Black Arc Saga

Black Arc Saga
Kegelapan dari masa lalu


__ADS_3

Sementara itu, Wein dan Gideon yang memimpin penyelidikan pada jalur baru yang dipetakan oleh Gald sebelumnya mulai menunjukkan adanya kejanggalan. Saat mereka masuk lebih dalam mengikuti jalur yang ada, tiba-tiba salah satu dari anggota regu mereka merasakan sesuatu yang dirasa mencurigakan.


 


“Tuan Wein, bisa tolong berhenti sejenak? Temanku merasa menemukan sesuatu...” Ujar salah seorang petualang menghentikan mereka.


 


“Hm? Ada apa?” Tanya Gideon melihat ke arah Wein.


 


“Entahlah, mungkin dia mendeteksi sesuatu...” Balas Wein kepada Gideon sebelum menghampiri mereka.


 


Wein menghampiri petualang yang mengatakan itu untuk bertanya lebih lanjut mengenai apa yang ditemukannya.


 


“Apa yang kau tangkap? Apa itu musuh?” Tanya Wein kepadanya.


 


“Tidak... Dari pada disebut musuh, ini lebih sulit dijelaskan...” Balas petualang itu sambil menaruh jari di antara pelipis dan telinganya.


 


“Apa maksudmu?” Balas Gideon ikut bertanya.


 


“Aku seperti merasakan adanya energi sihir yang luar biasa di depan kita, namun entah kenapa terasa sangat tidak biasa... Pancaran energinya berubah-ubah seperti dalam kondisi yang tidak stabil...” Jawab petualang itu memejamkan matanya dengan ekspresi ragu.


 


Wein dan Gideon saling menatap satu sama lain dengan ekspresi kebingungan. Mereka tidak mengerti apa yang petualang itu katakan, namun sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Setidaknya, itulah yang mereka simpulkan untuk saat ini sebelum akhirnya mereka kembali bicara dengannya.


 


“Di mana tepatnya lokasi keanehan itu?” Tanya Gideon kepadanya.


 


“Saya tidak yakin... Tapi sejauh yang saya rasakan, energi itu berasal dari apa yang ada di balik ujung jalur ini. Kemungkinan besar, ada tempat lain yang menanti kita di ujung gua ini. Di sanalah sumber kekuatan aneh ini berasal...” Jawab petualang itu dengan wajah serius.


 


“Jadi dia ada di ujung jalan, huh? Kira-kira berapa jarak kita dengan ujung gua ini?” Gumam Gideon sebelum bertanya kepadanya.


 


“Sekitar 250 meter di depan. Kita hampir sampai...” Balasnya singkat dan yakin.


 


Mendengar hal itu, Gideon lantas memerintahkan regunya untuk kembali bergerak untuk mencari tahu apa yang dimaksud oleh petualang tersebut.


 


Di sisi lain, setelah menemukan tahanan yang tewas mengenaskan di balik dinding lorong tersebut, Leo dan teman-temannya memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan meski perasaan takut dan cemas menyelimuti hati mereka. Bagi Gald dan lainnya, mungkin ini adalah pemandangan yang mengerikan, namun bagi Leo ia tidak terlalu terkejut. Selama ia berkelana, ia telah melihat banyak hal yang tragis dan mengerikan sehingga semua itu tidak lagi mengejutkannya. Hanya saja, melihat ekspresi Kirishima dan Chrea, ia mulai ragu untuk mengajak mereka meneruskan penelusuran di tempat ini. Ia yakin bahwa hal seperti ini pasti akan menyambut mereka di depan sana.


 


“(Aku merasa prihatin dengan mereka berdua... Apa mereka masih bisa ikut bersama kami...? Atau sebaiknya aku menyuruh mereka untuk berhenti sampai di sini...?)” Ujar Leo dalam hatinya cemas sambil menatap mereka diam-diam.


 


Meski ia tahu mereka sudah membulatkan tekadnya, tetapi jika hal ini terus berlanjut, mungkin sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.


 


“Gald, bisa kita bicara sebentar?” Ujar Leo menghampiri Gald yang sedang menenangkan Chrea.


 


“Ah. Leonard, ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan?” Balas Gald dengan wajah tegang.


 


“Mengenai itu... Chrea, aku minta maaf, tapi bolehkah aku bersama Gald sejenak? Aku tidak akan lama...” Balas Leo sebelum bicara kepada Chrea dengan nada halus.


 


“M-Mm... Aku sudah baikan. Silahkan saja, aku tidak akan mengganggu kalian berdua...” Balas Chrea tersenyum pahit sebelum meninggalkan mereka.


 


“Jangan memaksakan dirimu...” Sambung Gald membantunya sesaat sebelum melepaskannya.


 


Setelah Chrea pergi, Leo pun mulai bicara serius kepada Gald.


 


“Gald, aku rasa—“ Ujar Leo terpotong.


 


“Ya. Aku mengerti. Ini tentang mereka berdua, bukan? Aku sudah menduga kau akan membicarakan hal itu...” Ujar Gald memotong Leo.


 


“.... Kalau begitu, aku tidak perlu menjelaskannya lagi.” Balas Leo menghela nafas singkat.


 


“Sejujurnya aku juga cemas dengan mereka berdua. Aku juga sempat terkejut dan syok pada awalnya, namun aku bisa mengendalikan diriku sehingga aku masih sanggup untuk ikut bersama kalian berdua. Tetapi, aku rasa agak sulit menjelaskannya kepada mereka...” Balas Gald memalingkan wajahnya ragu.


 


“Aku juga tahu itu. Tetapi, tidak ada orang lain yang mengenal mereka sebaik dirimu. Aku hanya bisa berharap semoga kau bisa meyakinkan mereka...” Balas Leo menepuk bahunya sebelum meninggalkannya.


 


Leo meninggalkan Gald untuk menentukan keputusannya sendiri terhadap Chrea dan Kirishima. Meski dalam hatinya ia masih tidak yakin mampu mengatakannya, tetapi demi kebaikan mereka sendiri, ia harus bicara. Bukan sebagai kapten, melainkan sebagai kakak mereka.


 


“Baiklah...” Gumam Gald mematangkan hatinya.


 


Setelah meyakinkan diri, ia pun menghampiri mereka berdua yang tengah beristirahat sejenak setelah nyaris syok melihat keadaan yang ada di tempat ini.


 


Sementara itu, Leo yang mengamati percakapan mereka dari kejauhan memutuskan untuk menyerahkan hasilnya kepada Gald. Saat ini, hanya dia yang bisa membujuk mereka.


 


“Semoga saja dia bisa membujuk mereka meninggalkan tempat ini...” Gumam Leo melihat ke arah mereka sejenak sebelum memalingkan pandangannya.


 


“... Sepertinya itu tidak berjalan mulus.” Balas Lia melihat ke arah mereka.


 


“Yah, setidaknya kita bisa menyerahkan masalah itu kepadanya. Yang lebih penting sekarang adalah kita sudah mendapatkan petunjuk mengenai asal makhluk yang ada di sini. Meski awalnya terkejut, tetapi sekarang aku mulai paham apa yang terjadi...” Balas Leo sebelum mengganti topik.


 


“... Kemungkinan besar, di depan sana adalah laboratorium tempat orang-orang dari kerajaan kuno melakukan eksperimen itu kepada para tahanan.”


 


“Kemungkinan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa mendapatkan ide segila ini dengan menggabungkan manusia dengan mesin...”


 


“Dengan alkimia, itu semua mungkin untuk dilakukan.”

__ADS_1


 


“Benarkah...?”


 


“Tapi hal itu dilarang karena dianggap tabu. Alkimia yang memakai manusia dan hewan sebagai subjeknya dianggap terlalu keji dan tidak manusiawi. Itulah mengapa kode etik diciptakan untuk mencegah hal itu terjadi.”


 


“Tapi kurasa hal itu tidak berlaku di sini...”


 


Kenyataannya kode etik alkimiawan tidak berlaku di sini. Memang ada kemungkinan kode etik itu ditemukan setelah peradaban ini hancur, namun tetap saja hal itu tidak bisa menutup apa yang ada di sini. Bagaimana mereka melakukannya dan kenapa mereka melakukannya akan segera terjawab.


 


Setelah beberapa saat, akhirnya Gald berhasil membujuk Chrea dan Kirishima untuk kembali dan mengurungkan niat mereka untuk terus menjelajahi tempat ini bersama yang lain. Meski tidak mudah, pada akhirnya ia berhasil melakukannya dengan sedikit bantuan dari Zen.


 


“Bagaimana hasilnya? Apa mereka setuju untuk tinggal?” Tanya Leo ketika Gald dan Zen menghampirinya.


 


“Ya. Meski keras kepala, setidaknya aku bisa meyakinkan mereka. Mereka benar-benar merepotkan...” Balas Gald sebelum menghela nafas panjang.


 


“Kau menyuruh mereka untuk tinggal di sini?” Balas Leo kembali bertanya.


 


“Tidak, aku menyuruh mereka untuk kembali ke bangunan utama dan menunggu kita di sana. Aku yakin regu lain akan segera menemukan mereka...” Balas Gald melihat ke arah Chrea dan Kirishima yang beranjak pergi.


 


“Baguslah kalau begitu. Aku tidak ingin mereka melihat hal mengerikan lainnya yang menanti kita...” Balas Leo menghela nafas lega.


 


“Aku heran bagaimana bisa kau dan Alicia bisa memiliki keteguhan itu. Yah, sebagai petualang kelas menengah seperti kalian itu sudah menjadi hal yang wajar...”


 


“Banyak hal yang terjadi...”


 


“Begitu ya? Kurasa kau memang benar...”


 


Setelah berhasil membujuk Chrea dan Kirishima untuk kembali, mereka berempat pun melanjutkan penyelidikan mereka. Dengan penuh waspada, mereka perlahan menghampiri ruangan tersebut dengan membawa senjata di tangan mereka sebelum akhirnya terkejut menyaksikan apa yang ada di balik ruangan tersebut.


 


“....!!”


 


Ekspresi mereka semua seketika berubah begitu menyaksikan isi ruangan tersebut. Tabung kaca, ruangan itu dipenuhi dengan tabung kaca berukuran besar dengan berbagai macam hal-hal mengerikan di dalamnya. Gald dan Zen seketika muntah menyaksikan semua hal itu ketika Leo dan Lia hanya bisa terdiam membisu menyaksikan fakta.


 


“A-Apa-apaan ini...! Apa maksud dari semua ini...!” Ujar Gald dengan nafas berat menyeka bibirnya.


 


“Ugh...! T-Tidak mungki—“ Gumam Zen sebelum kembali muntah menyaksikan apa yang ada.


 


Di dalam tabung itu, terdapat hasil eksperimen orang-orang kuno itu. Mereka semua adalah korban yang dijadikan subjek penelitian, tidak hanya orang dewasa, bahkan anak-anak hingga bayi ikut menjadi bahan uji coba. Beberapa dari mereka tampaknya menjadi bahan eksperimen persilangan antara manusia dengan monster. Terlihat dari beberapa bagian tubuh mereka yang memiliki ciri seperti monster entar itu tangan, kaki maupun tambahan organ lain seperti ekor dan tanduk.


 


“Jadi ini yang ingin mereka sembunyikan dari dunia... Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu membangun kota ini jauh di dalam bumi...” Ujar Leo dengan nada kecewa.


 


 


“Bahkan setelah mereka musnah, dosa mereka tetap tidak bisa dimaafkan...” Balas Leo ekspresi marah.


 


Tidak hanya memanfaatkan manusia sebagai subjeknya, mereka juga melibatkan anak-anak dan bayi yang tidak berdosa. Hal ini jelas sangat kejam dan tidak manusiawi serta tindakan mereka sudah melebihi batas.


 


Selain eksperimen persilangan itu, Leo juga menemukan beberapa eksperimen yang gagal. Di antara mereka adalah janin yang gagal tumbuh serta beberapa masala lain yang berdasarkan pada hukum biologis. Tidak hanya itu, saat tengah berkeliling, Leo menemukan jejak eksperimen mengenai makhluk setengah mesin itu. Ia menemukan ruangan yang digunakan oleh orang-orang kuno tersebut untuk menciptakan manusia mesin beserta beberapa orang yang menjadi korban di dalamnya. Terlihat beberapa dari korban sengaja dibedah dan diamputasi untuk selanjutnya disatukan dengan alat atau pun senjata. Dan yang lebih buruk, Leo bisa melihat hal itu dilakukan dengan unsur paksaan tanpa adanya persetujuan dari korban. Terlihat dari mayat mereka yang menunjukkan ekspresi ketakutan sebelum kematiannya.


 


“(Dari dahulu aku memang tahu bahwa monster yang sebenarnya adalah manusia, tetapi aku tidak menyangka mereka akan bertindak sampai sejauh ini... Mereka tidak pantas disebut sebagai monster lagi...)” Ujar Leo dalam hatinya kecewa.


 


Dengan ini, spekulasi Lia mengenai kota ini telah terbukti. Alasan mengapa orang-orang dari kerajaan kuno itu membangun kota ini adalah untuk melakukan penelitian tentang ras campuran dengan tujuan menjadikan mereka sebagai senjata perang. Satu pertanyaan terjawab sudah, kini pertanyaan yang tersisa adalah pertanyaan milik Leo.


 


Selesai memeriksa hal yang menarik perhatiannya, Leo pun kembali pada Gald dan Zen yang terlihat syok setelah menyaksikan isi ruangan tersebut. Mereka hanya bisa terduduk lemah di dekat lorong sambil mencoba memulihkan keadaan mereka ketika Leo menghampiri mereka.


 


“Bagaimana keadaan kalian berdua?” Tanya Leo sambil menawarkan botol air miliknya.


 


“Ah. Maaf merepotkanmu... Kami sudah lebih baik sekarang...” Balas Gald dengan wajah pucat menerimanya.


 


“Begitu ya. Kalian boleh beristirahat sampai kalian pulih. Aku dan Alicia akan menyelidiki tempat ini...” Balas Leo sebelum kembali ke ruangan itu meninggalkan mereka.


 


Namun, sebelum Leo melangkah pergi, Gald menghentikannya.


 


“Leonard, tunggu...!” Ujar Gald menghentikannya.


 


“Hm? Ada apa?” Balas Leo berbalik ke arahnya.


 


“Bagaimana perasaanmu melihat semua hal ini...? Apa kau tidak merasa prihatin atau kasihan melihat para korban itu...?” Balas Gald bertanya kepadanya dengan wajah ragu.


 


“.... Perasaanku, huh?” Balas Leo memalingkan wajahnya dengan ekspresi dingin.


 


“Kalau boleh berkata jujur... Saat kau melihat pada tawanan dan para korban, aku merasakan tatapan amarah dari matamu. Dari pada merasa iba atau kasihan, kau justru mengobarkan kemarahan di hatimu seperti seolah menyimpan dendam kepada orang-orang kuno itu...” Ujar Gald dengan wajah cemas.


 


“....”


 


Pada saat yang sama, Lia datang memotong pembicaraan. Leo yang semula berekspresi dingin kini memasang senyumnya ketika Lia menghampirinya.


 


“Lia, ada apa? Apa kau menemukan sesuatu?” Tanya Leo memutar pandangannya ke arahnya.

__ADS_1


 


“... Aku menemukan sesuatu di ujung ruangan ini.” Jawab Lia singkat sebelum melirik ke arah Gald dan Zen.


 


“Begitu ya. Mari kita lihat apa yang kau temukan...” Balas Leo bergegas pergi.


 


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Leo meninggalkan Gald dan Zen begitu saja tanpa memberikan jawaban yang jelas. Gald menghela nafas panjang ketika melihat mereka berdua kembali masuk ke dalam ruangan itu sebelum Zen berbicara dengannya.


 


“Leonard-san sepertinya menyembunyikan banyak hal di dalam dirinya...” Gumam Zen melihat ke arah mereka berdua.


 


“Ya, aku juga merasa demikian. Dia terkesan menahan dirinya sendiri dan terbiasa melakukannya. Terkadang hal itu diperlukan, namun jika terlalu sering menahannya hanya akan menyakiti hati kita sendiri...” Balas Gald menurunkan bahunya menundukkan pandangannya merenung.


 


“Apa dia sadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini berpengaruh buruk bagi dirinya sendiri?” Balas Zen bertanya dengan wajah prihatin.


 


“Entahlah, aku juga tidak tahu. Tetapi, aku yakin ada alasan khusus yang membuatnya jadi seperti itu...” Balas Gald sebelum akhirnya bangun dari duduknya.


 


Ia pun mengulurkan tangannya membantu Zen untuk bangun sebelum ia kembali bicara dengannya.


 


“Apa pun itu, sebaiknya kita kesampingkan saja. Saat ini tugas kita adalah berjuang bersama sebagai rekan sesama party.” Ujar Gald dengan nada serius.


 


“Ya. Bagaimana pun juga kita adalah teman mereka!” Balas Zen meraih tangannya dengan senyum percaya diri.


 


“Hingga saat terakhir, kita adalah anggota...” Balas Gald dengan percaya diri di hatinya.


 


Mereka berdua pun akhirnya menyusul Leo dan Lia. Meski perasaan syok mereka belum sepenuhnya menghilang, setidaknya mereka berdua berusaha memenuhi tugas mereka sebagai petualang. Ke mana pun mereka berdua pergi, sudah sewajarnya Gald dam Zen ikut bersama mereka sebagai rekan sesama anggota.


 


Sesampainya di ujung lorong, Leo dikejutkan dengan sebuah elevator yang ditemukan oleh Lia sebelumnya. Tidak seperti elevator yang mereka gunakan di tambang, elevator itu terlihat lebih baik dengan penampilan yang elegan.


 


“Ini... Apakah mungkin elevator?” Tanya Leo dengan wajah bingung.


 


“... Mm. Sepertinya elevator ini membawa kita turun, dengan kata lain...” Balas Lia melihat ke arahnya serius.


 


“Ada ruangan rahasia lain yang masih tersembunyi.” Jawab Leo melengkapi kalimat Lia.


 


Tak lama berselang, Gald dan Zen datang menghampiri ketika Leo dan Lia sedang mendiskusikan masalah tersebut.


 


“Apakah ini elevator...? Aku belum pernah melihat model yang seperti ini...” Ujar Gald terpukau melihatnya.


 


“Benar... Ini tidak terlihat elevator sama sekali...” Balas Zen ikut terpukau.


 


“Gald... Zen... Kukira kalian sedang istirahat.” Ujar Leo dengan wajah cemas.


 


“Tidak, kami sudah baikan. Walau memerlukan beberapa waktu untuk pulih, tetapi kami sudah sepenuhnya siap untuk kembali bertarung jika diperlukan.” Balas Gald dengan wajah percaya diri.


 


“Ya. Kami siap kapan pun kalian membutuhkan kami!” Sambung Zen tersenyum percaya diri.


 


Meski sempat ragu, pada akhirnya Leo mengizinkan mereka berdua untuk ikut bersamanya dan Lia menaiki elevator tersebut. Tidak seperti kebanyakan elevator yang ada, elevator itu tidak menggunakan tuas maupun katrol sebagai mekanisme penggeraknya. Elevator itu secara otomatis bekerja dengan sendirinya setelah semua orang memasukinya. Entah bagaimana menjelaskannya, namun sepertinya benda ini juga merupakan salah satu penemuan mengagumkan orang-orang dari kerajaan kuno itu.


 


Dengan suara mekanisme yang dapat terdengar, elevator itu terus membawa mereka turun hingga akhirnya mereka sampai pada tujuan akhir mereka, yaitu bagian paling dasar dari bangunan tersebut.


 


“....?!”


 


Begitu melangkah keluar, pandangan mereka disambut dengan sebuah ruangan terbuka yang sangat luas dengan gerbang batu besar dengan simbol ukiran pada bagian tengahnya terletak di sebrang mereka. Takjub sekaligus kebingungan, hanya itu yang bisa menggambarkan keadaan mereka saat ini ketika menyaksikan apa yang ada di hadapan mereka.


 


“Ini benar-benar tidak terduga...” Gumam Leo terkesima.


 


“Tidak kusangka ada ruangan bawah tanah lain di bawah ruang bawah tanah... Terlebih, apa-apaan itu... Apakah itu gerbang...?” Ujar Zen dengan wajah heran.


 


“Tunggu, ada sesuatu di tengah-tengahnya... Apa itu sebuah simbol...? Apa jangan-jangan itu simbol dari kerajaan kuno yang mendirikan semua ini...?” Ujar Gald dengan pertanyaan memenuhi benaknya.


 


“Sepertinya memang begitu... Tapi itu terlihat sangat kuno dan sulit dilihat dari sini... Mungkin sebaiknya kita mendekatinya...” Balas Zen beranjak menghampiri gerbang tersebut.


 


Namun, tepat ketika Zen berniat berjalan menuju gerbang tersebut, Leo secara mengejutkan menghentikan langkahnya dengan menyilangkan lengannya di hadapannya seperti mencegahnya untuk maju.


 


“Tunggu, jangan lakukan itu.” Ujar Leo dengan nada serius.


.”U-Uh... Ada apa, Leonard-san?” Tanya Zen kebingungan.


 


“Aku merasakan ada sesuatu yang aneh di sekitar sini...” Balas Leo dengan sikap waspada.


 


“Apa maksudmu?” Tanya Gald ikut bingung.


 


Leo mengambil sebuah kerikil yang merupakan pecahan dari langit-langit yang roboh yang kebetulan berada di dekat kakinya sebelum akhirnya melemparkannya menuju ke tengah-tengah tempat tersebut. Secara mengejutkan, sebuah kekuatan misterius menghancurkan kerikil tersebut ketika ia tengah melayang menuju ke arah gerbang itu sesaat sebelum rangkaian sihir raksasa menampakkan diri.


 


“A—“


 


Lingkaran sihir lain juga muncul pada gerbang tersebut. Tidak hanya satu rangkaian sihir saja, pada gerbang itu tertempel tiga rangkaian sihir tingkat tinggi yang saling mengunci satu sama lain. Gald dan Zen hanya bisa terdiam terperanga menyaksikan hal tersebut ketika Leo dan Lia menyadari tempat apa sebenarnya yang mereka temukan.


 


“Leo...” Bisik Lia dengan tatapan tajam.

__ADS_1


 


“Ya. Kita menemukannya. Sumber dari semua masalah ini...” Balas Leo dengan wajah serius.


__ADS_2