Black Arc Saga

Black Arc Saga
Pertemuan tidak terduga


__ADS_3

... ...


Leo dan Lia akhirnya sampai di bukit barat kota yang merupakan tempat tujuan mereka. Berjarak sekitar 10 mil dari pusat kota Hilbern, wilayah tersebut termasuk dalam barisan perbukitan yang membentang mengelilingi perbatasan utara dan kota Hilbern. Tanahnya yang ditumbuhi hutan lebat membuat wilayah ini menjadi tempat tinggal yang sesuai bagi beberapa jenis monster yang kali ini menjadi target mereka berdua.


 


“Di dalam sana, huh? Memang tidak salah jika tempat ini menjadi wilayah mereka...” Ujar Leo melihat ke dalam hutan yang rindang dengan nada serius.


 


Kembali ke waktu sebelum mereka berdua sampai di hutan, setelah mengetahui situasi Guild saat ini yang kekurangan pekerja untuk menerima permintaan penduduk, akhirnya Leo memutuskan untuk turun tangan membantu bersama dengan Lia di sisinya. Meski demikian, terdapat satu masalah yang mereka hadapi ketika memilih pekerjaan mana yang harus diambil. Terlalu banyak permintaan yang menumpuk sehingga menyulitkan mereka untuk mengambil satu yang mereka inginkan.


 


“Bagaimana menurutmu, Lia? Pekerjaan mana yang harus kita ambil pertama?” Tanya Leo melihat ke arah papan permintaan yang penuh.


 


“... Leo sendiri, bagaimana menurutmu?” Balas Lia melihat ke arahnya bertanya.


 


“Aku...? Menurutku... Masalah monster itu yang menjadi permasalahan utama yang membahayakan... Meski begitu, kebanyakan yang ada di sini juga tentang monster...” Balas Leo melihat ke arahnya sebelum kembali melihat ke papan dengan senyum terpaksa.


 


“Kalau begitu, kita sederhanakan saja lingkupnya...” Ujar Lia berjalan mendekat ke papan sebelum mengambil beberapa kertas permintaan di sana.


 


Lia mengumpulkan beberapa permintaan yang berhubungan dengan memburu monster sebelum akhirnya menunjukkan semuanya kepada Leo sambil menjelaskan maksudnya.


 


“... Dari semua permintaan ini, kita bisa menyisihkan beberapa yang dianggap berbahaya, setelah itu kita bisa mengambilnya.” Sambung Lia menjelaskan idenya kepada Leo.


 


“Jadi begitu... Dengan memilih tingkat kesulitannya, kita bisa mengetahui mana yang mengancam dan mana yang perlu tindakan secepatnya...” Balas Leo terpukau dengan ide Lia.


 


“Mm... Seperti itulah. Karena kau tahu tentang monster, cara ini yang paling efektif menurutku.” Ujar Lia mengangguk singkat.


 


“Aku mengerti sekarang...” Balas Leo dengan nada serius.


 


Setelah memilah dan memilih permintaan yang ada, ia akhirnya mendapatkan beberapa kandidat yang layak dipertimbangkan untuk mereka ambil.


 


“Baiklah, aku sudah menemukan 4 permintaan yang menurutku masuk dalam kategori monster yang berbahaya...” Ujar Leo sambil memperlihatkan permintaan yang ia sisihkan.


 


“Memburu Orc... Mengintai sekawanan Hobgoblin... Mengumpulkan bisa Dart Viper... Dan kemunculan Silver Moon Wolf...?” Bisik Lia membaca satu persatu lembaran yang Leo tunjukkan sebelum berakhir dengan wajah bingung.


 


“Mereka semua adalah monster yang berbahaya, khususnya bagi petualang tanpa pengalaman.” Sambung Leo menjelaskan detailnya kepada Lia.


 


“... Lalu, yang mana yang harus kita ambil? Semua lokasi mereka berlawanan arah satu sama lain...” Balas Lia menoleh ke arahnya bertanya.


 


“Benar juga... Mungkin sebaiknya kita mencari tahu mengenai mereka lebih jauh...” Jawab Leo menaruh jari di dagunya berpikir sejenak.


 


Leo pun memutuskan untuk bertanya kepada resepsionis mengenai detail setiap permintaan yang ia bawa. Hal itu ia lakukan untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan yang ditimbulkan oleh monster-monster itu dan tingkat ancamannya.


 


“... Begitu ya. Memang itu pemikiran yang sangat logis. Saya terkesan dengan kemampuan mengolah informasi kalian berdua.” Ujar resepsionis itu tersenyum kepada mereka sambil memeriksa tiap lembar permintaan yang ditunjukkan.


 


“B-Begitulah... Jadi, bagaimana? Apa anda bisa menjelaskan situasinya?” Balas Leo tertawa gugup sebelum kembali fokus pada tujuan awalnya.


 


“Hm... Memang benar jika semua monster di sini tergolong monster tingkat menengah ke atas. Tapi jangan khawatir, kami menjamin informasi kami bisa dipercaya dan akurat. Silahkan tanyakan saja permintaan mana yang ingin anda tanyakan.” Jawab resepsionis itu  tersenyum percaya diri.


 


“Baiklah, langsung saja... Kami ingin mendengar masalah mengenai kemunculan Silver Moon Wolf...” Ujar Leo memasang wajah serius.


 


Setelah itu, resepsionis itu memberikan informasi mengenai wilayah kemunculan Silver Moon Wolf sebelum akhirnya Leo dan Lia sampai di hutan saat ini. Meski terbesit pertanyaan di benak Lia mengapa dia mengambil permintaan ini dibandingkan dengan lainnya tanpa memberitahukannya.


 


“(Informasi yang diberikan resepsionis itu hanya sebatas tempat kemunculannya saja, setidaknya itulah informasi yang Leo minta. Apa yang sebenarnya ia pikirkan...?)” Ujar Lia dalam hatinya bingung.


 


Sembari menelusuri hutan, rasa penasaran Lia masih saja mengganggunya. Meski ia tahu ia bisa mengandalkan pengalaman Leo sebagai seorang Thearian, tetapi tetap saja ia masih belum mengerti sepenuhnya apa yang ia pikirkan. Melawan monster yang belum pernah dilihatnya akan menjadi mimpi buruk jika belum mengenalnya sepenuhnya.


 


“(... Baiklah, mungkin sebaiknya aku bicara dengannya.)” Sambung Lia dalam hatinya membulatkan tekadnya.


 


Tepat saat Lia hendak mengangkat mulutnya, Leo tiba-tiba berhenti di depannya saat menemukan sebuah jejak yang tertinggal di atas guguran daun dan tanah. Ia lantas memeriksanya ketika Lia penasaran dengan temuannya yang terbilang cukup cepat dari perkiraan awal.


 


“... Leo?” Ujar Lia dengan wajah bingung menghampirinya.


 


“Lihat ini, Lia... Kita menemukannya...” Balas Leo menunjukkan jejak yang ia temukan.


 


“Jejak kaki...?” Balas Lia melihat ke arah jejak tersebut dengan wajah penasaran.


 


“Ya. Ini adalah jejak kaki salah seekor Silver Moon Wolf yang kita cari. Ukuran mereka jauh lebih besar dari serigala biasa, jadi kita bisa langsung mengenalinya...” Jawab Leo menjelaskan target mereka secara singkat.


 

__ADS_1


Ia pun mulai menyisir area di sekitar untuk mencari petunjuk lain mengenai mereka. Pada saat itulah Lia sadar ia tidak melakukan apa-apa untuk membantunya yang membuatnya sedikit kecewa. Bila dibandingkan dengannya, Lia hanya seorang gadis biasa yang awam mengenai dunia luar, tidak seperti Leo yang memang seorang pengelana sejak mereka pertama bertemu. Ditambah kenyataan bahwa ia adalah seorang Thearian sang pemburu monster membuat Lia semakin merasa terbelakang. Ia sadar ia tidak banyak membantunya selain bertarung dan itu membuatnya merasa kecewa pada dirinya sendiri.


 


“(... Bahkan dia tidak mengatakan sesuatu meski kami sedang bekerja bersama-sama. Apakah dia hanya memandangku sebagai anak seorang bangsawan yang harus dikawal...?)” Ujar Lia dalam hatinya sedih.


 


Jika diingat-ingat, Leo memang tidak pernah menyuruhnya ikut bersama dengannya dalam setiap perburuannya. Lia memang ikut karena kehendaknya sendiri. Ia sebenarnya tidak tahu apa yang selama ini Leo pikirkan mengenai dirinya. Hal itu membuatnya teringat mengenai kejadian yang terjadi ketika mereka berada di pertambangan.


 


“Lia, kita akan melanjutkan pencarian kita ke dalam hutan... Lia...? Lia, ada masalah...?” Ujar Leo sebelum menoleh ke arahnya bingung melihatnya terdiam melamun.


 


“....”


 


“Lia...?” Sambung Leo dengan wajah bingung menghampirinya.


 


“... Ah. Mhm. Bukan apa-apa. Kita akan masuk lebih ke dalam hutan, bukan? Aku mendengarnya.” Balas Lia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum masam.


 


“Uh... Kau baik-baik saja?” Tanya Leo kembali kepadanya dengan wajah cemas.


 


“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit terpikirkan sesuatu...” Jawab Lia tersenyum dan berjalan mendahuluinya.


 


Entah apa yang ada di pikiran Lia saat ini hingga membuatnya melamun, tetapi lebih baik Leo tidak mempermasalahkannya saat ini. Sekarang, ia hanya harus fokus pada pekerjaannya memburu serigala itu.


 


“(Semoga saja itu tidak mengganggunya saat bertarung nanti...)” Gumam Leo dalam hatinya mencoba mengalihkan pikirannya.


 


Mereka melanjutkan masuk lebih jauh ke dalam hutan guna melacak keberadaannya. Meski jejak yang ditinggalkannya masih samar, Leo dapat merasakan bahwa ia semakin masuk ke dalam wilayah kekuasaannya. Selagi mendaki dan terus maju, akhirnya mereka sampai di lereng bukit tempat mereka menemukan jejak kedua. Itu adalah mayat seekor domba yang sengaja dibiarkan begitu saja bersimbah darah dengan luka gigitan di lehernya.


 


“Ini pasti ulahnya... Kebiasaan buruknya mirip dengan beruang, tetapi lebih licik...” Gumam Leo melihat mayat domba tersebut dengan sinis.


 


“Kenapa dia meninggalkan buruannya? Bukankah para serigala langsung memakan mangsanya?” Tanya Lia berbalik melihat ke arah Leo.


 


“Tidak seperti kebanyakan serigala, Silver Moon Wolf adalah hewan soliter yang hidup menyendiri. Mereka sengaja meninggalkan mangsa mereka sebagai penanda wilayah serta umpan bagi musuhnya. Mereka memang hewan yang pintar...” Balas Leo menjelaskan secara singkat.


 


“... Begitu ya. Memang makhluk yang unik.”


 


“Ya. Itu artinya kita masuk dalam wilayahnya. Sisanya hanya tinggal menemukannya saja...”


 


 


“Suara itu... Mereka dalam masalah...! Lia...!” Ujar Leo panik menoleh ke arah Lia.


 


“Mm. Aku bersamamu.” Balas Lia mengangguk singkat dengan wajah serius.


 


Mereka berdua pun bergegas lari menuju ke puncak bukit guna mencari sumber suara tersebut. Di sisi lain, sekelompok petualang tengah terdesak oleh seekor monster berbulu besar yang berhasil melukai dua orang pria anggotanya. Sambil menahan luka di bahunya, pria berambut pirang itu mencoba tetap bertahan mengangkat perisainya demi melindungi dua orang wanita rekan timnya yang masih tersisa.


 


“Hah...! Hah...! Hah...! M-Masih belum...! A-Aku masih berdiri di sini sebagai lawanmu...!” Ujar pria berambut pirang itu dengan nafas berat.


 


Meski dengan kondisi terluka, ia tetap berdiri untuk melindungi teman-temannya yang sudah tidak berdaya. Ia sadar kondisi mereka saat ini tidak memungkinkan untuk menang, ditambah dengan keadaan mereka yang terdesak dengan jurang curam tepat di belakang mereka membuatnya kehabisan pilihan.


 


“Grrr...”


 


“Haaa...!!”


 


Ia tanpa pikir panjang langsung berlari dengan sisa tenaganya ke arah hewan menyerupai beruang itu dengan perisainya yang memiliki ujung tajam di sisi keduanya. Namun, hewan tersebut melompat menyamping menghindarinya dengan mudah sebelum melancarkan moncongnya ke arahnya. Serangannya sangat cepat baginya yang sudah kelelahan dan terluka, itu bukan pertanda baik baginya.


 


“Kapten...!” Seru kedua wanita yang terduduk lemah di belakangnya panik.


 


Namun, sesaat sebelum hewan itu mendaratkan gigi tajamnya pada tubuhnya, sebuah tebasan udara misterius menghantamnya hingga menyebabkan luka sayatan di punggung hewan tersebut yang mana membuatnya seketika mengurungkan niatnya untuk menggigitnya.


 


“....?! A-Apa yang baru saja terjadi...?!” Ujar pria berambut pirang itu terkejut menyadari dirinya masih hidup.


 


Pada saat yang sama, serangan itu kembali mengarah kembali pada hewan tersebut bersamaan dengan munculnya seorang pemuda berambut putih yang melesat langsung menuju ke arahnya. Hewan itu berhasil menghindari serangan tebasan itu dengan melompat menyamping, namun pada saat yang sama pemuda tersebut menyambutnya dengan ayunan pedangnya.


 


“Haa..!!”


 


Pedangnya melesat dengan cepat ke arahnya, namun hewan tersebut mampu menandingi kecepatannya dengan refleksnya sehingga serangan tersebut hanya menyisakan luka sayatan ringan pada lehernya sebelum akhirnya ia melompat melewati pemuda tersebut untuk membuat jarak darinya. Namun, satu hal yang tidak hewan itu sadari adalah ia sudah masuk dalam rencananya.


 


“....!”


 

__ADS_1


“A-“


 


Tepat ketika ia mendarat, gadis berambut coklat gelap dengan pedangnya yang membara dengan cahaya merah tua sudah siap menyambutnya dengan serangannya. Dengan kuda-kuda kokohnya, ia mulai mengayunkan pedangnya saat ia merapalkan mantranya.


 


“Tehnik pedang: Leaves Slash.”


 


Seketika itu pula, udara di sekitarnya terhenti dan perlahan tertiup ke bawah bersama dengan ayunan pedangnya yang jatuh secara vertikal ke bawah. Menyadari bahwa serangan tersebut akan mengancam nyawanya, hewan tersebut menggonggong dengan keras sesaat sebelum cahaya keperakan berkumpul di sekitarnya ketika serangan itu menghantamnya. Dentuman yang hebat terdengar tak berselang setelahnya, tanah di sekitarnya hancur meninggalkan lubang dalam ketika pandangan gadis itu dikejutkan oleh sesuatu yang tidak bisa ia percaya.


 


“....?!”


 


“Grrrr...!”


 


Pedangnya tertahan oleh cakarnya yang tercipta oleh sihir. Gadis itu seketika mengambil langkah mundur ketika hewan tersebut berniat menggigitnya. Namun, hewan itu tidak membiarkannya begitu saja, ia mengejarnya dengan ganas sambil berulang kali mengayunkan gigitannya.


 


“Lia, bertahanlah...!” Seru pemuda berambut putih itu berlari mengejar hewan tersebut.


 


Ia hanya bisa menghindar sampai pemuda itu datang untuk mengulur waktu. Ia berlari sekuat tenaga sebelum akhirnya melompat ke arahnya melancarkan serangan jatuh yang kuat. Namun, sayangnya, hewan itu sudah menyadarinya dan dengan sigap menghindar sebelum akhirnya serangannya menghantam tanah dengan kuat hingga meninggalkan lubang bekas sayatan pada tempat pedangnya mendarat.


 


“Grrrr...!”


 


Meski serangannya meleset, itu tidak membuatnya kecewa atau marah karena sejak awal tujuannya bukanlah untuk menyerang. Ia hanya ingin memisahkan jarak di antara dirinya dengan gadis itu.


 


“Leo...” Ujar gadis itu menghampirinya sambil menatap ke arah hewan itu waspada.


 


“Yah, memang kurasa tidak akan semudah itu...” Balasnya mengangkat pedangnya yang menancap di tanah.


 


Dengan tatapan tajam, hewan itu berjalan memutari mereka berdua dengan waspada saat pria berambut pirang itu mengenali mereka berdua.


 


“Rambut putih itu... Itu pasti dia...! Dia orang yang menyelamatkan kita saat berada di gua itu...!” Ujar pria berambut pirang itu terkesima menunjuknya.


 


“B-Benarkah itu...?” Balas teman wanitanya yang setengah sadar menahan lukanya.


 


“Itu benar...! Dia petualang yang sedang dibicarakan itu..! Dia adalah Leonard Ansgred sang petualang pengelana! Dan yang bersamanya, sang gadis pedang yang anggun dan misterius, Alicia!” Balasnya dengan nada antusias.


 


“Benar...! Itu benar-benar mereka...!” Balas teman wanita kedua ikut terpukau menyaksikannya.


 


Di sisi lain, Leo dan Lia yang tengah menghadapi hewan tersebut terpaksa harus menyusun ulang rencana mereka setelah usaha penyergapan mereka gagal. Seperti yang Leo duga sebelumnya, melawan binatang sihir itu membutuhkan lebih dari sekedar kekuatan dan kecerdikan.


 


“... Makhluk itu... Selain lincah, dia juga bisa menggunakan sihir...” Ujar Lia dengan nada serius.


 


“Itu adalah target kita... Dia adalah Silver Moon Wolf, dia termasuk binatang sihir, aku tidak heran jika kau terkejut ketika melihatnya pertama kali.” Balas Leo sambil menatapnya waspada.


 


“Binatang sihir...?” Balas Lia dengan wajah terkejut.


 


“Ya, aku yakin kau pasti pernah mendengar tentang mereka... Itulah mengapa aku tidak bisa membiarkannya berkeliaran...” Ujar Leo dengan nada serius.


 


Binatang sihir adalah hewan-hewan yang mampu menggunakan sihir. Kemampuan itu mereka dapatkan oleh beberapa sebab seperti faktor lingkungan atau evolusi dan juga karena faktor lain seperti memakan binatang sihir lain atau menerima berkah dari Roh alam yang menjaga habitatnya. Selain kemampuan sihir, mereka juga memiliki ciri fisik yang unik yang membedakan mereka dari hewan lain yang masih sama dengan jenisnya. Seperti pada Silver Moon Wolf, mereka memiliki iris mata berwarna perak yang menyala ketika malam hari tiba, serta ukuran tubuh yang sebesar beruang. Itulah yang menjadikan binatang satu ini lebih mengerikan dari serigala dan bahkan monster lain.


 


Serigala itu masih berlalu-lalang di hadapan mereka seperti mengintimidasi mereka dengan suara geramannya. Dengan tatapan yang tajam, serigala itu mengawasi mereka berdua tanpa meninggalkan celah sedikit pun kepada mereka.


 


“Kenapa mereka belum bergerak...? Serigala itu berputar semakin rapat ke arah mereka...” Ujar wanita kedua padanya dengan wajah cemas.


 


“Tidak, jika mereka bergerak duluan, itu sama saja memberikan peluang pada serigala itu untuk melancarkan serangan. Hal yang sama juga berlaku baginya... Ini benar-benar situasi yang rumit bagi kedua pihak...” Balas pria berambut pirang itu dengan wajah tegang.


 


Tepat seperti yang ia katakan, situasi mereka tengah sama antara satu sama lain, itulah mengapa mereka hanya terdiam sambil saling mengawasi satu sama lain. Satu gerakan yang tidak berarti akan menjadi kesalahan fatal bagi kedua pihak. Untuk saat ini, keheningan yang mereka biarkan menguasai pertarungan mereka.


 


Situasi itu bertahan cukup lama di antara mereka. Dengan memanfaatkan situasi tersebut, Leo memutar otaknya untuk mencari cara untuk bisa melawannya. Ia melihat sekelilingnya dengan seksama sebelum akhirnya menghasilkan sebuah ide yang dirasa cukup untuk mengalahkannya.


 


“Lia, aku punya ide. Aku akan membutuhkan bantuanmu...” Bisik Leo kepada Lia dengan nada lirih.


 


“Mm. Aku mendengarkanmu.” Balas Lia berbisik sambil mengangguk singkat.


 


“Mungkin ini akan sedikit mengingatkanku pada masa lalu, tetapi kurasa hanya cara ini yang hanya bisa terpikirkan olehku...” Balas Leo tersenyum pahit melihat ke arah serigala itu.


 


“...??”

__ADS_1


 


Dengan membulatkan tekadnya, Leo menggenggam pedangnya bersiap melancarkan rencananya. Meski Lia tidak tahu apa yang ada di pikiran Leo, ia akan tetap membantunya. Dan di sinilah dimulai pertarungan pertama Lia melawan binatang sihir.


__ADS_2