Black Arc Saga

Black Arc Saga
Niat tersembunyi


__ADS_3

Melihat kemunculan pasukan Goblin secara mendadak membuat semuanya kebingungan termasuk juga Leo. Ia tidak tahu bagaimana cara mereka muncul, tetapi keberadaan mereka sebelumnya nyaris tidak terdeteksi. Mereka seperti muncul begitu saja dari dunia lain.


 


“(Ini tidak masuk akal... Harusnya salah satu dari kami bisa mendeteksinya meski hanya beberapa... Ada yang tidak beres di sini...!)” Ujar Leo dalam hatinya curiga.


 


Mereka mulai menyiapkan anak panah mereka bersiap untuk menembak saat Roff dan lainnya panik menyadari keadaan mereka.


 


“Kapten, apa yang harus kita lakukan!” Ujar Drey panik melihat ke arah Roff.


 


“Jika tidak cepat, kita akan mati dihujani anak panah!” Sambung Hord dengan wajah tegang.


 


“Tch. Sialan...! Bagaimana bisa kita selengah ini...!” Balas Roff bergumam kesal.


 


Roff hampir tidak bisa memikirkan cara keluar dari situasi saat ini. Dengan terkepungnya mereka dari semua sisi, mustahil rasanya bisa melepaskan diri dari pasukan Goblin yang siap memanah mereka.


 


“Kapten...! Kita kehabisan waktu...!” Ujar Drey dengan wajah panik.


 


“A-Aku tahu...!” Balas Roff kesal sambil berusaha berpikir semampunya.


 


Leo mengamati masing-masing dari mereka untuk memastikan kecurigaannya. Hingga pada akhirnya, ia melihat salah seekor Goblin yang tampak berbeda dari yang lainnya yang bersembunyi di balik pasukan. Dia terlihat mengenakan tongkat dan jubah dari kulit binatang yang menutupi kepalanya.


 


“(Penampilan itu... Tidak salah lagi, itu Goblin Shaman...!)” Ujar Leo terkejut dalam hatinya.


 


Semuanya masuk akal sekarang. Alasan mengapa ia dan teman-temannya tidak mampu mendeteksi kepungan mereka adalah karena adanya dia di dalam kelompok mereka.


 


Goblin Shaman adalah kaum Goblin spesial yang mampu menggunakan sihir. Mereka dikenal sebagai penyihir dalam kalangan Goblin. Meski potensi kemunculan mereka sangat langka, tetapi kemampuan sihir mereka hampir setara dengan manusia. Ada kemungkinan, Goblin itu merapalkan sihir alam yang mampu menutupi keberadaan pasukannya.


 


“Jadi begitu ya...” Gumam Leo dengan wajah yakin.


 


“... Leo?” Bisik Lia melihat ke arahnya bingung.


 


Mereka mulai bersiap membidik saat Leo mendapatkan ide untuk menghadapi situasi saat ini.


 


“Roff, maukah kau mendengarkanku?” Ujar Leo kepada Roff di dekatnya.


 


“Apa yang ingin kau katakan?” Tanya Roff kepadanya.


 


“Di antara kelompok Goblin itu, terdapat seorang Goblin Shaman. Kita harus menyingkirkannya segera sebelum terlambat.” Balas Leo melihat ke salah satu arah.


 


“Goblin Shaman...? Tapi, bagaimana cara kita untuk menghabisinya dari jarak sejauh ini, sementara nyawa kita dalam bahaya?” Balas Roff dengan wajah ragu.


 


“Jangan khawatir, aku punya ide...” Jawab Leo dengan wajah serius.


 


Tepat sebelum mereka melepaskan tembakan, Leo dengan nekadnya berlari secepat mungkin guna mengalihkan perhatian pemanah. Sontak, mereka semua terkejut dengan tindakan tidak masuk akal Leo saat dirinya mulai dihujani oleh anak panah.


 


“Leo...!” Teriak Lia panik menyaksikannya pergi.


 


“Oi. Oi. Oi. Itu sangat gila...!” Ujar Drey terkejut.


 


“Kau pasti bercanda...!” Bisik Hord terkejut.


 


Melihat Leo berlari seorang diri, Goblin Shaman memerintahkan sebagian dari pasukan untuk mengejarnya sementara sisanya akan tinggal dan menghabisi teman-temannya.


 


“Begitu ya... Jadi ini ide yang kau maksud...” Gumam Roff tersenyum tegang menyaksikan Leo berlari pergi.


 


Itu adalah keputusan yang nekat sekaligus bodoh. Meski demikian, berkat pengalihan itu, sebagian besar perhatian pemanah tertuju kepada Leo dan memberikan mereka berlima kesempatan untuk membalas serangan mereka.


 


“Lisha...! Arah jam 10, 60 meter ke dalam hutan...! Bunuh sialan itu...!”  Ujar Roff dengan nada tegas memberinya perintah.


 


“Dimengerti...!” Balas Lisha sebelum mulai merapalkan mantra.


 


“Kalian semua, buat mereka sibuk sampai Lisha selesai dengan mantranya...!” Sambung Roff memberi perintah kepada mereka bertiga yang tersisa.


 


Sesuai dengan arahan Roff, mereka mulai bertindak guna mengalihkan perhatian pasukan Goblin sementara Lisha menyiapkan sihirnya untuk menyerang sang Goblin Shaman yang merupakan pemimpin mereka.


 


“Hord, lindungi aku...!” Seru Drey berlari ke arah pasukan Goblin itu.


 


“Tepat di depanmu...!” Balas Hord berlari mendahuluinya.


 


Dengan menggunakan perisainya, Hord memblokir serangan yang ditujukan pada Drey. Anak panah mereka tak mampu menembus perisai milik Hord sesaat sebelum Drey maju menggantikannya membunuh semua Goblin yang ada di hadapannya.


 


“Raaaghhh...!!”


 


“Sekarang siapa yang tertawa, hah!” Ujar Drey mengibaskan belatinya yang berlumuran darah.


 


“Jangan senang dulu! Mereka datang lagi!” Balas Hord menahan serangan Goblin lain yang datang membalas.


 


Gelombang baru pasukan Goblin menyerbu Hord dan Drey yang menerobos garis pertahanan mereka. Meski jumlah mereka tak sebanyak yang sebelumnya, tetapi kelincahan mereka membuat Hord dan Drey sedikit kerepotan. Hal itu membuat Roff yang menyaksikan mereka mulai kehabisan kesabaran, namun karena Lisha tengah merapalkan mantra, ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja.


 


“Tch. Masih belum, huh...? Mereka berdua akan kerepotan jika jumlah mereka terus bertambah...!” Gumam Roff menggertakkan giginya geram.


 


Sementara itu, Lia yang menerobos barisan mereka yang ada di sisi lain mengejutkan pasukan Goblin itu. Ia dengan mudahnya menghalau dan menghindari anak panah yang ditujukan kepadanya sesaat sebelum ia melesat dengan cepat menuju arah mereka.


 


“Gyaaahhh...!!”


 

__ADS_1


Ia menikam salah satu Goblin dengan tekanan kuat dari pedangnya hingga menimbulkan gelombang kejut yang menghempaskan kawanan mereka. Mereka semua sontak panik dan kebingungan sebelum akhirnya Lia melancarkan kembali serangannya kepada mereka.


 


“Raaaaghhh...!!”


 


“Gyaaarrrghh...!!”


 


Satu persatu dari mereka tewas ditangannya layaknya memotong dahan semak-semak. Lia dengan mudahnya menghabisi pasukan itu meski hanya ia seorang diri melawan mereka.


 


“Grrrr...! Raaaaghhh...!!”


 


Beberapa dari mereka mencoba melawannya dengan jumlah mereka yang lebih unggul. Dengan senjata berkarat yang mereka curi dari petualang dan desa di sekitar hutan, mereka berusaha melawan Lia yang tengah membunuh teman-temannya. Salah satu Goblin itu mencoba menikam Lia dari belakang saat ia tengah disibukkan oleh rekan-rekan Goblinnya. Namun...


 


“....!”


 


Saat ia nyaris menikamnya, Lia secara mengejutkan berbalik melihat ke arahnya sebelum secara tiba-tiba tubuhnya terbelah menjadi dua tanpa tahu sejak kapan ia diserang. Goblin itu pun tewas saat Lia menghela nafas panjang memasang kuda-kudanya menghadapi pasukan Goblin yang tersisa.


 


“Rarrr!!”


 


Dengan wajah ketakutan, para Goblin yang tersisa mencoba melawan Lia meski mereka tahu tidak dapat mengunggulinya. Dengan satu langkah singkat, Lia melesat secepat angin menghabisi mereka semua yang tersisa saat Drey dan Hord yang melawan pasukan Goblin di depan sana diganggu oleh campur tangan Goblin Shaman.


 


“A-Apa ini...! Dari mana asalnya tanaman ini...!” Ujar Drey terkejut saat sulur menjerat kakinya.


 


“A-Apa...?!” Balas Hord panik.


 


Puluhan sulur secara mengejutkan tumbuh di bawah kaki mereka dan menjerat mereka. Gerakan mereka seketika tertahan saat Goblin yang tersisa menyerang mereka.


 


“Sial...! Sialan...! Ini sangat menyebalkan...!” Ujar Drey marah sambil menghalau serangan semampunya.


 


“Drey...! Ini adalah sihir...! Itu ulah si bangsat itu...!” Balas Hord menahan serangan Goblin sambil


 


“Keparat...! Awas saja sampai aku mendaratkan pisauku ke wajahnya...!” Balas Drey marah sebelum ia membunuh seekor Goblin yang berusaha menyerangnya.


 


Mereka makin terdesak oleh sihir yang diciptakan oleh Goblin Shaman itu. Jika tidak segera dibantu, mereka bisa saja terbunuh.


 


“Tch. Aku tidak sanggup lagi...!” Ujar Hord menarik nafas berat berdiri dengan satu lututnya.


 


“Kau bercanda, bukan...! Ini bukan saat yang tepat, kau tahu...!” Balas Drey kesal melirik ke arah Hord.


 


“Kau juga sama, bukan...?” Balas Hord terengah-engah.


“Tch. Sialan..! Kapten, bala bantuan...!” Seru Drey dengan nada lantang.


 


Tak lama berselang, bola-bola api berjatuhan dari langit membakar sulur yang menahan mereka saat Goblin Shaman itu terkejut menyaksikan apa yang terjadi. Perangkapnya hancur dengan mudahnya oleh serangan itu sesaat sebelum bola-bola api yang lain datang menghujani pasukannya yang tersisa.


 


 


“Graaahhhh...!”


 


Goblin-Goblin itu terbakar saat Drey dan Hord menghela nafas lega bersama dengan datangnya Roff untuk menolong mereka.


 


“Kalian berdua baik-baik saja?” Tanya Roff mengulurkan kedua tangannya kepada mereka.


 


“Syukurlah kau datang tepat waktu, kapten...” Balas Drey senang sambil menyeka keringatnya.


 


“Bagaimana dengan Lisha...? Bukankah seharusnya ada seseorang yang menjaganya saat merapalkan sihir...?” Tanya Hord meraih tangan Roff.


 


“Jangan khawatir, sudah ada yang menggantikanku.” Jawab Roff tersenyum percaya diri.


 


Melihat sulurnya ciptaannya terbakar, Goblin Shaman itu lantas marah dan memerintahkan sisa pasukannya untuk membunuh orang yang merapalkan mantra api itu. Dan sesuai yang ia perintahkan, Goblin pemanah yang tersisa segara menuju ke arah Lisha berada untuk menghabisinya. Dengan anak panahnya, mereka menghujaninya dengan serangan yang tidak mungkin dihindari olehnya.


 


“...!”


 


Mereka semua terkejut saat menyadari semua serangan mereka dihalau dengan mudahnya oleh Lia yang secara mengejutkan muncul begitu saja. Serangan mereka digagalkannya hanya dengan pedangnya sebelum Lisha mulai merapalkan sihirnya untuk membunuh mereka yang tersisa.


 


“Rain of Fire!”


 


Mereka semua terbakar seketika oleh serangan itu. Sekarang, dengan musnahnya pasukan yang berusaha menyerang Lisha kini hanya menyisakan Goblin Shaman itu seorang diri.


 


“Kerja bagus, sekarang kita hanya tinggal membunuh pembuat masalah itu.” Ujar Lisha sebelum menarik nafas dalam.


 


“... Mm.” Balas Lia mengangguk.


 


Mereka pun menyusul Roff dan lainnya yang tengah bertarung melawan Goblin Shaman tersebut.


 


“Haaa...!!”


 


“Grrr...!”


 


Goblin Shaman itu memberikan beberapa perlawanan kepada mereka bertiga. Namun, meski begitu ia tetaplah kalah dalam hal jumlah dengan mereka. Drey berhasil mendaratkan beberapa luka fatal di tubuhnya yang memaksanya jatuh bersimbah darah menanti kekalahannya.


 


“Grrrr...!”


 


“Kau masih keras kepala juga, huh?” Ujar Roff mengacungkan pedangnya pada Goblin itu.


 


“Menyerahlah, makhluk menjijikkan. Kau sudah kalah.” Sambung Drey menghinanya.


 

__ADS_1


Goblin Shaman itu tidak masih tidak mau menyerah meski keadaannya sudah terpojok. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia mengeluarkan seluruh kekuatan sihirnya untuk menyerang mereka.


 


“...!”


 


Di sisi lain, Leo yang membawa sebagian pasukan Goblin kini akhirnya mencapai batasnya ketika ia telah terpojok oleh mereka. Sudah 15 menit sejak ia meninggalkan party-nya guna mengalihkan perhatian para Goblin dari teman-temannya. Meski tidak mudah, Leo sanggup bertahan sejauh ini berkat tubuh yang dari dulu ia latih dengan berkelana.


 


“(Entah kenapa aku melakukan hal ini lagi... Ini membuatku mengingat hari-hari kelam itu lagi...)” Ujarnya dalam hati sambil terengah-engah.


 


Mereka memojokkan Leo hingga sampai ke sebuah tebing yang berada di wilayah perbukitan hutan tersebut. Tidak ada jalan keluar lagi, di sekelilingnya hanya ada tebing curam yang mustahil dipanjat. Meski pun mampu dipanjat, itu hanya akan menjadi keuntungan bari para pemanah itu. Dengan kata lain, Leo berada di jalan buntu.


 


“(Setidaknya aku bisa mengurangi 20 dari mereka... Sekarang, bagaimana caraku menghadapi mereka secara langsung...)” Ujar Leo dalam hati dengan wajah serius penuh waspada.


 


Sebelumnya, dalam usaha menjauhkan pasukan Goblin itu dari teman-temannya, Leo sempat mengurangi jumlah mereka dengan menggunakan beberapa trik yang ia tujukan kepada mereka seperti berlari memutar dan menyerang barisan belakang, maupun memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai senjatanya. Cara itu cukup efektif mengurangi jumlah mereka dari yang sebelumnya lebih dari lima puluh ekor, kini hanya tersisa kurang dari angka sebelumnya. Meski itu mengorbankan banyak sekali stamina, tetapi hasilnya jauh melebihi perkiraannya.


 


“Grrrr...!”


 


“Raaahhh...!”


 


Goblin-Goblin itu terlihat bersiap untuk melancarkan serangan secara penuh kepadanya. Ini akan menjadi masalah jika para pemanah sampai menyerang secara bersamaan dengan petarung itu. Sudah jelas Leo akan terbunuh jika sampai hal tersebut terjadi.


 


“(Bagaimana ini...! Tidak ada tempat bersembunyi, ini hanya tanah datar dengan kontur tebing... Ini benar-benar situasi terburuk...!)” Ujar Leo dalam hatinya gelisah.


 


Para pemanah memulai serangan mereka, dengan anak panahnya, mereka mulai menghujani Leo dengan puluhan serangan yang sulit untuk dihindari.


 


“...!”


 


Menyadari hal tersebut, Leo pun menghindar dan menghalau serangan yang datang semampunya. Namun, di tengah-tengah ia menghindari serangan anak panah, Goblin petarung datang mengganggunya. Ia menikam kaki Leo dengan pisaunya hingga membuat Leo nyaris terjatuh sebelum akhirnya ia membunuh Goblin tersebut dengan menebasnya. Goblin itu seketika tewas saat hantaman gelombang kedua anak panah itu kembali lagi.


 


“(Datang juga...!)” Ujar Leo dalam hatinya spontan.


 


Tepat saat anak panah itu hendak menghujaninya, ia mengangkat mayat Goblin yang sebelumnya ia bunuh untuk digunakan sebagai perisai. Hal itu membuat para Goblin seketika marah dan lantas melancarkan serangan secara bersamaan.


 


“Raaaghhh...!!”


 


“Raaaarrr...!!”


 


Mereka tidak lagi menggunakan formasi mereka dan menyerang Leo seperti gerombolan Goblin liar. Para petarung berlarian menuju ke arahnya disusul para pemanah yang kehilangan kesabaran mereka dan memutuskan untuk maju secara bersamaan.


 


“(Ini adalah kesempatan bagiku...!)” Ujar Leo dalam hatinya.


 


Leo lantas melemparkan mayat Goblin yang ia pegang sebelumnya ke arah pemanah tersebut sebelum akhirnya ia berlari menembus barisan Goblin itu untuk membalas serangan. Mayat Goblin itu menghantam beberapa pemanah dan menjatuhkannya saat Leo bertarung melawan Goblin petarung yang berada di depan barisan. Satu persatu Goblin yang menghalanginya dibunuh oleh Leo. Tujuannya adalah menghabisi Goblin pemanah itu sebelum menghabisi sisanya. Jika para pemanah musnah, ia bisa bertarung dengan baik dengan sisanya tanpa khawatir atau cemas akan serangan jarak jauh yang sulit ditebak.


 


“Ugh...!”


 


Namun, meski demikian, jumlah mereka yang banyak menyulitkan Leo untuk mencapai barisan terbelakang mereka. Secara terus menerus, ia dikepung oleh Goblin petarung yang mencegahnya bergerak lebih jauh dari posisinya. Keadaan bertambah buruk ketika luka yang ada di kakinya secara tidak sengaja terkena serangan lain yang menambah parah pendarahannya. Leo pun seketika menjatuhkan lututnya ke tanah menahan sakitnya luka itu saat kumpulan Goblin datang menyerangnya.


 


“Raaaaarrggghh...!!”


 


“G-Gawat...!” Ujar Leo panik sambil menahan sakit.


 


Leo sekali lagi mencoba bangkit dan bertarung. Namun, dengan luka serius di salah satu kakinya membuatnya kesulitan bergerak hingga akhirnya ia terpaksa menerima beberapa serangan langsung dari Goblin yang berdatangan ke arahnya.


 


“Argh...!”


 


Ia mencoba melawan balik, namun karena kelincahan mereka, semua serangan Leo melesat tanpa satu pun yang mengenai mereka.


 


“Tch.”


 


Mereka silih berganti mendaratkan serangan kepada Leo hingga sekujur tubuhnya dipenuhi oleh luka sayatan benda tajam sebelum akhirnya ia menggunakan sisa tenaganya untuk membebaskan diri dari kepungan mereka dengan mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Para Goblin yang tidak menyadari serangan itu seketika tewas terbelah menjadi dua sesaat sebelum akhirnya Leo menggunakan kesempatan tersebut untuk melompat mundur guna menciptakan jarak antara dirinya dengan mereka.


 


“Hah...! Hah...! Hah...!”


 


Dengan nafas terengah-engah ia mencoba bangkit kembali bertumpu padang pedangnya tanpa mengendurkan kewaspadaannya. Ini adalah batasnya, Leo sudah kehabisan seluruh tenaganya. Jika mereka menyerangnya lebih dari ini, maka Leo dipastikan akan tewas di tangan mereka.


 


“(Kurasa... Ini adalah batasku... Aku hanya bisa bertahan sejauh ini... Tetapi, setidaknya aku bisa membantu anggota party lain dengan usahaku...)” Ujarnya dalam hati pasrah.


 


Meski terbilang tindakan yang ceroboh, setidaknya Leo bisa berkontribusi kepada party-nya walau pada akhirnya ia akan tewas.


 


“(Lia... Maafkan aku, pada akhirnya aku hanya orang biasa tanpa berkah dari dewa... Ini adalah akhir yang pantas bagiku...)” Ujar Leo dalam hatinya sambil tersenyum pahit.


 


Para Goblin kembali melancarkan serangan mereka. Dengan sisa tenaganya, ia mencoba mengangkat pedangnya meski ia tahu itu tidak berarti apa pun lagi. Ia gagal menjalankan janjinya kepada Zille untuk melindungi Lia. Meski demikian, hingga titik darah terakhirnya, Leo tetap menolak untuk menyerah begitu saja melawan keadaannya.


 


“Selamat tinggal, Lia...” Bisik Leo dengan nada lemah.


 


Tepat di saat para Goblin berniat menghabisi Leo, secara mengejutkan gerakan mereka terhenti saat suara tepuk tangan terdengar menggema dari sisi lain tebing. Goblin-Goblin itu seketika mengurungkan niatnya untuk menghabisi Leo begitu menyaksikan apa yang ada di atas tebing sana.


 


“...? Apa...? Apa yang terjadi...?” Gumam Leo dengan wajah bingung.


 


Saat menyadarinya, para Goblin seperti melihat sesuatu yang ada di atas bukit di belakang mereka. Tatapan mereka terlihat jauh lebih marah dari yang sebelumnya. Karena merasa penasaran, Leo pun memutuskan untuk menoleh ke arah yang mereka tuju sebelum akhirnya ia terkejut menyadari siapa yang berada di atas sana.


 


“Pertunjukkan yang bagus, Leonard Ansgred. Untuk pecundang sepertimu kau berhasil bertahan dengan sangat baik.” Ujar sosok itu dari atas bukit.


 


“R-Roff...?!” Balas Leo terperanga.


 

__ADS_1


Saat Leo menyadarinya, tatapan Roff dan teman-temannya tidak lagi sama seperti saat terakhir kali mereka berjumpa. Itu adalah tatapan sinis yang sama seperti saat orang-orang di desanya mengusir Leo dari tempat tinggalnya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka?


__ADS_2