Black Arc Saga

Black Arc Saga
Harapan


__ADS_3

... ...


Sekitar dua puluh tahun yang lalu, di sebuah malam yang berangin, tepatnya di pinggiran kota Hillbern berdirilah sebuah gereja tua yang merupakan satu-satunya gereja di kota tersebut. Di malam itu, seseorang misterius datang ke gereja itu dengan pakaian mengenakan jubah dan pakaian lusuh tanpa mengenakan alas kaki. Ia membawa sebuah keranjang bersamanya sebelum akhirnya mengetuk pintu gereja tersebut dengan tangannya yang gemetaran. Ia mengetuk pintu itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya seorang biarawati membuka pintu setelah mendengar suara ketukannya.


 


“Ya, ada perlu apa datang kemari di tengah malam seperti—“


 


Tepat sebelum menyelesaikan kalimatnya, biarawati itu terkejut bukan main melihat siapa yang berdiri di balik pintu. Dia adalah sesosok wanita berambut pirang yang wajahnya dipenuhi dengan darah. Tubuhnya juga dipenuhi oleh luka ketika biarawati itu menyadarinya.


 


“Apa yang terjadi denganmu...! Kamu terluka parah...!” Ujar biarawati itu terkejut dan panik.


 


“... A-A.”


 


“Kita tidak punya waktu, cepatlah masuk! Saya akan segera merawat lukamu!” Sambung biarawati itu meraih tangannya dan lekas membawanya masuk.


 


Namun, saat hendak melakukannya, wanita berambut pirang itu menolaknya. Ia justru memberikan keranjang yang ada di tangan satunya kepada biarawati itu. Bingung dan penasaran, biarawati itu pun mencoba memeriksa apa yang ada di balik kain yang ada dalam keranjang tersebut.


 


“I-Ini...!” Ujarnya terkejut.


 


Begitu membukanya, pandangan dikejutkan oleh kehadiran seorang bayi yang ditempatkan dalam keranjang tersebut. Entah apa maksudnya, namun bersamaan dengan itu, wanita berambut pirang itu membuka tudungnya sebelum akhirnya menunjukkan wajah aslinya kepadanya.


 


“Tolong... Jagalah dia... Sembunyikan dia...” Ujar wanita itu dengan nada lemah.


 


“E-Eh...? Apa maksudmu..?” Balas biarawati itu kebingungan.


 


Wanita itu mengabaikan ucapan sang biarawati sesaat sebelum ia membelai bayi itu sambil berbisik kepadanya.


 


“Maafkan ibu, sayang... Ini semua terpaksa ibu... Lakukan demi keselamatanmu... Jaga dirimu baik-baik... Galdean sayangku... Dan selamat tinggal...” Bisiknya sebelum akhirnya menciumnya lembut.


 


Setelah mengatakan itu, ia pun perlahan berjalan pergi dari hadapan biarawati itu ketika dia berusaha menghentikannya.


 


“Berhenti...! Ke mana kamu pergi...! Apa yang sebenarnya terjadi...!” Seru biarawati itu berusaha mengejarnya.


 


“....”


 


Namun, wanita itu terus berjalan menembus kencangnya hembusan angin malam. Hingga tak lama berselang, badai pun datang menghentikan niatnya mengejar wanita tersebut. Ia hanya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membawa bayi itu ke dalam gereja bersamanya.


 


Untuk sejenak, biarawati itu mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Namun, pada saat yang sama, bayi itu menangis karena merasa kedinginan sebelum akhirnya biarawati itu menggendongnya dan memeluknya.


 


“Tenanglah sayang... Jangan takut... Aku ada di sini untukmu...” Ujarnya dengan nada lembut.


 


Ia memang belum mengerti apa yang menimpa anak ini dan ibunya, namun mengingat ucapan terakhir ibunya membuatnya yakin bahwa kejadian buruk memaksa mereka untuk berpisah. Ia pun akhirnya memutuskan untuk merawatnya hingga ia menemukan penjelasan di balik kejadian yang menimpa ibunya.


 


“Baiklah, mulai sekarang aku akan merawatmu... Kamu bisa memanggilku ibu, Galdean kecilku... Jangan cemas, ibu tidak akan meninggalkanmu lagi kali ini... Ibu berjanji...” Bisiknya dengan suara lembut.


 


Dan begitulah bagaimana pertemuan mereka terjadi. Dengan diselimuti banyak misteri mengenai asal usulnya, biarawati itu membesarkan anak laki-laki bernama Galdean itu.


 


Bertahun-tahun kemudian, Galdean telah tumbuh menjadi anak yang sehat. Ia sering membantu ibunya mengurus pekerjaan rumah dan gereja. Tidak hanya itu, bersama dengannya tumbuh, gereja itu juga ikut merawat anak-anak terlantar yang kehilangan orang tuanya. Ia kini menjadi seorang kakak dari adik-adiknya yang bernasib sama dengannya. Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, Gald kecil tumbuh menjadi anak yang baik berkat asuhan ibunya yang seorang biarawati. Ia banyak belajar darinya mulai dari hal-hal umum hingga hal yang bersifat spiritual.


 


Kehidupan mereka harmonis sampai akhirnya pada suatu hari, petunjuk mengenai masa lalunya perlahan mendatanginya. Biarawati menemukan kenyataan bahwa wanita yang merupakan ibu kandung Gald adalah wanita gelap dari walikota. Hal itu diketahui belakangan ini ketika beberapa rumor di kota menyebutkan bahwa walikota memiliki anak haram dari hubungan gelapnya. Bahkan, walikota juga memerintahkan prajurit kota untuk mencari keberadaan anak haramnya itu guna menutupi aib yang telah dibuatnya.


 


Hingga pada akhirnya, petunjuk mulai mengarah kepada biarawati itu yang selama ini telah diam-diam membesarkan Gald yang merupakan anak haram walikota. Hari itu prajurit kota mendatanginya setelah mendapat petunjuk mengenai keberadaan anak dengan ciri yang sama dengan wanita itu. Namun, biarawati itu menyangkal hal tersebut dan menolak memberitahu informasi tentangnya. Kedekatan yang selama ini terbentuk di antara mereka membuatnya memilih untuk menjaga rahasia meski itu artinya harus menentang walikota yang merupakan seorang bangsawan.


 


Mendengar kabar ini, sang walikota akhirnya mengambil langkahnya sendiri. Dengan skenario yang dibuatnya, ia menyiapkan segala sesuatunya hanya untuk menyingkirkan anak haramnya, Galdean. Dan benar, skenario itu adalah peristiwa kebakaran yang terjadi pada kota itu lima tahun silam. Namun sayangnya, rencana itu gagal karena biarawati itu yang menjadi korbannya.


 


Gald berakhir bertahan hidup bersama Chrea, Kirishima dan Zen. Sejak saat itulah mereka menjalani hidup mereka tanpa kehadiran biarawati yang merupakan sosok ibu yang tidak dapat digantikan. Dan pada saat yang sama pula, Gald kehilangan sosok ibunya untuk kedua kalinya. Ia bahkan belum mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya karena bahkan hingga akhir hayatnya ibunya tidak pernah menceritakan asal usulnya. Namun, ia merasa itulah yang terbaik baginya. Masa lalu memang tidak bisa dirubah, namun masa depan dapat diperjuangkan, itulah yang ia yakini.


 


“Zen, Chrea, Kirishima... Aku berjanji... Aku berjanji atas nama ibu, aku akan melindungi kalian selamanya...” Ujar Gald menguatkan hatinya sambil menyeka air matanya.


 


“Kakak...” Balas mereka bertiga bersamaan.


 


“Tidak peduli apa pun yang terjadi nantinya, aku akan tetap menjadi kakak kalian dan melindungi kalian semua!” Sambungnya sambil mengepalkan tinjunya menatap langit senja.


 


Di hari itu, tepat setelah pemakaman ibunya, Gald mengucapkan sumpahnya di hadapan makam ibu dan ketiga adiknya. Ia telah bersumpah akan menjadi kakak terbaik bagi mereka semua.


 


 


 


***


 


 


 


Melihat mereka bertiga dalam keadaan lemah, naga itu memanfaatkan kesempatan untuk menghabisi mereka. Ia melompat sambil mengepakkan sayapnya yang mana membuat kabut hitam itu tertiup angin ke arah mereka sebelum ia melanjutkannya dengan menyemburkan nafas apinya. Leo yang menyaksikan serangan itu datang lantas menarik Lia dan Gald untuk melompat menghindar bersamanya. Dengan ia membawa mereka dalam gendongannya sebelum akhirnya berguling menjauh ketika kabut hitam dan kobaran api itu melahap tempat mereka semula.


 


“Tch.”


 


Mereka bertiga berhasil menghindari serangan itu, namun sesaat kemudian naga itu mendarat tepat di hadapan mereka bersiap melancarkan serangan lainnya kepada mereka. Sontak mereka terkejut dengan kedatangannya yang lebih cepat dari yang mereka perkirakan.


 


“(Cepat sekali...! Pergerakannya lebih cepat dari yang sebelumnya...!)” Ujar Lia dalam hatinya terkejut.


 


Naga itu mengangkat cakar besinya bersamaan dengan mulutnya yang menganga bersiap menghembuskan nafas api ketika Leo mengambil langkah cepat untuk melempar mereka berdua menjauh darinya.


 


“Leo—“


 


Tidak berselang lama, naga itu mengayunkan cakar besi tajamnya ke arah Leo ketika ia menahannya dengan Greatswordnya sebelum akhirnya naga itu melancarkan semburan apinya.


 


“Leo...!!”


 


Dengan wajah panik Lia menyaksikan hal itu. Meski Leo cukup kuat secara fisik, namun dia tidak bisa menggunakan sihir untuk melindungi dirinya. Semburan api itu hampir mustahil untuk ditangkis hanya dengan kekuatan fisik saja.


 

__ADS_1


“....?!”


 


Namun, ketika Lia berpikir bahwa Leo tidak selamat, ia justru muncul dari balik kobaran api melompat ke arah naga itu sambil mengayunkan Greatswordnya. Tidak tinggal diam, naga itu mencoba menghalau serangan itu dengan cakarnya, namun dengan sigap menggunakan bilah pedangnya sebagai perisai untuk menghalau serangan itu mengenainya. Ia terlempar sebagai akibatnya, namun secara mengejutkan, tepat ketika ia mendaratkan kakinya ke lantai ia langsung berbalik melesat ke arahnya. Kecepatannya meningkat tidak seperti biasanya sebelum akhirnya ia mengayunkan pedang miliknya. Dengan hanya berbekal kekuatan fisiknya, Leo bahkan nyaris memenggal naga itu, namun sayangnya pedangnya terhenti ketika menghantam sisi bagian besi tubuhnya.


 


“Tch.”


 


Darah bercucuran keluar dari tubuhnya, namun hal itu masih belum mampu untuk membunuhnya. Dengan penuh amarah, naga itu mengibaskan tubuhnya guna menjauhkan Leo darinya sebelum akhirnya ia berdiri dengan dua kaki belakangnya mengangkat tubuh dan membentangkan sayapnya menyebarkan kabut hitam mematikannya sambil menyiapkan serangan besarnya.


 


“Sial!” Gumam Leo kesal.


 


Leo mulai mengambil langkah mundur ketika kabut itu menyebar. Namun di saat yang bersamaan, naga itu membuka mulutnya ketika kekuatan sihir keunguan berkumpul di sekitarnya. Selang beberapa saat, naga itu menyemburkan sihir yang telah ia kumpulkan menjadi semburan berkepadatan tinggi ke arah Leo yang tengah menjaga jarak darinya.


 


“Leo...!!” Seru Lia dengan wajah cemas.


 


Naga itu terus mengejar Leo dengan semburannya yang bahkan dapat melenyapkan apa pun dengan mudah. Di sisi lain, Leo tidak dapat mendekat karena kabut hitam itu semakin meluas membuatnya tidak punya pilihan lain selain menghindar. Tentunya hal tersebut berisiko karena semakin lama ia melakukannya, maka kabut itu akan menelannya.


 


“(Sial...! Jika terus seperti ini aku akan kehabisan tenaga dan tertelan oleh kabut itu...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Ledakan demi ledakan terus bermunculan setiap kali naga itu menyemburkan sihirnya. Seluruh lantai berubah menjadi lautan kawah merah yang membara hanya dalam sekejap mata. Meski demikian, tak satu pun dari serangannya mengenai Leo. Hal tersebut memaksa sang naga untuk menyerang dengan lebih agresif.


 


“Rrrrrrr....!!!”


 


Naga itu menaikkan sayapnya sebelum akhirnya menghujani Leo dengan sisiknya. Belasan hingga puluhan sisiknya yang diselimuti cahaya keunguan mulai berjatuhan layaknya anak panah. Menyadari serangan itu datang, Leo lantas mengambil gerakan cepat untuk menghindarinya. Satu persatu sisik yang mengarah padanya dengan mudah ia hindari tepat ketika ia menyadari sesuatu.


 


“(Tunggu dulu...! Kenapa kabut hitam itu menyebar sampai ke sini secepat itu...! Jangan katakan kalau sisiknya membawa kabut hitam beracun itu bersamanya...!)” Ujar Leo dalam hatinya terkejut.


 


Setiap kali sisik itu menancap ke lantai, dia menebarkan kabut hitam pada area di sekitarnya. Hal itu menyebabkan penyebaran kabut hitam itu menjadi semakin cepat. Ditambah dengan jumlahnya yang tidak terhitung tersebar ke seluruh penjuru tempat membuat ruang gerak Leo semakin terbatas.


 


“(Sial...! Jika hujan sisik itu terus berlanjut, aku tidak punya tempat untuk lari lagi...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Menyadari keadaan Leo yang semakin terdesak, Lia pun berniat melakukan sesuatu untuk menolongnya. Ia tidak bisa hanya diam menontonnya perlahan tewas begitu saja. Ia bangkit dengan bertumpu pada pedangnya, namun karena telah kehilangan hampir sebagian besar kekuatannya membuat Lia melemah.


 


“Mhn...! Hah...! Hah...! Aku harus... Menolong Leo...!” Gumam Lia sekuat tenaga mencoba bangkit.


 


Ia akhirnya berakhir kembali terduduk lemah ketika ledakan yang lain kembali terdengar. Keadaan Leo kini semakin sulit, kabut itu semakin memenuhi seluruh tempat yang ada. Tidak lama lagi, Leo pasti akan terpojok.


 


“(Tidak ada banyak waktu yang tersisa...! Aku harus segera melakukan sesuatu...!)” Ujar Lia dalam hatinya panik.


 


Ia pun melihat ke arah Gald yang tengah terbaring putus asa di sampingnya. Dia terlihat masih terpukul atas kematian mereka bertiga. Sembari menangis, dia meratapi kepergian mereka bertiga yang terbilang tragis itu.


 


“Zen... Chrea... Kirishima... Sial...! Sialan...! Kenapa kalian harus mati dengan cara seperti itu...!” Ujar Gald menutupi matanya dengan lengannya menangis.


 


“Gald...” Ujar Lia dengan wajah prihatin.


 


 


Lia tahu bahwa Gald tengah berduka, namun ia tidak punya pilihan lain. Untuk menyelamatkan Leo, ia memerlukan bantuannya. Ia pun menguatkan tekadnya untuk membujuk Gald meski pun itu mungkin akan menyakiti perasaannya.


 


“Lupakan tentang mereka bertiga, Gald...! Mereka semua sudah pergi...!” Ujar Lia dengan nada tinggi.


 


“...? Alicia, apa yang barusan kau katakan...?” Balas Gald membuka matanya melirik ke arahnya.


 


“Tidak ada gunanya meratapi mereka yang telah pergi! Itu hanya akan membuatmu menyiksa diri! Sekarang fokuslah pada apa yang penting saat ini!” Balas Lia dengan nada marah.


 


“Tidak penting...? Tidak penting katamu...?” Balas Gald dengan nada berubah.


 


Gald bangun dengan ekspresi yang sinis sebelum akhirnya menghampiri Lia dengan wajah marah.


 


“Mereka bertiga adalah keluargaku...! Bagaimana mungkin menyebut mereka tidak penting...! Mereka adalah alasanku berjuang selama ini...!” Ujar Gald dengan marah.


 


“Jika kau punya kekuatan untuk marah padaku, itu artinya kau masih punya cukup kekuatan untuk bertarung. Kenapa kau tidak gunakan itu untuk melawan makhluk itu?” Balas Lia dengan tatapan tajam di matanya.


 


“Apa kau tidak lihat? Makhluk itu membunuh ketiga adikku dan seluruh pasukan yang ada! Mana mungkin aku bisa melakukannya!” Balas Gald dengan nada tinggi.


 


“Kita tidak akan tahu sampai kita mencobanya.” Balas Lia dengan nada datar.


 


“Tidak...! Aku tidak mungkin bisa mengalahkannya! Itu mustahil!”


 


“Tentu saja, kenapa tidak?”


 


“Apa kau belum mengerti juga? Aku hanya orang biasa yang lemah! Aku tidak punya kemampuan hebat seperti yang kau miliki! Bagaimana mungkin aku bisa mengalahkan seekor naga yang selalu disebut sebagai monster pembawa bencana!”


 


“Berdebat mengenai ini tidak ada gunanya. Kita harus mengalahkan naga itu secepatnya sebelum terlambat!”


 


“Sudah kukatakan kepadamu bahwa aku tidak bisa...! Kau tidak lihat ketakutan di wajahku ini...! Kenapa kau tidak sadar juga...!”


 


Gald terduduk lemah setelah berteriak kepada Lia sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya.


 


“Aku tidak bisa... Aku masih belum bisa menghapus ingatan ketika mereka bertiga tewas oleh monster itu... Pada akhirnya semuanya tidak berubah... Sekuat apa pun aku berusaha, takdirku tidak pernah berubah... Aku hanya orang biasa yang lemah yang terlahir tanpa Skill...” Ujar Gald sebelum kembali menangis.


 


“....”


 


“Kau tidak akan mengerti perasaan yang kualami saat ini... Perasaan diskriminasi yang dirasakan olehku, oleh kami pembawa berkah yang harapannya tidak pernah tersampaikan... Sementara kau, kau mendapatkan kekuatan itu, kau memiliki kekuatan untuk mewujudkan harapan itu... Itulah yang membuat kita berbeda... Kau tidak akan mengerti bagaimana kejamnya dunia kepada kami yang tidak dikaruniai Skill... Ditambah, kau belum pernah merasakan bagaimana kehilangan orang yang kau cintai tepat di depan matamu... Dunia ini penuh dengan ketidakadilan dan kekejaman... ” Sambung Gald dengan nada kecewa.


 


“Kau salah, aku juga mengerti perasaan yang kau rasakan...” Balas Lia dengan wajah serius.


 


“Apa...?! Apa yang kau katakan...?”


 

__ADS_1


“Semua yang kau rasakan, aku sudah pernah merasakannya...”


 


“Kau pasti bercanda, bukan..? Kau hanya ingin menghiburku saja, benar bukan!”


 


“....”


 


“....?!”


 


Melihat ekspresi Lia membuatnya sadar bahwa apa yang dikatakannya memang sepenuhnya benar. Ia pun seketika terdiam sesaat sebelum Lia membalasnya.


 


“Kehilangan orang yang kau cintai tepat di hadapanmu tanpa bisa melakukan apa-apa terasa sangat menyakitkan... Rasanya seperti kau menjadi manusia paling tidak berguna yang hidup... Kau ingin menolongnya, namun apa gunanya karena kau tidak bisa melakukan apa pun... Aku mengerti betul bagaimana rasanya...” Ujar Lia dengan nada sedih.


 


“Alicia... Kau...” Gumam Gald terdiam.


 


“Aku mungkin berbohong jika mengatakan aku mengerti perasaanmu yang tertindas akibat tidak dikaruniai Skill, namun aku menyaksikan bagaimana semua hal itu terjadi pada seseorang yang kukenal... Dia dibuang oleh kaumnya sendiri dan terpaksa berkelana sepanjang hidupnya...”


 


“....”


 


“Namun, dia tidak menyerah begitu saja pada takdirnya. Dalam keterbatasannya, dia menunjukkan bahwa dibalik kekurangannya, terdapat hati yang mulia. Dia pula orang yang telah menyembuhkan kesedihan di hatiku. Dan kini, orang itu masih bertarung melindungiku dengan mengorbankan dirinya melawan seekor naga yang ganas hanya mengandalkan apa yang ada...”


 


“Orang yang kau maksud... Jangan-jangan...!”


 


“Benar, tepat sekali...”


 


Lia melihat ke arah Leo yang tengah berjuang melawan naga itu seorang diri. Gald akhirnya mengerti bagaimana perasaan Leo dan Lia selama ini. Dibalik sosok mereka yang kuat, tersimpan cerita sedih di antara mereka berdua. Untuk sejenak Gald merenungkan apa yang ia katakan sebelumnya.


 


“Alicia... Aku... Maafkan aku... Aku tahu kau berusaha membuatku tegar... Tapi, aku tidak menyadarinya karena kesedihanku sendiri...” Ujar Gald dengan menyesal.


 


“Tidak... Aku tahu bagaimana perasaan sedih itu. Aku tidak menyalahkanmu untuk hal itu. Aku tidak ingin kehilangan orang yang kucintai lagi... Maka dari itu, aku mohon pinjamkan aku kekuatanmu...” Balas Lia sebelum melihatnya dengan ekspresi sedih.


 


“Tentu saja, aku pasti membantumu!” Balas Gald menyeka air matanya sebelum tersenyum percaya diri.


 


“Terima kasih, Gald...” Balas Lia tersenyum.


 


“Lalu, apa yang harus kulakukan...?”


 


Di antara ledakan yang mengguncang tempat itu, Leo bertahan sekuat tenaga dari setiap serangan yang dilancarkan oleh naga itu. Hingga pada titik di mana ia kehabisan tempat untuk menghindar dikarenakan kabut hitam itu telah sepenuhnya mengepungnya.


 


“(Sial... Aku terkepung dari segala sisi... Dia benar-benar mengurungku...)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Naga itu bersiap melancarkan semburan sihirnya ketika Leo kehabisan pilihan. Namun, sesaat sebelum naga itu hendak melakukannya, secara mengejutkan sebuah tombak melesat ke arahnya. Meski tidak melukainya, namun hal itu cukup membuatnya terganggu hingga akhirnya ia memalingkan pandangannya dari Leo mencari tahu siapa melakukannya.


 


“Hey, makhluk kadal terbang...! Aku di sini...!” Serunya mengejek naga itu.


 


“Gald...! Apa yang dia lakukan...!” Gumam Leo terkejut.


 


Pelakunya tidak lain tidak bukan adalah Gald. Dia sengaja melemparkan tombak milik salah seorang prajurit yang telah tewas guna mengalihkan perhatian naga itu dari Leo.


 


“(Apa dia sadar apa yang dilakukannya...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik melihatnya.


 


Tepat ketika naga itu melihat kehadiran Gald, dia tanpa ragu menyerangnya dengan seluruh kekuatannya. Ia menyemburkan sihirnya ke arahnya. Ia pun berlari sekuat tenaga menghindari semburan mematikan itu ketika Gald berteriak kepada Leo dalam pelariannya.


 


“Leonard, sekarang saatnya...! Jatuhkan dia...!” Seru Gald berlari dari serangan yang datang.


 


“...?!”


 


Meski terkesan nekat, namun Leo akhirnya mengerti niatnya. Dia sengaja mengalihkan perhatian naga itu darinya agar Leo bisa memberikan celah bagi Lia untuk menghabisinya. Ia mengetahuinya ketika Lia secara mengejutkan tidak berada bersamanya.


 


“Begitu ya... Aku mengerti sekarang...!” Ujar Leo menyeringai.


 


Ia pun mengambil posisi bersiap sebelum akhirnya mengerahkan seluruh kekuatannya melesat menuju ke arah kabut hitam itu dengan membawa pedangnya. Ia mengayunkan pedang itu dengan satu tangannya yang menciptakan hembusan angin yang menerbangkan kabut yang ada di sepanjang jalannya. Begitu jalannya terbuka, Leo dengan secepat angin berlari menuju ke arah naga itu sebelum akhirnya menyerangnya dengan sekuat tenaga.


 


“Haaa...!!!”


 


Ia melesat tepat di bawah tubuhnya menebas masing-masing kaki yang ada di jalurnya sesaat sebelum ia berbalik dan melompat ke udara. Dengan momentum yang sama, Leo menggunakan kesempatan itu untuk menusuk kepala naga itu dengan pedangnya sebelum akhirnya menjatuhkannya ke tanah.


 


“Rrrrrr...!!!!”


 


Naga itu berusaha melawan, namun Leo dengan sekuat tenaganya mencoba menahannya ketika Lia mulai bersiap menghabisinya dengan serangan pamungkasnya.


 


“Sekarang, Lia...!!!” Seru Leo kepadanya dengan sekuat tenaga.


 


Lia menggenggam pedangnya dengan kedua tangannya sambil mengambil kuda-kuda ketika ia mulai merapalkan mantranya.


 


“Angin utara membawa kabar duka bagimu, daun merah berguguran mengiringi kepergianmu, biarkanlah cahaya senja menjadi penuntun bagimu menuju tempat akhirmu...”


 


Seketika itu seluruh tubuhnya diselimuti oleh cahaya merah tua yang terang, pedangnya perlahan menyala dengan cahaya yang sama ketika hembusan udara yang kuat bertiup di sekitarnya. Ia pun menutup matanya sejenak sebelum ia mengambil langkah akhir dalam mantranya.


 


“... Crimson Blade: End of Autumn.”


 


Dalam sepersekian detik, Lia melesat secepat kilat sesaat sebelum ia mengayunkan sebuah serangan diagonal menyilang dengan seluruh kekuatannya bersamanya. Untuk sesaat hanya terdengar suara benturan logam yang menggema setelah Lia melancarkan serangannya, namun tak berselang setelahnya ledakan kekuatan sihir yang dahsyat seketika menelan seluruh area di sekitarnya dalam warna merah tua yang berputar membentuk pusaran angin. Ledakan itu sangat kuat hingga membuat seluruh lantai yang ada di sekitarnya terangkat naik dan terlempar. Leo yang berada di dekatnya tidak lepas begitu saja, ia pun ikut terlempar dengan kuat hingga membentur dinding yang ada di sebrangnya ketika ledakan itu bergejolak.


 


“Ugh...!”


 


“L-Luar biasa...!” Gumam Gald bertahan dari ledakan sambil terpukau.


 


Ledakan itu terus bergejolak dan menyebar sebelum akhirnya perlahan menghilang menyisakan guguran daun Maple yang terbang terbawa angin. Daun-daun itu untuk sejenak beterbangan sebelum akhirnya ikut menghilang sesaat sebelum semuanya berakhir.

__ADS_1


__ADS_2