Black Arc Saga

Black Arc Saga
Insiden di kota Zivalor


__ADS_3

Sesampainya di pintu masuk kota, mereka memutuskan untuk mencari penginapan segera sebelum matahari sepenuhnya tenggelam. Mereka berdua terpaksa menunda rencana mereka untuk keesokan harinya. Setidaknya, berkat Margo mereka bisa sampai lebih cepat dari perkiraan awal dan menyisakan cukup waktu bersiap-siap untuk perjalanan selanjutnya.


 


Malam telah tiba, aktivitas di kota mulai berkurang. Baik warga maupun pedagang mulai kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat setelah menjalani hari yang panjang. Suasana di kota menjadi sunyi dan tenang menyisakan nyanyian dari hewan-hewan malam. Terlihat dari jendela penginapan, seorang gadis berambut panjang tengah menulis sesuatu ditemani oleh cahaya lilin ketika suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya.


 


“Nona Lia, ini Olivia. Bolehkah saya masuk?” Ujar sesosok suara dari balik pintu.


 


“... Ya.” Balas Lia singkat.


 


“Kalau begitu, maaf mengganggu...”


 


Olivia membuka pintu ketika Lia kembali melanjutkan tulisannya. Ia menghampirinya sesaat sebelum ia kembali bicara dengannya.


 


“Anda masih menulis rupanya. Maaf jika kedatangan Olivia mengganggu...” Ujar Olivia dengan nada kecewa.


 


“... Tidak juga. Lagi pula aku sudah selesai.” Balas Lia sambil mengemas suratnya.


 


“Begitu ya. Olivia baru tahu kalau nona Lia suka menulis...”


 


“... Hanya sesekali.”


 


Suasana kembali canggung di antara mereka setelah Olivia kehilangan topik pembicaraannya. Ia masih kesulitan untuk berkomunikasi dengannya meski mereka berada di kamar yang sama. Ditambah dengan sikap Lia yang pendiam membuatnya semakin sulit untuk akrab dengannya. Untuk saat ini ia hanya bisa menunggu dan mengamati untuk bisa lebih mengenalnya.


 


Setelah selesai dengan suratnya, Lia pun memutuskan untuk beristirahat. Ia menyimpan surat itu dengan baik sebelum akhirnya ia mengucapkan selamat malam kepada Olivia secara singkat dan beristirahat. Dengan tertidurnya Lia menyisakan Olivia sendirian yang masih terjaga. Ia pun menghampiri jendela sebelum akhirnya menatap pada langit malam larut dalam pikirannya.


 


“(Beberapa hari telah berlalu sejak keluar dari tempat itu. Meski begitu, masih belum ada petunjuk yang jelas mengenai kapan dan berapa lama Olivia terkurung di sana...)” Gumam Olivia dalam hatinya gelisah.


 


Ia melihat ke arah Lia yang sudah terlelap itu sebelum ia kembali merenung mengenai hubungannya dengannya.


 


“(Tidak seperti master, nona Lia terlihat lebih waspada baik dari sikap maupun perilakunya. Memang sudah sewajarnya demikian ketika manusia melihat sesuatu yang bukan bagian dari kaumnya. Meski begitu, ia sebenarnya adalah orang yang baik. Bagaimana pun juga, selama kami berjalan di jalan yang sama, sebisa mungkin Olivia ingin bisa diterima olehnya...)” Ujar Olivia dalam hatinya serius.


 


Sebagai orang yang dekat dengan Leo, sudah sepantasnya ia ingin dekat dengan Lia. Walau ia masih belum menemukan cara untuk bisa menghilangkan suasana canggung di antara mereka, namun ia yakin jika ia berusaha, ia pasti bisa melakukannya.


 


Karena malam sudah mulai larut, Olivia memutuskan untuk ikut beristirahat. Walau pun ia tidak membutuhkan tidur yang rutin seperti manusia pada umumnya, ia sengaja melakukannya karena ia merasa penjagaannya tidak diperlukan. Sejak memasuki kota, ia sudah memeriksa area di sekitarnya memastikan bahwa tidak ada monster yang mungkin bisa mengganggu mereka nantinya.


 


“(Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan... Jaman telah berubah dan tidak ada lagi peperangan... Kekuatan Olivia... Sudah tidak diperlukan lagi...)”


 


Ia perlahan memejamkan matanya ketika mengatakannya dalam hatinya sebelum akhirnya ia tertidur.


 


 


 


 


***


 


Asap hitam menyelimuti langit ketika ledakan dahsyat mengguncang tanah dengan kekuatannya yang hebat. Suara rintihan kesakitan terdengar dari berbagai arah memekakkan telinga pendengarnya seolah mengirimkan sinyal pada otak akan kejadian tragis yang menimpa mereka. Tak lama, suara itu tergantikan oleh suara deru langkah kaki pasukan kuda lengkap dengan suara gemericik zirah logam yang dikenakannya dan penunggangnya ketika melewati tanah penuh dengan mayat pasukan yang berguguran. Meski terdengar suara nafas berat dari balik helmnya, ia tetap memaksakan dirinya untuk mengangkat tombaknya ke udara selagi berseru kepada sisa pasukannya untuk terus melangkah maju ketika kilatan cahaya terang mulai berdatangan ke arah mereka. Hanya selang beberapa saat, cahaya itu menelan mereka semua dalam ledakan hebat menyisakan lubang kawah membara ketika sesosok gadis berambut putih panjang menampakkan diri di antara sisa-sisa ledakan tersebut. Ia berdiri menatap dengan tatapan hampa di tempat yang tidak seharusnya ia berada ketika deru langkah kuda datang dari arah belakangnya.


 


“.....”


 


Ratusan pasukan berkuda muncul tepat setelah gadis itu menampakkan diri ke medan perang. Sambil mengabaikan semua kerusakan yang ada, mereka maju menembus ladang mayat tersebut menuju sebuah benteng yang ada di sebrangnya. Bersamaan dengan datangnya pasukan kavaleri, para penyihir kerajaan ikut muncul mengikuti mereka dari belakang sebagai bantuan ketika beberapa dari mereka melirik ke arah gadis itu dengan tatapan sinis.


 


“Rupanya yang satu ini berfungsi lebih baik dari pada yang sebelumnya...”


 


“Itu sudah pasti karena kita telah banyak berkorban hanya untuk boneka daging itu...”


 


“Aku tidak percaya dia bisa menghabisi semua pasukan pertahanan semudah itu. Benar-benar monster...”


 


“Aku tidak percaya pekerjaan kita akan direbut oleh benda itu...”


 


Pertarungan pun berlanjut meninggalkan gadis itu seorang diri di belakang. Dengan tatapan yang hampa, ia melihat bagaimana pasukannya membunuh sisa-sisa pasukan lawan yang bertahan di benteng itu sebelum akhirnya sihir menghancurkannya. Ledakan hebat terdengar dari dalam benteng tersebut ketika kepulan api membumbung keluar bersama dengan hancurnya sebagian bangunan benteng. Pasukan lantas bersorak sorai atas kemenangan mereka merebut benteng tersebut ketika sesosok pria misterius datang menghampiri gadis itu dari balik punggungnya.


 


“....!!”


 


Bahunya bergetar begitu merasakan kehadirannya sesaat sebelum pria itu tersenyum menyaksikan kemenangan mereka. Ia lantas bertepuk tangan dan mengucapkan selamat kepada gadis itu sambil berkata kepadanya.


 


“....!!”


 


Akan tetapi, sebelum sempat mendengar ucapannya, gadis itu terbangun di sebuah kamar penginapan bersama dengan seorang gadis lain bersamanya. Ingatannya perlahan kembali seiring dengan kesadarannya yang mulai pulih.


 


“Mimpi...? Barusan itu hanya mimpi...?” Gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.


 


Dengan wajah pucat ia mencoba menyadarkan kembali pikirannya ketika gadis yang tidur di samping ranjangnya bangun setelah mendengar suaranya. Ia membalikkan badannya melihat ke arahnya yang terlihat pucat sebelum akhirnya bicara padanya.


 


“... Ada apa? Wajahmu lebih pucat dari biasanya.” Tanya gadis itu dengan wajah curiga.


 


“A-Ah. Selamat pagi, nona Lia. Tidak, ini bukan apa-apa.” Balasnya menyapa dengan senyum yang dipaksakan.


 


“... Begitu ya. Kupikir sesuatu terjadi padamu.” Balas Lia bangun dari posisinya.


 


“T-Terima kasih atas perhatiannya.”


 


Lia bangun dari tempat tidurnya sebelum ia melangkah menuju seberkas cahaya yang menerangi kamar melalui kaca jendela melakukan peregangan. Tubuhnya yang ramping sempat terlihat ketika ia melakukan beberapa gerakan senam bersamaan saat Olivia ikut bangun dari tempatnya untuk bersiap-siap. Tidak ada percakapan lebih lanjut di antara mereka berdua hingga sampai mereka selesai mengganti pakaian mereka. Ingin rasanya Olivia mengajaknya bicara, namun sepertinya ia masih kesulitan untuk melakukannya.


 


“(Seperti biasa, nona Lia sulit untuk diajak bicara. Meski begitu, ia terlihat sangat anggun ketika melakukan kegiatannya...)” Gumam Olivia dalam hatinya kagum.


 


Meski belum terbilang akrab, namun ia bisa mengatakan bahwa Lia memiliki etiket yang baik seperti yang biasa dimiliki oleh para bangsawan. Hal itu pula yang kemungkinan menciptakan semacam aura dari dirinya yang membuatnya sulit untuk diajak berinteraksi.


 


Selesai berkemas, mereka berdua lantas meninggalkan kamar mereka untuk menemui Leo yang sudah menunggu di depan kamarnya. Bersama-sama, mereka bertiga menuju kota untuk menyelesaikan hal yang tertunda sebelumnya.


 


“Kalau begitu, aku akan ke pandai besi untuk mengurus pedang ini. Aku tidak bisa ikut denganmu kali ini, Lia.” Ujar Leo berhenti di depan mereka.


 


“... Mm. Tidak masalah.” Balas Lia mengangguk.


 


“Olivia, tolong temani Lia selama pergi.” Ujar Leo melihat ke arah Olivia.


 


“Baik, master. Saya akan menemani nona Lia.” Balas Olivia sambil menundukkan badannya.


 


“Kalau begitu, aku pergi dulu...”


 


“...”

__ADS_1


 


“Selamat jalan.”


 


Leo pun pergi meninggalkan mereka berdua sebelum akhirnya Lia memutuskan untuk pergi menuju kantor pos terdekat.


 


“Anda berniat mengirimkan surat semalam, benar?” Ujar Olivia dengan senyum ramah.


 


“... Mm.”


 


“Kepada siapa surat itu ditujukan?” Sambung Olivia penasaran.


 


“... Seseorang yang kukenal.” Jawab Lia singkat.


 


“B-Begitu ya. Apa orang yang anda maksud ini berhubungan dengan perjalanan kita selanjutnya?”


 


“... Bisa dibilang iya, tetapi tidak secara langsung.”


 


“E-Eh...? Apa maksudnya..?”


 


Lia memutuskan untuk diam tidak menjawab pertanyaan darinya. Hal itu membuat suasana di antara mereka kembali hening dan canggung.


 


“(U-Ugh... Suasananya berubah dengan sangat cepat. Seperti yang bisa diharapkan dari nona Lia. Tetapi, Olivia tidak bisa menyerah begitu saja...! Olivia akan mencobanya lagi...!)” Ujar Olivia dalam hatinya optimis.


 


Ia pun memutar otaknya mencoba mencari topik pembicaraan lain yang mungkin bisa menarik perhatiannya.


 


“B-Benar juga, seperti apa kantor pos di jaman ini...? Sepertinya sudah banyak sekali yang Olivia lewatkan selama berada di dalam tempat itu...” Ujar Olivia dengan ekspresi canggung.


 


“... Memangnya seperti apa kantor pos yang kau ketahui?” Balas Lia berbalik bertanya.


 


“U-Uh... Kalau di jaman Olivia, kami hanya mengandalkan kurir manusia untuk surat menyurat...” Balas Olivia sambil mengingat beberapa hal di masa lalunya.


 


“... Kurasa tidak ada banyak perubahan.”


 


“Begitukah? Jadi sekarang masih sama?”


 


“... Kau akan tahu saat kita sampai nanti.”


 


“...??”


 


Sementara itu, Leo yang sedang berada di bengkel pandai besi menunggu pesanannya dikerjakan dihampiri oleh salah satu pengrajin. Ia yang tengah melihat-lihat sarung pedang yang hendak ia beli lantas dibuat kebingungan sebelum pengrajin itu bicara dengannya.


 


“Tuan, maaf jika membuat anda tidak nyaman. Tetapi, saya ada kabar buruk mengenai pesanan anda...” Ujar pria muda itu dengan wajah cemas.


 


“Apa ada masalah?” Balas Leo dengan wajah bingung.


 


“Bagaimana mengatakannya... Tapi sepertinya kami tidak bisa menghilangkan karat yang ada pada bilah pedang anda...” Jawab pria itu sambil menggaruk rambutnya cemas.


 


“Tunggu, bagaimana mungkin hal itu terjadi?”


 


“Kami sebelumnya telah memanaskannya dalam tungku, tetapi sayangnya pedang itu sama sekali tidak terbakar meski kami telah membakarnya berulang kali...”


 


 


“Y-Ya. Meski sulit dipercaya, tetapi saya mengatakan yang sejujurnya. Kami juga sudah mencoba mengasahnya, tetapi sayangnya hal itu juga tidak berhasil. Noda karatnya bahkan sama sekali tidak tergores...”


 


“Ini benar-benar tidak wajar...”


 


Leo hanya bisa terdiam sambil bertanya-tanya bagaimana hal itu bisa terjadi sebelum akhirnya pengrajin itu mengembalikan pedang hitamnya kembali kepadanya dengan ekspresi kecewa di wajahnya.


 


“Kami mohon maaf karena tidak bisa memenuhi permintaan anda. Sepertinya kemampuan dan peralatan kami tidak cukup untuk memperbaiki senjata anda. Sekali lagi, saya minta maaf...” Ujar pria itu sambil menundukkan kepalanya kecewa.


 


“K-Kalau memang tidak bisa, mau bagaimana lagi...” Balas Leo dengan senyum masam.


 


“Saya benar-benar minta maaf. Apa ada hal lain lagi yang bisa saya bantu sebagai gantinya?”


 


“Ya. Bisakah anda membuatkan sarung untuk pedang ini?”


 


“Sarung pedang? Tentu saja bisa. Apa bahan dasar yang anda ingin gunakan?”


 


“Untuk saat ini, mungkin aku akan memilih kulit sebagai bahan dasarnya...”


 


“Baiklah. Saya akan segera membuatnya.”


 


Pengrajin itu lantas kembali ke tempatnya untuk mengerjakan pesanannya. Meski masih menjadi pertanyaan mengapa pedang hitam miliknya tidak bisa dilebur, namun sepertinya ada penjelasan sederhana mengenai semua itu. Ia hanya tidak mengetahuinya saja, karena bagaimana pun dunia terkadang menyimpan rahasianya sendiri.


 


Kembali pada Lia dan Olivia yang tiba di kantor pos, mereka lantas menemui petugas yang ada di sana untuk mengirimkan surat miliknya.


 


“Apa yang bisa saya bantu, nona?” Sapa petugas pos dengan senyum ramah.


 


“Aku ingin mengirimkan surat ini ke kota Linderfell.” Balas Lia memberikan surat miliknya.


 


“Linderfell, benar? Dimengerti. Kalau begitu, anda memilih pengiriman reguler atau layanan cepat?”


 


“Aku pilih layanan cepat.”


 


Lia mengeluarkan sejumlah koin perak sebelum akhirnya petugas itu menerimanya.


 


“Terima kasih karena telah menggunakan jasa kami. Apa anda ingin memilih sendiri kurir yang hendak anda gunakan?”


 


“Ya. Tolong.”


 


“Dimengerti. Kalau begitu, silahkan lewat sini...”


 


Petugas itu lantas membawa mereka berdua menuju lantai paling atas bangunan tersebut di mana terdapat banyak sangkar di sekitarnya. Sangkar-sangkar itu berisi burung merpati yang merupakan hewan yang akan berperan menjadi kurir nantinya.


 


“Banyak sekali burung merpatinya... Olivia biasanya melihat mereka terbang bebas di area kota, bukannya dipelihara seperti ini...” Ujar Olivia melihat sekeliling takjub.


 


“... Mereka bukan burung merpati biasa. Mereka adalah burung yang sudah terlatih sehingga mampu mengenali tujuan dari surat yang dibawanya.” Balas Lia menjelaskan secara singkat.


 

__ADS_1


“Jadi begitu. Olivia baru mengetahuinya...”


 


Petugas pos lantas membuka salah satu kandang yang ada sebelum mempersilahkan Lia memilih sendiri kurirnya. Lia memasuki kandang dengan langkah yang pelan dan anggun agar membuat mereka tidak merasa terancam sebelum akhirnya memilih merpati yang akan menjadi pembawa pesannya.


 


Pilihannya tertuju pada seekor merpati dengan bulu putih di sekujur kakinya. Ia dengan lembut meraihnya sebelum akhirnya memilihnya sebagai kurirnya.


 


“Aku memilih dia...” Ujar Lia membawa merpati itu di tangannya.


 


“Tidak biasanya mereka diam seperti itu ketika ada orang yang berniat menangkapnya. Nona, anda benar-benar sangat lihai menangani mereka...” Balas petugas itu terkesima dengan tindakannya.


 


“... Mereka hewan yang ramah, jadi kau hanya harus bersikap lembut kepada mereka.” Balas Lia berjalan keluar dari kandang dengan ekspresi tenang.


 


“Kalau begitu, saya akan mempersiapkannya.”


 


“... Ya.”


 


Petugas itu lantas mengikatkan surat itu pada salah satu kakinya sebelum akhirnya membiarkannya terbang menuju tempat yang menjadi tujuan surat tersebut.


 


“Dia sudah terbang... Lalu, apa yang selanjutnya terjadi...?” Tanya Olivia dengan wajah bingung.


 


“... Sisanya, dia akan terbang menuju tempat tujuannya.” Balas Lia dengan nada datar.


 


“Jadi begitu. Kurang lebihnya sama seperti kurir pada umumnya, hanya saja ia adalah hewan yang bisa menempuh perjalanan yang jauh mengabaikan jalur dan kondisi lingkungan, begitu?”


 


“... Ya. Kau bisa menganggapnya begitu.”


 


“Benar-benar ide yang menarik. Rasanya agak disayangkan pada jaman Olivia dahulu belum ada yang memikirkannya. Ini bisa menjadi solusi untuk masalah komunikasi kami...”


 


“...”


 


Selesai mengirimkan suratnya, Lia dan Olivia pun meninggalkan kantor pos untuk selanjutnya berbelanja di kota selagi menunggu Leo kembali. Mereka membeli beberapa makanan kering dan perbekalan lain yang akan mereka bawa untuk perjalanan selanjutnya. Ini sekaligus menjadi pengalaman pertama Olivia berbelanja setelah sekian lama ia terkurung di bawah tanah. Ia mendapatkan banyak pengetahuan baru melalui para pedagang dan toko yang ada.


 


“Sepertinya ada banyak hal yang sudah berkembang, baik dari infrastruktur maupun dalam bidang perdagangan. Orang-orang saat ini tidak hanya menjual dagangan mentah, tetapi juga menjual produk matang serta banyak hal lain sebagai dagangan mereka...” Ujar Olivia melihat apa yang ada di sekeliling pasar.


 


“... Sepertinya kau bicara agak di luar jalur.” Balas Lia dengan nada datar.


 


“Benarkah? Olivia hanya menunjukkan rasa takjubnya akan perkembangan pada masyarakat.” Balas Olivia dengan ekspresi senang.


 


“... Memang seperti apa kehidupan masyarakat di jamanmu?”


 


“Di jaman Olivia, tidak ada pedagang yang menjual makanan matang sebagai dagangan utama mereka. Dan juga, di jamannya, tidak ada pedagang barang-barang sihir seperti saat ini. Itu karena kerajaan mengatur ketat distribusi barang-barang tersebut...”


 


“... Aturan klasik, huh? Hal yang biasa digunakan saat negara sedang mengalami konflik.”


 


“Bisa dibilang demikian... Sejauh yang Olivia ingat, masa itu terjadi selama kurun waktu yang cukup lama...”


 


“... Begitu ya. Pasti sulit hidup di masa seperti itu.”


 


“Begitulah...”


 


Di sisi lain, setelah menunggu beberapa lama, pada akhirnya pesanan Leo selesai. Pedangnya kini memiliki sarungnya sendiri yang bisa melindunginya dari debu dan air. Ia mencobanya sejenak untuk memastikan bahwa semuanya sesuai dengan keinginannya.


 


“Bagaimana menurut anda, tuan?” Tanya pengrajin itu dengan senyum senang.


 


“Ya. Ini sudah lebih dari cukup. Beratnya menyesuaikan dengan berat pedangnya.” Balas Leo sebelum akhirnya menyarungkan kembali pedangnya.


 


“Kalau begitu senang mendengarnya.”


 


“Berapa biayanya?”


 


“Karena kami sempat membuat anda tidak merasa nyaman, kami akan memberikan potongan harga untuk anda. Harganya hanya 40 koin perak saja.”


 


Selesai dengan urusannya, Leo pun meninggalkan bengkel pandai besi itu dan kembali menemui Lia dan Olivia seperti yang telah disepakati sebelumnya. Dalam perjalanan, ia memeriksa kembali pedang miliknya yang sebelumnya gagal dilebur untuk mencari tahu apa masalahnya. Ia mengamatinya dengan mata telanjang pada awalnya sebelum akhirnya mengubah persepsinya dengan mata sihirnya.


 


“(Tidak ada yang aneh dari pedang ini selain warnanya yang tidak biasa. Meski aku memakai kemampuan mataku, tetap saja tidak ada hal menarik yang bisa kutemukan darinya...)” Gumam Leo dalam hatinya mengamati pedang hitamnya.


 


Ia menghela nafas panjang mengetahui bahwa ia tidak menemukan jawaban dari pertanyaannya. Ia pun menyarungkan kembali pedangnya mencoba melupakan masalah ini dan fokus pada tujuan awalnya ketika secara tidak sengaja aura mengerikan keluar dari dalam sarung pedangnya.


 


“...?!”


 


Leo yang sekilas merasakannya langsung menghentikan langkahnya sesaat sebelum ia menarik pedang itu dari punggungnya. Dengan wajah panik ia mengamati pedang itu menggunakan mata sihirnya guna memastikan bahwa yang barusan itu bukanlah imajinasinya.


 


“(Lagi...! Aku merasakannya lagi...! Tidak salah lagi yang barusan itu berasal dari pedang ini...!)” Ujar Leo dalam hatinya waspada.


 


Hal yang sama juga dirasakan olehnya ketika ia hendak berniat melintasi lembah tersebut. Pandangannya seketika tertuju pada sebuah kota yang berada tepat di bawahnya yang merupakan lokasi dari aura yang selama ini ia cari. Tanpa membuang waktu, ia lantas menurunkan ketinggiannya dan menghampiri kota tersebut.


 


“....!!”


 


Olivia yang merasakan kedatangannya seketika menghentikan langkahnya dengan wajah panik saat Lia yang bersamanya merasa heran dengannya.


 


“... Olivia? Ada apa?” Tanya Lia berbalik menatapnya.


 


“Datang...! Dia datang...! Monster terbang itu datang...!” Balas Olivia dengan wajah panik menatap langit.


 


“Apa yang sedang kau bicaraka—“


 


Ucapan Lia seketika terhenti ketika ia menyaksikan bayangan raksasa secara mengejutkan menutupi kota. Aura kehadiran yang kuat seketika menyelimuti udara ketika sesosok monster raksasa menampakkan diri di langit kota.


 


“A—“


 


“A-A-A-Aaaaaa...!!!”


 


Seluruh warga yang menyaksikannya seketika berdiri mematung dengan wajah terperanga saat ia mendarat di atas sebuah bangunan menatap langsung pada seseorang yang ada di bawahnya. Hembusan nafasnya dengan mudah meniup benda-benda kecil yang ada di sekitarnya sesaat sebelum pandangannya tertuju pada sebilah pedang yang dibawa oleh pemuda itu.


 


“Grrrr...!”


 


“....”


 

__ADS_1


Ia hanya bisa diam menahan posisinya ketika makhluk itu menatapnya dengan tajam saat orang-orang yang ada di sekitarnya mulai berlarian menjauh menyisakan pemuda itu seorang diri menghadapi monster itu.


__ADS_2