
Gadis itu langsung menjauh saat Leo
mencoba mendekatinya. Ia terlihat sangat waspada saat pertama kali bertatap
muka dengan Leo layaknya seperti melihat seorang penjahat. Walau sikapnya tidak
sepenuhnya salah, tetap saja harus ada orang yang menjelaskan hal ini
kepadanya.
“Siapa kau...!” Ujar gadis itu dengan
tatapan tajam.
“T-Tunggu dulu, sebelum kita bicara
lebih lanjut sebaiknya kau tutupi dulu tubuhmu dengan pakaian ini.” Balas Leo memalingkan
wajahnya sambil menawarkan pakaian kepadanya.
Leo memberikannya pakaian dan daging
yang baru saja ia hangatkan kepadanya dengan nada yang lembut.
“Ini... Makanlah dan pakailah baju
ini. Semoga saja sesuai dengan ukuranmu.” Sambungnya dengan senyum ramah.
“....”
Gadis itu tetap tidak menurunkan
pengawasannya, Leo pun mencoba memahaminya dan meninggalkan dia sendirian di
sana untuk sejenak.
“K-Kalau begitu... Aku akan menunggu
di luar. Jika kau butuh sesuatu panggil saja.” Ujarnya berbalik sebelum pergi
darinya.
Leo pun keluar dari tenda untuk
membiarkan gadis itu mengganti pakaiannya dan juga untuk memakan makanan yang
ia berikan itu. Reaksinya barusan adalah sikap yang dapat wajar ketika
menyadari kau berada di sebuah tenda orang asing setelah insiden mengerikan.
“Biarlah... Kurasa dia memang
memerlukan waktu untuk sejenak.” Gumam Leo sambil menghela nafas.
Selagi Leo menunggu gadis itu, ia
melihat pedang yang sebelumnya di berikan oleh pelayan gadis itu. Sekilas,
pedang itu terlihat biasa saja, namun itu pasti berharga baginya. Mungkin
sebaiknya ia mengembalikan pedang itu kepadanya setelah gadis itu selesai berkemas.
“Kurasa ini akan sedikit berat
untuknya...” Sambung Leo bergumam melihat ke arah tenda.
Leo menyarungkan kembali pedang itu
sebelum kembali memeriksa gadis itu.
“Apa kau sudah selesai?” Tanya Leo
mengintip masuk.
“....!”
Gadis itu terlihat sangat cantik saat
selesai mengganti bajunya. Leo terkesima melihatnya, namun gadis itu menatapnya
dengan tatapan mata tajam seolah sedang berhadapan dengan anjing yang mencoba
menggigitnya.
“Uh... M-Maaf...” Ujar Leo mencoba
menenangkannya.
“....”
Mata kebiruannya terlihat menakutkan,
namun pula menawan. Seperti batu safir yang menyala terkena cahaya menciptakan
warna biru yang kuat. Warna yang sungguh sempurna menghiasi parasnya yang
menawan.
“A-Ada masalah...? K-Kenapa kau
menatapku seperti itu...?” Tanya Leo dengan canggung.
“....”
Sepertinya akan sedikit sulit untuk
bisa mengajaknya bicara. Melihat dari bagaimana dia memerhatikan Leo,
sepertinya hampir mustahil membuatnya percaya dengannya.
“B-Bagaimana keadaanmu? A-Apa
sekarang jauh lebih baik...?” Tanya Leo mencoba mengalihkan pembicaraan.
“....”
“... B-Bagaimana dengan lukamu? A-Apa
ada yang masih sakit...?” Sambung Leo canggung.
“....”
Dia bahkan sama sekali tidak
bergeming ketika Leo mengganti topik pembicaraan. Gadis itu benar-benar
sepenuhnya dalam kondisi pertahanan mutlak.
“(Sekarang, bagaimana caranya aku
bicara dengannya...? Aku harus memberitahukan masalah itu kepadanya secara
langsung...)” Ujar Leo dalam hatinya bingung.
Walau menyakitkan baginya, ia harus
memberitahunya apa yang telah terjadi. Ini demi kebaikannya juga walau
sebenarnya Leo tidak ingin mengatakan padanya mengenai kematian tragis yang
menimpa pelayannya.
“(Baiklah...!)” Sambungnya dalam hati
memantapkan keputusannya.
Dengan tekad yang sudah bulat, Leo
memberanikan diri mendekati gadis itu sebelum ia mulai bicara dengannya.
“Dengar, ada sesuatu yang ingin
kukatakan kepadamu.” Ujar Leo perlahan menghampirinya.
“....!”
Gadis itu dengan waspada mulai melangkah
mundur menjauh dari Leo yang mencoba mendekatinya. Namun, ketika gadis itu
melihat apa yang ada di tangan Leo, ekspresinya seketika berubah.
“Pedang itu...” Ujarnya dengan nada
__ADS_1
lemah.
“Hm...?”
“T-Tidak mungkin... Itu pasti tidak
mungkin...” Sambungnya dengan wajah terkejut.
Sepertinya gadis itu mulai tertarik
dengan pedang yang Leo bawa. Mungkin dengan ini akhirnya ia bisa bicara
dengannya.
“Ah. Pedang ini. Ini bukan milikku.”
Sambung Leo menjelaskan kepadanya.
“D-Dari mana kau mendapatkannya!” Balas
gadis itu dengan nada tinggi.
“Itu sebenarnya yang ingin kukatakan
kepadamu. Mengenai pedang ini dan orang yang memberikannya kepadaku...” Jawab
Leo dengan wajah menyesal.
“A-Apa maksudmu...?”
“Dia sudah meninggal...”
Gadis itu seketika syok mendengar
ucapan Leo. Rasa tidak percaya bercampur kecewa terlihat jelas dari matanya
yang perlahan berkaca-kaca.
“T-Tidak. Tidak mungkin... Ini pasti
tidak mungkin...” Ujarnya dengan nada kecewa.
“.... Maaf.” Balas Leo memalingkan
pandangannya menyesal.
Air mata mengalir dari pipinya
mendengar kenyataan bahwa pelayannya telah meninggal. Leo tidak tahu seperti
apa kedekatan mereka, namun melihat bagaimana reaksinya itu sudah pasti pria
itu sangat dekat dengannya.
“Tidak mungkin... Zille sudah...”
Ujarnya terisak.
“... Aku turut berduka. Maaf, aku
tidak bisa menyelamatkannya.” Balas Leo dengan wajah menyesal.
“Zille...”
Zille, nama dari pelayan itu akhirnya
terungkap. Dia telah melakukan hal yang luar biasa. Dia mengorbankan nyawanya
hanya demi melindunginya. Leo yakin dia pasti orang yang sangat baik dan
berarti baginya.
“Sebelum kematiannya, dia menitipkan
pedang ini kepadaku. Aku yakin dia ingin aku menyampaikan pesan ini padamu.”
Sambung Leo memberikan pedang milik pria itu.
“H-Huh...?”
“Aku yakin dia ingin kau
menyimpannya...”
Gadis itu langsung mengambilnya dan
pelayan itu.
“Zille... Zille... Maafkan aku... Aku
tidak bermaksud menyeretmu dalam masalah ini... Kumohon maafkan aku...” Ujarnya
sambil terisak.
“....”
Leo juga merasa turut berduka atas
kematiannya. Leo tahu rasanya bagaimana kehilangan orang yang sangat berharga
baginya. Itu mengingatkannya tentang masa lalu yang sudah lama tidak ingin ia
ingat lagi.
“(Entah mengapa... Dia terlihat sangat
mirip denganku... Seperti pada hari itu...)” Ujar Leo dalam hatinya kecewa.
Benar, dia sangat mirip dengannya
yang dulu ketika ia kehilangan sosok yang berharga baginya. Ia tahu bagaimana
rasa sakit itu dan merasa mereka tidak jauh berbeda. Sedih, kecewa dan putus
asa, semua itu bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya saat melihat gadis itu
menangisi kepergian pelayannya. Itu membuat Leo tidak tega menyaksikannya.
“....?”
Tangisan gadis itu seketika terhenti
ketika menyadari tangan Leo membelai rambutnya. Gadis itu bertanya-tanya dengan
apa yang dia lakukan, namun melihat bagaimana ekspresi Leo, ia tahu ada luka
yang sama pada hati pemuda misterius itu.
“Tidak apa, semuanya akan baik-baik
saja...” Bisik Leo dengan nada lembut.
“....”
“Pasti menyakitkan, bukan...?”
“....”
Setelah beberapa saat, akhirnya gadis
itu kembali tenang. Usaha Leo sepertinya sampai pada hatinya dan kini gadis itu
terlihat sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
“Aku turut berduka atas kematiannya.
Aku juga turut meminta maaf kepadamu karena tidak mampu menolongnya...” Ujar
Leo dengan wajah kecewa.
“Mm...”
“Yang terpenting dari semuanya, kau
masih bisa hidup sampai sekarang. Aku yakin itu adalah keinginan terakhirnya.”
Sambung Leo mencoba menghiburnya.
“....”
Gadis terlihat masih belum ingin
bicara. Mungkin karena ia masih sedikit mengingat kematian Zille yang
__ADS_1
membuatnya terpukul.
“Aku ada di luar jika kau butuh
sesuatu.” Ujar Leo beranjak dari tempatnya.
“....?!”
Namun, saat Leo hendak
meninggalkannya, secara mengejutkan gadis itu meraih tangannya menghentikannya
pergi.
“....?”
“... Tolong jangan pergi.” Bisiknya
dengan nada lembut.
Melihatnya yang kembali menangis
membuat Leo prihatin. Ia pun menggenggam tangannya dan memutuskan untuk
menemaninya sampai keadaan hatinya membaik.
“Ah. Maaf, aku tidak bermaksud
meninggalkanmu pergi...” Balas Leo mencoba menenangkannya.
“....”
“Benar juga, aku belum mendengar
namamu.” Sambung Leo mengalihkan pembicaraan.
“.....”
“Jadi, siapa namamu?”
Gadis itu memalingkan matanya saat
Leo bertanya mengenai namanya. Dia tidak terlihat ingin membicarakannya. Leo
bisa memahami itu dan mungkin tidak seharunya ia bertanya kepadanya di saat
seperti ini.
“Aku mengerti. Aku tidak akan
memaksamu untuk mengatakannya.” Sambung Leo memalingkan pandangannya.
“....”
Mungkin belum saatnya bagi Leo untuk
membicarakan sesuatu yang pribadi dengannya. Ia akan menahan pertanyaan itu
hingga keadaannya sudah kembali pulih seutuhnya.
“... Lia.” Bisik Gadis itu dengan
nada lembut.
Leo terdiam dengan wajah terkejut
ketika mendengar jawaban darinya.
“Maaf, apa kau bilang sesuatu?” Tanya
Leo dengan wajah terkejut.
Gadis itu perlahan mengangkat
bibirnya dan mulai bicara kepada Leo dengan suaranya yang sangat indah.
“.... Lia. Namaku Lia.” Jawabnya menatap
Leo dengan wajah polos.
Mendengar gadis itu mengatakan
namanya, Leo pun tersenyum dengan lembut padanya sambil menjawab.
“Lia, huh? Nama yang sangat indah.
Kalau begitu perkenalkan, namaku Leo, Leonard Ansgred. Senang bertemu denganmu,
Lia.” Balas Leo mengenalkan dirinya.
“Leo...?” Balas Lia dengan wajah
bingung.
“Ya. Senang berkenalan denganmu, Lia.”
Balas Leo dengan senyum ramah nan hangat.
“Leo...”
Leo, nama yang terdengar sedikit
asing baginya. Namun, entah mengapa itu sangat cocok baginya. Setidaknya itulah
yang Lia pikirkan mengenai Leo yang masih misterius baginya. Sosok pemuda
dengan rambut putih bersih layaknya salju di tengah musim dingin yang
membuatnya bertanya-tanya mengenai siapa dirinya.
“.... Apa ada masalah, Lia?” Tanya
Leo dengan wajah canggung.
Lia menatap mata Leo dengan mata
kebiruannya yang indah, memperhatikannya dengan penuh cahaya di matanya ketika
Leo mulai dibuat bingung olehnya.
“Uh... Apa ada yang salah?” Tanya Leo
dengan wajah bingung.
“....”
“A-Apa ada sesuatu yang
mengganggumu...?” Sambungnya mulai gugup.
Leo tidak tahu apa yang sedang dia
lakukan, namun jika dia terus menatapnya seperti itu siapa pun juga akan merasa
canggung.
“(Dia benar-benar aneh. Tapi, entah
kenapa mata birunya yang berkilauan terlihat sangat menawan...)” Gumam Leo
dalam hatinya terkesima.
Lia, gadis misterius yang diserang
secara mengerikan oleh para Ksatria Suci kerajaan yang menewaskan pelayannya,
Zille. Ia tidak tahu menahu mengenai latar belakang kejadian tersebut, tetapi sepertinya
ini menyangkut masalah kerajaan yang melibatkan Lia ke dalamnya. Sejujurnya Leo
ingin mencari tahu mengenai hal tersebut, namun melihat keadaan Lia saat ini
membuatnya mengurungkan niatnya untuk membicarakan masalah tersebut dengannya.
“Leo...?” Ujar Lia memanggilnya
dengan wajah polosnya.
“Ah. Bukan apa-apa. Hanya sedikit melamun
karena mengantuk. Ahaha...” Balas Leo mencoba mengelabuinya.
Siapa sebenarnya Lia masih menjadi
__ADS_1
misteri baginya. Namun, ia telah mendapat wasiat untuk menjaganya dari Zille. Meski
demikian, apa yang harus ia lakukan terhadapnya?