
Leo akhirnya menemukan jawaban yang selama ini menjadi pertanyaannya. Hal itu berhubungan dengan apa yang ada di balik gerbang raksasa itu serta sihir yang melindunginya. Semua kecurigaannya kini semakin besar setelah melihat semua eksperimen di lantai atas. Kemungkinan besar, apa yang ada di balik gerbang itu adalah monster hasil eksperimen mereka.
“A-Apa ini...! Seluruh tempat ini telah ditanami sihir...!” Ujar Zen panik terkejut.
“Ya. Itu untuk melindungi rahasia mereka.” Balas Leo kepada Zen.
“Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan di balik gerbang itu hingga harus menempatkan sihir sebanyak ini...” Ujar Gald dengan wajah pucat melihat rangkaian sihir yang ada di hadapan mereka.
“Aku juga tidak yakin, namun kemungkinan besar adalah hal yang sama seperti di lantai atas, hanya saja jauh lebih besar dan mengerikan...” Balas Leo dengan wajah serius.
Gald dan Zen terdiam mendengar pendapat Leo. Jika semua yang dikatakannya memang benar, maka hal itu akan menjadi masuk akal mengapa mereka menjaga ketat tempat ini. Setelah melihat eksperimen keji di lantai sebelumnya, tidak ada kemungkinan lain yang bisa menjelaskan tempat ini selain eksperimen para ilmuan kuno itu. Kemungkinan besar, di balik gerbang yang disegel tersebut menyimpan eksperimen besar mereka.
“Lebih mengerikan dari apa yang kita lihat di atas sana...” Gumam Zen dengan wajah pucat.
“Aku sama sekali tidak bisa membayangkan lagi apa yang mereka sembunyikan di dalam sana...” Sambung Gald dengan ekspresi gelisah.
Sekarang, masalah mereka adalah bagaimana membuka gerbang batu itu. Dengan semua sihir dan penghalang yang terpasang di hadapan mereka, rasanya mustahil bisa mendekati gerbang itu tanpa memicu satu pun sihir yang ada.
“Bagaimana menurutmu, Lia? Apakah mungkin kita bisa mendekati gerbang itu tanpa mengaktifkan sihir jebakan itu?” Tanya Leo berbisik kepada Lia.
“... Mhm. Mustahil. Meski kita mampu menjangkau gerbang itu, kita tetap tidak bisa membukanya.” Balas Lia menggelengkan kepalanya.
“Apa maksudmu?” Balas Leo bingung.
“... Seperti yang kau lihat sebelumnya, tidak hanya jebakan sihir, mereka juga memasang penghalang di sekitar gerbang itu yang menjadikannya tidak dapat didekati. Meski kita bisa menghancurkannya, gerbang itu tetap masih terkunci dengan sihir segel.” Balas Lia menjelaskan pengamatannya.
“Apa benar-benar tidak ada cara untuk kita membukanya?”
“... Mm. Tempat ini sepenuhnya telah disegel. Baik dari luar maupun dalam.”
“Jadi, memang tidak ada jalan untuk membukanya, huh?”
“.... Mm.”
Dengan perasaan kecewa, Leo hanya bisa terdiam setelah mendengar ucapan Lia. Setelah sejauh ini, mereka hanya mendapatkan separuh dari jawaban yang ia cari. Meski kesal untuk mengakuinya, tetapi inilah hasil akhirnya. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.
“(Kurasa hanya sampai sini, huh...? Lebih dari ini hanya akan membahayakan mereka bertiga...)” Gumam Leo dalam hatinya kecewa.
Akhirnya Leo memutuskan untuk pergi setelah tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Meski Gald dan Zen pada awalnya terlihat sulit untuk menerimanya, pada akhirnya mereka pasrah dan ikut kembali ke permukaan bersama-sama. Setidaknya, tidak ada yang terluka kali ini. Tidak bisa dibayangkan jika Leo memaksa untuk mengetahui apa yang ada di balik gerbang itu.
“Pada akhirnya kita tidak akan pernah tahu apa yang ada di balik gerbang itu...” Ujar Gald dengan wajah kecewa.
“Ya. Padahal aku sangat penasaran dengan apa yang Leonard-san katakan mengenai makhluk yang ada di baliknya. Tapi, mau bagaimana lagi...” Balas Zen menghela nafas kecewa.
“Bahkan mereka berdua mengurungkan niat mereka untuk menjelajahinya... Kurasa hanya Ksatria Suci kerajaan dan petualang tingkat atas saja yang bisa membukanya...” Balas Gald menggelengkan kepalanya sambil memegang keningnya.
“Kurasa kau ada benarnya...” Balas Zen kembali menghela nafas.
Leo hanya bisa terdiam mendengar percakapan mereka. Rasa kecewa yang sama juga ia rasakan di hatinya, terlebih ketika ia memikirkan tentang jawaban yang selama ini ia cari kini hilang begitu saja. Namun, ia berusaha melupakannya sambil memantapkan hatinya untuk fokus pada apa yang menjadi tugasnya.
“(Itu benar...! Lupakan saja rasa curiga itu...! Sekarang yang lebih penting adalah menyelesaikan misi ini...!)” Ujar Leo dalam hatinya berusaha mengalihkan pikiran.
Pertanyaan dan rasa curiganya tidak lebih dari perasaan pribadinya. Hal itu tidak seharusnya ada ketika ia bekerja dalam sebuah tim. Itu sebabnya mengapa Leo harus bisa kembali seperti biasanya di hadapan mereka.
“Jika bicara tentang itu... Aku mendengar kabar bahwa kerajaan telah mengirimkan seorang Ksatria Suci untuk menyelidiki masalah ini...” Sambung Gald sambil merenung mencoba mengingatnya.
“....?!”
Mendengar ucapan Gald, ekspresi wajah Lia tiba-tiba berubah saat Leo menyadarinya. Ia seperti terlihat tidak senang begitu mendengar kabar bahwa Ksatria Suci kerajaan akan datang ke kota ini untuk membantu menyelesaikan masalah di tambang ini.
“Ksatria Suci kerajaan...?” Balas Leo bertanya dengan wajah curiga.
“Aku dengar bahwa tuan walikota-lah yang meminta bantuan kepada kerajaan. Bagaimana pun juga, pertambangan adalah komoditas utama di kota ini sehingga masalah ini menjadi masalah yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup kota ini...” Jawab Gald menjelaskan.
“Bukankah itu bagus? Dengan hadirnya seorang Ksatria suci, aku rasa gerbang yang tersegel itu bukan menjadi masalah. Hal itu juga akan banyak membantu kita sebagai petualang saat menjelajah reruntuhan ini...” Ujar Zen dengan wajah gembira.
“Aku baru mendengar hal itu...” Sambung Leo dengan melirik ke arah Lia dengan wajah cemas.
Masalah ini akan menjadi lebih rumit bagi Lia jika Ksatria Suci itu sampai datang ke kota ini dan menemukannya. Itulah menjelaskan mengapa ia terlihat tidak senang.
“(Kurasa aku tidak perlu bertanya mengenai masalah ini kepadanya. Aku tidak ingin Gald dan Zen mendengarnya...)” Ujar Leo dalam hatinya.
Untuk saat ini, pilihan terbaiknya hanyalah diam dan menutup mulut. Ia tidak ingin membuat Lia terlibat ke dalam masalah lain.
Setelah perjalanan panjang, akhirnya mereka akhirnya hampir mencapai permukaan. Dan hanya tinggal beberapa anak tangga saja yang tersisa, mereka berempat dikejutkan dengan kedatangan Chrea yang terlihat panik.
__ADS_1
“Tunggu, Chrea...? Apa yang kau lakukan di sini...?” Tanya Gald begitu berpapasan dengannya.
“Ah. Kapten...! Syukurlah aku bertemu dengan kalian di sini...!” Balas Chrea dengan senyum senang.
“Memangnya ada masalah apa hingga kau terburu-buru seperti itu?” Tanya Zen dengan wajah bingung.
“Apa sesuatu terjadi pada kalian?” Sambung Gald dengan wajah panik.
“Tidak, bukan begitu. Kami baik-baik saja, tapi...” Jawab Chrea dengan wajah gugup.
“Memangnya ada masalah apa...?” Balas Gald kembali bertanya.
“U-Ugh... Tidak ada waktu untuk menjelaskan saat ini. Ikuti aku...!” Balas Chrea sebelum bergegas naik kembali.
Dengan sikap aneh, Chrea pun membawa mereka kembali ke permukaan bersamanya. Entah kejadian apa yang menimpa mereka berdua selama Gald menjelajah fasilitas penelitian itu, namun yang jelas ada yang mencurigakan.
Setelah menaiki anak tangga yang panjang, akhirnya mereka sampai di bangunan menara tepat ketika Kirishima dan Willem beserta beberapa prajurit bawahannya menunggunya.
“Kapten... Leonard-san... Akhirnya kalian kembali... Syukurlah kalian semua baik-baik saja...” Ujar Kirishima menghampiri mereka dengan wajah gembira.
“Ya. Kami semua baik-baik saja. Tetapi Kirishima, apa maksudnya ini...? Kenapa tuan Willem ada di sini...?” Balas Gald sebelum bertanya dengan wajah curiga.
“Kalau itu...” Balas Chrea dengan wajah gelisah.
Willem menghampiri mereka dengan raut wajah kaku sebelum akhirnya mulai angkat bicara.
“Aku datang kemari karena ingin menyampaikan pesan penting dari kelompok penjelajah yang dipimpin oleh Gideon dan Wein...” Ujar Willem dengan ekspresi serius.
“Pesan dari regu penjelajah...? Apa terjadi sesuatu pada mereka...?” Balas Gald dengan wajah serius.
“Kabar baik, mereka menemukan sesuatu di ujung jalan yang kalian petakan. Menurut pesan yang kuterima, mereka menemukan tempat lain yang merupakan peninggalan bangsa kuno itu.” Jawab Willem singkat.
“Begitu ya... Tunggu, mereka menemukan peninggalan kuno lainnya..?” Balas Gald dengan wajah terkejut.
“Ya. Kelihatannya mereka menemukan sesuatu yang besar di sana. Mereka juga memintamu untuk segera menyusul bersama seluruh pasukan. Itulah isi pesannya.” Balas Willem sambil menaruh jari pada dagunya berpikir.
“B-Begitu ya... Kami mengerti. Kami akan segera ke sana.” Ujar Gald dengan wajah gugup.
Bersama dengan teman-temannya, Gald pun mengikuti pesan tersebut dan langsung bergegas menuju jalan rahasia yang dimaksud. Namun, ketika mereka hendak meninggalkan bangunan menara tersebut, sebuah pertanyaan terbesit dalam benak Willem sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menanyakannya kepada mereka.
“....!!”
Mendengar pertanyaan itu, sikap mereka mendadak aneh. Beberapa dari mereka terlihat ketakutan sementara yang lainnya hanya terdiam sambil memalingkan pandangannya seperti seolah mencoba untuk menyembunyikan sesuatu. Sontak hal ini membuat Willem kebingungan sekaligus penasaran mengenai apa yang sebenarnya mereka lakukan di bawah tanah itu.
“Bisa dibilang, kami menemukan catatan kuno mengenai sejarah dibentuknya kota ini...” Jawab Leo dengan senyum gugup.
“Catatan kuno...? Memangnya kalian bisa membaca tulisan kuno bangsa yang membangun tempat ini...?” Balas Willem dengan wajah ragu.
“U-Uh... Kalau soal itu... Kami hanya menebaknya...” Balas Leo dengan ekspresi gugup.
“Jika tidak bisa membacanya, bagaimana kalian tahu isi tulisan itu? Apa kalian benar-benar menemukan catatan kuno itu?” Balas Willem semakin curiga.
Leo yang panik tidak bisa memikirkan alasan yang lain untuk mengelabuinya. Ia pun melihat sekitarnya mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, namun sayangnya Gald dan teman-temannya tidak bisa membantu karena masih syok dengan kejadian sebelumnya.
“(Sial...! Mereka sedang dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mendukung alasan yang akan kubuat...! Jika terus seperti ini, dia pasti akan sadar kalau kami menyembunyikan sesuatu darinya...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Dengan penuh kecurigaan di wajah Willem, Leo semakin didesak olehnya. Ini adalah keadaan yang sulit, jika ia bicara keluar topik dengan sengaja maka ia akan dianggap berbohong. Sebaliknya, jika ia memutuskan untuk diam, maka itu akan membuatnya terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tentu saja kedua pilihan ini sama-sama akan berakhir buruk karena Leo telah terlanjur bicara.
“Ada apa...? Kenapa kau tiba-tiba bertingkah aneh...? Apa terjadi sesuatu dengan kalian sewaktu di bawah sana...?” Sambung Willem bertanya dengan tatapan tajam.
“U-Uh... Tidak, tidak terjadi apa-apa ketika kami menjelajahi ruang bawah tanah itu...” Balas Leo dengan wajah gugup bercampur panik.
“Kalau begitu, jelaskan kepadaku tentang catatan kuno itu dan alasan kenapa sebelumnya terjadi guncangan dari dalam bangunan menara itu.” Balas Willem menekankan nada bicaranya.
“K-Kalau masalah itu, sebenarnya...” Balas Leo memalingkan matanya panik.
“... Sebenarnya kami secara tidak sengaja membuka Grimoire yang ada bersama catatan itu.” Sambung Lia dengan sikap tenang.
Saat Leo nyaris saja kehabisan pilihan, Lia menolongnya dengan kebohongan yang dikarangnya. Pada awalnya Willem tampak ragu dengan ucapannya, namun dengan tenang Lia menghadapinya sebelum mencoba meyakinkannya.
“Grimoire...? Maksudmu buku yang berisi mantra sihir?” Balas Willem dengan wajah ragu.
“... Ya. Itulah penyebab guncangan tadi.” Jawab Lia dengan sikap tenang.
“Y-Ya. Kami secara tidak sengaja membukanya dan menyebabkan ledakan itu. Karena itulah kami agak malu untuk menceritakannya...” Sambung Leo mendukungnya.
__ADS_1
“Begitu ya. Sekarang aku mengerti. Sepertinya kalian mendapat masalah besar, huh?” Balas Willem dengan wajah ramah.
“B-Begitulah...” Balas Leo tertawa terpaksa.
Meski tidak menyangkanya, Leo tetap merasa lega mengetahui kebohongan yang ia ceritakan dapat diterima olehnya. Hal ini tidak akan berhasil tanpa bantuan Lia yang menambahkan sedikit bumbu pelengkap pada ceritanya. Kali ini ia benar-benar diselamatkan olehnya.
“Grimoire, huh? Sekarang aku mengerti apa yang kalian maksud sebelumnya. Masuk akal jika mengaitkan Grimoire dengan tujuan dibangunnya kota ini. Mengingat bagaimana Grimoire itu sangat berharga, sudah menjadi hal yang wajar untuk menyembunyikan tempat diciptakannya buku sihir itu...” Ujar Willem merenung dalam pikirannya.
“Y-Ya. Meski kami tidak mengira kalau akan timbul hal semacam itu saat secara tidak sengaja membukanya...” Balas Leo sambil menggaruk pipinya sambil memasang senyum gugup.
“Kalau begitu kerja bagus untuk kalian semua. Ini akan jadi berita gembira untuk walikota dan juga kerajaan.” Balas Willem tersenyum senang.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju jalan rahasia yang ada di bagian terluar kota. Bersama dengan anggota regu lain, mereka menyusuri jalan yang belum dipetakan menuju ke tempat Gideon dan Wein berada. Meski sempat bertanya-tanya kenapa Gideon mengirim pesan untuk membawa seluruh pasukan, namun sepertinya Willem menduga ini akan menjadi akhir dari penjelajahan mereka kali ini.
“Masih seberapa jauh lagi?” Tanya Willem pada pembawa pesan itu.
“Masih cukup jauh... Dan sebaiknya kalian bersiap karena mulai dari sini jalurnya akan berubah...” Balas pembawa pesan memberi mereka peringatan.
Dan tepat seperti yang dikatakannya, jalan yang semula lurus kini berubah menjadi turunan yang cukup curam. Menyadari hal tersebut, Willem lantas menyuruh seluruh anggota regu untuk membentuk barisan dan berjalan turun bergiliran agar mencegah kecelakaan yang tidak diinginkan.
Setelah memakan waktu beberapa lama, mereka semua akhirnya berhasil menuruni jalur terjal tersebut sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Selang beberapa menit setelah turun, mereka akhirnya tiba di ujung jalan tersebut tepat di mana sebuah lubang berada. Untuk sejenak, mereka semua terkesima menyaksikannya, itu adalah lubang yang tercipta bukan secara alami, melainkan karena sebab tertentu yang disengaja. Hal ini memberikan kesan yang sama ketika mereka menemukan jalan rahasia yang mengarah menuju ke kota di bawah tanah itu.
“Leo...” Bisik Lia dengan wajah serius.
“... Ya. Aku juga merasakannya.” Balas Leo dengan ekspresi yang sama.
Leo merasakan kehadiran dan sihir yang kuat dari balik jalan rahasia tersebut. Cahaya yang berasal dari dalam sana merupakan sebagian dari sihir yang menyelimuti tempat tersebut. Beberapa orang juga ikut merasakannya meski wajah mereka tampak ragu-ragu. Apa pun itu, yang jelas semuanya akan terjawab ketika mereka sampai di baliknya.
“Di dalam sana... Tuan Wein dan Gideon menunggu...” Ujar pembawa pesan itu menunjukkan jalannya.
“... Aku mengerti. Ayo kita masuk...” Balas Willem sebelum memberi perintah.
Sesuai dengan ucapan Willem, mereka pun mulai bergantian memasuki jalan yang terbuka untuk sampai ke tempat Gideon dan Wein berada. Ekspresi tegang dan gelisah tampak pada wajah para petualang pemula yang ikut dalam penjelajahan kali ini. Mungkin karena ini adalah pengalaman pertama mereka ikut andil dalam misi penting seperti ini, atau mungkin juga mereka ketakutan.
Sesampainya di dalam, mereka dikejutkan dengan sebuah ruang terbuka yang sangat luas menyambut mereka. Dengan struktur bangunan yang hampir sama dengan yang ada di ruang rahasia di bawah tanah menara. Untuk sekilas tempat ini mirip arena dengan bentuk bangunannya yang melingkar bertingkat.
“Tempat apa ini...?” Gumam Zen terpukau melihat sekitar.
“Entahlah... Tetapi aku punya firasat tempat ini hampir sama dengan yang kita lihat sebelum sampai ke sini...” Balas Gald ikut terpukau.
“Eh...? Apa yang kalian bicarakan...?” Tanya Chrea dengan wajah bingung.
“T-Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya bilang tempat ini sedikit mirip dengan dasar tangga yang ada di ruang bawah tanah, hanya saja jauh lebih luas dan terstruktur...” Jawab Gald dengan nada canggung.
“Hm? Begitukah?” Balas Chrea dengan wajah penasaran.
Terlihat bahwa Gald dan Zen berusaha tutup mulut mengenai apa yang mereka temukan di bawah laboratorium itu. Ia sadar bahwa jika ia membicarakan masalah itu di sini, mungkin saja Willem mendengarnya.
Pada saat yang sama pula, Lia merasakan perasaan yang sama seperti mereka berada di bawah laboratorium. Entah kebetulan atau tidak, ia secara samar merasakan sihir yang sempat ia rasakan ketika Leo memeriksa medan sihir di sana.
“(Perasaan ini... Aku merasakan sihir yang mirip dengan yang ada di gerbang itu. Apa maksudnya ini...?)” Ujar Lia dalam hatinya curiga.
Tidak hanya mirip, sihir yang ia rasakan justru jauh lebih kuat dari yang ia rasakan sebelumnya. Hal itu menjadikannya lebih curiga terhadap tempat ini.
Pada saat yang sama, Willem memanggil kelompok Leo dan Gald untuk bersamanya menemui Gideon. Mereka menghampiri Gideon yang tengah bersama Wein di ujung lantai ketika Leo menyadari ada sesuatu yang aneh pada raut wajah mereka.
“Gideon, Wein, aku sudah sampai. Aku juga membawa petualang Leonard dan Alicia bersamaku, jadi apa yang ingin kau tunjukkan kepada kami?” Ujar Willem menyapa mereka.
“Ah. Kalian sudah sampai...” Balas Wein berbalik dengan wajah tegang.
“Oi. Ada apa dengan ekspresi itu? Kau terlihat panik seperti itu, memangnya ada apa?” Balas Willem bertanya dengan ekspresi curiga.
“Petualang Leonard dan Alicia, kemarilah... Ada hal yang ingin kutunjukkan kepada kalian...” Ujar Gideon tidak bergeming dari tempatnya.
Melihat ekspresi aneh Wein dan sikap aneh Gideon, Leo semakin curiga mengenai tempat ini. Sesuai dengan yang dia ucapkan, Leo dan Lia datang menghampirinya untuk melihat apa yang menyebabkannya tertegun di tempat.
“....!!”
“....?!”
Seketika itu pula, Leo dan Lia terdiam dengan ekspresi terkejut di wajah mereka begitu menyaksikan apa yang ada di pusat tempat itu. Melihat sikap mereka berdua yang mendadak berubah, Willem pun memutuskan untuk melihat apa yang menyebabkan mereka berdua sampai membeku dengan ekspresi seperti itu.
“Apa yang ada di bawah san—“
__ADS_1
Willem yang semula penasaran seketika memasang wajah terkejut hingga nyaris terjatuh ke belakang. Wajahnya berubah menjadi pucat dengan keringat dingin membasahi pelipisnya ketika menyaksikan apa yang tersembunyi di tempat itu.