
Lia akhirnya sampai di tempat tepat ketika ia melihat Leo tengah berhadapan dengan pemimpin perampok bernama Bull itu. Kekhawatirannya menjadi kenyataan, Leo terlihat kewalahan melawannya. Seperti yang dikatakan oleh petualang wanita itu, mereka bukan kelompok perampok biasa.
“(Leo membutuhkan bantuanku...! Aku harus segera menolongnya...!)” Ujar Lia dalam hatinya memutuskan.
Namun, ketika Lia hendak pergi menyebrangi sungai, anak buah Bull menyadari kehadirannya sesaat sebelum mereka mulai mencegahnya. Mereka lantas mengepung Lia ketika melihatnya berniat ikut campur pada duel mereka.
“Hey, lihat apa yang kita dapatkan di sini.” Ujar salah seorang anak buah menyeringai melihat Lia.
“Heh... Nona, kau pikir kau mau ke mana? Di sana bukanlah tempat untuk gadis cantik sepertimu.” Sambung anak buah lain menggodanya.
“... Enyahlah. Aku tidak punya urusan dengan kalian.” Balas Lia dengan nada dingin.
“Oi. Oi. Dingin sekali. Kita padahal sudah bicara dengan nada sopan.” Balas anak buah pertama kembali menggodanya.
“Apa jangan-jangan kau teman si rambut putih itu?” Balas anak buah ketiga bertanya dengan senyum menyeringai.
“Heh. Kau datang untuk menolongnya, huh? Manis sekali...” Ujar anak buah kedua tertawa.
Mereka mulai mengerubungi Lia tepat ketika ia secara cepat menarik pedangnya dari sarungnya. Secepat kilat ia mengayunkan serangannya pada orang-orang yang berusaha menyentuhnya. Dan tepat di saat Lia mengibaskan pedangnya, tangan mereka terpotong sesaat sebelum darah mereka bercucuran keluar.
“Aaaaargghhhh...!! T-Tanganku...!!”
“Aaaaaaaa...!!!”
Mereka yang lengannya putus seketika itu pula berteriak kesakitan ketika yang lainnya panik menyaksikannya. Pada saat yang sama pula, mereka baru sadar bahwa Lia bukan hanya sekedar gadis biasa yang memegang pedang, dia jauh lebih ahli dalam menggunakannya melebihi petualang yang sebelumnya mereka bunuh.
“M-Menjauh darinya...! Dia berbahaya...!” Ujar salah seorang anak buah yang tersisa dengan wajah panik.
“Si ****** ini...! Beraninya kau...!” Seru salah seorang dari mereka berniat melawan.
Pria itu mengeluarkan belatinya dan berniat menikam Lia dari belakang. Namun, Lia yang telah menyadari niatnya seketika menghindar sesaat sebelum ia menyerang balik dari posisi yang tidak terduga. Lia menebas tubuhnya searah dengan posisi hatinya merangkak naik menuju dadanya meninggalkan luka fatal baginya sesaat sebelum ia menyerang anggota lainnya.
“Wanita ini berbaha—“
Lia menusuk jantung pria itu sebelum ia sempat bereaksi. Pria itu seketika tewas sesaat Lia menarik kembali pedangnya yang berlumuran darah dari mayatnya ketika mereka yang tersisa ketakutan menyaksikannya.
“D-Dia ahli pedang...! J-Jangan dekat-dekat dengannya...!” Ujar salah seorang dari mereka panik.
“J-Jangan bercanda...! Kita masih lebih unggul dalam hal jumlah darinya...! Jangan biarkan ketakutan itu menguasai kalian...! Ingat bahwa kita adalah Black Viper...!” Balas seorang dari mereka menguatkan yang lainnya untuk tetap bertarung.
“T-Tapi... Lihat saja keahliannya...! Dia pasti petualang tingkat Ornite...!” Balas yang lain dengan wajah putus asa.
“Dia benar...! Mungkin saja wanita itu petualang Ornite...! Kita jelas bukan tandingannya...!” Balas yang lainnya ikut menentang.
Melihat perdebatan mereka, Lia merasa diuntungkan oleh situasi ini karena sebenarnya ia juga nyaris mencapai batasnya. Ia sepertinya terlalu memaksakan diri ketika ia mendengar kabar Leo yang tengah bertarung melawan kelompok mereka. Keadaannya bertambah buruk setelah sebelumnya ia menggunakan seluruh kekuatannya untuk berlari menuju kemari. Ditambah, akibat bertarung melawan mereka, kini luka yang ada di tubuhnya kembali terbuka.
“(Jika aku terlihat sakit sekarang, maka akan menjadi kesempatan bagi mereka untuk menyerangku... Aku harus bertahan sekuat mungkin...!)” Ujar Lia dalam hatinya sambil menahan sakit.
Dalam keadaan ini, akan sulit bagi Lia untuk menyerang maupun bertahan. Namun, selama mereka belum mengetahui lukanya, setidaknya ia bisa mengendalikan situasinya. Sisanya, ia hanya harus memikirkan cara lain agar bisa mengalahkan mereka tanpa bertarung secara langsung.
Di sisi lain, Leo dikejutkan oleh kedatangan Bull yang secara tiba-tiba berada di depannya. Bull dalam mode serius seketika melancarkan tinjunya tepat ketika secara mengejutkan mata Leo kembali berubah sesaat sebelum tinju itu mengenainya. Untuk sekilas ia melihat kedatangan serangan itu sesaat sebelum refleksnya bergerak untuk melindunginya.
“Ugh...!”
Namun sayang, refleks Leo terlambat dan tinju itu mengenai wajahnya setelah melewati tangannya yang berusaha melindunginya. Ia pun kembali terlempar oleh tekanan udara kuat yang ada pada pukulan tersebut hingga membuatnya terhempas sejauh puluhan meter darinya.
Leo menghantam tanah dengan tubuhnya setelah melayang beberapa saat setelah menerima serangan tersebut. Namun, rupanya serangan Bull masih berlanjut. Tepat ketika Leo mengambil posisi mendarat, Bull kembali datang dengan tiba-tiba tepat di sampingnya sesaat sebelum ia mengayunkan tinjunya.
“....!”
Dan sama seperti sebelumnya, mata Leo kembali berubah sesaat sebelum ia menerima serangan tersebut dan kembali terhempas oleh pukulan tersebut. Ia melayang sejauh belasan meter sebelum akhirnya berguling di atas rumput ketika Bull melompat dari atas udara berniat menghantam Leo dengan kakinya.
“Habislah kau...!!” Seru Bull melancarkan serangannya.
Leo yang menyadari hal tersebut lantas mengatur posisi tubuhnya agar berhenti berguling sesaat sebelum ia melompat mundur sejauh yang ia bisa dengan bantuan kedua tangannya. Bull menghantam tanah dengan hebat tidak berselang setelah Leo melakukannya. Seketika itu pula tanah di sekitarnya amblas dan hancur beterbangan bersamaan dengan hembusan udara yang kuat menyapu area di sekitarnya. Beruntung, Leo sempat menghindar sesaat sebelum kejadian tersebut menimpanya.
“....”
Bull yang menyadari serangannya meleset seketika memutar pandangan marahnya ke arah Leo yang berada di sebrang kepulan debu itu sesaat sebelum ia melesat ke arahnya. Memanfaatkan kepulan debu yang menutupi pandangan mereka, Bull berniat melancarkan serangan kejutan kepadanya yang tengah lengah. Dalam hitungan detik, Bull telah berada di samping Leo bersiap mengerahkan serangannya tepat ketika secara tidak terduga Leo menatap langsung kepadanya.
“....?!”
“....!”
__ADS_1
Untuk sesaat mata mereka saling bertemu. Pada saat itulah Bull menyadari ada sesuatu yang berbeda dari tatapannya sesaat sebelum akhirnya Leo menghindar ketika Bull mengayunkan tinjunya. Serangannya meleset meninggalkan hempasan kuat yang menerbangkan rerumputan yang ada di sepanjang jalurnya tepat sebelum Leo membalas serangannya.
“....?!”
Ia mengayunkan tendangan ke arahnya dari arah yang tidak terduga hingga membuat Bull terkejut menyadarinya. Namun, sesaat sebelum serangan itu mengenai tubuhnya, secara mengejutkan pusaran udara yang kuat mendorong kakinya menjauh dari tubuh Bull membuat serangan Leo gagal.
“(Apa...?! Aku tidak bisa menyentuhnya...?!)” Ujar Leo dalam hatinya kebingungan.
Melihat Leo yang terlempar mundur menciptakan celah baginya untuk menyerang. Ia lantas memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerang Leo dengan sekuat tenaga.
“Terima ini....!” Serunya mengayunkan tinjunya.
Leo yang menyadari serangan tersebut lantas membuat langkah menghindar sebelum ia melompat mundur mengatur jarak darinya. Namun, usahanya sia-sia karena Bull dengan mudah dapat langsung memotong jarak di antara mereka dan menggunakan kesempatan itu untuk kembali menyerangnya.
“Haaa....!”
Bull mengayunkan serangan yang sebelumnya gagal mengenainya memanfaatkan keadaan yang ada. Dan untuk kesekian kalinya, mata Leo secara tiba-tiba berubah dan langsung menyadari hal tersebut hingga akhirnya Leo dapat bereaksi dengan cepat sesaat sebelum Bull meninju tanah dengan sekuat tenaganya.
Ledakan udara yang hebat mengguncang daratan itu ketika Lia yang mendengarnya seketika terkejut menyaksikan apa yang ada di sebrang sana. Kepulan debu membumbung tinggi ke udara bersamaan dengan hembusan angin kuat meniupkan puing-puing tanah hingga mencapai tempatnya. Mereka semua terkesima oleh pemandangan pertarungan tersebut hingga melupakan bahwa mereka memiliki pertarungan sendiri yang masih berlangsung.
“Bos tidak menahan diri... Dia mengerahkan seluruh kekuatannya...” Ujar salah seorang anak buah menyaksikannya terkesima.
“Orang berambut putih itu benar-benar membuatnya melakukannya... Aku belum pernah melihat bos bertarung sampai seperti itu...” Sambung anak buah lainnya ikut terkesima.
“Mengerikan... Pertarungan mereka benar-benar di liar ranah kita...” Ujar seorang anak buah dengan ekspresi pucat.
Lia pun ikut merasa cemas akan keadaan Leo. Melawan pemegang Skill akan menjadi hal yang sulit baginya yang tidak diberkahi dengan Skill. Meski kemampuan fisik dan bertarung Leo bisa dikatakan cukup tinggi, namun itu tidaklah cukup untuk mengalahkan seseorang yang telah menguasai Skill miliknya sepenuhnya. Hal itu dapat dilihat dari alur pertarungan itu berlangsung. Jelas itu bukan keadaan yang menguntungkan baginya untuk bisa menang.
“(Leo...! Aku tidak mengira lawannya adalah pemegang Skill...! Aku harus menolongnya secepat mungkin, tapi...)” Ujar Lia dalam hatinya cemas.
Namun, yang menjadi masalahnya adalah Lia saat ini tengah dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk menolongnya. Ia mulai kesulitan untuk bergerak akibat lukanya yang kembali terbuka. Ditambah, dengan kehadiran anak buah yang masih tersisa membuat keadaannya semakin sulit. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana untuk lepas dari situasi ini.
Di saat yang sama, secara mengejutkan salah seorang anak buah perampok yang tersisa tewas oleh sebuah serangan sihir yang menembus dadanya. Seketika itu pula anak buah lain yang menyaksikannya terkejut sesaat sebelum serangan yang sama kembali menyerang mereka.
“A-Apa in—“
“Perhatikan belakang...! Ada seranga—“
Serangan itu membunuh beberapa orang dari mereka hingga menyisakan dua orang yang tersisa ketika seseorang misterius datang menunjukkan diri pada mereka.
Lia mengenal orang asing itu. Dia tidak lain dan tidak bukan adalah petualang wanita yang sebelumnya bertemu dengannya.
“Kau...! Kau ****** yang kabur itu...! Beraninya kau datang lagi...!” Ujar anak buah itu dengan wajah kesal.
“Apa kau yang membawa wanita itu untuk menghabisi kami semua, hah...! Dasar keparat...!” Sambung anak buah kedua marah.
“Benar, akulah yang memintanya datang, namun bukan dia yang akan menghabisi kalian berdua...” Balas wanita itu dengan wajah serius.
“Keparat...! Kau akan membayar ini...!” Balas anak buah pertama berlari mencoba menikamnya.
Namun, ketika pria itu berlari untuk menikamnya, wanita itu menendang beberapa kerikil yang ada di bawah kakinya tepat ke wajahnya yang seketika membutakan pandangannya. Pria itu seketika kehilangan arah sesaat sebelum wanita itu memanfaatkan kesempatan itu untuk berbalik menyerangnya.
“Ini untuk kapten...!” Ujar wanita itu membantingnya ke tanah.
Dengan ilmu bela dirinya, wanita itu dengan mudah menjatuhkan pria itu ke tanah sebelum ia mencekik tengkuknya sambil merapalkan mantranya.
“Bara menjadi api kecil, api kecil berubah menjadi kobaran api, kobaran api menyisakan abu...”
“A-Apa yang kau lakukan...! L-Lepaskan aku sekarang...!” Seru pria itu panik sambil meronta.
“Kau akan mendapatkan jawabannya, tidak di sini...” Balas wanita itu dengan wajah dingin.
Pria itu mulai berteriak histeris ketika ia merasakan sesuatu yang membakar di tengkuknya. Melihat hal tersebut, rekannya yang tersisa lantas berusaha menyelamatkannya dengan menghentikan wanita itu merapalkan mantra pemicunya.
“Menjauh kau dari temanku, dasar ******...!” Seru pria itu mencoba menggagalkan mantra itu.
Namun, niat itu seketika gagal oleh Lia yang secara mengejutkan mengibaskan pedangnya menciptakan tebasan sihir yang membelah tubuhnya sesaat sebelum akhirnya wanita itu menyelesaikan mantranya.
“... Born of Flames.”
“Hentika—“
Pada saat yang bersamaan, tubuh pria itu terbakar oleh api besar yang membuatnya seketika merintih kesakitan. Teriak kesakitannya memekakkan telinga sebelum akhirnya api bertambah besar ******* seluruh tubuhnya. Ia tewas tak berselang lama kemudian ketika Lia akhirnya dapat terbebas dari penderitaannya menahan posisi bertarung selama ini.
__ADS_1
“Hah...! Hah... Hah... Hah...”
Ia langsung terduduk lemah ketika wanita petualang yang menyaksikannya lantas menghampirinya setelah melihatnya terkulai pucat.
“Nona...! Bertahanlah...! Apa yang terjadi padamu...!” Ujar wanita itu dengan wajah panik.
“Ugh...!”
Wanita itu terkejut begitu melihat noda darah pada bajunya. Noda itu terus meluas yang menandakan bahwa ia tengah terluka saat ini.
“Kau terluka...! Bagaimana bisa...! Apa mereka yang melakukannya...?” Tanya wanita itu panik.
“Aku... Baik-baik saja... Yang lebih... Penting...” Balas Lia melihat ke sebrang sungai.
“E-Eh...? Apa maksudmu? Keadaanmu sekarang yang lebih penting! Jangan khawatir, aku akan segera merapalkan mantra penyembuh untukmu...” Balas wanita itu dengan wajah cemas.
“Kau bisa...? Maaf... Merepotkanmu... Kalau begitu...” Balas Lia dengan nafas berat.
Wanita itu membaringkan Lia untuk selanjutnya mengobatinya. Ia membuka pakaiannya untuk melihat separah apa luka yang dideritanya. Ia sempat terkejut melihat luka yang ada di tubuh Lia. Itu bukan sekedar luka biasa, melainkan luka lama yang kembali terbuka.
“Kau tidak mengatakan kalau kau sedang terluka...! Luka ini adalah luka yang terbuka akibat gerakan fisik yang berlebihan...! Kau pasti memaksakan diri untuk bertarung...!” Ujar wanita itu dengan ekspresi prihatin.
“.... Kita tidak... Punya banyak... Waktu...” Balas Lia menahan sakit.
“A-Ah. Tolong jangan banyak bicara dan bergerak...! Aku akan segera menutup lukanya...!” Balas wanita itu mencoba menenangkannya.
“... Mm.”
Wanita itu meletakkan tangannya pada luka Lia sebelum akhirnya memulai pengobatannya. Ia mulai merapalkan mantranya ketika Lia memutuskan untuk menyerahkan sisanya kepadanya. Meski tidak saling mengenal, namun dalam situasi ini, Lia hanya bisa percaya padanya untuk menangani lukanya demi bisa menolong Leo nantinya.
Sementara itu, dari balik awan debu itu, Bull menatap Leo yang berhasil menghindari serangannya ketika ia menyadari sesuatu darinya yang membuatnya kesal. Ia akhirnya menyadari alasan mengapa Leo mampu mengantisipasi setiap serangannya meski ia telah meningkatkan kecepatannya di atas manusia bisa dapat melihatnya.
“Jadi begitu, sekarang aku mengerti. Harusnya aku menyadarinya sejak awal...” Ujar Bull dengan tatapan sinis.
“Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan.” Balas Leo dengan ekspresi datar.
Pada saat yang sama, Bull menarik nafas dalam sambil membuat kuda-kuda di tempatnya berdiri sesaat sebelum ia mengayunkan tinjunya. Secara bersamaan, awan debu di sekitarnya secara mendadak terhempas menjauh darinya saat ia melakukannya ketika Leo merasakan firasat buruk mengenainya.
“(Apa ini...? Aku seperti merasakan ada yang datang ke arahku...!)” Ujar Leo dalam hatinya cemas.
Tak berselang setelahnya, sesuatu itu bergerak menuju ke arahnya tepat sebelum mata Leo kembali berubah. Pada saat yang sama pula, ia bisa menyaksikan pusaran udara layaknya peluru meriam menuju ke arahnya.
“...!”
Menyadari itu adalah sebuah serangan, Leo lantas menghindar sesaat sebelum Bull kembali melakukan gerakan yang sama berulang-ulang. Peluru-peluru udara melesat ke arah Leo sesaat sebelum ia mengambil gerakan menghindar. Satu persatu serangan itu datang, namun beruntung Leo yang melihatnya dapat dengan mudah menghindarinya meski ia sempat tidak terbiasa dengan perubahan mendadak dari matanya.
Untuk beberapa saat Bull melancarkan serangan itu ke arahnya hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk menghentikannya setelah ia merasa mendapatkan jawaban yang diinginkannya.
“Tepat seperti yang kuduga, kau dapat melihat seranganku. Itu sudah membuktikan bahwa dugaanku benar...” Ujar Bull berjalan keluar dari kawah yang dibuatnya sendiri.
“Itu lucu, aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” Balas Leo dengan wajah bingung.
“Serangan yang barusan kulancarkan adalah peluru udara yang harusnya tidak dapat dilihat, bahkan olehku sekali pun. Itu sudah membuktikan bahwa kau memilikinya, kau memiliki mata sihir...!” Balas Bull dengan nada tinggi.
“Hah...?”
“Jangan berlagak bodoh! Aku tahu ketika melihatnya, mata biru tua itu... Meski aku belum pernah melihat yang seperti itu, tapi aku yakin bahwa itu adalah mata sihir...!”
Leo tidak mengerti apa yang dia katakan. Ucapannya terdengar tidak masuk akal sama sekali, namun jika dipikirkan kembali, Leo memang merasa ada yang janggal dengan matanya akhir-akhir ini. Untuk beberapa kesempatan, pandangannya tiba-tiba berubah secara tidak terduga. Penglihatannya bertambah tajam secara mendadak dan ia mulai melihat benda-benda yang tidak biasa dilihatnya. Entah apa yang sebenarnya terjadi kepadanya, namun Leo menganggap itu ada hubungannya dengan yang Bull ucapkan.
“(Mata sihir, huh...? Aku dengar itu jenis Skill yang langka dan berwujud fisik. Apakah itu mungkin penjelasan dari penglihatanku yang akhir-akhir ini terasa aneh...?)” Gumam Leo dalam hatinya berpikir.
Terlepas dari benar atau tidak, namun Leo sendiri sulit untuk mempercayainya. Ia yang sejak kecil tidak pernah mendapatkan Skill meragukan hal itu dan menganggap ucapan Bull sebagai omong kosong untuk menjatuhkan lawannya. Dia sengaja mengatakan hal itu karena sedang merencanakan sesuatu. Itulah yang harusnya Leo waspadai.
“Entahlah, kenapa kau berpikir aku akan menjawabnya.” Ujar Leo mencoba memancingnya.
“Jangan sombong hanya karena kau punya Skill langka...! aku akan membunuhmu dan akan mencongkel kedua bola matamu lalu menjualnya...!” Balas Bull dengan wajah marah.
“Aku kira tidak semudah itu...” Balas Leo dengan sikap acuh.
Merasa kesal dengan ucapannya, Bull lantas mengerahkan seluruh kekuatannya yang tersisa untuk menarik setiap udara yang ada. Angin mulai bertiup seluruhnya ke arah Bull membentuk pusaran udara yang kuat ketika Leo menyaksikan apa yang dia lakukan dengan penglihatan keduanya. Terlihat jelas bahwa Bull menyerap semua udara yang ada di sekitar mereka untuk digunakan sebagai selubung yang melindungi dirinya.
“(Aku bisa melihatnya... Udara di sekitar tertarik oleh sihirnya dan membentuk zirah transparan pada tubuhnya...)” Ujar Leo dalam hatinya mengamatinya.
Bull memasang kuda-kuda bertarung dengan seluruh tubuhnya diselimuti angin sebelum ia berkata kepadanya.
__ADS_1
“Inilah Skill milikku, The Fallen Wind. Akan kutunjukkan kekuatanku yang sesungguhnya!” Ujar Bull dengan ekspresi serius.