
Leo membuka matanya mendapati dirinya berada di tempat yang sangat asing baginya. Hanya terdapat dirinya seorang di dalam ruangan putih yang hampa. Sejauh mata memandang hanya ada kekosongan dan kehampaan yang menghiasinya. Leo mulai bertanya-tanya di mana sebenarnya sekarang ia berada.
“Tempat apa ini...? Hanya ada aku sendirian di sini... Tidak ada hal lain di sini... Tidak ada yang bisa dilihat, didengar, maupun dirasakan...” Ujar Leo melihat sekitar dengan wajah bingung.
Ia mulai melangkahkan kakinya berjalan menelusuri tempat aneh itu. Ia tidak tahu ke mana harus menuju, tetapi ia hanya bisa berharap ia bisa menemukan jawaban mengenai pertanyaan di kepalanya. Ia pun dengan samar-samar mulai mengingat kembali kejadian sebelum ia sampai di tempat ini.
“Benar juga... Aku baru saja... Baru saja... Ini aneh sekali, kenapa aku tidak bisa ingat kejadian sebelum aku datang ke sini...?” Sambung Leo bergumam sambil memegangi kepalanya bingung.
Untuk beberapa alasan, ingatannya terpotong tanpa sebab yang jelas. Ia tahu bahwa ingatan barusan masih memiliki sambungan, namun entah kenapa setiap kali ia berusaha mengingatnya ia tetap tidak mampu untuk mengingatnya.
“Ugh... Tidak ada gunanya, aku tetap tidak bisa mengingatnya... Aku tahu aku melupakan sesuatu yang sangat penting... Tetapi aku tidak bisa mengingatnya...” Ujar Leo dengan wajah kesal.
Leo mencoba mengabaikan masalah itu untuk saat ini. Yang lebih penting sekarang adalah mencari tahu di mana ia sekarang.
“Ara, apa kau sedang kebingungan, Leo?” Ujar sesosok suara misterius memecah keheningan.
Leo seketika terkejut mendengar suara yang baru saja bicara itu. Ia seketika membalikkan badannya begitu mendengar suara seseorang yang sangat dirindukan olehnya.
“I-Ibu...?!” Ujar Leo dengan wajah terkesima.
“Sudah lama tidak berjumpa, Leo kecilku...” Balasnya tersenyum hangat.
Wanita dengan rambut keperakan panjang dengan mata berwarna merah itu adalah ibu Leo. Ia tidak menyangka bisa bertemu kembali dengannya di tempat ini, karena harusnya dia sudah meninggal 4 tahun yang lalu sejak Leo meninggalkan desanya.
“Ara... Ada apa? Kenapa kau menangis seperti itu?” Ujar ibu Leo membungkuk di hadapannya yang mulai menangis.
Leo tidak kuasa menahan tangisannya begitu bertemu kembali dengan ibunya. Ia pun lantas memeluknya erat sambil menangis saat mendekapnya.
“Aku sangat merindukanmu... Aku merasa sangat kesepian setelah ibu pergi...” Ujar Leo terisak bahagia.
“Ibu juga merindukanmu, Leo... Sudah lama sekali sejak saat itu... Kau pasti melalui perjalanan yang berat sendirian ya...” Balas ibunya membelainya dengan nada lembut.
“Maafkan aku, ibu... Aku selalu membuat masalah untukmu hingga penduduk desa memperlakukanmu seperti itu... Aku mohon maafkan aku karena telah membawamu dalam kutukanku...” Ujar Leo menggertakkan giginya kecewa pada dirinya sendiri.
“Apa yang kau katakan? Itu semua bukan salahmu. Semua itu memang kehendak takdir, kita memang tidak bisa berbuat apa-apa lagi....”
“T-Tapi... Tetap saja, akulah yang membuat kalian berdua menderita karena merawatku...!”
“Sshhh.... Itu tidak benar. Hanya dengan kedatanganmu sudah menjadi anugerah bagiku dan ayahmu. Terlepas dari semua kekuranganmu, kau selalu sempurna di mata kami karena bersedia lahir ke dunia ini... Jadi, jangan salahkan dirimu sendiri, mengerti?”
Bersamaan dengan itu, sesosok suara lain yang Leo kenal ikut menanggapi ucapan ibunya.
“Ibumu benar, kau tahu? Tidak baik terus menyalahkan dirimu seperti itu.” Ujarnya muncul mengejutkan Leo.
“A-Ayah...?!” Balas Leo terkejut melihatnya.
Dia adalah seorang pria gagah dengan rambut keabu-abuan yang memiliki warna mata yang sama dengannya. Benar, dia adalah ayah Leo dan juga sekaligus salah satu Thearian. Ia tidak menduga akan bertemu kembali dengannya di tempat ini.
“Ya ampun, kau masih saja cengeng seperti dulu, Leo. Lelaki tidak boleh cengeng, kau tahu?” Balas ayahnya tersenyum lebar sambil menepuk bahunya.
“A-Ayah... Ayah....!”
Leo melepaskan pelukan ibunya sebelum memeluk ayahnya sebagai gantinya. Ia sangat bahagia bisa bertemu kembali dengannya meski dalam keadaan seperti ini.
“Oi. Oi. Ada apa? Apa sampai begitunya kau merindukanku?” Ujar ayahnya dengan nada bercanda.
“Tentu saja...! Mana mungkin aku melupakan ayah dan apa yang terjadi pada saat itu...!” Balas Leo dengan nada tinggi.
“Haha... Keras kepala seperti biasa jika menyangkut masalah itu, huh?” Balas ayah Leo tertawa singkat sambil menepuk punggungnya.
“Karena kesalahanku, ayah... Ayah... Ayah meninggal... Aku benar-benar menyesal... Aku benar-benar minta maaf... Jika saja aku diberkahi oleh dewa, mungkin semua itu tidak akan mungkin terjadi...!” Ujar Leo dengan nada kecewa.
“Itu sudah berlalu... Kau memang tidak berubah, jangan suka mengungkit hal yang tidak perlu, Leo. Semuanya hanya masa lalu, hanya itu dan seharusnya seperti itu. Kau tidak perlu membawanya sampai ke masa ini hanya karena kau menyesalinya.” Jawab ayahnya dengan nada lembut.
Leo terdiam sejenak meratapi masa lalu kelamnya mengenai ayahnya yang terbunuh oleh monster tepat di hadapannya. Itu adalah momen yang paling mengerikan baginya sekaligus sebagai pengingat kebencian Leo akan dirinya. Ia masih belum bisa memaafkan kejadian itu meski ayahnya sudah memaafkannya.
“Ayahmu benar, Leo, itu bukan salahmu. Jadi, jangan sakiti dirimu sendiri, mengerti?” Sambung ibunya membelainya lembut.
“Ibu... Ayah...” Gumam Leo terkesima.
“Ayolah, itu sudah tidak penting lagi. Aku tidak menyesalinya sedikit pun, karena memang sudah menjadi tugas ayah untuk melindungi anaknya. Jadi, cerialah dan keringkan air matamu. Semuanya baik-baik saja.” Balas ayahnya tersenyum sambil menangkannya.
“.... Mm.”
Leo menyeka air matanya setelah ia merasa tenang. Meski perasaannya masih campur aduk, ia sudah lebih baik sekarang berkat ayah dan ibunya.
“Apa kau sudah tenang sekarang?” Tanya ayah Leo melihat ke arahnya tersenyum.
“.... Begitulah.” Balas Leo tersenyum pahit.
“Kalau begitu, lama tak berjumpa, Leo. Kau sudah tumbuh dewasa, huh?” Ujar ayahnya dengan nada tenang dan berwibawa.
“.... Ya, senang berjumpa kembali denganmu, ayah. Aku senang sekali bisa bertemu lagi dengan ayah.” Balas Leo tersenyum tulus.
“Sudah 8 tahun sejak saat itu, huh..? Tidak kusangka kau akan menyamaiku dalam waktu secepat itu. Walaupun penampilanmu lebih mirip ibumu... Tetapi, aku senang melihatmu tumbuh menjadi seorang pria muda yang tangguh.” Ujar ayahnya sambil menepuk bahu Leo.
“Ara, sayang, apa maksudnya itu? Tentu sudah jelas, bukan? Karena dia adalah Leo kecilku, sudah semestinya dia terlihat sepertiku.” Balas ibunya dengan nada menggoda.
“Padahal aku berharap dia anak perempuan yang akan menuruni kecantikanmu, tetapi apa boleh buat...” Balas kembali ayahnya mengangkat bahunya sambil mengangkat dagunya.
“Apa kau tidak menyukai anak kita ini? Padahal saat dia kecil, kau selalu menggendongnya dan mengajaknya bermain meski aku sudah melarangnya!”
“Mau bagaimana lagi, dia sangat menggemaskan untuk kutolak! Aku jadi ingin bermain lebih lama dengannya!”
“Tapi aku tidak suka dengan permainan yang kau lakukan pada Leo kecilku!”
“Apa yang salah? Aku hanya bermain ayun lempar dengannya, tidak ada yang salah dengan itu, bukan?”
__ADS_1
“Tidak ada yang salah? Melemparnya sampai nyaris membentur atap itu tentu tidak salah. Benar, sangat normal, tentu saja!”
“Yah... Itu tidak sengaja... Aku juga tidak bermaksud seperti itu...”
Melihat mereka berdua bertengkar karena hal kecil membuat Leo mengingat masa lalunya yang indah bersama mereka. Meski di luar rumah ayahnya tegas, tetapi di dalam rumah dia seperti teman bermain bagi Leo. Ibu Leo juga tidak jauh berbeda, di luar ia adalah dokter yang hebat. Meski perlakuan warga desanya tidak terkesan ramah kepadanya, ibu Leo tetap menjalankan tugasnya dengan baik sebagai dokter bagi desa Thearian. Melihat mereka berdua bercanda seperti ini membuat rasa rindunya perlahan terobati.
“(Benar, sangat melegakan melihat mereka berdua baik-baik saja... Meski aku seperti melupakan sesuatu, aku tidak terlalu mempermasalahkannya... Bertemu kembali dengan mereka berdua sudah jauh lebih cukup bagiku...)” Ujar Leo di dalam hatinya gembira.
Di sinilah seharusnya ia berada, bersama dengan kedua orang tuanya. Satu-satunya tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus menyembunyikan apa pun.
“Ho? Kau terlihat senang. Jarang sekali melihatmu tersenyum seperti itu.” Ujar ayahnya dengan nada meledek.
“Apa senyumanku seaneh itu?” Balas Leo menggaruk rambutnya.
“Tidak, menurut ayah itu adalah senyuman tulus yang jarang kau perlihatkan. Setelah sekian lama, akhirnya kau menemukan sesuatu yang membuat hatimu bahagia...” Jawab ayahnya tersenyum senang melihat ekspresi Leo.
“B-Begitulah... Aku juga tidak yakin...” Balas Leo menundukkan kepalanya canggung.
“Ibu juga turut senang mendengarmu telah menemukan kebahagiaanmu sendiri. Sejujurnya, kami sedikit menyesal karena meninggalkanmu...” Ujar ibunya meraih pipi Leo dengan wajah sedih.
“E-Eh...?”
“Aku juga turut menyesal meninggalkanmu dan ibumu. Setelah kepergianku, warga desa mulai bertindak kasar kepada kalian berdua. Kalian berdua melalui tahun-tahun yang berat, bukan...?” Sambung ayahnya memeluk bahu ibunya.
“Tidak, itu tidak benar! Kalian berdua adalah orang tua terbaik yang bisa kuharapkan! Jadi, jangan salahkan diri kalian karenaku! Kalian sudah melakukan yang terbaik untuk merawatku meski dunia sangat kejam kepadaku... Terima kasih... Terima kasih banyak...! Aku bersyukur bisa lahir sebagai anak kalian...!” Balas Leo memeluk keduanya.
Mereka bertiga berpelukan untuk beberapa saat sebelum akhirnya ayah dan ibu Leo saling menatap satu sama lain dengan senyum di wajah mereka dan bicara dengannya.
“Mungkin, sudah saatnya kami kembali...” Ujar ayahnya menghela nafas singkat.
“Eh...? Apa maksud ayah...?” Tanya Leo terkejut dengan wajah bingung.
“Leo, ibu sangat senang bisa berbincang lagi denganmu. Tetapi, ini adalah perpisahan kita. Mungkin agak sepi jika tanpa kehadiranmu, tetapi kau masih memiliki tugas yang harus kau selesaikan, bukan?” Ujar ibunya tersenyum sayu sambil memiringkan kepalanya.
“Tugas...? Apa maksud ibu...? Aku sama sekali tidak mengerti...! Perpisahan...? Apa kalian akan kembali meninggalkanku...!” Balas Leo dengan wajah pucat bercampur sedih.
Mereka berdua perlahan memudar layaknya kabut yang tertiup angin saat Leo berusaha menangkap mereka.
“Tunggu...! Jangan pergi...! Ayah...! Ibu...! Jangan pergi...!” Seru Leo memeluk mereka berdua sambil menangis.
“Leo, ingatlah bahwa seorang lelaki selalu menepati janjinya. Maka, tepatilah janjimu kepadanya.” Sambung ayahnya tersenyum dengan wajah yakin.
“Kami mencintaimu, Leo. Sampai jumpa lagi...” Ujar ibunya dengan senyuman terakhirnya.
Mereka pun menghilang bagaikan abu yang terbawa oleh angin sesaat sebelum pemandangan putih itu berubah menjadi tempat mengerikan dengan kegelapan yang merajalela. Pada saat yang sama pula, Leo sadar bahwa dadanya hancur menyisakan darah yang berlumuran membasahi bajunya tepat ketika ingatan sebelum kematiannya kembali padanya.
“Ugh...! B-Begitu ya... Jadi itu sebabnya aku di sini... Aku pasti sudah mati...” Ujar Leo sebelum akhirnya memuntahkan darah dari mulutnya.
Ingatannya yang terpotong telah kembali bersama dengan semua rasa sakitnya. Itulah mengapa ia bisa bertemu kembali dengan orang tuanya yang telah lama meninggal. Aneh sekaligus tidak masuk akal, ia mencoba menahan sakit yang luar biasa itu, tetapi tak berselang setelahnya, kekuatan hitam aneh mulai menyelubunginya tepat pada bagian lukanya.
Leo tidak tahu apa yang terjadi, namun ia tahu itu bukan pertanda baik. Perlahan-lahan, kekuatan hitam itu memakan tubuhnya dan mengambil alih kendali atas dirinya saat sesosok suara berbicara kepadanya.
[Waktumu sudah habis...]
Seketika itu pula Leo membuka matanya bangun dengan wajah berlumuran keringat dingin. Dengan nafas terengah-engah, ia melihat sekelilingnya dengan perasaan ketakutan akan sesosok misterius yang bicara dengannya sebelumnya.
“(Apa yang barusan itu...? Siapa sosok mengerikan yang bicara denganku itu...? Hanya merasakan keberadaannya saja sudah membuatku ketakutan...)” Ujar Leo dalam hatinya gelisah.
Semua kejadian barusan terlalu nyata untuk disebut sebagai mimpi. Baik rasa sakit, ketakutan dan perasaan lainnya terasa begitu nyata bagi Leo saat berada di dalam sana. Siapa dia dan apa yang telah dilakukannya kepada Leo masih menjadi pertanyaan. Dengan hati cemas dan gelisah, Leo mencoba untuk tidak mengalihkan pikirannya sejenak untuk fokus kembali dengan keadaannya sekarang.
“(Aku tidak bisa mengingat apa pun setelah kejadian itu... Di mana aku sekarang...? Ruangan ini terlihat seperti ruang rawat inap rumah sakit...? Apa Lia yang membawaku kemari...?)” Ujar Leo dalam hatinya memperhatikan sekitarnya sekali lagi.
Sambil kebingungan, Leo melihat tubuhnya yang sudah terbalut perban menandakan bahwa luka yang dideritanya sudah ditangani dengan baik. Entah bagaimana cara Lia membawanya kembali ke kota dengan luka separah itu, yang jelas Leo berhasil tertolong berkat usaha Lia.
“(Aku pasti membuatnya repot lagi... Di mana dia sekarang..? Aku harap dia juga baik-baik saja setelah pertarungan itu...)” Ujar Leo dalam hatinya cemas.
Pada saat yang sama, pintu terbuka dengan Lia ada baliknya. Ia membawa sebuah penampan dengan beberapa obat di atasnya sesaat sebelum ia terkejut melihat Leo yang telah kembali sadar.
“L-Leo...” Bisik Lia dengan wajah terkejut.
Leo hanya bisa terdiam menyaksikan Lia yang tampak syok itu sebelum secara mengejutkan Lia menjatuhkan penampan berisi obat itu ke atas lantai hingga memecahkannya.
“Lia...!” Ujar Leo spontan bangun dari ranjangnya berusaha menghampirinya.
Namun, apa yang dilakukan Lia selanjutnya justru mengejutkan Leo. Dia memeluknya dengan erat sambil menangis saat Leo kebingungan dengannya.
“L-Lia...? A-Ada apa tiba-tiba seperti ini...?” Tanya Leo dengan wajah canggung.
“Syukurlah... Syukurlah kau sudah sadar... Kukira aku tidak akan pernah melihatmu lagi...” Balas Lia mendekapnya erat.
“U-Uh...”
Leo tidak tahu apa yang terjadi dengannya selama ia tidak sadarkan diri. Tetapi, jelas bahwa Lia sangat mencemaskannya. Ia pasti telah melalui banyak hal selama Leo terlelap di ambang kematiannya.
“(Benar, aku sudah membuatnya cemas... Aku tidak tahu lagi harus berkata apa dengannya...)” Gumam Leo dalam hatinya kecewa.
Lia menatap Leo dengan wajah sedihnya sebelum berkata kepadanya.
“Tolong jangan lakukan hal itu lagi... Aku tidak ingin kau pergi seperti Zille...” Ujar Lia menggenggam tangannya di dadanya sedih.
“... Maaf. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu.” Balas Leo memalingkan wajahnya kecewa.
“Aku sangat takut... Aku takut jika kau tidak akan pernah kembali lagi...” Ujar Lia membenamkan wajahnya dalam dekapan Leo.
Lia tampak sangat ketakutan selama ia tidak sadarkan diri. Tangannya ikut gemetaran saat menyentuhnya membuat Leo sadar betapa besarnya kekhawatiran Lia terhadapnya. Ia pun berusaha menenangkannya dengan membelai rambutnya meski hal itu terbilang kurang sopan bagi orang asing sepertinya.
“E-Eh...?”
__ADS_1
“Jangan khawatir... Itu tidak akan terjadi lagi...” Ujar Leo tersenyum kepadanya.
“.... Mm.”
Setelah beberapa lama, akhirnya Lia kembali tenang. Ia menyeka air matanya sebelum Leo mulai bertanya kepadanya mengenai keadaannya dan apa yang terjadi selama ia tidak sadarkan diri.
“Lia, bolehkah aku bertanya?” Ujar Leo melihat ke arahnya ragu.
“... Mm. Tentu.” Balas Lia sambil mengangguk singkat.
“Sudah berapa lama aku jatuh pingsan?” Sambung Leo bertanya kepadanya.
“Sekitar satu minggu...” Jawab Lia dengan wajah sedih.
Leo terkejut mendengar jawaban Lia. Ia tidak menyangka bahwa ia telah terlelap selama itu. Pantas saja jika ia sampai membuat Lia sangat khawatir.
“B-Begitu ya... Jauh lebih lama dari dugaanku... Apa yang terjadi padaku setelah kejadian itu?” Ujar Leo dengan wajah tercengang sebelum melanjutkan pertanyaannya.
“Setelah kau pingsan, pemburu dari desa datang karena mendengar suara guncangan dan gempa bumi. Aku meminta bantuan mereka untuk membawamu kembali ke kota...” Jawab Lia dengan wajah sedih.
“Sepertinya aku membuat mereka repot juga...” Gumam Leo dengan wajah cemas.
“... Itu benar. Lukamu sangat mencemaskan... Para dokter sampai kesulitan menyembuhkannya... Bahkan dengan sihir penyembuhan, lukamu masih sangat parah untuk bisa dipulihkan... Mereka juga mengatakan bahwa kau sudah tidak ada harapan lagi... Aku pun jadi sangat ketakutan... Aku sempat berpikir kalau kau tidak akan kembali...” Ujar Lia kembali menceritakan apa yang terjadi selama Leo kritis.
Leo termenung mendengar ceritanya. Banyak hal yang harus Lia hadapi hanya demi menyelamatkannya. Rasa cemas dan takut senantiasa menghantuinya yang membuatnya nyaris putus asa.
“(Aku tidak bisa menyangkalnya... Dia pasti berpikir kalau aku tidak akan selamat... Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa hidup lagi setelah menerima luka parah itu...)” Ujar Leo dalam hatinya kecewa.
Meski demikian, keteguhan hati Lia memang sangat luar biasa. Dalam keputusasaannya, ia masih terus berharap dan percaya bahwa suatu saat Leo pasti akan kembali dari masa kritisnya. Hal itu membuat Leo senang sekaligus menyesal karena telah membuatnya tertahan di rumah sakit ini hanya untuk menjaganya.
“.... Maaf membuatmu melalui semua itu, Lia. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa...” Ujar Leo dengan nada kecewa.
“Mhm... Aku senang melihatmu kembali.” Balas Lia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum bahagia.
“Dan satu lagi, agak kurang sopan mengatakannya secara langsung, tapi... Bagaimana dengan biaya rumah sakit dan pengobatanku?” Tanya Leo memalingkan wajahnya gugup.
“Masalah itu sudah ditanggung oleh Guild petualang.” Jawab Lia singkat.
“Guild petualang...?”
Lia menceritakan keadaan setelah Leo dibawa ke rumah sakit. Pihak Guild menghampiri Lia untuk menyampaikan pesan dari pemimpin Guild petualang bahwa Troll itu adalah ancaman dan pemerintah kota menetapkannya sebagai Bounty. Sebagai penghargaan atas penaklukannya, pihak Guild akan menanggung biaya perawatan Leo sekaligus memberikan beberapa keping emas sebagai hadiahnya.
“Begitu ya. Senang mendengarnya.” Ujar Leo menghela nafas lega setelah mendengar cerita Lia.
“Mm... Karena Roff dan party-nya gagal dalam misi itu, kita sebagai petualang yang kebetulan ada di hutan yang sama menggantikannya.” Balas Lia menambahkan.
“Lalu, bagaimana keadaan hutan saat ini? Apa ada tanda-tanda aneh lain?” Tanya Leo kembali dengan wajah serius.
“.... Entahlah. Aku tidak mendengar berita semacam itu beberapa hari ini. Memangnya kenapa?” Jawab Lia dengan wajah bingung.
Leo termenung mendengar jawaban Lia. Sepertinya kekhawatirannya mengenai kelompok Troll itu tidak terjadi. Alasan mengapa kota memberikan Bounty kepada Troll itu adalah adanya kemungkinan dia adalah anggota dari pasukan Troll.
Troll memang tidak suka hidup berkelompok, mereka lebih senang hidup menyendiri. Tetapi, jika mereka membentuk sebuah kelompok atau suku, maka sudah dipastikan mereka akan menjadi ancaman yang serius. Bahkan, ada yang mengatakan kalau suku Troll mampu mengancam sebuah negara. Itulah yang mendasari kenapa pemerintah kota menetapkan Troll yang mereka bunuh sebagai Bounty.
“Leo...? Ada masalah...?” Tanya Lia melihat ke arah Leo cemas.
“Hm? Ah, tidak. Bukan masalah. Aku hanya merasa lega karena semua itu sudah berlalu.” Balas Leo tersenyum kecil.
“Kalau ada masalah, tolong beritahu aku. Aku akan membantumu sebisaku.” Ujar Lia dengan wajah serius.
“A-Ah. Y-Ya, tentu.”
Lia terdiam sejenak mengerutkan bibirnya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk angkat bicara.
“M-Mengenai itu... Mungkin aku terlambat, tapi... Aku hanya ingin minta maaf...” Ujar Lia dengan wajah canggung.
“Minta maaf? Aku tidak ingat kau melakukan sesuatu yang salah kepadaku.” Balas Leo dengan ekspresi bingung.
“Jika bukan karenaku, kau pasti tidak berada di sini dengan situasi antara hidup dan mati... Kau jadi seperti ini karena berusaha melindungiku... Aku tidak tahu lagi harus bagaimana mengucapkan maaf... Maafkan aku, Leo... Maaf telah membuatmu jadi seperti ini...” Ujar Lia menundukkan kepalanya menyesal.
Entah ini hanya perasaannya saja, tetapi Leo merasa bahwa Lia tampak berbeda dari biasanya. Dia jadi lebih banyak bicara dari sebelumnya dan seperti lebih memperhatikannya. Mungkin karena kejadian itu, Lia menjadi khawatir dengan keadaannya mengingat ia masih menyalahkan dirinya mengenai masalah itu.
“Tidak apa-apa, Lia. Kau tidak salah... Itu semua salahku karena aku gegabah... Aku tidak sadar siapa lawanku dan tanpa pikir panjang melawannya... Jadi, jangan salahkan dirimu...” Ujar Leo membelai rambutnya sambil tersenyum kepadanya.
“E-Eh...? T-Tapi... Jika bukan karena aku tertangkap olehnya, kau pasti...” Balas Lia mencoba menyangkalnya.
“Lia, aku melakukan itu semua karena keinginanku. Agak malu mengatakannya, tetapi... Aku hanya ingin melindungi orang berharga bagiku... Aku tidak ingin melihat orang yang kukasihi tewas di depan mataku... Tidak lagi...” Ujar Leo memotongnya dengan nada serius.
“E-Eh...?”
Lia seketika terkesima mendengar ucapan Leo mengenai dirinya. Wajahnya mulai merah saat Leo tersipu malu sadar dengan apa yang baru saja ia katakan kepadanya.
“A-Ah...! Maaf, ini bukan seperti yang kau pikirkan...! Aku tidak sengaja mengatakannya...!” Ujar Leo dengan wajah malu dan panik.
“....”
“T-Tolong lupakan yang barusan...! Aku pasti masih mengigau...! Tolong jangan hiraukan ucapanku barusan...!”
Lia hanya diam melihat Leo yang mulai panik setelah mengatakan hal memalukan itu kepadanya. Perkataan Leo membuat Lia sangat senang hingga ia tidak tahu lagi harus menjawab apa.
“(Melihat orang yang kukasihi tewas lagi, huh..? Kau lagi-lagi menyembunyikan sesuatu...)” Ujar Lia dalam hatinya cemas.
Pada saat yang sama pula, Lia merasa bahwa ucapan Leo memberinya peringatan. Ia telah melalui hal mengerikan jauh dari apa yang Lia bayangkan, namun dia masih berusaha membuatnya mengabaikan rasa khawatirnya.
“(Leo, kau benar-benar misterius... Kau ramah dan pada saat yang sama kau dingin... Kau bagaikan air yang menghanyutkan sekaligus api yang membara... Aku ingin tahu lebih banyak mengenai dirimu... Aku ingin tahu siapa sebenarnya dirimu...)” Ujar Lia dalam hatinya melihat ke arah Leo penasaran.
Leo telah melalui masa sulitnya bersama Lia yang selalu di sisinya. Hubungan mereka terjalin tanpa sadar, namun apakah mereka masih saling menerima jika satu persatu rahasia mereka terungkap?
__ADS_1