
Setelah mendapatkan imbalan dari
perburuan sebelumnya, Leo dan Lia
memutuskan menyewa kamar untuk mereka beristirahat sesampainya mereka di sebuah
penginapan yang tak jauh dari Guild. Namun, saat hendak memesannya, mereka
mendapati bahwa seluruh kamar sudah dipesan dan tidak tersisa bagi mereka.
“Habis? Apa anda yakin?” Ujar Leo
terkejut.
“Ya, kami sangat minta maaf tuan.”
Balas resepsionis dengan wajah menyesal.
Leo seketika bingung saat mendengar
bahwa semua kamar sudah habis tak tersisa untuk mereka.
“Apa tak ada kamar lain?” Tanya Leo
kembali kepadanya sambil berharap.
“Seperti yang saya katakan barusan,
kamar yang anda minta semuanya sudah terisi. Mohon maaf...” Jawab resepsionis
menundukkan kepalanya meminta maaf.
“Kalau begitu... Yang tersisa saja.
Apakah masih ada?” Balas Leo kembali bertanya kepadanya.
“Ah, tolong tunggu sebentar...” Jawab
resepsionis itu mengambil sebuah buku dari laci meja.
Resepsionis itu memeriksa buku
penerima tamu untuk melihat apakah masih ada kamar yang tersisa untuk mereka.
“Sepertinya masih ada satu kamar yang
tersisa di lantai dua...” Ujar resepsionis itu sambil tersenyum senang.
“Benarkah?” Balas Leo dengan wajah
gembira.
“Ya. Kamar dua ranjang di lantai dua
masih belum ada yang menyewanya. Saya rasa itu sangat cocok bagi anda berdua.” Jawab
resepsionis itu melihat ke arahnya dan Lia sambil tersenyum.
Leo terkejut begitu mendengarnya.
Kamar dengan dua ranjang biasanya ditujukan bagi pasangan. Itu artinya ia akan
tidur di kamar yang sama dengan Lia. Walau Leo tidak punya niatan buruk, tetapi
ia tetap tidak bisa menerima hal tersebut.
“Apa tidak ada kamar yang lain lagi?”
Ujar Leo dengan wajah gugup.
“Tolong tunggu sebentar... Ah. Ada,
masih ada kamar lain di lantai tiga.” Balas resepsionis itu membalik halaman.
“B-Benarkah?” Balas Leo antusias.
“Ya. Itu kamar dengan ranjang ganda. Bagaimana
menurut anda?” Jawab resepsionis itu menawarnya.
Leo terdiam malu mendengarnya.
Ranjang ganda berarti ia harus tidur bersama dengan Lia. Itu jelas hal yang
melanggar peraturan bagi mereka yang bahkan tidak memiliki hubungan apa-apa.
“(Dua-duanya sama sekali tidak ada
bedanya... Bagaimana pendapat Lia mengenai hal ini...)” Ujar Leo dalam hatinya
bingung sambil melihat ke arah Lia.
Lia terlihat tidak banyak bereaksi mendengar
percakapannya dengan resepsionis. Entah apa yang dipikirkannya di balik wajah
diamnya yang tampak dingin itu. Di sisi lain, jika ia memilih pergi dari
penginapan ini, Leo ragu ia akan bisa menemukan penginapan lain yang harganya
bisa menyamai penginapan ini. Mereka pastinya jauh lebih mahal dari penginapan
yang ada saat ini.
Leo menghela nafas sebelum akhirnya
ia memutuskan untuk mengambil kamar pertama meski ia harus tidur satu ruangan
bersama Lia.
“Baiklah... Kami akan mengambil kamar
yang pertama.” Ujar Leo dengan wajah terpaksa.
“Baiklah kalau begitu, saya akan
menunjukkan kamarnya. Silahkan ikuti saya...” Balas resepsionis itu tersenyum
sebelum menuntun mereka berdua ke kamarnya.
Dipandu oleh resepsionis itu, mereka
berdua menuju ke kamar yang telah mereka pesan. Meski Leo sempat cemas mengenai
tanggapan Lia atas keputusannya, tetapi ia merasa lega setelah mengetahui bahwa
Lia terlihat tidak mempermasalahkannya.
“Ini dia kamar kalian. Selamat
beristirahat.” Ujar resepsionis itu menunjukkan kamar yang mereka pesan.
“Ya. Terima kasih.” Balas Leo
tersenyum membalasnya.
“Jika perlu sesuatu, panggil saya.”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu, saya pamit undur
diri...”
Segera setelah menunjukkan kamar
mereka, resepsionis itu kambali dan meninggalkan mereka berdua untuk
beristirahat di kamar mereka.
Leo menyandarkan pedangnya pada
dinding sebelum akhirnya ia melepas mantel dan jubahnya. Matahari perlahan
terbenam saat Leo melihat dari balik jendela saat ia mulai mengingat semua
kejadian yang terjadi sebelumnya.
“(Siapa mengira bahwa orang sepertiku
bisa menjadi petualang... Sulit dibayangkan bahkan olehku sendiri... Tetapi itu
semua bisa terjadi karenanya...)” Ujar Leo dalam hatinya memandangi lencana
petualangnya sebelum melihat ke arah Lia.
Lia terlihat sedang mengemasi barang-barangnya
bersiap untuk istirahat. Ia merapikan rambutnya saat secara tidak sengaja Leo
melihat luka pada lengan dan bahunya. Leo merasa tidak enak setelah melihat aksinya
memberantas Goblin tadi seorang diri di tengah kondisinya yang sedang tidak
baik. Ia merasa gagal memenuhi tugas yang Zille berikan kepadanya.
“(Tetapi kenyataan itu tidak akan
bisa disembunyikan... Aku yang seharusnya melindunginya justru dilindungi
olehnya... Aku sudah gagal menjalani tugas yang diberikan kepadaku...)” Sambung
Leo dalam hatinya kecewa sebelum ia membuang muka.
Perasaan tertekan karena tidak
memiliki Skill masih saja menghantui Leo sampai saat ini. Bagaimana pun juga,
itu adalah kutukan yang tidak akan pernah hilang dari dirinya.
“... Leo?” Gumam Lia menatap Leo yang
termenung menatap jendela.
Meski demikian, ia tetap akan
berjuang semampunya untuk menjalani tugas yang diberikan Zille untuknya. Ia
pasti akan membawa Lia kembali ke rumahnya dengan selamat.
“(Benar, meski aku bukan siapa-siapa
di dunia ini, aku tetap akan memenuhi janjiku kepadamu, Zille-san. Jadi, jangan
khawatir dan beristirahatlah dengan tenang di sana. Aku akan menjaga Lia
semampuku!)” Ujar Leo dalam hatinya dengan tekad bulat.
Melihat Leo yang termenung membuat
Lia berpikir mengenainya. Sesaat sebelumnya ia melihat wajahnya terlihat
kecewa, itu membuat Lia berpikir bahwa Leo sedang merasa terbebani oleh
sesuatu. Atau mungkin lebih jelasnya, Leo terbebani olehnya yang kini harus
mengurusnya.
“(Leo... Aku hanya menjadi beban
__ADS_1
bagimu ya...)” Ujar Lia dalam hatinya kecewa.
Pertemuan singkat mereka telah
mengubah hidup Leo. Kini, ia yang sebelumnya bebas sekarang harus terkekang
bersama dengannya. Tentu saja itu membebani pikirannya saat ini.
Leo yang melihat Lia termenung sedih
lantas mencoba bicara dengannya. Mungkin saja ia bisa menghiburnya dari
kesedihannya serta menjalin hubungan yang lebih erat dengannya.
“... Apa ada yang mengganggumu?” Tanya
Leo menghampirinya sebelum duduk di sampingnya.
“....”
“Hm...?”
Lia memalingkan wajah saat Leo
mencoba mengajaknya bicara. Ia sama sekali tak tertarik bicara kepada Leo sejak
pulang dari Guild. Entah itu karena ia masih cemas mengenai perlakuan buruk
para petualang terhadapnya atau karena masalah lain, namun yang jelas itu
sangat membebaninya.
“Apa kau masih memikirkan tentang
kejadian sebelumnya...?” Tanya Leo dengan nada lembut.
“....”
“Sepertinya, tidak ya? Apa itu
mungkin karena kau masih mengingat kejadian kemarin?” Ujar Leo menanyakan hal
yang lain.
“....”
“Umm... Mungkin aku tidak berhak
mengatakan ini, tetapi ada alasan lain mengapa kau bisa bernafas sampai pada
saat ini. Mungkin, hal itu pula yang dia pikirkan saat ia menyelamatkanmu...”
“....”
“Apa yang Zille-san lakukan adalah apa
yang hatinya ingin lakukan. Dan apa yang kulakukan adalah sama seperti
dengannya. Walau sepertinya aku tidak bisa melakukan seperti yang
diharapkannya...”
“....?”
“Uh... Agak memalukan mengatakan
ini... Tetapi, aku tidak akan mengabaikanmu, Lia. Jadi, jangan cemas lagi,
semuanya akan baik-baik saja.”
Mendengar Leo mengatakannya membuat
Lia seketika terdiam. Kekhawatirannya seketika menghilang, namun pada sisi
lain, rasa takutnya mulai kembali menyerangnya saat Leo mengatakan hal itu
kepadanya.
“Uh... A-Ah. K-Kedengarannya sangat
bodoh... Ahaha... Tolong jangan pikirkan perkataanku barusan...” Ujar Leo tertawa
sambil menunjukkan ekspresi bodohnya.
“.... Itu sama sekali tidak bodoh.”
Bisik Lia membalas ucapan Leo.
“E-Eh...? Kau mengatakan sesuatu...?”
Balas Leo terkejut bertanya kepadanya.
“....”
“Ah. Mungkin hanya perasaanku
saja...” Balas Leo menggaruk kepalanya sambil tersenyum kepadanya.
Matahari sudah sepenuhnya tenggelam
dan akhirnya malam pun tiba. Tanpa terasa percakapan itu memakan waktu yang
cukup lama dari yang Leo pikirkan sebelumnya. Mungkin sudah saatnya membiarkan
Lia istirahat untuk hari ini.
“Kelihatannya sudah malam... Kalau
begitu, terima kasih atas kerja kerasmu dan selamat beristirahat, Lia...” Ujar
Leo sebelum kembali ke ranjangnya dan beristirahat.
Ia memutuskan untuk tidur lebih
mengingat ucapan Leo hanya bisa termenung sedih saat Leo mengatakan ia tidak
akan meninggalkannya. Pada saat itu pula ia sadar bahwa ia telah menyeret Leo
ke dalam masalahnya.
“(Zille, penilaianmu tidak pernah
salah... Leo adalah orang yang baik... Tetapi, aku tidak ingin dia ikut
terlibat sama sepertimu...)” Ujar Lia dalam hatinya sedih dengan mata
berkaca-kaca.
Dengan memandang langit malam, Lia
meratapi kesedihannya menyadari bahwa ia akan menghancurkan hidup Leo, orang
yang telah menyelamatkan nyawanya. Ia tidak kuasa menahan kesedihannya jika
suatu saat mereka akan kembali setelah tahu bahwa ia masih hidup. Saat itu
terjadi, Leo sudah pasti akan dibunuh. Lia tidak bisa membayangkan jika sampai
hal mengerikan itu terjadi kepadanya.
Pagi menjelang saat Lia bangun dari
tidurnya setelah melihat mimpinya mengenai masa lalunya. Ia bangun dari tempat
tidurnya dengan perasaan campur aduk sebelum ia melihat ke arah Leo yang masih
tertidur pulas. Ia terlihat sangat tenang, namun tak berselang kemudian, Lia
sadar bahwa ada yang aneh darinya.
“(Meski matanya tertutup, tubuhnya dalam
kondisi siaga... Apa dia bersiaga sepanjang malam demi menjagaku...?)” Ujar Lia
dalam hatinya terkejut.
Cara tidur Leo membuat Lia terkejut.
Ia tidur layaknya dalam kondisi berperang di mana ia senantiasa bersiaga. Itu
membuat Lia semakin merasa menyesal karena telah membebaninya bahkan dalam
mimpinya ia harus terus bersiaga menjaganya.
“(Leo... Tidak salah Zille memintanya
kepadamu... Tetapi...)” Ujar Lia dalam hatinya sedih.
Leo bangun tak lama setelahnya ketika
Lia mencoba bersikap biasa di hadapannya.
“Hm...? Sudah pagi, huh..?” Gumam Leo
melihat ke jendela lesu.
“... Selamat pagi.” Sapa Lia
kepadanya.
“Ah. Selamat pagi juga untukmu, Lia.
Kau bangun lebih awal...” Balas Leo bangun dari tempat tidurnya.
Lia mulai bersiap-siap saat Leo baru
saja bangun. Ia mengenakan pedangnya bersiap untuk memulai petualangan saat Leo
yang melihatnya terdiam bingung.
“Kau mau pergi ke mana, Lia...?”
Tanya Leo kepada Lia.
“....?”
“Mengenakan perlengkapanmu sepagi
ini... Apa ada hal yang ingin kau lakukan di luar...?” Sambung Leo bertanya
kepadanya.
“... Berburu. Bersamamu.” Balas Lia
singkat dengan nada datar.
“A-Ah. Begitu ya... Tetapi sepagi
ini...” Balas Leo sebelum ia bergumam canggung.
Entah apa yang membuatnya sangat
antusias, tetapi sikapnya membuat Leo ikut bersemangat untuk pergi berburu
monster. Ia mengambil pedangnya dan mengenakannya sebelum bersama Lia pergi
memburu monster.
“Kau cukup bersemangat hari ini. Apa
__ADS_1
yang membuatmu senang pagi ini...?” Tanya Leo dalam perjalanannya menuju ke
luar kota.
“....”
“Ah. Begitu ya. Memang tidak sopan
bertanya suasana hati seorang gadis...” Balas Leo bergumam dengan senyum bodoh.
Leo tak tahu apa yang ada dalam
pikiran Lia saat ini, namun itu sepertinya adalah sesuatu yang baik. Ia menjadi
bersemangat dan tidak lagi murung seperti semalam. Ini mungkin adalah pertanda
baik baginya.
Saat sampai di gerbang timur, Leo
melihat ada banyak petualangan yang berkumpul di sana. Mereka pasti kelompok
besar atau party yang siap berburu.
“Lebih ramai dari yang kukira...
Kemarin tidak terlihat sebanyak ini...” Ujar Leo melihat sekitar.
“....”
“Kelompok, huh...?” Gumam Leo dengan
nada hampa.
“...?”
Mungkin Leo takkan bergabung dengan
salah satu dari mereka karena ia sadar, pasti akan ada masalah dengan anggota
party lain jika mereka mengetahui kalau Leo sebenarnya tidak memiliki Skill. Hal
itu juga akan membuat Lia ikut terlibat dalam masalahnya.
Leo akhirnya memutuskan untuk berburu
hanya dengan Lia, namun saat ia hendak keluar dari gerbang, seseorang
menghentikannya.
“Hei, kau yang berambut putih di
sana! Bisa kita bicara sebentar...” Ujar seorang pria misterius datang
menghampirinya.
“....?”
Leo menoleh begitu ada yang memanggil
dirinya. Dia adalah seorang petualang dengan perlengkapan lengkap yang terlihat
mahal. Dilihat dari lencana yang ia miliki, sepertinya dia adalah petualang
veteran yang sudah memiliki pengalaman.
“Kau memanggilku?” Balas Leo kepada
pria tersebut.
“Ya. Tentu saja kau. Tidak ada orang
lain dengan rambut putih salju sepertimu di sini...” Jawabnya sambil tersenyum
ramah.
“Uh... Ada yang bisa kubantu?” Tanya
Leo kepadanya dengan wajah cemas.
“Tidak juga. Aku tidak berniat meminta
bantuan darimu...” Balasnya mendekatinya.
“L-Lalu, kenapa kau memanggilku? Apa
ada yang salah...?”
“Tidak, aku hanya ingin membantu
kalian.”
“Eh...?”
Leo terkejut mendengar ucapan pria
tersebut. Ia tidak mengerti bantuan apa yang ia maksudkan, tetapi tidak ada
salahnya mendengarkannya terlebih dahulu.
“Bantuan...? Bantuan seperti apa yang
kau maksud...?” Tanya Leo dengan wajah cemas.
“Hey, apa kalian hendak berburu kali
ini?” Jawab pria tersebut bertanya kepadanya.
“Ya. Begitulah...” Balas Leo dengan
wajah ragu.
“Oh. Benar juga, namaku Roff. Siapa
nama kalian?”
“Namaku Leo dan ini Lia.”
“....”
Pria itu menganggukkan kepalanya
mendengar perkenalan singkat mereka berdua sebelum melanjutkan pembicaraan.
“Begitu ya. Senang bertemu dengan
kalian. Dan ngomong-ngomong, kalian terlihat asing bagiku. Apa kalian dari luar
kota ini?” Sambung Roff bertanya kepada mereka.
“Begitulah. Kami tiba beberapa hari
yang lalu.” Jawab Leo singkat.
“Dan juga, kelihatannya kalian
petualang yang belum berpengalaman. Bagaimana jika aku menawarkan kalian
bergabung dengan partyku?” Balas Roff menawarkan undangan kepada mereka.
Ajakan Roff mengejutkan Leo. Ia tidak
pernah mengira kalau petualang veteran sepertinya sudi mengajaknya yang pemula
masuk ke dalam party-nya.
“Maaf sebelumnya, tapi apa kau yakin?
Kami ini pemula, mungkin kami tak pantas berada dalam partymu.” Jawab Leo menolaknya
dengan halus.
“Tidak juga. Aku melihat kalian
berdua lebih dari sekedar pemula. Ada bakat yang kalian sembunyikan dibalik penampilan
sederhana kalian.” Balas Roff mencoba meluluhkan pendirian Leo.
Leo bermaksud menolak undangan Roff,
tetapi sepertinya dia tidak menyerah begitu saja. Walau demikian, tanpa adanya
Skill, ia hanya akan mempermalukan dirinya dan Lia di hadapan mereka nantinya.
“Ada banyak orang yang lebih pantas
kau undang. Kenapa kau memilih kami yang asing bagimu?” Tanya Leo kepadanya
mencoba menggugurkan niatnya.
“Bagaimana mengatakannya...
Perasaan...? Mungkin semacam itulah...” Balas Roff tertawa menggaruk tengkuknya.
“Uh... Aku tidak terlalu mengerti
maksudmu.” Balas Leo dengan wajah ragu.
“Kenapa tidak ikut saja untuk perburuan
kali ini. Setelah kalian melihat bagaimana partyku, kalian bebas memutuskan pilihan
kalian, bagaimana?” Ujar Roff memberinya tawaran.
Leo melihat ke arah Lia sambil berbisik
menanyakan pendapatnya mengenai hal ini.
“Bagaimana ini, Lia? Apa kita akan menerima
tawarannya?” Tanya Leo berbisik kepada Lia.
“... Aku mengikutimu.” Jawab Lia dengan
nada datar.
Lia mengatakan kalau ia akan
mengikuti apa keputusan Leo. Namun baginya, ini adalah keputusan yang sulit. Memang
benar kalau berburu dalam sebuah party akan jauh lebih menguntungkan, tapi Leo
memiliki masalahnya sendiri. Ia tak memiliki Skill dan jika semuanya tahu akan
kekurangannya ini, tidak hanya dirinya, mungkin Lia juga akan terkena imbasnya.
Itulah yang selama ini menahannya untuk menolak ajakannya.
“Bagaimana?” Tanya Roff dengan wajah
tersenyum mengharapkan jawaban Leo.
“Baiklah, jika kau tak keberatan,
kami akan bergabung.” Jawab Leo dengan berat hati menerima tawarannya.
Entah ini keputusan yang benar atau
tidak, tapi setidaknya Leo hanya bisa mencobanya saja. Apa yang selanjutnya
__ADS_1
terjadi tidak ada yang tahu, tetapi jika itu bisa sedikit membantu meringankan
beban Lia, ia setidaknya bisa mencobanya.