Black Arc Saga

Black Arc Saga
Awal sekaligus akhir


__ADS_3

Melihat Leo tidak berdaya setelah menerima serangan Troll itu, Lia tidak bisa tinggal diam. Amarah dan kesedihannya bercampur menjadi satu dalam air matanya sesaat sebelum akhirnya ia bangkit menggenggam kembali pedangnya berniat menghadapinya sekali lagi.


 


“Hngh... Hah...! Hah...!”


 


“Grrr....”


 


Tepat saat Troll itu berniat mengakhiri hidup Leo, secara mengejutkan tebasan sihir melayang ke arahnya dan menghantam punggungnya. Sontak serangan ini menimbulkan luka sayatan yang membuat Troll itu marah sebelum akhirnya memalingkan perhatiannya dari Leo.


 


“L-Lia....?” Ujar Leo dengan nada lemah melihat ke arah Lia.


 


Dengan pandangan yang samar, Leo melihat Lia berdiri menghadapi Troll itu. Awalnya ia berpikir dia akan kembali ke kota memanfaatkan kesempatan yang ia berikan, tetapi kenyataannya justru berkata lain.


 


“(Kenapa...? Kenapa dia tidak pergi selagi ada kesempatan dan berbalik melawan...?)” Ujar Leo dalam hatinya bingung.


 


Dengan penuh keyakinan, Lia mengacungkan pedangnya ke arah Troll itu dengan niat yang jelas. Ia menantang Troll itu untuk berduel dengannya secara langsung. Entah apa yang ada di pikirannya, tetapi Troll bukanlah lawan yang bisa diremehkan meskipun mereka sudah sekarat. Troll itu belum sepenuhnya mengeluarkan kekuatannya. Ini bisa menjadi bahaya baginya yang belum mengetahui seluk beluk Troll.


 


“(Ini tidak bagus...! Aku harus memperingatkannya...! Sebelum semuanya terlambat...!)” Sambung Leo dalam hatinya panik.


 


Leo mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi itu semua sia-sia saja karena lukanya yang terlanjur parah tidak menghendakinya. Setiap kali ia memaksakan diri untuk bergerak, darah mengalir keluar dari lukanya disertai rasa sakit yang luar biasa yang mencegah niatnya. Kini ia hanya bisa menyaksikan semua itu tanpa bisa berbuat apa-apa.


 


“Leo... Aku tidak akan membiarkanmu terbunuh...” Bisik Lia dengan nada lembut nan berat.


 


Pada saat yang bersamaan, Lia seketika melesat ke arah Troll itu dengan seluruh kekuatannya. Troll yang menyadarinya pun lantas menyiapkan langkah antisipasi dengan menghancurkan tanah di sekitar mereka untuk memperlambat gerakannya


 


“....!!”


 


Namun sayang, tepat sebelum ia sempat melakukannya, serangan Lia menghantam tubuhnya dan meninggalkan luka sayatan sekaligus di sekujur tubuhnya. Ia bahkan tidak sempat melihat kapan datangnya serangan itu, saat menyadarinya ia sudah terluka begitu saja. Sudah jelas kalau Lia saat ini sedang serius.


 


Troll itu menggeram kesal sesaat sebelum Lia kembali menampakkan dirinya bersamaan dengan Troll itu membalas serangannya sebelumnya. Akan tetapi, sebelum serangan balasan Troll itu mengenai Lia, luka sayatan kembali mendarat di tubuh Troll itu tepat ketika Lia kembali muncul di belakangnya mengibaskan pedangnya yang berlumuran cahaya merah membara.


 


“Raaghhh...!!”


 


Seketika itu pula tubuh Troll itu tersayat sangat dalam hingga darahnya bercucuran deras sebelum akhirnya ia jatuh tak berdaya. Serangan yang diperkuat dengan sihir dan digabungkan dengan kecepatan angin membuat Troll itu seketika tumbang di hadapannya. Terdengar rintihannya yang perlahan melemah menandakan bahwa dia sudah sepenuhnya kalah di tangan Lia.


 


“L-Lia....” Ujar Leo dengan nada lemah sambil mencoba mengulurkan tangannya.


 


“Leo...!” Ujar Lia melihat ke arahnya kecewa.


 


Tepat saat Lia hendak menghampiri Leo yang terluka, Troll itu bangkit dengan aura merah darah mengerikan di sekujur tubuhnya. Lia yang menyadari itu seketika menjauh darinya ketika tubuh Troll itu perlahan pulih.


 


“A-Apa yang terjadi...?!” Gumam Lia dengan wajah terkejut.


 


Luka yang ada di sekujur tubuhnya berangsur pulih, semuanya kembali pulih kecuali tangan dan hidungnya yang dipotong oleh Leo. Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun itu bukan pertanda baik.


 


“(Sial...! Aku terlambat...! Dia sudah menggunakannya...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Ada alasan mengapa Troll dikatakan lebih berbahaya dari Orc atau Goblin King. Itu karena kemampuan khusus yang mereka miliki, mereka dapat beregenerasi dan memulihkan luka mereka. Itulah mengapa mereka jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan monster hutan lainnya.


 


“Grrrr...!”


 


Troll itu bangkit dengan tubuh yang sepenuhnya pulih meski tangan dan hidungnya tidak kembali seperti semula. Meski menakutkan, ada batasan dalam kemampuan regenerasi mereka. Dan juga, kemampuan regenerasi mereka hanya aktif jika mereka sekarat atau menerima serangan yang mengancam nyawa mereka.


 


“L-Lia... P-Pergilah...!” Ujar Leo memaksakan untuk berteriak memberi peringatan kepada Lia.


 


“H-Huh...?!”


 


Dengan mengambil sebuah batang pohon yang tumbang, Troll itu melancarkan serangan ke arah Lia. Serangan itu cukup kuat hingga meninggalkan bekas kawah di tempatnya memukul meski hanya dengan menggunakan satu tangannya, tetapi Lia berhasil menghindarinya sebelum serangan itu mengenainya.


 


“Raaarrrghhh...!!”


 


Dengan penuh amarah, Troll itu mengayunkan batang pohon itu berulang kali layaknya orang gila berusaha menyerang, namun dengan mudahnya Lia dapat menghindari semua serangannya. Hal itu membuatnya semakin marah dan menjadi jauh lebih agresif.


 


“Rrrrrrr...!!!”


 


Sambil mengayunkan batang pohon itu dengan sekuat tenaga, Troll itu berlari mengejar Lia mengguncang hutan itu dengan langkah kaki marahnya yang berusaha membunuhnya. Sontak itu membuat Lia kewalahan karena selain harus menjaga jarak darinya, ia juga harus menghindari setiap ayunan serangannya.


 


“Nh...!”


 


Lia memutar otaknya sebelum akhirnya membawa Troll itu masuk ke dalam hutan guna melancarkan rencananya. Begitu ia masuk ke dalam pepohonan, ia seketika menghilang saat Troll itu perlahan datang menghancurkan setiap benda yang ada di hadapannya. Itu pun menghentikan amukannya sesaat ketika ia menyadari maksud Lia dengan memancingnya ke dalam hutan.


 


Troll itu melepaskan genggaman tangannya dari batang pohon yang hancur itu sesaat sebelum ia mulai mengambil ancang-ancang. Dengan memusatkan seluruh kekuatannya pada kakinya, ia melompat ke udara dengan meninggalkan retakan pada tempatnya menolak. Ia melompat hingga melampaui atap hutan sesaat sebelum ia terjun dan menghantam tanah dengan kekuatan yang dahsyat. Tanah di sekitarnya terangkat naik terhempas oleh tekanan luar biasa bersamaan dengan guncangan hebat yang menyebar ke seluruh penjuru hutan layaknya sebuah gelombang kejut. Area di sekitarnya hancur menyisakan kawah raksasa seluas ratusan meter sesaat sebelum ia menarik nafas dalam dan meraung.


 


“Rrrraaaaaaghhhhh....!!!!”

__ADS_1


 


Teriakannya membuat puing-puing benda di sekitarnya terlempar menjauh tersapu oleh gelombang udara yang tercipta dari raungannya. Suara teriakannya yang keras sampai terdengar hingga ke desa terdekat bahkan hingga ke  kota yang berada puluhan mil dari lokasi. Sontak suara raungan kemarahannya membuat warga menjadi cemas dan ketakutan.


 


“A-Apa itu...? Suara apa yang barusan itu...?” Ujar salah seorang warga kota ketakutan.


 


“Monster...? Apakah barusan itu suara monster...?” Sambung yang lain menggenggam tangannya gemetar.


 


Keadaan yang sama juga terjadi pada desa tempat yang menjadi tujuan Leo dan Lia. Warga desa mulai berlarian masuk ke dalam rumah mereka begitu mendengar suara raungan mengerikan itu. Mereka menutup pintu dan jendela mereka rapat-rapat sambil berlindung dari apa yang mungkin terjadi.


 


Di sisi lain, setelah raungan kemarahannya usai, Troll itu mulai melihat sekeliling hutan yang hancur mencari di mana Lia berada. Alasan mengapa ia menghancurkan hutan di sekitarnya adalah untuk menghilangkan tempat persembunyian Lia yang mana akan menjadi celah baginya untuk melancarkan rencananya. Dan jika dia bisa bertahan dari guncangan itu, maka teriakan kemarahannya akan melumpuhkannya dan memungkinkannya menyerang balik sebelum dia sempat melakukannya. Ini adalah cara yang paling efektif untuk menepis rencana Lia.


 


“....!”


 


Secara mengejutkan, tebasan udara menyayat tubuh Troll itu ketika ia tengah mencari Lia di antara puing-puing hutan. Entah dari mana asalnya, tetapi serangan itu sangat cepat dan nyaris tidak meninggalkan jejak hingga membuat Troll itu kebingungan.


 


“Grrrr....!”


 


Ia melihat sekeliling dengan waspada guna mencari tahu siapa dan dari mana asalnya serangan barusan. Tidak seperti tebasan sihir milik Lia, serangan yang baru saja mengenainya sepenuhnya tercipta dari serangan fisik. Meski tidak tahu siapa yang melakukannya, tetapi Troll itu menyadari bahwa Lia telah mengganti rencananya.


 


Keadaan hening untuk sejenak di dasar kawah tempat Troll itu berdiri saat ini. Setelah tebasan udara mengenai dirinya, ia hanya berdiri diam mengamati sekitarnya dengan tatapan penuh kewaspadaan.


 


“.....”


 


Belum ada tanda-tanda serangan sejauh ini, hanya ada kesunyian di antaranya dan apa yang terjadi sejauh ini. Pada titik ini, siapa yang menyerang terlebih dahulu dan melakukan kesalahan, maka dia lah yang akan kalah. Mereka berdua sadar akan hal itu dan dengan sebaik mungkin menahan diri sampai saatnya tiba.


 


*Rustle*


 


Sebuah gerakan terdengar oleh Troll itu yang asalnya dari sisi lain hutan. Ia lantas memutar kepalanya ke arah tersebut dan melihat semak-semak di sana bergerak seperti dilewati oleh sesuatu. Dilihat dari berat gaya dorongnya, sesuatu yang menggerakkan semak itu setara dengan seekor rusa atau hewan bertubuh besar lainnya. Namun, semua hewan sudah melarikan diri dari sekitar sana setelah melihat kedatangan sang Troll. Dengan kata lain, itu bukanlah hewan, melainkan Lia itu sendiri.


 


“Rhahaha...!”


 


Troll itu terkikik sesaat sebelum ia melompat ke lokasi dan mengguncang tanah dengan hantaman dahsyat seperti yang sebelumnya ia lakukan. Seketika itu pula sisi lain hutan itu hancur menjadi kawah besar saat Troll itu mendarat. Semua yang ada di sekitarnya hancur, tetapi ada satu hal yang mengganjal Troll itu.


 


“....!”


 


Bukannya Lia yang ia temukan, melainkan jalur lintasan yang tercipta akibat goresan pedang pada pepohonan yang berada di sekitarnya. Ia seketika sadar bahwa yang baru saja lewat bukanlah Lia, melainkan tebasan yang sama seperti yang pernah melukainya.


 


“Grrrr...!”


 


 


“Tehnik pedang: Silent Fall.”


 


Pedangnya membara oleh sihirnya sesaat sebelum ia mengayunkan pedangnya jatuh dengan kekuatan yang luar biasa. Seketika, lengan Troll yang tersisa itu pun terpotong bersama dengan tubuhnya yang terbelah mengikuti jalur lintasan pedang Lia yang menembus hingga menciptakan luka sayatan pada tanah di hadapannya.


 


“Rraaagghhhh...!!!”


 


Darah bercucuran keluar membasahi tubuh Lia sesaat sebelum Troll itu berniat membalas dengan melancarkan tendangan ke arahnya. Itu adalah tendangan yang sama seperti yang ia lancarkan kepada Leo. Dalam jarak ini, seharusnya mustahil bagi Lia menghindar atau pun menangkisnya mengingat kuatnya tenaga yang dilancarkannya.


 


“....!!”


 


Tepat sebelum serangan itu mengenainya, secara mengejutkan kaki Troll itu putus saat Lia mengibaskan pedangnya. Sontak ia pun terkejut dan panik menyadari Lia dengan mudahnya memotong kakinya yang bahkan Leo sendiri tidak mampu menahannya. Pada titik inilah Troll itu sadar perbedaan kemampuan antara dirinya dengan Lia.


 


“Dan ini untukmu yang berani melukai Leo...!” Ujar Lia dengan tatapan tajam.


 


Lia menggenggam pedangnya dengan kedua tangannya sesaat sebelum cahaya merah tua berkobar menyelimuti bilah pedangnya ketika ia memasang kuda-kudanya.


 


“Tehnik pedang: Wrath of Autumn.”


 


Hanya berselang sepersekian detik, Lia melancarkan puluhan serangan yang tak terhitung jumlahnya ke arah Troll itu. Serangan yang bertubi-tubi itu mengoyak tubuhnya hingga memaksanya untuk menggunakan kemampuan regenerasinya meski Lia masih terus melancarkan serangannya.


 


“Grrr...! Raaaarrghhh...!!!”


 


Darah yang keluar dari lukanya mendidih menciptakan aura merah yang menyelimuti tubuhnya. Lukanya sembuh perlahan-lahan meski serangan mematikan Lia terus menghujaninya tanpa henti. Troll itu pun tertawa angkuh melihat kekuatan regenerasinya mampu mengungguli serangan Lia.


 


“Rrr... Rhaahaha...!!”


 


Meski demikian, Lia hanya diam fokus pada serangannya meski kemampuannya tidak mampu mengungguli kemampuan regenerasinya. Satu hal yang tidak Troll itu sadari adalah kekalahannya sudah ditentukan ketika ia menerima serangan Lia.


 


“Haaa...!!”


 


Lia mengayunkan serangan terakhirnya sekaligus gerakan yang mengakhiri tehnik pedangnya. Wajah angkuh Troll itu seketika lenyap ketika secara mengejutkan tubuhnya hancur berkeping-keping setelah Lia melancarkan serangan penutupnya. Seketika itu pula tanah di sekitarnya hancur oleh luka sayatan sebelum tekanan yang dahsyat menghempaskan semua yang ada di sekitar Lia termasuk potongan tubuh Troll itu. Potongan tubuh Troll yang berhamburan di udara menjadikannya terlihat seperti dedaunan di musim gugur yang terbawa angin ketika Lia menyarungkan kembali pedangnya. Pertarungan itu selesai dengan Lia sebagai pemenangnya dengan tanpa menyisakan mayat Troll itu sedikit pun.


 


“Ah, Leo...! Aku harus segera menolongnya...!” Ujar Lia dengan wajah panik.

__ADS_1


 


Selesai mengalahkan Troll itu, Lia bergegas kembali menemui Leo untuk menolongnya sebelum semuanya terlambat. Meski memakan banyak waktu untuk menghadapi Troll itu, Lia masih berharap ia masih sempat untuk menemui Leo.


 


“Leo, bertahanlah...!” Seru Lia berlari menghampirinya.


 


“.... Ah. Lia... Syukurlah...” Balas Leo membuka matanya perlahan melihat dengan wajah lemah kepadanya.


 


“Tolong jangan bicara...! Nanti lukamu semakin parah...!” Balas Lia dengan wajah panik.


 


Meski demikian, Lia tidak tahu lagi harus bagaimana menolongnya. Lukanya sangatlah parah, seluruh tulang rusuknya hancur, paru-parunya pun ikut terluka karena serpihan tulang rusuknya melubanginya. Dengan kata lain, Leo berada pada ujungnya.


 


“Benar, aku harus membawamu kembali ke kota! Dengan begitu kita bisa merawat lukamu!” Sambung Lia dengan senyum pahit di wajahnya.


 


“..... Huh?”


 


“Aku akan membawamu ke sana sekarang, jadi bertahanlah...! Aku tidak akan membiarkanmu pergi...!” Ujar Lia mencoba mengangkat tubuh Leo yang lemah dengan putus asa.


 


Leo menggelengkan kepalanya saat Lia hendak mengangkatnya. Sontak itu membuat Lia kebingungan sesaat sebelum Leo bicara kepadanya dengan sisa tenaga yang ia miliki.


 


“Lia... Sudah.. Tidak.. Apa-apa... Kau.. Tidak.. Perlu.. Melakukan... nya...” Bisik Leo dengan nada lemah sambil bernafas berat.


 


“E-Eh..?! Apa yang kau katakan...! Tolong jangan bicara sampai aku membawamu ke rumah sakit...!” Balas Lia dengan wajah panik bercampur sedih.


 


“Tidak... Tidak... Akan... Sempat...” Balas Leo sebelum akhirnya kembali memuntahkan darah.


 


“Kita tidak akan tahu sampai kita mencobanya...! Sampai saat itu, tolong bertahanlah...! Aku pasti akan mengantarmu sampai ke sana...!” Ujar Lia mencoba meyakinkan Leo untuk tetap kuat.


 


Melihat usaha Lia membuat Leo tersenyum dengan tulus dan bahagia. Ia tidak mengira Lia akan berbuat sejauh itu hanya demi sampah sepertinya. Tidak pernah disangka kalau pertemuan singkat ini akan merubahnya menjadi seperti sekarang ini, menjadi manusia seutuhnya. Itu adalah hal yang paling membahagiakan bagi Leo setelah sekian lamanya ia bertanya-tanya kepada dirinya mengenai siapa sebenarnya ia.


 


“E-Eh...?!”


 


Leo meraih pipi Lia dengan tangannya yang berlumuran darah sebelum ia bicara dengannya saat Lia terkejut dengan tindakannya.


 


“Lia... Maafkan... Aku... Karena... Tidak... Bisa.. Menemani.. mu... Lebih... Lama... Lagi...” Ujar Leo dengan segenap hatinya tersenyum di antara kelemahannya.


 


“A-Apa yang kau katakan...! Kenapa kau berkata seperti itu...!” Balas Lia membantah dengan mata berkaca-kaca.


 


“Ah... Meski... Hanya... Sebentar... Itu.. Semua... Sangat... Menyenangkan... Aku bersyukur... Bisa... Bertemu... Dengan.. mu... Lia...”


 


“E-Eh...?!”


 


“Awalnya... Aku... Hanya... Memenuhi... Janjiku... Kepada... Zille-san... Tetapi... Seiring... Waktu... Aku... Perlahan... Menyadari... Kita... Tak... Jauh... Berbeda...”


 


“Eh...?!”


 


“Pasti... Menyakitkan... Bukan...? Kau... Juga... Memiliki... Luka... Di... Hati... Mu...”


 


Lia terdiam ketika air matanya perlahan mengalir di pipinya sesaat sebelum ia meraih tangan Leo dan menangis.


 


“Kau juga... Padahal kau lebih menderita dariku... Namun, kau selalu berusaha menghiburku dan menyembunyikan kesedihanmu sendiri...” Ujar Lia menangis sambil menggenggam tangan Leo.


 


“Ahaha... Mungkin.. Karena... Aku... Orang... Bodoh... Aku... Memang... Bodoh... Bukan...?” Jawab Leo tertawa kecil sambil menahan sakit.


 


“Kau selalu mengatakan itu kepada dirimu, bukan? Tolong jangan katakan itu... Itu hanya akan menambah luka di hatimu...” Balas Lia dengan nada tinggi sebelum kembali tertunduk sedih.


 


“... Mhm.”


 


“Tolong jangan sebut dirimu seperti itu lagi... Jika bukan karenamu, aku tidak akan bernafas sampai hari ini... Kau adalah penyelamatku... Aku juga bersyukur bisa bertemu denganmu, Leo... Aku tidak bisa mengungkapkan lagi betapa beruntungnya diriku dapat ditolong oleh orang sebaik dirimu...”


 


“.....”


 


“Apa pun yang mereka katakan, aku akan tetap berada bersamamu! Jadi, jangan tinggalkan aku... Aku tidak mau kehilangan lagi...”


 


“.....”


 


Leo tersenyum sambil mengusap air mata Lia sesaat sebelum perlahan tangannya terjatuh dalam pangkuannya.


 


“Leo...? Leo...?! Leo, jawab aku...! Leo...!” Ujar Lia panik meraih pipi Leo dengan kedua tangannya.


 


Dengan senyum tulus di wajahnya, Leo memejamkan matanya dengan damai sesaat sebelum akhirnya Lia menangis memeluknya yang tak berdaya lagi.


 


“Leo...! Tidak, jangan pergi...! Jangan tinggalkan aku sendirian lagi...! Leo...!” Seru Lia memeluk Leo sambil terisak.


 

__ADS_1


Setiap pertemuan akan ada yang namanya perpisahan. Namun, Lia tidak mengira perpisahannya dengan Leo akan secepat ini dengan cara yang paling tragis. Meski pertemuan dengannya terbilang singkat, tetapi pemuda misterius itu membuat dunia Lia berubah setelah ia kehilangan segalanya. Kini, apakah Lia harus kehilangan untuk kedua kalinya?


__ADS_2