiliki


__ADS_3

Angga tau bahwa istrinya itu tengah menangis, meski dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut namun tubuh Anggun terlihat sedikit gemetar menahan agar tangisnya tak pecah. bahkan deru nafasnya terlihat berat karena mulai pilek.


Angga jadi merasa serba salah karena di satu sisi dia merasa kesal melihat penampilan baru istrinya namun satu sisi dia tak sanggup melihat wanita itu menangis.


"aku salah lagi, bagaimana cara memberi tahu nya ? pernikahan itu memang cukup rumit" batin Angga sembari menghela nafas berat yang sejak tadi sudah pura-pura tidur.


pikiran Angga pun mulai kalut bahkan dia tak bisa tidur karena memikirkan keadaan Anggun kini. jujur saja sampai saat ini Angga belum mampu memahami wanita yang sudah menjadi istrinya itu menurut nya karena mereka belum pernah menjalin hubungan pacaran sebelumnya jadi tak ada waktu untuk saling mengenal. dan perasaan menjadi canggung karena mereka mendadak dinikahkan oleh kedua orang tuanya. sebenarnya Angga selalu mencoba menjadi suami pada umumnya atau kadang dia membayangkan Anggun sebagai adik keduanya dan memperlakukannya dengan baik seperti perlakuannya ke Niki.


Anggun masih menutupi kepalanya dengan selimut dan sepertinya luapan tangisnya belum membuncah sempurna, semakin ditahan semakin sesak rasa di dada nya.


"aku salah apa ? kenapa Mas Angga marah ?" tanyanya pada diri sendiri


"mama...hiks..." ucapnya lirih dan menutup mulutnya segera setelah tangisnya keluar, dia tak ingin mengganggu waktu tidur Angga.


Anggun selalu merasa kesepian meski di kelilingi orang yang menyayanginya. disaat sedih dan terpuruk dia pasti akan selalu mengingat wanita yang melahirkannya itu.


"jangan berisik Anggun, atau nanti mas Angga marah lagi" ucapnya dalam hati sembari mengatur nafas yang masih sesegukan.


perasaan Angga semakin sedih melihat keadaan istrinya.


greb....


Angga menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya dan membuat Anggun terkejut sampai menahan nafas. di angkatnya kepalanya menatap wajah lelaki itu yang tengah memejamkan kedua matanya.


"hufftt... mas Angga masih tertidur, tapi kenapa dia menarikku sangat erat? ahhh pasti dia mengira aku bantal guling" batin Anggun yang melihat Angga masih menikmati tidurnya meski kedua lengannya mendekap erat tubuh Anggun.


Anggun bahkan tak berani bergerak karena tak ingin membangunkannya. Anggun akhirnya menurunkan pandangannya dan kini sejajar dengan dada suaminya.


"tunggu dulu, nanti kalau sudah lengah aku akan melepaskan diri" batin Anggun yang menunggu namun Angga tak kunjung melepaskan dekapannya sampai akhirnya dia terlelap.

__ADS_1


Angga membuka kedua matanya dan melihat wajah Anggun, terlihat sisa genangan air mata di pipinya. dengan perlahan Angga mengusap pipi Anggun yang lembab membuat Anggun bergerak kecil dan akhirnya membuka kedua matanya dengan mata menyipit, padahal baru saja rasa kantuk menyerangnya.


"hmmm...." ucapnya lirih karena merasa ada yang menyentuh pipinya


Angga yang tak punya persiapan akhirnya tertangkap oleh Anggun. pandangan mereka saling beradu. rasa gugup menyerang keduanya terlebih Anggun yang tak tau sejak kapan dia mulai tak kuasa jika menatap mata suaminya.


dia mulai bergerak ingin menjaga jarak namun Angga semakin mengunci tangannya tak membiarkan Anggun lari dari dekapannya. Anggun sedikit meringis kesakitan dan Angga yang melihat itu melonggarkan sedikit kedua tangannya.


mata mereka tetap beradu, Angga sedang memikirkan kata yang harus di ucapkan untuk memulai pembicaraan sementara Anggun semakin tak sanggup menatap matanya. ada rasa yang berbeda setiap kali menatap lelaki itu namun dia kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu dan membuat emosinya kalut.


kedua bola matanya mulai berkaca-kaca sangat terlihat ada rasa bingung, kesal dan kecewa terhadap lelaki yang di pandangnya.


Angga menghela nafas berat dan menyentuh kulit wajah Anggun dan membuatnya memejamkan mata sejenak lalu air matanya pun mengalir.


Angga mencium kening Anggun dengan lembut membuat wanita itu semakin bingung lalu kembali menatap wajah suaminya.


"maaf....jangan menangis lagi. kalau ayah tau aku membuat putri kesayangannya menangis dia pasti akan membunuhku" ucap Angga dengan lirih dan sedikit bergetar akhirnya berani memulai percakapan.


"aku terlalu berlebihan memandang apapun" ucap Angga lagi karena melihat Anggun masih membisu


"a..apa salahku... hiks.." ucap Anggun lirih dan sedikit bergetar segera menutup mulutnya karena sesegukannya mulai pecah.


"huffttt.... aku yang salah, maaf. jangan menangis lagi" ucap Angga yang mengusap lembut pipi istrinya.


Anggun ada kesempatan untuk melepaskan diri saat Angga hanya menggunakan satu tangan mendekap tubuh istrinya. Anggun mendorong tubuh Angga namun tenaganya masih kalah dan Angga kembali mendapatkan tubuh istrinya.


"lepas....apa salahku ?" ucap Anggun yang tangisnya kian pecah


"aku yang salah, bukan kamu. jangan menolakku terus" ucap Angga yang menggenggam erat tangan Anggun yang dipakai untuk mendorong tubuhnya.

__ADS_1


"aku kesal karena kamu memotong rambutmu"


"dari dulu aku memang berambut pendek, aku tak tau kalau kamu suka wanita berambut panjang. maaf karena tak bisa menjadi wanita idamanmu" ucap Anggun yang kini tau permasalahannya ada di rambutnya.


"bukan itu maksudku, menurutku..."


"kalau kamu tidak bisa menerimaku sampai saat ini sebagai istrimu kamu cukup meninggalkanku atau biarkan aku pergi dari rumah ini" ucap Anggun memotong ucapan suaminya.


"maksudku aku tak suka kalau leher istriku di lihat orang lain. kamu memotongnya terlalu pendek. leher kamu jadi terlihat. kamu miliku jadi hanya aku yang berhak melihatnya" ucap Angga yang kembali kesal mengingat kejadian tadi.


"apa maksud ucapan lelaki ini ?" batin Anggun yang masih bingung


"sebelum kita menikah, apa ada orang lain yang menikmati leher mu ?" ucap Angga dan dibalas Anggun dengan gelengan kepala


"bagaimana dengan pacarmu dulu, apa dia pernah menyentuhnya ?" ucap Angga yang melepas cengkeraman tangannya dan berpindah ke leher Anggun.


Anggun masih saja menggelengkan kepalanya disertai rasa geli sampai tubuhnya sedikit menghindar namun masih belum paham juga.


"kamu anak club malam tapi tak paham inti pembicaraan kita ? aku tak mau kalau lehermu jadi pusat perhatian" ucap Angga lalu mulai mendekatkan bibirnya ke arah leher istrinya itu.


"ahhhh...." desahan Anggun mulai keluar dan Angga menatap lekat wajah istrinya lalu melanjutkan aksinya.


Angga mulai ******* bibir Anggun meski awalnya dia menolak namun kini hanya bisa pasrah, dia juga masih sangat kaku seperti pertama kali. Angga bahkan heran dengan wanita itu karena menurutnya wanita yang suka ke club malam pasti sudah terbiasa dengan semua perlakuan itu namun nyatanya Anggun terlihat kaku dan bingung harus bertindak apa selain memberontak.


tangan Angga mulai bergerak ke tempat yang dia sukai namun menjadi titik kelemahan Anggun. segera Anggun menarik tangan suaminya namun Angga menggenggam erat tangan istrinya dan dengan tangan yang satunya mulai beraksi.


lenguhan Anggun terlihat semakin menarik di telinga Angga, kini mereka tampil polos. dan Anggun masih saja merasa malu. Angga sudah berada di atasnya dan mulai bergerak lembut membuat Anggun memejamkan kedua matanya dan menggigit bibirnya.


Angga semakin gemas melihat sikap istrinya lalu ********* lembut bibir itu membuat Anggun melepas gigitannya dan suara lemah terdengar mengisi ruangan kamar itu.

__ADS_1


"Jangan di tahan sayang..." ucap Angga menatap kedua mata indah itu


Angga sengaja memperlambat aksinya dan membiarkan Anggun mengatur nafas, tatapan Anggun kian sayu dan mulai memejamkan mata. Angga mempercepat aksinya membuat suara Anggun kian terdengar. malam itu keduanya menikmati suasana malam tanpa tangisan dan rasa kesal lagi.


__ADS_2