
Anggun bangun terlambat angka sudah menunjukkan pukul 9 kedua matanya menerawang jauh mengingat kejadian semalam. menghela nafas panjang lalu mencoba bangun tapi seluruh tubuhnya terasa sakit.
Angga baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang rapi mereka saling bertatapan sejenak lalu saling membuang pandangan. Anggun menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan berjalan pelan menuju kamar mandi. Angga melirik sejenak ekspresi wajah Anggun yang menahan perih.
"aku harap kamu belajar dari kesalahan, jangan pergi ke tempat itu lagi" ucap Angga lalu berjalan pelan meninggalkan kamar.
sedangkan Anggun segera masuk ke kamar mandi menatap dirinya di cermin sebelum membasuh tubuhnya.
"apa memang sesakit ini ? " gumam Anggun meraba bagian tubuhnya yang merah.
****
Monica mengobrol sejenak via telepon dengan Kesya dan Wijaya, setelah mendapat kata selamat atas kelahiran cucu keduanya. Monica juga menceritakan kalau Anggun sedang belajar mengelola butik dan restoran.
"kamu yakin menyuruh Anggun ?" tanya Wijaya yang masih tak percaya karena selama ini Anggun selalu menolak pekerjaan yang di tawarkan olehnya
"Anggun pasti bisa, sudah empat hari dia mengurusnya. aku juga mengawasi melalui asisten kepercayaanku di sana" ucap Monica yang sedang duduk ruang tamu sambil menggendong cucunya Amira.
Kesya dan suaminya sangat bersyukur karena Anggun memiliki mertua yang baik seperti Monica.
selesai pembicaraan kedua keluarga itu, panggilan pun terputus dan Monica segera menghubungi menantunya Anggun.
****
Anggun sedang berdiri dan menyapa hangat para pelanggan, tiba-tiba karyawan memanggil karena karena hp nya berbunyi. Anggun segera menghampiri tasnya lalu meraih hp nya.
"hallo ma, apa apa ?" ucap Anggun kemudian
"hallo Anggun, kamu dimana sekarang? semua aman kan ?" ucap Monica masih setia di ruang tamu
__ADS_1
"Anggun lagi di butik ma, semuanya aman. asisten mama juga bantu Anggun" ucap Anggun sembari melirik ke arah asisten yang sedang sibuk melayani pelanggan
"terimakasih ya nak, kalau ada apa-apa kabari mama dan jangan lupa makan siang" ucap Monica penuh perhatian dan setelah mendapat jawaban dari Anggun panggilan mereka pun terputus.
baru saja Monica meletakkan hp nya suara mobil berhenti di depan membuat Monica bangkit dari duduknya, masih menggendong Amira. Dimas baru saja tiba beserta anak dan istrinya. dengan sopan mereka menyapa dan mencium punggung tangan Monica lalu bergegas masuk ke dalam dan mulai mengobrol.
Anggun mulai fokus lagi melayani pelanggan, siang hari dia pergi ke restoran untuk makan siang dan memeriksa laporan keuangan. Anggun yang sejak tadi membaca laporan belum sempat memakan makanan yang sudah di sediakan di atas mejanya.
bahkan tak sadar kalau Angga sudah sejak tadi duduk mengamati istrinya itu. Angga sengaja makan siang di sana karena tau mama menyuruh Anggun mengurus restoran itu juga.
Anggun terkejut karena gelasnya jatuh ke lantai dan kacanya berserakan. dia segera bangkit dari duduknya dan jongkok ingin memunguti serpihan kaca itu, segera pelayan datang dan melarang Anggun melakukannya.
Anggun merasa tak enak hati tetap keras kepala ingin ikut membersihkan, jarinya sedikit tergores dan mengeluarkan darah, pelayan itu melihatnya lalu menyuruh Anggun duduk agar bisa segera di obati.
Anggun duduk mengamati jarinya yang terluka, menurutnya tak sakit bahkan tak sadar serpihan kaca itu telah menggoresnya. pelayan datang membawa kotak p3k lalu mulai membalut luka Anggun.
Anggun mengucap terimakasih sambil tersenyum ke arah pelayan dan tiba-tiba matanya terpaku ke arah sosok yang dia kenal
dia mulai berpikiran aneh mengingat kejadian semalam dan perkataan tajam yang di ucapkan Angga.
"mungkin Angga masih menganggapku seperti wanita m****** sampai-sampai memeriksaku kemari" gumam Anggun yang mulai menikmati makanannya sembari menatap laporan.
kini dia sudah tak berselera lagi setelah membaca laporannya dia lalu berjalan menuju sekretaris dan mulai berbincang. kemudian melangkahkan kakinya menuju parkiran dan kembali ke butik.
pelayan membersihkan meja yang di duduki Anggun tadi dan membawa piring yang masih sangat banyak makanannya, Angga melirik lalu memanggil pelayan itu.
"iya, ada apa tuan? apa yang bisa saya bantu ?" ucap pelayan itu ramah sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"wanita itu tadi, sering makan di sini ?" ucap Angga sembari menunjuk piring tersebut.
__ADS_1
pelayan itu paham maksudnya lalu mengiyakan.
"apa sering dia makan sedikit seperti ini ? " ucap Angga menunjuk dengan tatapan matanya melirik piring itu.
"betul tuan, bahkan kadang hanya mencicipi lalu pergi" jawab pelayan itu akhirnya undur diri.
"pantas tubuhnya terlihat kurus" guman Angga masih terdiam beberapa saat di restoran itu lalu kembali ke kantornya.
****
Anggun baru saja selesai mandi dan duduk di meja rias, kali ini dia tak berani pergi ke club setelah kejadian semalam. aroma tubuhnya kian merebak setelah memakai beberapa produk kecantikan.
Angga masuk ke dalam dan melihat istrinya tengah duduk di meja rias, mereka tak bertegur sapa. Angga menyeret langkah kakinya menuju kamar mandi dan berendam, dengan air hangat.
Anggun segera menyiapkan pakaian suaminya dan menaruhnya di tepi ranjang dan kali ini mengubah posisi di meja belajar. dia sedang asik mengirim pesan dengan kedua sahabatnya. namun dia tak pernah cerita apapun mengenai rumah tangganya.
Angga keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk lalu melirik sejenak ke arah Anggun dan mengarahkan pandangannya ke tepi ranjang. Angga memakai pakaiannya tanpa peduli Anggun akan menoleh.
sejak mama menginap di rumah Nika, sangat jarang makan malam bersama. Anggun sudah mengatakan pada bi susi bahwa ia sudah makan malam di luar padahal tidak ada sama sekali. Angga pun sepertinya tak tertarik untuk makan malam.
Angga duduk di tepi ranjang juga sibuk memainkan hp nya, mereka berdua sibuk dengan urusan masing-masing untuk mengusir kecanggungan di keduanya.
Anggun berjalan pelan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya, dia menarik selimut sampai ke bahu lalu memunggungi Angga.
dia mulai memejamkan mata meski sebenarnya tak mengantuk, Angga masih menyandarkan tubuhnya di pinggir ranjang sempat melirik Anggun. Aroma tubuh Anggun sangat terasa menusuk hidung Angga.
Angga melirik sejenak merasakan bingung harus meminta maaf atau harus tetap bungkam. Angga tetap menatap sesekali dalam diamnya
"syukur pipinya gak memar, atau dia masih merasa sakit ?" gumam Angga yang memperhatikan pipi Anggun.
__ADS_1
sementara Anggun masih belum tidur bahkan tak berani mengubah posisi tidurnya, hati kembali bergetar mengingat harus berada di dekat orang yang kini sudah mulai dia benci.
"aku ingin pergi dari sini, aku tak sanggup dan akan mengecewakan mama yang sudah baik" gumam Anggun membuka matanya, dia mengingat kebaikan mertuanya dan perlakuan hangat dari keluarga itu