Black Arc Saga

Black Arc Saga
Gadis bernama Lia


__ADS_3

Gadis itu langsung menjauh saat Leo


mencoba mendekatinya. Ia terlihat sangat waspada saat pertama kali bertatap


muka dengan Leo layaknya seperti melihat seorang penjahat. Walau sikapnya tidak


sepenuhnya salah, tetap saja harus ada orang yang menjelaskan hal ini


kepadanya.


“Siapa kau...!” Ujar gadis itu dengan


tatapan tajam.


“T-Tunggu dulu, sebelum kita bicara


lebih lanjut sebaiknya kau tutupi dulu tubuhmu dengan pakaian ini.” Balas Leo memalingkan


wajahnya sambil menawarkan pakaian kepadanya.


Leo memberikannya pakaian dan daging


yang baru saja ia hangatkan kepadanya dengan nada yang lembut.


“Ini... Makanlah dan pakailah baju


ini. Semoga saja sesuai dengan ukuranmu.” Sambungnya dengan senyum ramah.


“....”


Gadis itu tetap tidak menurunkan


pengawasannya, Leo pun mencoba memahaminya dan meninggalkan dia sendirian di


sana untuk sejenak.


“K-Kalau begitu... Aku akan menunggu


di luar. Jika kau butuh sesuatu panggil saja.” Ujarnya berbalik sebelum pergi


darinya.


Leo pun keluar dari tenda untuk


membiarkan gadis itu mengganti pakaiannya dan juga untuk memakan makanan yang


ia berikan itu. Reaksinya barusan adalah sikap yang dapat wajar ketika


menyadari kau berada di sebuah tenda orang asing setelah insiden mengerikan.


“Biarlah... Kurasa dia memang


memerlukan waktu untuk sejenak.” Gumam Leo sambil menghela nafas.


Selagi Leo menunggu gadis itu, ia


melihat pedang yang sebelumnya di berikan oleh pelayan gadis itu. Sekilas,


pedang itu terlihat biasa saja, namun itu pasti berharga baginya. Mungkin


sebaiknya ia mengembalikan pedang itu kepadanya setelah gadis itu selesai berkemas.


“Kurasa ini akan sedikit berat


untuknya...” Sambung Leo bergumam melihat ke arah tenda.


Leo menyarungkan kembali pedang itu


sebelum kembali memeriksa gadis itu.


“Apa kau sudah selesai?” Tanya Leo


mengintip masuk.


“....!”


Gadis itu terlihat sangat cantik saat


selesai mengganti bajunya. Leo terkesima melihatnya, namun gadis itu menatapnya


dengan tatapan mata tajam seolah sedang berhadapan dengan anjing yang mencoba


menggigitnya.


“Uh... M-Maaf...” Ujar Leo mencoba


menenangkannya.


“....”


Mata kebiruannya terlihat menakutkan,


namun pula menawan. Seperti batu safir yang menyala terkena cahaya menciptakan


warna biru yang kuat. Warna yang sungguh sempurna menghiasi parasnya yang


menawan.


“A-Ada masalah...? K-Kenapa kau


menatapku seperti itu...?” Tanya Leo dengan canggung.


“....”


Sepertinya akan sedikit sulit untuk


bisa mengajaknya bicara. Melihat dari bagaimana dia memerhatikan Leo,


sepertinya hampir mustahil membuatnya percaya dengannya.


“B-Bagaimana keadaanmu? A-Apa


sekarang jauh lebih baik...?” Tanya Leo mencoba mengalihkan pembicaraan.


“....”


“... B-Bagaimana dengan lukamu? A-Apa


ada yang masih sakit...?” Sambung Leo canggung.


“....”


Dia bahkan sama sekali tidak


bergeming ketika Leo mengganti topik pembicaraan. Gadis itu benar-benar


sepenuhnya dalam kondisi pertahanan mutlak.


“(Sekarang, bagaimana caranya aku


bicara dengannya...? Aku harus memberitahukan masalah itu kepadanya secara


langsung...)” Ujar Leo dalam hatinya bingung.


Walau menyakitkan baginya, ia harus


memberitahunya apa yang telah terjadi. Ini demi kebaikannya juga walau


sebenarnya Leo tidak ingin mengatakan padanya mengenai kematian tragis yang


menimpa pelayannya.


“(Baiklah...!)” Sambungnya dalam hati


memantapkan keputusannya.


Dengan tekad yang sudah bulat, Leo


memberanikan diri mendekati gadis itu sebelum ia mulai bicara dengannya.


“Dengar, ada sesuatu yang ingin


kukatakan kepadamu.” Ujar Leo perlahan menghampirinya.


“....!”


Gadis itu dengan waspada mulai melangkah


mundur menjauh dari Leo yang mencoba mendekatinya. Namun, ketika gadis itu


melihat apa yang ada di tangan Leo, ekspresinya seketika berubah.


“Pedang itu...” Ujarnya dengan nada

__ADS_1


lemah.


“Hm...?”


“T-Tidak mungkin... Itu pasti tidak


mungkin...” Sambungnya dengan wajah terkejut.


Sepertinya gadis itu mulai tertarik


dengan pedang yang Leo bawa. Mungkin dengan ini akhirnya ia bisa bicara


dengannya.


“Ah. Pedang ini. Ini bukan milikku.”


Sambung Leo menjelaskan kepadanya.


“D-Dari mana kau mendapatkannya!” Balas


gadis itu dengan nada tinggi.


“Itu sebenarnya yang ingin kukatakan


kepadamu. Mengenai pedang ini dan orang yang memberikannya kepadaku...” Jawab


Leo dengan wajah menyesal.


“A-Apa maksudmu...?”


“Dia sudah meninggal...”


Gadis itu seketika syok mendengar


ucapan Leo. Rasa tidak percaya bercampur kecewa terlihat jelas dari matanya


yang perlahan berkaca-kaca.


“T-Tidak. Tidak mungkin... Ini pasti


tidak mungkin...” Ujarnya dengan nada kecewa.


“.... Maaf.” Balas Leo memalingkan


pandangannya menyesal.


Air mata mengalir dari pipinya


mendengar kenyataan bahwa pelayannya telah meninggal. Leo tidak tahu seperti


apa kedekatan mereka, namun melihat bagaimana reaksinya itu sudah pasti pria


itu sangat dekat dengannya.


“Tidak mungkin... Zille sudah...”


Ujarnya terisak.


“... Aku turut berduka. Maaf, aku


tidak bisa menyelamatkannya.” Balas Leo dengan wajah menyesal.


“Zille...”


Zille, nama dari pelayan itu akhirnya


terungkap. Dia telah melakukan hal yang luar biasa. Dia mengorbankan nyawanya


hanya demi melindunginya. Leo yakin dia pasti orang yang sangat baik dan


berarti baginya.


“Sebelum kematiannya, dia menitipkan


pedang ini kepadaku. Aku yakin dia ingin aku menyampaikan pesan ini padamu.”


Sambung Leo memberikan pedang milik pria itu.


“H-Huh...?”


“Aku yakin dia ingin kau


menyimpannya...”


Gadis itu langsung mengambilnya dan


pelayan itu.


“Zille... Zille... Maafkan aku... Aku


tidak bermaksud menyeretmu dalam masalah ini... Kumohon maafkan aku...” Ujarnya


sambil terisak.


“....”


Leo juga merasa turut berduka atas


kematiannya. Leo tahu rasanya bagaimana kehilangan orang yang sangat berharga


baginya. Itu mengingatkannya tentang masa lalu yang sudah lama tidak ingin ia


ingat lagi.


“(Entah mengapa... Dia terlihat sangat


mirip denganku... Seperti pada hari itu...)” Ujar Leo dalam hatinya kecewa.


Benar, dia sangat mirip dengannya


yang dulu ketika ia kehilangan sosok yang berharga baginya. Ia tahu bagaimana


rasa sakit itu dan merasa mereka tidak jauh berbeda. Sedih, kecewa dan putus


asa, semua itu bercampur aduk menjadi satu dalam hatinya saat melihat gadis itu


menangisi kepergian pelayannya. Itu membuat Leo tidak tega menyaksikannya.


“....?”


Tangisan gadis itu seketika terhenti


ketika menyadari tangan Leo membelai rambutnya. Gadis itu bertanya-tanya dengan


apa yang dia lakukan, namun melihat bagaimana ekspresi Leo, ia tahu ada luka


yang sama pada hati pemuda misterius itu.


“Tidak apa, semuanya akan baik-baik


saja...” Bisik Leo dengan nada lembut.


“....”


“Pasti menyakitkan, bukan...?”


“....”


Setelah beberapa saat, akhirnya gadis


itu kembali tenang. Usaha Leo sepertinya sampai pada hatinya dan kini gadis itu


terlihat sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


“Aku turut berduka atas kematiannya.


Aku juga turut meminta maaf kepadamu karena tidak mampu menolongnya...” Ujar


Leo dengan wajah kecewa.


“Mm...”


“Yang terpenting dari semuanya, kau


masih bisa hidup sampai sekarang. Aku yakin itu adalah keinginan terakhirnya.”


Sambung Leo mencoba menghiburnya.


“....”


Gadis terlihat masih belum ingin


bicara. Mungkin karena ia masih sedikit mengingat kematian Zille yang

__ADS_1


membuatnya terpukul.


“Aku ada di luar jika kau butuh


sesuatu.” Ujar Leo beranjak dari tempatnya.


“....?!”


Namun, saat Leo hendak


meninggalkannya, secara mengejutkan gadis itu meraih tangannya menghentikannya


pergi.


“....?”


“... Tolong jangan pergi.” Bisiknya


dengan nada lembut.


Melihatnya yang kembali menangis


membuat Leo prihatin. Ia pun menggenggam tangannya dan memutuskan untuk


menemaninya sampai keadaan hatinya membaik.


“Ah. Maaf, aku tidak bermaksud


meninggalkanmu pergi...” Balas Leo mencoba menenangkannya.


“....”


“Benar juga, aku belum mendengar


namamu.” Sambung Leo mengalihkan pembicaraan.


“.....”


“Jadi, siapa namamu?”


Gadis itu memalingkan matanya saat


Leo bertanya mengenai namanya. Dia tidak terlihat ingin membicarakannya. Leo


bisa memahami itu dan mungkin tidak seharunya ia bertanya kepadanya di saat


seperti ini.


“Aku mengerti. Aku tidak akan


memaksamu untuk mengatakannya.” Sambung Leo memalingkan pandangannya.


“....”


Mungkin belum saatnya bagi Leo untuk


membicarakan sesuatu yang pribadi dengannya. Ia akan menahan pertanyaan itu


hingga keadaannya sudah kembali pulih seutuhnya.


“... Lia.” Bisik Gadis itu dengan


nada lembut.


Leo terdiam dengan wajah terkejut


ketika mendengar jawaban darinya.


“Maaf, apa kau bilang sesuatu?” Tanya


Leo dengan wajah terkejut.


Gadis itu perlahan mengangkat


bibirnya dan mulai bicara kepada Leo dengan suaranya yang sangat indah.


“.... Lia. Namaku Lia.” Jawabnya menatap


Leo dengan wajah polos.


Mendengar gadis itu mengatakan


namanya, Leo pun tersenyum dengan lembut padanya sambil menjawab.


“Lia, huh? Nama yang sangat indah.


Kalau begitu perkenalkan, namaku Leo, Leonard Ansgred. Senang bertemu denganmu,


Lia.” Balas Leo mengenalkan dirinya.


“Leo...?” Balas Lia dengan wajah


bingung.


“Ya. Senang berkenalan denganmu, Lia.”


Balas Leo dengan senyum ramah nan hangat.


“Leo...”


Leo, nama yang terdengar sedikit


asing baginya. Namun, entah mengapa itu sangat cocok baginya. Setidaknya itulah


yang Lia pikirkan mengenai Leo yang masih misterius baginya. Sosok pemuda


dengan rambut putih bersih layaknya salju di tengah musim dingin yang


membuatnya bertanya-tanya mengenai siapa dirinya.


“.... Apa ada masalah, Lia?” Tanya


Leo dengan wajah canggung.


Lia menatap mata Leo dengan mata


kebiruannya yang indah, memperhatikannya dengan penuh cahaya di matanya ketika


Leo mulai dibuat bingung olehnya.


“Uh... Apa ada yang salah?” Tanya Leo


dengan wajah bingung.


“....”


“A-Apa ada sesuatu yang


mengganggumu...?” Sambungnya mulai gugup.


Leo tidak tahu apa yang sedang dia


lakukan, namun jika dia terus menatapnya seperti itu siapa pun juga akan merasa


canggung.


“(Dia benar-benar aneh. Tapi, entah


kenapa mata birunya yang berkilauan terlihat sangat menawan...)” Gumam Leo


dalam hatinya terkesima.


Lia, gadis misterius yang diserang


secara mengerikan oleh para Ksatria Suci kerajaan yang menewaskan pelayannya,


Zille. Ia tidak tahu menahu mengenai latar belakang kejadian tersebut, tetapi sepertinya


ini menyangkut masalah kerajaan yang melibatkan Lia ke dalamnya. Sejujurnya Leo


ingin mencari tahu mengenai hal tersebut, namun melihat keadaan Lia saat ini


membuatnya mengurungkan niatnya untuk membicarakan masalah tersebut dengannya.


“Leo...?” Ujar Lia memanggilnya


dengan wajah polosnya.


“Ah. Bukan apa-apa. Hanya sedikit melamun


karena mengantuk. Ahaha...” Balas Leo mencoba mengelabuinya.


Siapa sebenarnya Lia masih menjadi

__ADS_1


misteri baginya. Namun, ia telah mendapat wasiat untuk menjaganya dari Zille. Meski


demikian, apa yang harus ia lakukan terhadapnya?


__ADS_2