Beruntung Menikahimu

Beruntung Menikahimu
Merindu


__ADS_3

Angga sudah terbangun dan mendapati istrinya masih terlelap, di lihatnya kelopak mata istrinya yang membengkak. wajar saja karena Anggun menangis cukup lama semalam.


perlahan Angga melepas dekapannya dan menarik lengannya yang menjadi bantal untuk istrinya. dia bergerak cukup pelan agar Anggun tak terbangun. dia berjalan santai meski dengan keadaan polos dan membasuh tubuhnya di kamar mandi.


Anggun baru terbangun setelah Angga menjatuhkan sebuah sisir dari meja rias, dia sudah berpakaian rapi. Anggun mengangkat kepalanya mencoba menatap arah jam dinding dan terkejut karena bangun kesiangan.


"ya ampun, mas Angga marah tidak ya ? kenapa aku bisa bangun terlambat dan masih dengan keadaan begini" ucapnya dalam hati sembari merapikan selimut yang sedikit turun bergeser setiap kali dia bergerak disaat lelapnya. dia menarik selimut sampai menutupi lehernya, meski di depan Angga tapi tetap saja dia seorang wanita yang punya malu.


Angga yang melihat istrinya terbangun setelah mendengar suara melirik kearah nya dan mengetahui rasa terkejut Anggun. padahal waktu masih menunjukkan jam enam pagi.


"ingat kataku, kamu tak boleh pergi ke manapun. kalau ada perlu bisa telepon aku" ucap Angga yang berjalan mendekat ke arah istrinya yang masih terlentang.


Angga duduk di tepi ranjang dan mengecup lembut kening istrinya, membuat Anggun sedikit malu dan belum tau harus berkata apa.


"kalau kamu kesepian bisa mengobrol sama bi susi, dia di rumah terus" ucapnya lagi menatap lekat wajah istrinya lalu bangkit dari duduknya menuju meja kerjanya merapikan laptop nya.


Anggun melirik ke bawah mencari pakaiannya namun belum menemukannya. Angga yang paham maksud tatapan mata istrinya segera menghampiri dan meraih piyama yang semalam dikenakannya. ternyata berada di bawah bantal suaminya sejak semalam.


"aku berangkat dulu, nanti kalau tidak terlalu sibuk aku akan makan siang di rumah. sesekali mau mencicipi masakan istri" ucapnya sembari mengulurkan tangannya

__ADS_1


Anggun yang paham akan itu dengan perlahan mengeluarkan telapak tangannya yang bersembunyi di balik selimut sejak tadi lalu mencium punggung tangan suaminya. dan Angga membalas dengan mencium punggung tangan istrinya lalu mendaratkan sebuah kehangatan di bibir Anggun.


hati Anggun berdesir karena belum pernah suaminya membalas dengan cara begitu, selama ini dia hanya mencium kening istrinya. bayangan Angga perlahan menghilang seiring dengan pintu kamar yang tertutup rapat.


Anggun bangun dari tidurnya dengan menggenggam piyamanya dia bermaksud untuk segera mandi, tapi baru beberapa langkah di seretnya sepasang kakinya pintu kamar kembali terbuka dan sontak Anggun melirik cepat lalu segera berjongkok.


"aaahhhh....." jerit Anggun yang merasa malu dengan kedua tangan yang menutupi tubuhnya


"upsss.... sorry, aku cuma mau bilang kita sarapan sekarang saja nanti kamu membersihkan diri" ucap Angga yang masih menatap kearah Anggun yang menundukkam kepalanya.


"iya......" ucap Anggun dengan nada panjang dan terlihat kesal karena Angga masih saja berada didekat pintu. Angga merasa gemas dengan tingkah istrinya itu. ingin sekali dia menjahilinya tapi khawatir kalau nanti dia menangis lagi atau tambah benci kepadanya. Angga akhirnya menutup pintu kamar lalu berjalan santai menuju meja makan.


Anggun segera memakai piyamanya lalu menyisir rambut pendeknya di depan cermin, meski rambutnya sedikit ikal namun tidak terlalu merepotkan untuk di tata itulah sebabnya dia sangat suka berambut pendek.


Anggun segera meraih piring suaminya dan mengisi setelah menyapa mertuanya dengan sapaan selamat pagi. Angga menatap lekat ke arah leher istrinya dan itu terlihat jelas oleh Anggun. degup jantungnya kembali cepat karena khawatir masalah baru muncul lagi.


"ohhh ya ma, hari ini Anggun tak boleh pergi ke manapun. hanya duduk manis di rumah" ucap Angga kemudian menatap keaeah mamanya yang sedang meminum segelas susu.


deg....

__ADS_1


jantung Anggun terasa mau copot karena takut Angga akan memberitahu masalah mereka ke mamanya.


"ohh ya, memangnya ada apa ?" ucap Monica sedikit bingung dan menatap ke arah menantu yang barus saja duduk di kursinya


"Anggun mau memasak makan siang nanti, dia mau melihatku mencicipinya " ucap Angga lagi menatap ke arah istrinya kemudian meneguk pelan segelas air putih.


"ohhh ... memangnya kamu mau masak apa nak ?"


"hmmm belum tau ma...." ucap Anggun yang sebenarnya tak tau memasak selama ini dia hanya membantu mertuanya saja


"ohhhh nanti suruh di bantuin bi susi ya, atau kalau mau sama mama aja ?" ucap Monica yang tak ingin menantunya pusing sendiri, dia tau kalau Anggun belum tau memasak jadi bermaksud untuk menawarkan bantuan.


"tak usah ma, biar bi susi aja. mama kan harus menghandle restoran" ucap Anggun menolak dengan lembut karena tak enak kalau terus merepotkan mertuanya.


mereka terdiam sejenak dan menikmati sarapan yang sudah di siapkan oleh asisten rumah tangganya.


"itu leher kamu kenapa kok banyak tanda merah" ucap Monica yang menangkap ke arah leher menantu nya, yang di tanya menjadi salah tingkah lalu segera menaikkan piyamanya berharap bisa tertutupi.


"e...enggak ma, cuma e... tak ada yang masalah kok ma, nanti juga hilang sendiri" ucap Anggun yang bingung jawab apa sembari menggenggam erat kerah bajunya.

__ADS_1


sementara Angga sedikit tersenyum dan tanpa bersalah kembali menikmati makanannya.


"aku kurang teliti, padahal tadi kan menyisir rambut di depan cermin kenapa bisa tak sadar. memang benar kata mas Angga kalau rambut terlalu pendek jadi mudah mempertontonkan leher sendiri" ucap Anggun dalam hati pura-pura sibuk dengan sarapannya padahal mencoba menutupi rasa malu nya.


__ADS_2