Black Arc Saga

Black Arc Saga
Amarah dari makhluk kuno


__ADS_3

Menyaksikan makhluk apa yang ada di dasar tempat itu, Leo hanya bisa memikirkan satu hal tentang orang-orang kuno itu. Kegilaan, tidak, bahkan jauh lebih buruk dari kata itu, ia tidak bisa memikirkan istilah lain yang dapat menggambarkan apa yang dilakukan oleh orang-orang itu terhadap makhluk ciptaan mereka ini.


 


“(Bahkan mereka sampai membuat makhluk mengerikan ini... Apa yang ada di pikiran mereka...!)” Ujar Leo dalam hatinya kesal menyaksikannya.


 


Melihat Willem yang tiba-tiba ketakutan, anggota regunya yang penasaran akhirnya memutuskan untuk melihat apa yang membuatnya bertingkah seperti itu. Dan selanjutnya, hal yang sama pun terjadi pada mereka.


 


“A-A-Apa itu...! Makhluk mengerikan macam apa itu...!” Seru salah seorang petualang dengan wajah syok.


 


“M-Mustahil...! Bukankah itu...” Sambung yang lain terkejut menyaksikannya.


 


Gideon menoleh ke arah Leo, Lia dan Willem sebelum akhirnya angkat bicara kepada mereka bertiga.


 


“Benar, itulah yang ingin kutunjukkan kepada kalian. Aku tidak melarang kalian untuk terkejut karena aku juga masih merasakan perasaan yang sama dengan kalian...” Ujar Gideon dengan wajah datar dan tatapan hampa.


 


“A-Apa maksudnya ini...! B-Bagaimana bisa makhluk itu ada di sini...!” Balas Willem dengan wajah pucat bercampur syok.


 


“Sudah jelas, bukan? Dia adalah alasan tempat ini ada...” Ujar Wein membalasnya.


 


“A—“


 


Sontak ekspresi ketakutan diperlihatkan oleh seluruh orang yang menyaksikan makhluk itu. Hal itu sudah wajar, mengingat mereka dikenal sebagai makhluk penguasa langit yang hidup bersama para dewa bahkan sejak dunia ini ada. Hembusan nafasnya dapat membakar kehidupan yang ada di sekitarnya, serta kepakan sayapnya dapat membuat siapa pun yang mendengarnya seketika meringkuk dalam ketakutan. Tidak lain dan tidak bukan, makhluk yang selama ini mereka lihat adalah...


 


“Naga...” Bisik Leo dengan ekspresi marah.


 


Mendengar nama itu, Gald dan teman-temannya seketika merinding ketakutan ketika Lia berbalik membalasnya.


 


“... Apa kau yakin?” Balas Lia bertanya dengan wajah serius.


 


“Ya. Meski hanya sebagian dari tubuhnya saja yang bisa kupanggil begitu. Tidak hanya itu, dia bukan sekedar naga biasa...” Jawab Leo dengan nada serius.


 


Gald yang secara tidak sengaja mendengar percakapan mereka lantas ikut bertanya kepada Leo mengenai apa yang dimaksud oleh Leo sebelumnya mengenai makhluk itu.


 


“A-Apa maksudmu, Leonard...?” Sambung Gald bertanya dengan ekspresi panik.


 


“Dia berbeda dengan naga yang kalian sering dengar atau mungkin lihat. Dia adalah ras naga yang lebih tinggi dari Wyvern atau Drake...” Jawab Leo merenung serius.


 


“Ras yang lebih tinggi dari pada Wyvern...?! A-Apa kau bercanda...? I-Ini bercanda bukan...?” Balas Zen dengan senyum gugup ketakutan.


 


Melihat ekspresi Leo yang terdiam dengan tatapan tajam membuat senyum di wajah Zen menghilang. Bagaimana pun, Leo tidak mungkin bercanda di saat-saat seperti ini. Itu membuatnya sadar betapa seriusnya situasi mereka saat ini.


 


“... Apa yang membedakannya dengan ras naga lainnya?” Tanya Lia dengan wajah curiga.


 


“Selain bentuk fisik mereka yang berbeda, kekuatan mereka juga jauh berbeda. Jika umumnya Wyvern atau naga lain menggunakan semburan api, naga sejenisnya dapat melakukan hal yang lebih jauh dari itu. Naga di jenisnya dapat menggunakan sihir dan memiliki kecerdasan yang sama dengan manusia.” Jawab Leo melihat ke arah naga itu.


 


“A-Apa-apaan itu...! Makhluk mengerikan seperti itu memiliki akal...?! Itu terdengar tidak masuk akal...!” Balas Zen tidak percaya.


 


“Ya, memang sulit untuk dipercaya. Tetapi, itulah kenyataannya. Dan juga, hal itulah yang menjadikan mereka pantas disebut sebagai naga yang sesungguhnya...” Balas Leo dengan nada dingin.


 


Zen terlihat tidak menerima ucapan Leo mengenai segala hal yang ia tahu tentang naga. Ia sendiri juga awalnya tidak percaya sampai ia menghadapi mereka secara langsung. Tidak hanya kuat, mereka adalah ras yang tangguh dan juga cerdas. Bahkan bagi Thearian sekali pun, naga adalah musuh yang sulit untuk dikalahkan.


 


Tidak lama berselang, salah seorang dari regu Gideon datang menghampirinya dengan membawa pesan setelah ia kembali dari tugasnya. Ia langsung menghadapnya untuk memberikan hasil pengamatannya.


 


“Kapten Gideon, kami sudah selesai memeriksa tempat ini sesuai dengan perintah.” Ujar prajurit itu melapor.


 


“Kerja bagus. Jadi, apa yang kalian temukan?” Balas Gideon sebelum bertanya kepadanya.


 


“Ya. Kami menemukan sebuah gerbang kuno raksasa yang diduga sebagai akses masuk di arah jarum 10 dari tempat kita berdiri dan juga, kami menemukan beberapa sihir kuno pada beberapa pilar kristal yang telah hancur yang mengitari pusat tempat ini...” Balas prajurit itu mengungkapkan temuannya.


 


“Gerbang kuno...?” Ujar Wein dengan ekspresi bingung.


 


“Ya. Kami meyakini tempat ini terhubung dengan suatu tempat di kota itu dan gerbang tersebutlah yang menjadi penghubungnya. Namun, sayangnya gerbang itu tersegel dengan sihir kuno yang tidak kami pahami sehingga tidak memungkinkan untuk menyelidikinya...” Jawab prajurit itu menjelaskan.


 


Mendengar ucapan prajurit itu, Leo dan Lia sadar bahwa tempat ini adalah wilayah yang berada di balik gerbang batu yang mereka temukan di bawah laboratorium. Hal itu menjelaskan mengapa Lia sempat merasakan perasaan yang familiar ketika mereka sampai di sini.


 


“Lalu, bagaimana dengan sihir kuno yang kalian temukan?” Sambung Gideon bertanya kepada prajurit itu.


 


“Untuk masalah itu kami masih belum dapat memastikannya karena sebagian besar dari pilar kristal yang terdapat sihir kuno itu telah hancur dan tidak utuh. Untuk saat ini, dugaan kami sihir yang terdapat pada pilar kristal itu adalah sihir segel yang menjaga tempat ini. Kemungkinan besar, makhluk di bawah sana yang menjadi alasan dibalik sihir itu...” Balas prajurit itu dengan kesimpulannya.


 


“Jadi, dengan kata lain dia akan tetap tertidur seperti itu selama sihir itu aktif, begitu?” Ujar Willem dengan wajah ragu.


 


“Menurut perhitungan, sepertinya begitu...” Jawab prajurit itu membalasnya.


 


“Kami juga belum melihat adanya pergerakan darinya sejak kami menemukannya. Bisa jadi itu karena sihir segel yang dipasang oleh orang-orang kuno itu...” Sambung Wein mendukungnya.


 


“B-Begitu ya... Lega mendengarnya...” Balas Willem menghela nafas lega.


 


Setelah menerima laporan itu, Gideon mulai memikirkan langkah selanjutnya yang harus mereka ambil.


 


“Jadi, apa yang akan kita lakukan pada makhluk itu?” Tanya Wein kepada Gideon.

__ADS_1


 


“Entahlah... Selagi dia masih tertidur, mungkin sebaiknya kita tidak membangunkannya...” Balas Gideon melihat sekitar sambil berpikir.


 


“Yah, lebih baik dari pada menjadi bodoh dan membangunkannya. Sebaiknya kita laporkan masalah ini kepada komandan setelah kita kembali.” Balas Wein menghela nafas panjang.


 


“Aku setuju...” Balas Gideon menurunkan bahunya.


 


Sementara mereka berdua tengah memikirkan tindakan yang harus diambil terhadap penemuan ini, Willem yang kebingungan sejak tadi tampak mondar-mandir setelah mendengar pernyataan prajurit itu mengenai naga tersebut. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu yang serius.


 


“Oi, Willem. Ada apa denganmu? Kau tampak murung.” Tanya Wein melihat padanya heran.


 


“Apa ada masalah?” Sambung Gideon ikut menanyai keadaannya.


 


“Tidak, tidak ada masalah. Hanya saja, aku hanya sedang berpikir apa yang menjadi penyebab gempa tempo hari itu. Jika tidak salah ingat, aku sempat mendengar suara raungan ketika gempa itu melanda...” Ujar Willem dengan wajah serius.


 


“Jika diingat-ingat lagi, aku memang sempat mendengar suara raungan ketika mengevakuasi kelompok Gald saat gempa terjadi...” Balas Wein dengan ekspresi curiga.


 


“Benar juga... Aku juga mendengarnya. Bagaimana pun juga tetap saja terasa janggal...” Sambung Gideon dengan wajah tidak senang.


 


“Aku sempat berpikir... Bagaimana menurut kalian jika makhluk ini menjadi penyebab gempa itu...?” Ujar Willem sebelum bertanya dengan wajah ragu.


 


Untuk sejenak Gideon dan Wein terdiam mendengar pertanyaannya. Wajah mereka tampak pucat sebelum akhirnya mereka menjawabnya.


 


“U-Uh... K-Kurasa kau hanya bercanda...” Jawab Gideon dengan wajah gelisah.


 


“Y-Ya. Itu sama sekali tidak masuk akal...” Sambung Wein tertawa terpaksa dengan wajah cemas.


 


“Bukan? Apa yang kupikirkan... Mana mungkin makhluk yang tersegel sepertinya bisa menyebabkan gempa itu...” Balas Willem dengan menggaruk pipinya dengan senyum pucat di wajahnya.


 


Untuk beberapa saat mereka tertawa mendengar lelucon Willem mengenai monster itu. Namun, meski pun mereka tertawa, sesungguhnya mereka masih menyimpan ketakutan di hati mereka ketika memikirkan ucapan Willem. Jelas saja hal itu mustahil untuk dilakukan, mengingat bagaimana keadaan monster itu, atau setidaknya itulah yang mereka pikirkan...


 


Di tempat yang lain, pada waktu yang bersamaan, secercah cahaya terlihat menyala pada sebuah rongga yang berada di tubuhnya. Cahaya itu perlahan menguat sebelum akhirnya menyebar ke seluruh tubuhnya.


 


“......”


 


Secara perlahan ia membuka matanya ketika suara tawa orang-orang terdengar sampai ke telinganya.


 


“Grrrr....”


 


Ia perlahan bangkit dengan perasaan marah memenuhi pikirannya begitu melihat mereka sebelum akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dari tempatnya.


 


“....!!”


 


 


“(Ini...! Kekuatan ini...! Jangan katakan...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Dan tak lama setelahnya, gempa bumi yang dahsyat mengguncang tepat itu ketika kekuatan yang mengerikan terpancar dari naga itu. Suara raungannya menggema ke seluruh penjuru ruangan ketika semua orang yang ada di sekitarnya dibuat terperanga olehnya.


 


“Rrrrrrr...!!!”


 


Seketika itu pula, pilar kristal yang dipasang di sekitarnya mulai bereaksi dengan mengeluarkan cahaya terang sesaat sebelum sihir segel yang ada mencoba untuk menahan kekuatannya. Namun sayang, sihir segel itu hancur dengan singkat ketika berusaha menahan kekuatan dari naga itu berserta pilar kristal yang menopangnya. Naga itu bangkit dan mengangkat sayapnya sambil meraung keras menandakan bahwa ia telah sepenuhnya bebas ketika semua yang menyaksikannya mulai panik ketakutan.


 


“Hiiiiiii...!!!”


 


“D-D-Demi roh para dewa...!!”


 


“M-Mustahil...!!”


 


“M-Monster itu bangkit...!!”


 


“Selamatkan nyawamu...!!”


 


Seluruh pasukan panik dan ketakutan menyaksikan monster itu bangkit dari segel yang menahannya. Beberapa dari mereka bahkan seketika pingsan serta sisanya yang panik langsung bergegas keluar sebelum semuanya memburuk. Namun, naga itu tidak membiarkan mereka melarikan diri begitu saja. Tepat sebelum mereka berhasil mencapai jalan keluar, naga itu membuka rahang besinya sesaat sebelum ia menembakkan kekuatan sihir yang besar tepat ke arahnya.


 


“Lia...!” Seru Leo melompat memeluk Lia.


 


“Semuanya awa—“ Teriak Gideon pada yang lain sebelum didorong oleh Wein.


 


Semburannya seketika itu pula melenyapkan seluruh tempat yang ada di jalurnya dan membunuh beberapa orang yang berusaha menyelamatkan diri. Semburannya juga menghancurkan langit-langit hingga menyebabkan puing-puing berjatuhan menimpa orang-orang yang berusaha melarikan diri dari tempat tersebut.


 


“Gyaaaahhhh...!!!”


 


“Aaaaaaa...!!”


 


Tidak sedikit dari mereka tewas tertimpa reruntuhan langit-langit dan bersamaan dengan hal itu, jalan keluar satu-satunya mereka ikut tertutup puing-puing bangunan hingga membuat mereka semua terjebak di dalam sana bersama dengan naga tersebut. Ketakutan dan putus asa, hanya itulah yang terlihat dari wajah mereka yang sebelumnya gagal mencoba menyelamatkan diri.


 


“K-Kita pasti akan mati...! Kita semua pasti akan mati di sini...!”


 


“A-A-A-A—“

__ADS_1


 


“Oh roh dewa, tolong selamatkan kami...!!”


 


“Tidak...! Aku tidak ingin mati di sini...!”


 


Rasa putus asa juga dirasakan oleh Gideon dan kedua temannya yang menyaksikan pasukan mereka jatuh tidak berdaya setelah menyaksikan kekuatan monster itu. Ketakutan menyelimuti hati dan perasaan mereka ketika mereka mendengar suara geraman dari naga itu yang berusaha datang menghampiri mereka. Naga itu mengangkat tubuh bagian depannya yang separuhnya terbuat dari mesin sebelum akhirnya menampakkan wajah mengerikannya di hadapan mereka semua.


 


“Grrrrrr....”


 


Dengan separuh wajahnya telah disatukan dengan mesin, ia menebarkan rasa takut dengan menunjukkan taringnya yang sebagian terbuat dari logam sehingga membuat semua yang menatapnya ketakutan. Beberapa dari mereka seketika itu pula pingsan sementara yang lainnya terduduk lemas ketakutan ketika naga itu bersiap membakar mereka semua dengan apinya.


 


“H-Habislah kita...!”


 


“I-Ini pasti tidak nyata...”


 


“T-Tolong... Siapa pun... Tolong...”


 


Kobaran api mulai menggantikan nafasnya ketika naga itu membuka rahangnya bersiap untuk menyerang. Semuanya sudah pasrah pada nasib yang akan menimpa mereka selanjutnya. Namun...


 


“...!”


 


Secara mengejutkan, Leo menusuk sisi leher daging naga itu dengan pedangnya yang mana membuat nafas apinya terhenti sesaat sebelum ia menggunakan pedangnya untuk menusuk matanya.


 


“Raarrrghhhh...!!!”


 


Naga itu seketika meraung kesakitan ketika darahnya bercucuran ke lantai sesaat sebelum Leo melompat menikam kepalanya dan menjatuhkannya kembali ke dasar tempat itu guna menjauhkannya dari orang-orang yang ada di sana.


 


Tindakan Leo itu mengejutkan mereka semua. Dengan berani, ia menghadapi naga itu dengan berani ketika semua orang ketakutan hanya dengan menatapnya saja. Entah dari mana asalnya keberanian itu, namun ia sendirian saja tidak akan mampu melawan monster itu. Melawan naga hanya berbekal keberanian saja tidak akan cukup untuk mengalahkannya.


 


“Leo...!” Seru Lia dengan wajah cemas.


 


“Leonard...” Bisik Gald terkesima menyaksikannya.


 


“Leonard-san...” Sambung Zen, Chrea dan Kirishima bersamaan.


 


Leo berjuang keras melawan naga itu dengan segenap kekuatannya. Hanya berbekal kekuatan fisik, Leo menghadapi monster itu dengan pedangnya. Terlihat pertarungan itu sangat tidak seimbang dengan Leo pada sisi yang terancam. Seluruh serangannya tidak ada yang mempan sementara naga itu dapat dengan mudahnya mendesaknya. Dengan apinya, ia menggiring Leo menuju sudut tempat itu sebelum akhirnya mengayunkan rahangnya berniat mencabiknya.


 


“Leo...!!” Seru Lia dengan wajah panik.


 


Namun, saat naga itu berniat melahap Leo, ia mengerahkan seluruh kekuatan pada kakinya dan melompat menghindarinya. Naga itu pun terkejut dengan kemampuan fisik yang ia miliki, dia tidak mengira Leo mampu melompat melampaui tingginya dalam jarak sedekat ini. Sudah jelas bahwa Leo bukanlah manusia yang sering dilihatnya.


 


“Haaa...!!”


 


Memanfaatkan momentum itu, Leo pun menghunuskan pedangnya dari ketinggian berupaya mengincar leher bagian atasnya. Namun, naga itu yang telah menyadari niatnya seketika mengeraskan kulitnya dengan sihir untuk menangkis serangannya. Seketika itu pula, suara melengking menggema ke seluruh tempat itu ketika pedang Leo menghantam sisiknya. Kesempatan Leo untuk menyerangnya gagal dan memberikan kesempatan bagi naga itu untuk membalas serangannya.


 


“....!!”


 


Naga itu mengibaskan Leo hingga membuatnya terlempar ke udara. Bersamaan dengan itu, ia menyemburkan apinya ke arah Leo yang tengah melayang di udara tanpa memberinya kesempatan baginya untuk menghindar.


 


“(Ini gawat...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.


 


Dengan cepat api itu datang menuju ke arahnya. Dalam situasi ini, meski ia mampu melakukan gerakan menghindar di udara, ia tetap tidak akan mampu sepenuhnya selamat tanpa mengalami luka bakar dari serangan itu.


 


Namun, tepat sebelum api naga itu mengenai tubuh Leo, tebasan sihir melayang ke arah naga itu dan menghentikan semburan apinya.


 


“Rrrrr...!!”


 


Alhasil, apinya hanya membakar pakaian Leo tanpa menimbulkan luka bakar serius padanya. Sontak hal itu membuat sang naga marah sebelum akhirnya pandangannya tertuju pada orang yang melancarkan serangan itu padanya.


 


“Lia—“


 


Naga itu menampar Leo dengan ekornya hingga terlempar hingga ke sisi lain tempat itu ketika  tatapannya tertuju pada gadis berambut coklat gelap yang mengarahkan pedangnya ke arahnya.


 


“Grrrrrr...!”


 


Benar, serangan barusan tidak lain dan tidak bukan merupakan serangan milik Lia. Dengan tatapan tajam, Lia menatap naga itu sebelum akhirnya ia kembali melancarkan serangan yang sama ke arahnya dengan jumlah yang lebih banyak.


 


“Tehnik pedang: Leaves Storm!”


 


Belasan hingga belasan tebasan sihir seketika melesat ke arahnya. Namun, pada saat yang bersamaan, perisai sihir raksasa tercipta di hadapan naga itu sehingga semua serangan itu tidak ada satu pun yang mengenainya.


 


“Rrrrrr...!!”


 


Sementara itu, Leo yang bangun dari puing-puing bangunan yang menimpanya seketika dikejutkan dengan pemandangan di mana Lia berhadapan langsung dengan naga itu. Ini tidak seperti yang dipikirkannya, ia tidak mengira Lia akan ikut turun tangan melawan naga itu.


 


“Lia... Sial, kenapa jadi seperti ini...! Bukankah seharusnya dia menyadari niatku...!” Gumam Leo dengan nada kesal.


 


Sebelumnya, Leo telah memberikan isyarat kepada Lia untuk membantu pasukan untuk membuka jalan sementara dirinya akan mengalihkan perhatian naga itu. Namun, itu semua tidak berjalan seperti yang ia harapkan.


 

__ADS_1


Saat ini, situasi mereka berada di ujungnya. Mereka terjebak di dalam reruntuhan kuno bersama dengan seekor naga yang murka atas kejadian yang menimpa dirinya. Ia berniat membalaskan dendamnya kepada Leo dan semuanya yang ada di sana. Dalam keputusasaan itu, masih adakah harapan bagi mereka semua?


__ADS_2