
Angga baru saja kembali dari kantor dan disambut hangat oleh mamanya yang sedang menikmati secangkir teh di teras rumah.
"mama tumben pulang cepat ?" ucap Angga yang menghampiri mamanya lalu mencium punggung tangannya.
"yah... mama bosan disana, biasanya kan ada Anggun yang jadi tempat mama cerita. kalau sama karyawan mereka juga merasa segan kalau mengobrol sama mama." ucap Monica yang masih menggenggam tangan putranya itu.
Angga yang mengerti makna genggaman tangan mamamya akhirnya duduk di samping mamanya. mereka mulai cerita banyak hal. dan sesekali tercipta tawa renyah berhiaskan langit jingga.
Angga memang memiliki jiwa humoris seperti mamanya meski tak di tunjukkannya kepada orang lain termasuk istrinya. selama ini hanya kakak dan adiknya serta almarhum papanya yang tau itu.
"mama jadi ingat waktu papa kamu ada, kadang bertengkar tapi tak bisa berjauhan. meski hanya saling diam tapi tetap tidur di ranjang yang sama" ucap Monica setelah pembicaraan mereka berjalan seperti sungai yang mengalir kemana pun.
"tapi kan papa selalu merayu mama, makanya mama tak bisa menahan diri" ucap Angga meledek mamanya yang membuat tawa kembali tercipta.
"yah... itu sudah jadi tanggung jawab papa kamu lah, kalau jadi lelaki sejati memang harus banyak mengalah dari wanita. dulu awal menikah papa kamu keras sekali tak mau kalah, tapi setelah ada kakakmu Dimas dia mulai belajar "
"kenapa wanita sangat susah di pahami ma, mereka sangat egois" ucap Angga setelah diam sejenak menyimak ucapan mamanya.
"kalau lelaki yang mau belajar pasti bisa menjiwai wanitanya, mereka bukan egois mereka sedang melindungi perasaannya namun terkesan egois dan memikirkan diri sendiri" ucap Monica yang berhasil memancing Angga untuk bercerita masalah sebenarnya.
"Angga benar-benar tak paham dari dulu kalau berurusan dengan wanita. palingan dengan Niki itu pun kadang susah untuk membujuknya agar tak memgambek"
"kamu harus mengalah dulu, kamu jiwai dia dengan mengenalnya lebih dalam dengan begitu kamu pasti menemukan kelemahannya dan menjadi senjata untukmu"
"senjata maksud mama ?" ucap Angga yang tak paham maksud mamanya
"senjata yang membuat wanitamu tak berani pergi meninggalkanmu" ucap Monica sembari mengedipkan sebelah matanya sembari meneguk minumannya
__ADS_1
"maksud mama apa? Angga masih bingung"
"hufttt... pantas saja kamu bilang wanita adalah makhluk yang susah di pahami karena kamu tak paham cara mengendalikannya" ucap Monica yang melirik ke Angga yang tengah menatap ke arah langit pertanda dia tengah berpikir keras.
"contohnya begini, Anggun kan istri kamu. apa kamu sudah tau kelemahannya ?" ucap Monica lagi yang membuat putra segera menatap ke arahnya lalu disertai gelengan kepala.
"kamu belum mampu menjiwainya sehingga tidak tau titik kelemahannya yang bisa kamu jadi kan senjata untuk menahannya tetap di sisi kamu"
"kalau mama titik kelemahan mama apa? apa papa juga tau ?" ucap Angga yang masih belum paham penjelasan mamanya.
"tentu saja papa mu paham, dan itu yang membuat mama bertahan sampai sekarang"
"apa titik kelemahan mama ?"
"rasa sayang dan kalian" ucap Monica sembari tersenyum dan melihat Angga hanya dengan raut wajah datar
"ma... sebenarnya Angga tak tau keberadaan Anggun sekarang, Angga minta maaf karena sudah membohongi mama selama ini " ucap Angga sembari meremas kedua tangan mamanya.
"memangnya masalah kalian apa ?" ucap Monica yang tak sabar ingin tau inti permasalahannya.
"Angga marah karena dia selalu lupa dengan posisinya, sekarang dia sudah jadi istri Angga tapi masih saja mengabaikan perintah Angga"
"perintah apa yang dilanggar Anggun ?" tanya Monica sembari menaruh tanggannya di dekat dagunya.
"Angga cuma mau kalau dia pergi kemana pun selalu pamit dan minta izin selalu menanyakan pendapatku dan jangan ambil keputusan sendiri"
"kenapa Anggun bisa begitu, karena kamu belum menemukan titik kelemahannya tadi. jadi kamu belum bisa mengendalikannya" ucap Monica sembari menepuk bahu putranya
__ADS_1
"jadi aku harus bagaimana ma ? aku harus bilang apa ke ayah dan mama nya" ucap Angga dengan raut wajah yang terlihat sudah lelah harus berbuat apa
"kamu seharusnya sudah belajar mengenalnya sejak kalian menikah, kalian sudah menikah beberapa bulan. kamu harus tau latar belakangnya, kesukaannya apa, yang tidak dia suka, kesedihannya, dan buat dia cerita banyak padamu. apa kamu sudah lakukan semua itu ?" ucap Monica yang di balas dengan gelengam kepala
"bagaimana bisa mengenalnya, mendadak mama menikahkan kami dan suasana menjadi canggung" ucap Angga masih ingin membela diri.
"kamu tetap bisa mengenalnya sejak dia menjadi istrimu. kalian tidur di ranjang yang sama bisa saling bertukar cerita dan saling mendengarkan"
"huftttt..." Angga menghela nafas berat sembari mengusap wajahnya dengan kasar selama beberapa detik.
"jadi yang perlu kamu lakukan sekarang adalah meminta maaf, mencari keberadaannya, dan memulai dari awal lagi. kamu dengarkan semua isi hatinya sampai kamu menemukan titik kelemahannya dan kamu akan menjadi titik kekuatannya dengan begitu dia tak berani lagi untuk pergi jauh dari kamu" ucap Monica panjang lebar
"tidak semudah itu ma...." ucap Angga yang terlihat ingin menyerah sebelum memulai.
"aduhhh biar mama kasih tau beberapa hal yang mungkin bisa kamu jadikan senjata. jadi mamanya Anggun sudah meninggal sejak dia masih kecil dan setelah satu tahun atau lebih ayahnya menikah lagi dan sampai sekarang Anggun sulit menerimanya makanya dia selalu memanggilnya tante Kesya"
"kenapa mama bisa tau cerita itu ?" ucap Angga yang merasa heran karena mamanya bisa tau banyak hal
"karena mama sahabat Anggi, mamanya Anggun. yang mama lihat dia sangat mirip dengan mamanya, sikap ramahnya dan kepeduliannya. hanya saja dia tak menunjukkannya kepada orang lain makanya jadi salah paham. dia sangat membutuhkan orang yang bisa memahaminya menjadi teman ceritanya" Monica meneritakan panjang lebar tentang Anggun dan tentang persahabatannya dengan mama Anggun.
Angga kini paham alasan Anggun yang tetap memanggil mama mertuanya itu dengan sebutan tante Kesya.
"jadi Angga harus membuat Anggun terbuka dan menceritakan tentangnya, dengan begitu dia merasa nyaman dan mulai percaya dengan Angga" ucap Angga menatap lekat wajah mamanya.
"nah, setelah dia cerita banyak dan kamu juga jadi tau banyak kamu akan menemukan semuanya. kamu akan memahaminya dan tau keinginan hatinya dan dia akan merasa bahwa kamu melundunginya dan menyayanginya, dengan begitu dia akan merasa nyaman dan tidak akan berani pergi dari kamu. itulah senjata kamu" ucap Monica sembari menepuk bahu putranya.
Angga yang pikirannya terbuka pun mulai terlihat senyum merekah di raut wajahnya. dia bersyukur karena sudah menceritakan semuanya ke mamanya.
__ADS_1