Beruntung Menikahimu

Beruntung Menikahimu
Bertemu


__ADS_3

Anggun terbangun di pagi buta dan mulai merasa mual yang semakin menjadi, dia berlari menuju kamar mandi namun tak mengeluarkan apapun. tubuhnya mulai terasa lemah, dia melirik jam di hp nya yang masih menunjukkan jam lima pagi dia kembali menuju ranjang dan beristirahat lagi.


tubuhnya terasa lemah namun dia merasa tak enak kalau harus ijin tak masuk kerja karena dia belum genap sebulan bekerja di tempat itu. dia memaksakan diri untuk tetap bekerja dan sudah memesan ojek online dari aplikasi.


dia menutupi mulut sejak tadi menahan rasa mual sampai ojek online tiba mereka pun melaju pelan. Angga yang mengamati itu mulai mengikutinya.


"dia terlihat pucat, sejak tadi seperti menahan mual" batin Angga yang mulai khawatir melihat keadaan Anggun.


mereka berhenti di depan sebuah cafe dan Anggun segera membayarnya lalu masuk ke dalam.


"ini kan cafe yang waktu itu aku datangi" ucap Angga lirih lalu memarkirkan mobil di lahan yang tersedia begitu Anggun masuk ke dalam.


Angga masih menerka-nerka apa yang akan dilakukan istrinya disana dan memilih untuk menunggu di dalam mobil, kondisi cafe masih terlihat sepi maklum saja karena masib pagi.


cafe itu akan mulai di datangi pengunjung saat jam delapan pagi untuk sarapan karena tak jaun dari tempat itu ada sebuah pabrik dan para pekerja biasanya akan mampir di sana.


Angga menunggu sudan hampir dua jam namun tak kunjung melihat Anggun keluar. baru saja dia mau keluar dari mobilnya namun tertahan setelah melihat Anggun yang berpenampilan berbeda dari yang tadi tengah sibuk membersihkan kaca.


manager terlihat menyuruhnya juga untuk menatap beberapa pot bunga di luar kaca itu. Anggun mengangguk sembari tersenyum lalu melakukan pekerjaannya.


"jadi kamu bekerja di sini, pantas saja waktu itu seperti mendengar suaramu. aku memang bodoh...." ucap Angga lirih sembari mengingat kejadian saat pertama kali dia berkunjung ke cafe itu dan tak menyangka kalau ternyata Anggun sudah berada dekat dengannya.


Anggun kembali masuk ke dalam setelah urusannya selesai dengan pot. waktu berjalan cepat dan sudah menunjukkan jam dua belas siang, Anggun sudah mulai tak sanggup karena kepalanya semakin berat.


baru saja dia menaruh piring yang diambilnya dari meja tamu namun terjatuh dan pecah. beberapa pelayan mendekat dan membantunya, mereka saling peduli dan menanyakan keadaan Anggun. Manager pun menegurnya agar tak lalai lagi.

__ADS_1


Anggun kembali membawa pesanan menuju meja tamu namun belum beberapa langkah dia tak mampu menjaga keseimbangan dan terdengar suara yang ricuh karena semua piring berjatuhan.


Manager kembali meradang dan segera menyuruh Anggun membersihkan semua kekacauan itu kali ini pelayan lain tak di perbolehkan untuk membantu.


di bagian belakang Anggun mendapat omelan dari manager.


"hari pertama bekerja kamu terlihat semangat tapi semakin ke sini kamu semakin banyam berbuat kesalahan. kalau kamu sudah malas bekerja di sini silahkan undur diri." ucap manager itu dengan nada suara tinggi


"maaf pak, saya akan memperbaikinya" ucap Anggun hanya bisa menundukkan kepalanya


"hari ini hari terakhirmu bekerja di sini, saya tidak maunkalau para tamu memberi kesan jelek untuk tempat ini." ucap manager yang tak mampu menerima maaf saja dari Anggun.


meski Anggun memohon namun tetap saja tak mampu meluluhkan hati atasannya itu, Anggun dengan langkah berat menuju sebuah ruangan dan mengganti pakaiannya lalu pergi meninggalkan cafe itu.


beberapa pelayan hanya mampu memberi semangat saat melepas kepergian salah satu temannya, mereka juga tak mampu berbuat apa. meski baru mengenal Anggun selama beberapa minggu tapi menurut mereka Anggun adalah pribadi yang baik dan mau bekerja sama.


"aku langsung ke kosannya saja, mungkin dia sudah pulang" batin Angga yang memutuskan untuk segera ke lokasi kosan


namun Angga tak menemukan jejak Anggun sama sekali, apalagi setelah dia mengetuk berulang kali. membuat Angga panik dan hanya mondar-mandir di sana. dia mulai memberanikan diri untuk menghubungi Anggun namun sayangnya tak di angkat sama sekali.


****


Anggun baru saja tiba di kosannya dan membayar taksi yang tadi di tumpanginya. dia sengaja mampir sebentar di apotik untuk membeli obat yang di tulis dokter kemarin, tak lupa juga membeli makanan yang ada di pinggir jalan. meski dia tak merasa lapar sedikitpun tapi dia berusaha agar tenaganya sedikit bertambah dan lekas sembuh.


"astaga Anggun kamu dari mana saja ?" ucap Angga yang menatap Anggun baru saja tiba.

__ADS_1


Anggun terkejut mendengar suara itu lalu menatap kearah suara dan terkejut karena orang yang di hindarinya selama ini kini tepat berada di depan matanya. Anggun diam mematung tubuhnya mulai gemetar dan meremas plastik yang di genggamnya sejak tadi.


Angga berjalan perlahan mendekati Anggun yang masih berada di gerbang, Anggun segera mundur dan memutar tubuhnya dan mulau berlari.


Angga merasa terkejut dengan tindakan Anggun lalu dengan cepat ikut berlari sembari berteriak memanggil istrinya itu.


"Anggun.... kamu berhenti, kita bisa bicara baik-baik... jangan lari lagi" ucap Angga namun semakin membuat Anggun ketakutan bahkan sampai melepas plastik yang digenggamnya sejak tadi.


Angga berhasil menangkap Anggun, dia memeluk tubuh Anggun dari belakang setelah hampir saja terjatuh karena kakinya yang terkilir.


"jangan.... lepaskan aku, aku bisa teriak dan semua orang akan datang pasti mengira kalau kamu maling" ucap Anggun yang terus memberontak meski sudah merasa lelah dan kesakitan.


"silahkan kalau mau teriak, aku bakal tunjukkan ke orang bukti kalaunkita sudah menikah. aku akan tunjukkan buku nikah kita. kamu pikir aku tak membawanya sekarang, hah ?!" ucap Angga dengan nafas yang berat karena merasa lelah apalagi mendapat pemberontakan dari istrinya.


Angga yang mulai merasa lelah akhirnya berhenti memberontak membuat Angga melepaskan dekapannya namun masih menggenggam tangan Anggun.


"kita ke kosan kamu dulu, kita bicarakan masalah kita. aku akan terima semua keinginan kamu" ucap Angga berusaha membujuk Anggun.


Anggun pun menurut dan berjalan pelan menuju kosannya, tak lupa Angga meraih plastik yang dijatuhkan Anggun tadi namun tak kunjung menanyakannya.


mereka saling diam sampai Anggun memutar kunci dan pintu pun terbuka, Anggun mempersilahkannya masuk.


Angga menatap seisi ruangan itu yang terlihat bersih dan aroma khas istrinya tercium jelas. Angga sangat merindukan aroma itu, dia menghirupnya dalam-dalam. lalu duduk di sebuah kursi yang berada di dekat meja kecil.


Angga meletakkan plastik yang dibawanya sejak tadi di atas meja lalu mulai memeriksa isinya. dengan cepat Anggun merampasnya dan menyembunyikannya di dalam lemari kecil.

__ADS_1


keduanya terlihat canggung beberapa menit, Anggun hanya duduk dan menunduk di tepi ranjang sedangkan Angga terus saja menatap ke arah istrinya yang sudah lama tak di lihat. kondisi Anggun terlihat berubah dan semakin kurus.


__ADS_2