Black Arc Saga

Black Arc Saga
Undangan masuk kelompok


__ADS_3

Setelah mendapatkan imbalan dari


perburuan sebelumnya,  Leo dan Lia


memutuskan menyewa kamar untuk mereka beristirahat sesampainya mereka di sebuah


penginapan yang tak jauh dari Guild. Namun, saat hendak memesannya, mereka


mendapati bahwa seluruh kamar sudah dipesan dan tidak tersisa bagi mereka.


“Habis? Apa anda yakin?” Ujar Leo


terkejut.


“Ya, kami sangat minta maaf tuan.”


Balas resepsionis dengan wajah menyesal.


Leo seketika bingung saat mendengar


bahwa semua kamar sudah habis tak tersisa untuk mereka.


“Apa tak ada kamar lain?” Tanya Leo


kembali kepadanya sambil berharap.


“Seperti yang saya katakan barusan,


kamar yang anda minta semuanya sudah terisi. Mohon maaf...” Jawab resepsionis


menundukkan kepalanya meminta maaf.


“Kalau begitu... Yang tersisa saja.


Apakah masih ada?” Balas Leo kembali bertanya kepadanya.


“Ah, tolong tunggu sebentar...” Jawab


resepsionis itu mengambil sebuah buku dari laci meja.


Resepsionis itu memeriksa buku


penerima tamu untuk melihat apakah masih ada kamar yang tersisa untuk mereka.


“Sepertinya masih ada satu kamar yang


tersisa di lantai dua...” Ujar resepsionis itu sambil tersenyum senang.


“Benarkah?” Balas Leo dengan wajah


gembira.


“Ya. Kamar dua ranjang di lantai dua


masih belum ada yang menyewanya. Saya rasa itu sangat cocok bagi anda berdua.” Jawab


resepsionis itu melihat ke arahnya dan Lia sambil tersenyum.


Leo terkejut begitu mendengarnya.


Kamar dengan dua ranjang biasanya ditujukan bagi pasangan. Itu artinya ia akan


tidur di kamar yang sama dengan Lia. Walau Leo tidak punya niatan buruk, tetapi


ia tetap tidak bisa menerima hal tersebut.


“Apa tidak ada kamar yang lain lagi?”


Ujar Leo dengan wajah gugup.


“Tolong tunggu sebentar... Ah. Ada,


masih ada kamar lain di lantai tiga.” Balas resepsionis itu membalik halaman.


“B-Benarkah?” Balas Leo antusias.


“Ya. Itu kamar dengan ranjang ganda. Bagaimana


menurut anda?” Jawab resepsionis itu menawarnya.


Leo terdiam malu mendengarnya.


Ranjang ganda berarti ia harus tidur bersama dengan Lia. Itu jelas hal yang


melanggar peraturan bagi mereka yang bahkan tidak memiliki hubungan apa-apa.


“(Dua-duanya sama sekali tidak ada


bedanya... Bagaimana pendapat Lia mengenai hal ini...)” Ujar Leo dalam hatinya


bingung sambil melihat ke arah Lia.


Lia terlihat tidak banyak bereaksi mendengar


percakapannya dengan resepsionis. Entah apa yang dipikirkannya di balik wajah


diamnya yang tampak dingin itu. Di sisi lain, jika ia memilih pergi dari


penginapan ini, Leo ragu ia akan bisa menemukan penginapan lain yang harganya


bisa menyamai penginapan ini. Mereka pastinya jauh lebih mahal dari penginapan


yang ada saat ini.


Leo menghela nafas sebelum akhirnya


ia memutuskan untuk mengambil kamar pertama meski ia harus tidur satu ruangan


bersama Lia.


“Baiklah... Kami akan mengambil kamar


yang pertama.” Ujar Leo dengan wajah terpaksa.


“Baiklah kalau begitu, saya akan


menunjukkan kamarnya. Silahkan ikuti saya...” Balas resepsionis itu tersenyum


sebelum menuntun mereka berdua ke kamarnya.


Dipandu oleh resepsionis itu, mereka


berdua menuju ke kamar yang telah mereka pesan. Meski Leo sempat cemas mengenai


tanggapan Lia atas keputusannya, tetapi ia merasa lega setelah mengetahui bahwa


Lia terlihat tidak mempermasalahkannya.


“Ini dia kamar kalian. Selamat


beristirahat.” Ujar resepsionis itu menunjukkan kamar yang mereka pesan.


“Ya. Terima kasih.” Balas Leo


tersenyum membalasnya.


“Jika perlu sesuatu, panggil saya.”


“Tentu saja.”


“Kalau begitu, saya pamit undur


diri...”


Segera setelah menunjukkan kamar


mereka, resepsionis itu kambali dan meninggalkan mereka berdua untuk


beristirahat di kamar mereka.


Leo menyandarkan pedangnya pada


dinding sebelum akhirnya ia melepas mantel dan jubahnya. Matahari perlahan


terbenam saat Leo melihat dari balik jendela saat ia mulai mengingat semua


kejadian yang terjadi sebelumnya.


“(Siapa mengira bahwa orang sepertiku


bisa menjadi petualang... Sulit dibayangkan bahkan olehku sendiri... Tetapi itu


semua bisa terjadi karenanya...)” Ujar Leo dalam hatinya memandangi lencana


petualangnya sebelum melihat ke arah Lia.


Lia terlihat sedang mengemasi barang-barangnya


bersiap untuk istirahat. Ia merapikan rambutnya saat secara tidak sengaja Leo


melihat luka pada lengan dan bahunya. Leo merasa tidak enak setelah melihat aksinya


memberantas Goblin tadi seorang diri di tengah kondisinya yang sedang tidak


baik. Ia merasa gagal memenuhi tugas yang Zille berikan kepadanya.


“(Tetapi kenyataan itu tidak akan


bisa disembunyikan... Aku yang seharusnya melindunginya justru dilindungi


olehnya... Aku sudah gagal menjalani tugas yang diberikan kepadaku...)” Sambung


Leo dalam hatinya kecewa sebelum ia membuang muka.


Perasaan tertekan karena tidak


memiliki Skill masih saja menghantui Leo sampai saat ini. Bagaimana pun juga,


itu adalah kutukan yang tidak akan pernah hilang dari dirinya.


“... Leo?” Gumam Lia menatap Leo yang


termenung menatap jendela.


Meski demikian, ia tetap akan


berjuang semampunya untuk menjalani tugas yang diberikan Zille untuknya. Ia


pasti akan membawa Lia kembali ke rumahnya dengan selamat.


“(Benar, meski aku bukan siapa-siapa


di dunia ini, aku tetap akan memenuhi janjiku kepadamu, Zille-san. Jadi, jangan


khawatir dan beristirahatlah dengan tenang di sana. Aku akan menjaga Lia


semampuku!)” Ujar Leo dalam hatinya dengan tekad bulat.


Melihat Leo yang termenung membuat


Lia berpikir mengenainya. Sesaat sebelumnya ia melihat wajahnya terlihat


kecewa, itu membuat Lia berpikir bahwa Leo sedang merasa terbebani oleh


sesuatu. Atau mungkin lebih jelasnya, Leo terbebani olehnya yang kini harus


mengurusnya.


“(Leo... Aku hanya menjadi beban

__ADS_1


bagimu ya...)” Ujar Lia dalam hatinya kecewa.


Pertemuan singkat mereka telah


mengubah hidup Leo. Kini, ia yang sebelumnya bebas sekarang harus terkekang


bersama dengannya. Tentu saja itu membebani pikirannya saat ini.


Leo yang melihat Lia termenung sedih


lantas mencoba bicara dengannya. Mungkin saja ia bisa menghiburnya dari


kesedihannya serta menjalin hubungan yang lebih erat dengannya.


“... Apa ada yang mengganggumu?” Tanya


Leo menghampirinya sebelum duduk di sampingnya.


“....”


“Hm...?”


Lia memalingkan wajah saat Leo


mencoba mengajaknya bicara. Ia sama sekali tak tertarik bicara kepada Leo sejak


pulang dari Guild. Entah itu karena ia masih cemas mengenai perlakuan buruk


para petualang terhadapnya atau karena masalah lain, namun yang jelas itu


sangat membebaninya.


“Apa kau masih memikirkan tentang


kejadian sebelumnya...?” Tanya Leo dengan nada lembut.


“....”


“Sepertinya, tidak ya? Apa itu


mungkin karena kau masih mengingat kejadian kemarin?” Ujar Leo menanyakan hal


yang lain.


“....”


“Umm... Mungkin aku tidak berhak


mengatakan ini, tetapi ada alasan lain mengapa kau bisa bernafas sampai pada


saat ini. Mungkin, hal itu pula yang dia pikirkan saat ia menyelamatkanmu...”


“....”


“Apa yang Zille-san lakukan adalah apa


yang hatinya ingin lakukan. Dan apa yang kulakukan adalah sama seperti


dengannya. Walau sepertinya aku tidak bisa melakukan seperti yang


diharapkannya...”


“....?”


“Uh... Agak memalukan mengatakan


ini... Tetapi, aku tidak akan mengabaikanmu, Lia. Jadi, jangan cemas lagi,


semuanya akan baik-baik saja.”


Mendengar Leo mengatakannya membuat


Lia seketika terdiam. Kekhawatirannya seketika menghilang, namun pada sisi


lain, rasa takutnya mulai kembali menyerangnya saat Leo mengatakan hal itu


kepadanya.


“Uh... A-Ah. K-Kedengarannya sangat


bodoh... Ahaha... Tolong jangan pikirkan perkataanku barusan...” Ujar Leo tertawa


sambil menunjukkan ekspresi bodohnya.


“.... Itu sama sekali tidak bodoh.”


Bisik Lia membalas ucapan Leo.


“E-Eh...? Kau mengatakan sesuatu...?”


Balas Leo terkejut bertanya kepadanya.


“....”


“Ah. Mungkin hanya perasaanku


saja...” Balas Leo menggaruk kepalanya sambil tersenyum kepadanya.


Matahari sudah sepenuhnya tenggelam


dan akhirnya malam pun tiba. Tanpa terasa percakapan itu memakan waktu yang


cukup lama dari yang Leo pikirkan sebelumnya. Mungkin sudah saatnya membiarkan


Lia istirahat untuk hari ini.


“Kelihatannya sudah malam... Kalau


begitu, terima kasih atas kerja kerasmu dan selamat beristirahat, Lia...” Ujar


Leo sebelum kembali ke ranjangnya dan beristirahat.


Ia memutuskan untuk tidur lebih


mengingat ucapan Leo hanya bisa termenung sedih saat Leo mengatakan ia tidak


akan meninggalkannya. Pada saat itu pula ia sadar bahwa ia telah menyeret Leo


ke dalam masalahnya.


“(Zille, penilaianmu tidak pernah


salah... Leo adalah orang yang baik... Tetapi, aku tidak ingin dia ikut


terlibat sama sepertimu...)” Ujar Lia dalam hatinya sedih dengan mata


berkaca-kaca.


Dengan memandang langit malam, Lia


meratapi kesedihannya menyadari bahwa ia akan menghancurkan hidup Leo, orang


yang telah menyelamatkan nyawanya. Ia tidak kuasa menahan kesedihannya jika


suatu saat mereka akan kembali setelah tahu bahwa ia masih hidup. Saat itu


terjadi, Leo sudah pasti akan dibunuh. Lia tidak bisa membayangkan jika sampai


hal mengerikan itu terjadi kepadanya.


Pagi menjelang saat Lia bangun dari


tidurnya setelah melihat mimpinya mengenai masa lalunya. Ia bangun dari tempat


tidurnya dengan perasaan campur aduk sebelum ia melihat ke arah Leo yang masih


tertidur pulas. Ia terlihat sangat tenang, namun tak berselang kemudian, Lia


sadar bahwa ada yang aneh darinya.


“(Meski matanya tertutup, tubuhnya dalam


kondisi siaga... Apa dia bersiaga sepanjang malam demi menjagaku...?)” Ujar Lia


dalam hatinya terkejut.


Cara tidur Leo membuat Lia terkejut.


Ia tidur layaknya dalam kondisi berperang di mana ia senantiasa bersiaga. Itu


membuat Lia semakin merasa menyesal karena telah membebaninya bahkan dalam


mimpinya ia harus terus bersiaga menjaganya.


“(Leo... Tidak salah Zille memintanya


kepadamu... Tetapi...)” Ujar Lia dalam hatinya sedih.


Leo bangun tak lama setelahnya ketika


Lia mencoba bersikap biasa di hadapannya.


“Hm...? Sudah pagi, huh..?” Gumam Leo


melihat ke jendela lesu.


“... Selamat pagi.” Sapa Lia


kepadanya.


“Ah. Selamat pagi juga untukmu, Lia.


Kau bangun lebih awal...” Balas Leo bangun dari tempat tidurnya.


Lia mulai bersiap-siap saat Leo baru


saja bangun. Ia mengenakan pedangnya bersiap untuk memulai petualangan saat Leo


yang melihatnya terdiam bingung.


“Kau mau pergi ke mana, Lia...?”


Tanya Leo kepada Lia.


“....?”


“Mengenakan perlengkapanmu sepagi


ini... Apa ada hal yang ingin kau lakukan di luar...?” Sambung Leo bertanya


kepadanya.


“... Berburu. Bersamamu.” Balas Lia


singkat dengan nada datar.


“A-Ah. Begitu ya... Tetapi sepagi


ini...” Balas Leo sebelum ia bergumam canggung.


Entah apa yang membuatnya sangat


antusias, tetapi sikapnya membuat Leo ikut bersemangat untuk pergi berburu


monster. Ia mengambil pedangnya dan mengenakannya sebelum bersama Lia pergi


memburu monster.


“Kau cukup bersemangat hari ini. Apa

__ADS_1


yang membuatmu senang pagi ini...?” Tanya Leo dalam perjalanannya menuju ke


luar kota.


“....”


“Ah. Begitu ya. Memang tidak sopan


bertanya suasana hati seorang gadis...” Balas Leo bergumam dengan senyum bodoh.


Leo tak tahu apa yang ada dalam


pikiran Lia saat ini, namun itu sepertinya adalah sesuatu yang baik. Ia menjadi


bersemangat dan tidak lagi murung seperti semalam. Ini mungkin adalah pertanda


baik baginya.


Saat sampai di gerbang timur, Leo


melihat ada banyak petualangan yang berkumpul di sana. Mereka pasti kelompok


besar atau party yang siap berburu.


“Lebih ramai dari yang kukira...


Kemarin tidak terlihat sebanyak ini...” Ujar Leo melihat sekitar.


“....”


“Kelompok, huh...?” Gumam Leo dengan


nada hampa.


“...?”


Mungkin Leo takkan bergabung dengan


salah satu dari mereka karena ia sadar, pasti akan ada masalah dengan anggota


party lain jika mereka mengetahui kalau Leo sebenarnya tidak memiliki Skill. Hal


itu juga akan membuat Lia ikut terlibat dalam masalahnya.


Leo akhirnya memutuskan untuk berburu


hanya dengan Lia, namun saat ia hendak keluar dari gerbang, seseorang


menghentikannya.


“Hei, kau yang berambut putih di


sana! Bisa kita bicara sebentar...” Ujar seorang pria misterius datang


menghampirinya.


“....?”


Leo menoleh begitu ada yang memanggil


dirinya. Dia adalah seorang petualang dengan perlengkapan lengkap yang terlihat


mahal. Dilihat dari lencana yang ia miliki, sepertinya dia adalah petualang


veteran yang sudah memiliki pengalaman.


“Kau memanggilku?” Balas Leo kepada


pria tersebut.


“Ya. Tentu saja kau. Tidak ada orang


lain dengan rambut putih salju sepertimu di sini...” Jawabnya sambil tersenyum


ramah.


“Uh... Ada yang bisa kubantu?” Tanya


Leo kepadanya dengan wajah cemas.


“Tidak juga. Aku tidak berniat meminta


bantuan darimu...” Balasnya mendekatinya.


“L-Lalu, kenapa kau memanggilku? Apa


ada yang salah...?”


“Tidak, aku hanya ingin membantu


kalian.”


“Eh...?”


Leo terkejut mendengar ucapan pria


tersebut. Ia tidak mengerti bantuan apa yang ia maksudkan, tetapi tidak ada


salahnya mendengarkannya terlebih dahulu.


“Bantuan...? Bantuan seperti apa yang


kau maksud...?” Tanya Leo dengan wajah cemas.


“Hey, apa kalian hendak berburu kali


ini?” Jawab pria tersebut bertanya kepadanya.


“Ya. Begitulah...” Balas Leo dengan


wajah ragu.


“Oh. Benar juga, namaku Roff. Siapa


nama kalian?”


“Namaku Leo dan ini Lia.”


“....”


Pria itu menganggukkan kepalanya


mendengar perkenalan singkat mereka berdua sebelum melanjutkan pembicaraan.


“Begitu ya. Senang bertemu dengan


kalian. Dan ngomong-ngomong, kalian terlihat asing bagiku. Apa kalian dari luar


kota ini?” Sambung Roff bertanya kepada mereka.


“Begitulah. Kami tiba beberapa hari


yang lalu.” Jawab Leo singkat.


“Dan juga, kelihatannya kalian


petualang yang belum berpengalaman. Bagaimana jika aku menawarkan kalian


bergabung dengan partyku?” Balas Roff menawarkan undangan kepada mereka.


Ajakan Roff mengejutkan Leo. Ia tidak


pernah mengira kalau petualang veteran sepertinya sudi mengajaknya yang pemula


masuk ke dalam party-nya.


“Maaf sebelumnya, tapi apa kau yakin?


Kami ini pemula, mungkin kami tak pantas berada dalam partymu.” Jawab Leo menolaknya


dengan halus.


“Tidak juga. Aku melihat kalian


berdua lebih dari sekedar pemula. Ada bakat yang kalian sembunyikan dibalik penampilan


sederhana kalian.” Balas Roff mencoba meluluhkan pendirian Leo.


Leo bermaksud menolak undangan Roff,


tetapi sepertinya dia tidak menyerah begitu saja. Walau demikian, tanpa adanya


Skill, ia hanya akan mempermalukan dirinya dan Lia di hadapan mereka nantinya.


“Ada banyak orang yang lebih pantas


kau undang. Kenapa kau memilih kami yang asing bagimu?” Tanya Leo kepadanya


mencoba menggugurkan niatnya.


“Bagaimana mengatakannya...


Perasaan...? Mungkin semacam itulah...” Balas Roff tertawa menggaruk tengkuknya.


“Uh... Aku tidak terlalu mengerti


maksudmu.” Balas Leo dengan wajah ragu.


“Kenapa tidak ikut saja untuk perburuan


kali ini. Setelah kalian melihat bagaimana partyku, kalian bebas memutuskan pilihan


kalian, bagaimana?” Ujar Roff memberinya tawaran.


Leo melihat ke arah Lia sambil berbisik


menanyakan pendapatnya mengenai hal ini.


“Bagaimana ini, Lia? Apa kita akan menerima


tawarannya?” Tanya Leo berbisik kepada Lia.


“... Aku mengikutimu.” Jawab Lia dengan


nada datar.


Lia mengatakan kalau ia akan


mengikuti apa keputusan Leo. Namun baginya, ini adalah keputusan yang sulit. Memang


benar kalau berburu dalam sebuah party akan jauh lebih menguntungkan, tapi Leo


memiliki masalahnya sendiri. Ia tak memiliki Skill dan jika semuanya tahu akan


kekurangannya ini, tidak hanya dirinya, mungkin Lia juga akan terkena imbasnya.


Itulah yang selama ini menahannya untuk menolak ajakannya.


“Bagaimana?” Tanya Roff dengan wajah


tersenyum mengharapkan jawaban Leo.


“Baiklah, jika kau tak keberatan,


kami akan bergabung.” Jawab Leo dengan berat hati menerima tawarannya.


Entah ini keputusan yang benar atau


tidak, tapi setidaknya Leo hanya bisa mencobanya saja. Apa yang selanjutnya

__ADS_1


terjadi tidak ada yang tahu, tetapi jika itu bisa sedikit membantu meringankan


beban Lia, ia setidaknya bisa mencobanya.


__ADS_2