Beruntung Menikahimu

Beruntung Menikahimu
Membujuk Angga


__ADS_3

tak banyak yang tau bahkan kedua sahabat Anggun, hal apa saja yang dilakukan selama ini. mereka hanya tau Anggun seorang pengangguran yang bebas pergi kemana saja lalu di malam hari menikmati gemerlapnya dunia malam.


bahkan Anggun tak mau banyak cerita masalah keluarganya, namun tetap menjadi pendengar yang baik dikala Dewi dan Nica menceritakan ketidakbahagiaannya di dalam keluarga.


***


Angga baru saja pulang dari luar kota setelah melakukan perjalanan bisnis, sesampainya di rumah mendapati mamanya yang sedang sibuk membuat makanan di dapur.


segera Angga menghampiri mencium punggung tangannya lalu kedua pipinya dan ikut menyaksikan keahlian mamanya. terjadi pembicaraan diantara keduanya membahas pekerjaan dan target yang ingin dicapai Angga.


Angga memang sangat dekat dan terbuka dengan mamanya, hal itu sudah di didik sejak dini. ketiga anaknya diajarkan untuk selalu terbuka kepada kedua orang tuanya.


"mama kemarin mampir ke rumah Wijaya nak" ucap Monica setelah menyuapkan kue bolu yang baru saja di potong ke dalam mulut Angga.


"ohhh ya.... mama kemarin ke rumah om Danu juga ya" ucap Angga masih menikmati kue di dalam mulutnya, memang sebelumnya mamanya pamit mau ke kota kelahirannya karena om Danu kakaknya tengah sakit.


"iya, sekalian membicarakan pernikahan kalian" balas Monica santai yang tentunya membuat Angga membelalakkan kedua bola matanya.


"ma... Angga udah bilang biar itu urusan Angga." ucap Angga yang sudah mulai kesal dengan tingkah mamanya yang mengambil keputusan sepihak.


"mama yakin dia yang terbaik buatmu nak, kamu bisa memimpinnya menjadi lebih baik" jelas mamanya dengan meletakkan kedua tangannya mengapit wajah Angga.


"ma,,, jangan gegabah, menikah itu bukan main-main. pokoknya Angga gak mau" ucap Angga lalu melepaskan lembut tangan mamanya dan bergegas menuju kamarnya.


Monica mulai bingung bagaimana caranya agar Angga menuruti keinginannya, dia sudah meyakinkan keluarga Wijaya, malu kalau tidak jadi. tidak dikatakan bermulut besar nantinya.


****


Anggun cukup kecewa karena keputusan ayahnya, dia ingin pergi tapi hukumannya tak kunjung selesai. dia masih di kurung di kamarnya. apalagi mengingat ucapan ayahnya tempo hari, dia tak ingin ucapan ayahnya benar-benar terjadi. Anggun takkan siap jika harus melihat orang yang dia cintai pergi untuk selamanya.


kegundahan hatinya hanya bisa diceritakan ke sahabatnya, mereka melakukan video call dan melepas rindu setelah cukup lama tak bertemu.


bahkan kali ini Anggun menangis, mengungkap kebingungannya. bagaimana caranya agar bisa lari dari masa sulit ini. kedua sahabatnya pun tak mampu berbuat apapun selain menguatkan mengucapkan kata sabar.

__ADS_1


sementara kedua orang tuanya sudah mulai menyiapkan segala sesuatunya, agar tidak terjadi kesalahan di hari pernikahan putri sulungnya itu.


"yah, yakin menikahkan Anggun dengan keluarga Monica ?" ucap Kesya mengeluarkan kegundahan hatinya. dia melihat jelas rasa tertekan yang di alami oleh Anggun dan khawatir akan semakin membencinya.


"mama tenang aja, ayah yakin dengan Angga. kalau tidak begini kapan Anggun akan berubah" ucap Wijaya menoleh ke arah Kesya dan mencoba untuk menenangkannya.


****


"apa ?..... di rumah sakit mana Nik ?, kakak segera kesana" balas Angga yang panik setelah mendapat panggilan dari Nika, sedangkan dia masih di luar kota.


segera dia menyelesaikan urusannya secara profesional agar para klien tidak kecewa. lalu buru-buru pulang menuju kotanya setelah mengetahui keadaan mamanya sakit.


bintang-bintang menggantung indah menghiasi langit malam, terpaan angin yang membuat tubuh menggigil tak menyurutkan langkah kaki Angga, di liriknya arloji yang menghiasi pergelangan tangannya sudah menunjukkan angka 11.


dia baru sampai di parkiran, lalu bergegas memasuki rumah sakit dan menanyakan ruangan ke perawat yang sedang bertugas. langkah kakinya semakin cepat senada dengan deru nafasnya.


begitu membuka pintu, Nika adiknya tengah duduk di dampingi suaminya sedang menatap kearah pintu terbuka. Nika bangkit berdiri lalu berjalan pelan ke arah Angga lalu memeluknya. tampak raut khawatif di wajahya


awalnya Nika menolak namun akhirnya mengiyakan karena dia sedang hamil dan harus menjaga kesehatannya juga. sedangkan Dimas sudah berada di rumah sakit sejak pagi sudah pamit pulang, karena di suruh mama. dia tak ingin merepotkan anak-anaknya.


tak berselang lama mamanya bangun dan melirik ke seisi ruangan tak mendapati Nika, Angga yang sejak tadi berdiri di jendela segera menghampiri mamanya dan menyentuh lembut telapak tangannya.


"mama kenapa bangun? mana yang sakit ?" ucapnya penuh perhatian, namun mamanya segera memalingkan wajahnya ke arah yang lain.


"kata dokter asam lambung mama kambuh, kenapa mama gak jaga pola makan ?" tanya Angga lagi.


"mama mikirin pernikahan kamu, mama harus bilang apa ke keluarga Anggun. padahal mama sudah menjanjikan semuanya." sahut Monica lirih masih tak mau menatap wajah anaknya.


Angga menghela nafas pelan, dia paham betul keadaan mamanya. jika sudah memikirkan sesuatu bahkan tak ingin makan, seperti setelah kehilangan suaminya berulang kali masuk rumah sakit.


"mama jangan banyak pikiran, kebiasaan mama kalau banyak pikiran pasti gak ingat makan" ucap Angga berharap agar mamanya mengerti.


"nikahi Anggun nak, mama gak mau di bilang bermulut besar" ucap Monica masih memaksa Angga dengan lembut

__ADS_1


"tapi ma..."


"kalau nanti mama mati kamu cukup bilang ke keluarga Anggun gak tau masalah pernikahan ini" ucap Monica lagi memotong pembicaraan Angga


mendengar ucapan mamanya membuat jantung Angga berdetak cepat, dia takkan rela ibu yang sudah melahirkannya pergi meninggalkannya.


"mama jangan ngomong sembarangan" ucap Angga dengan lirih


"mama gak mungkin membatalkannya janji yang sudah di buat kecuali mama mati" balasnya lagi membuat Angga kehabisan kata-kata


terjadi keheningan diantara keduanya, Monica bergerak hendak turun dari tempat pembaringannya. Angga hendak membantu namun di tolaknya.


"mama mau kemana biar Angga bantu? mama mau minum ?" ucap Angga namun tak di jawab mamanya sama sekali.


Monica berjalan pelan menuju kamar mandi, sedangkan Angga melindungi dari belakang. Dia mengunci kamar mandi beberapa saat keadaan tampak baik, namun setelah Monica hendak berjalan terdengar suara brakkk. membuat Angga di luar terkejut.


"ma.... mama kenapa?" tanya Angga sembari mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Angga akhirnya membuka paksa sampai handle pintu rusak dan melihat mamanya susah jatuh dan pingsan.


dokter dan perawat memeriksa mamanya, perasaan was-was terus menyelimutinya.


"keadaan ibu monica masih sangat lemah, seharusnya dibantu berjalan" ucap dokter membuat Angga jadi serba salah karena tadi tak memaksa mamanya menerima bantuannya.


jam 3 pagi mamanya terbangun, keringat membasahi keningnya. Angga yang duduk di sampingnya segera bangun dan mengelap keringat di kening mamanya.


"mama minum dulu ya biar gak dehidrasi" ucap Angga lalu mulai menyendokkan minuman sedikit demi sedikit ke dalam mulut mamanya.


"mama mau apa? Angga akan ambilkan" tanya Angga setelah Monica menggelengkan kepala saat Angga memberikan air minum lagi


"tolong nikahi Anggun" jawabnya lirih wajahnya kian pucat


Angga menghela nafas pelan, kebingungan melanda jiwanya.


"iya, kalau itu bisa buat pikiran mama tenang. Angga akan menurut" ucap Angga pasrah yang di sertai anggukan lemah dari mamanya.

__ADS_1


__ADS_2