Beruntung Menikahimu

Beruntung Menikahimu
Kemarahan Angga


__ADS_3

Anggun masuk ke dalam kamar lalu segera menyalakan lampu dan berjalan pelan menuju kamar mandi belum menyadari Angga sudah duduk di kursi. selesai dari kamar mandi Anggun dengan santai berjalan menuju lemari mencari piyamanya. di membuka bajunya dan lekuk tubuhnya pun terlihat.


"dia sungguh mabuk, bahkan tak sadar aku sudah lama duduk disini" batin Angga masih menatap ke arah Anggun.


"baru pulang ?!" ucap Angga dengan nada dingin yang membuat Anggun mengangkat bahunya karena terkejut.


segera dia menoleh ke belakang dan melihat sosok Angga yang menatap tajam pertanda meminta penjelasannya, Anggun yang masih memegang bajunya akhirnya sadar lalu dengan cepat memunggui Angga dan mengenakan pakaiannya lagi.


"ya Ampun, sejak kapan Angga ada di situ ?" batin Anggun yang hatinya kian bergemuruh


"ceritakan apa saja yang kamu lakukan selama aku dan mama tidak ada?" ucap Angga datar namun yang di tanya hanya diam dan menunduk. sampai Angga mengulang lagi pertanyaannya sampai ketiga kalinya.


Angga berjalan pelan menuju Anggun lalu mencengkeram dagu Anggun dengan keras sampai wanita itu meringis. Angga kian kesal karena tak ada jawaban.


"jelaskan wanita m****** !" teriak Angga yang membuat Anggun terkejut melihat begitu mengerikannya laki-laki di depan matanya kalau sudah marah.


"a...aku pergi ke butik dan ke club malam" ucap Anggun lirih membuat Angga melepas cengkeramannya.


"aku sungguh menyesal mau menikahi wanita m******* sepertimu Anggun !"


deggg...


hati Anggun bergetar mendengar ucapan Angga, dia tak terima di sebut begitu.

__ADS_1


"aku bukan wanita m*******" ucap Anggun yang menahan tangisnya


"lalu itu apa hah ?!, pergi ke club malam dan pulang mabuk" teriak Angga yang semakin meninggi. untung saja kamar itu kedap suara dan berada di lantai atas jadi tak akan didengar sampai ke lantai bawah apalagi ke kamar bi susi.


"pergi ke club malam bukan berarti wanita m******, aku hanya minum disana. bukan menjual diri" ucap Anggun nada suaranya mulai meninggi


"buktikan !!!" ucap Angga sembari menatap tubuh Anggun dari ujung rambut sampai ujung kaki


membuat hati Anggun kian bergetar, dia mulai menyilangkan tangan menutupi tubuhnya yang di pandangi Angga.


"buktikan !!!" teriak Angga lagi yang membuat Anggun spontan menutup telinga karena terkejut. namun Anggun masih diam saja.


Angga lalu mencengkeram dagu Anggun lagi lalu me**** paksa bibirnya, membuat Anggun memberontak mendorong kuat dengan kedua lengannya


parrr...


"kamu baj*ngan Angga !" ucap Anggun yang perlahan mundur mencari jarak aman.


"hah....iya, aku memang baj*ngan. makanya aku bilang buktikan !!" teriak Angga yang semakin mendekat ke arah Anggun. namun dengan cepat Anggun berlari mengelilingi ruangan itu lalu ingin keluar dari kamar namun gagal.


Angga mencengkeram tangan Anggun yang sudah membuka pintu, mendorong Anggun hingga jatuh ke lantai lalu menutup pintu dengan keras lalu menguncinya dan melempar kunci sampai jauh ke bawah meja.


Anggun mulai ketakutan, tubuhnya bergetar perlahan dia bangkit dari lantai dan mencari jarak aman. Angga masih berjalan pelan ke arahnya.

__ADS_1


"buktikan ucapanmu tadi !" ucap Angga kali ini dengan nada datar namun lagi Anggun ingin berlari menuju kamar mandi dan menutup pintu tapi gagal. tangan Angga sudah menahannya Anggun yang berusaha menutup sekuat tenaga akhirnya kalah.


Angga menarik tangan Anggun dan menjatuhkannya di atas ranjang, lalu segera menindihnya karena Anggun ingin kabur lagi.


Anggun me***** kasar bibir Anggun yang masih saja memberontak sampai kedua tangannya di cengkeram keras oleh Angga.


"baj*ngan.... hiks... hiks...hiks.." tangis Anggun akhirnya pecah membuat Angga menatap wajahnya.


Angga lalu keluar dari kamar meninggalkan Anggun yang tangisnya kian pecah di tengah malam. untung saja mertuanya tidak ada di rumah jika tidak, keadaan akan terasa kian gaduh melihat pertengkaran pasangan itu.


Angga sudah berada di kamar sebelah, menghela nafas panjang. emosinya belum stabil meski tak mendengar tangisan dari kamar itu karena kedap suara.


"apa aku terlalu kasar padanya" batin Angga yang sedikit di penuhi rasa bersalah.


Angga adalah laki-laki yang takkan tega menyakiti wanita, itu terlihat dari caranya memperlakukan adiknya Niki. selama hidupnya Angga yang selalu di sakiti wanita, termasuk mantannya Aurel yang sudah pergi meninggalkannya selama dua tahun, dan Angga masih belum mampu move on.


bahkan dia masih menunggu kembalinya Aurel, namun mamanya memutuskan untuk menikahkannya dengan Anggun, yang hanya di kenalnya sebagai anak dari rekan kerjanya.


"dia kini membenciku" batin Angga yang meremas rambutnya dengan kasar.


dia tak menyangka bahwa menjalani pernikahan itu sangatlah tidak mudah, harus ada saling pengertian dan penyatuan hati juga pikiran.


"aku membencimu Angga, aku akan pergi dari sini secepatnya. kamu terlalu menganggapmu rendahan " guman Anggun masih tak terima dengan perkataan Angga dan tamparan di berikannya di pipi Anggun.

__ADS_1


sesekali dia mengusap kasar pipi dan bibirnya bekas sentuhan Angga tadi, kian mengingat kejadian tadi semakin menambah amarah di hatinya. Anggun kembali menangis sampai dia tertidur, matanya sudah bengkak dan merah.


Angga pun kini sudah tertidur meski hatinya masih bergerumuh, bingung harus berkata apa di esok pagi. meminta maaf atau diam saja.


__ADS_2