
... ...
Ada sebuah kisah yang hanya diketahui oleh ras naga. Kisah legenda yang masih lekat pada setiap ras naga yang hidup mengenai sesosok entitas yang bertanggung jawab atas terciptanya kutukan kematian naga. Dikatakan dalam legenda, jauh sebelum perang ras dimulai, para naga telah mengalami perang mereka sendiri. Perang itu adalah perang terburuk dalam sejarah mereka yang menyebabkan ras naga hampir menemui kepunahan. Dan yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut adalah entitas yang disebut sebagai dewa naga kuno, sang perwujudan kehancuran dan kehampaan. Dalam legenda, ia menyatakan perang kepada kaumnya sendiri dan membunuh nyaris separuh ras naga yang ada di dunia. Tidak ada yang tahu, atau lebih tepatnya tidak ada satu pun dari ras naga yang mau mengungkapkan alasan sesungguhnya kenapa dia melakukan hal itu karena kebencian mereka terhadapnya begitu besar layaknya sebuah kutukan abadi yang tidak akan pernah bisa hilang.
Menyadari kepunahan ras mereka semakin dekat, para ras naga yang tersisa memutuskan untuk menggabungkan kekuatan dan melawan dewa naga kuno dengan sekuat tenaga. Hingga pada akhirnya, setelah pertarungan yang sengit, mereka berhasil membunuh sang dewa naga kuno. Kekalahan itu membuatnya sangat murka, kebenciannya yang mendalam pada ras naga tidak langsung hilang begitu saja bersama kematiannya. Ia mengutuk ras naga yang ada dengan kutukan kematian yang hingga saat ini masih berlaku. Itulah legenda kelam yang terjadi kepada para naga mengenai kebencian mereka yang mendalam terhadap dewa mereka. Sejak saat itu mereka bersumpah bahwa jika mereka menemukan jejak peninggalan maupun sesuatu yang berhubungan dengannya, mereka tidak akan segan-segan memusnahkannya.
***
Sementara itu, Leo yang berhasil memancing naga itu keluar dari kota kini tengah berjuang bertahan hidup dari kejarannya. Dalam pelariannya, tidak jarang ia dihujani oleh sihir dan semburan api yang membuatnya kewalahan menanganinya. Setiap kali ia menampakkan diri setelah menggunakan kemampuannya, ia selalu dihujani oleh serangan bertubi-tubi yang memaksanya untuk bertahan dengan memanfaatkan keadaan yang ada di sekitarnya. Ia menggunakan gang sempit yang ada di pinggiran kota sebagai tempatnya bersembunyi selagi menghindari hujan serangannya. Meski sangat berisiko, ia terpaksa melakukannya sampai ia berhasil membawa naga itu keluar dari kota.
“(Sial..! Jika bukan karena kecepatan kilat ini, aku sudah pasti mati sejak tadi...! Jika saja aku bisa mengendalikannya...!)” Gumam Leo dalam hatinya menggerutu sambil menarik nafas.
Selagi memancingnya menjauh dari kota, Leo juga belajar untuk mengendalikan kemampuan barunya tersebut. Ia masih belum terbiasa dalam menggunakan peningkatan kecepatan itu. Ia sering kali meleset dari posisi yang diincarnya serta terkadang ia melesat terlalu jauh melewati tempat yang hendak ia tuju. Bagaimana pun juga, hanya ini satu-satunya cara yang bisa ia gunakan untuk mengimbangi kekuatan naga itu.
“(Tinggal sedikit lagi, aku harus bertahan...! Sampai dia keluar dari kota ini, aku tidak boleh berhenti...!)” Sambung Leo dalam hatinya membulatkan tekadnya.
Setelah mematangkan hatinya, Leo pun kembali melanjutkan pelariannya menghindari naga itu. Ia melompat naik ke atap bangunan yang ada di dekatnya sesaat sebelum ia melesat secepat kilat menuju bangunan lain yang ada di hadapannya ketika naga itu menghujaninya dengan bola api begitu melihat keberadaannya. Rentetan ledakan dalam sekejap menghancurkan bangunan-bangunan itu ketika serangannya menghantam mereka. Kekuatannya memanglah menakutkan, namun hal itu sama sekali tidak mempengaruhi Leo. Ia terus melanjutkan langkahnya meski naga itu berulang kali menghujaninya dengan serangan.
Rentetan ledakan itu membuat Olivia semakin cemas dengan keadaan Leo. Meski ia telah mengejarnya secepat mungkin, tetap saja ia masih tertinggal jauh darinya.
“(Ini tidak bagus...! Jika terus seperti ini, master bisa terpojok sebelum sempat menggiringnya keluar kota...! Apa yang harus Olivia lakukan...?)” Ujar Olivia dalam hatinya gelisah.
Mengejar mereka berdua memang akan memakan waktu. Sebuah ide sempat terlintas di benak Olivia, namun pada akhirnya ia memilih mengurungkannya karena terlalu berisiko. Ia sempat berpikir menyerang naga itu dari jaraknya saat ini, namun hal itu justru akan membuat usaha Leo memancingnya keluar dari kota menjadi sia-sia. Pilihan terbaiknya saat ini hanyalah mengikuti mereka diam-diam sampai keluar dari kota.
Di sisi lain, Lia yang tengah mengurus para petualang hanya bisa mengabaikan suara ledakan yang menggema di telinganya. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa ia mencemaskan keadaan Leo, namun saat ini ia tengah mengemban tugas penting menyelamatkan nyawa para petualang yang terluka itu. Ia masih harus melakukan pertolongan pertama pada mereka untuk mencegah nyawa mereka terancam.
“Arghhhh...!! S-Sakit sekali...!!” Seru pria itu merintih sambil menggertakkan giginya menahannya.
“Bertahanlah, atau kau akan kehilangan lebih banyak darah...!” Balas Lia sambil menekan luka di tubuhnya dengan kain.
“Arghhh...!! Aaaaaaahhhh...!!!”
“.....”
Dengan sedikit pengetahuannya mengenai ilmu medis, Lia berusaha sekuat tenaga menolong mereka dengan keterbatasannya. Ia memang tidak menguasai sihir penyembuhan, namun setidaknya ia bisa mencegah pendarahan dengan beberapa cara manual yang pernah diajarkan kepadanya.
“(Aku tahu aku cemas dengan keadaannya, tapi orang-orang ini membutuhkanku...! Aku tidak boleh membiarkan konsentrasiku hilang hanya karena masalah sepele...!)” Ujar Lia dalam hatinya menyemangati diri sendiri.
Lia menguatkan hatinya untuk menyerahkan masalah Leo pada Olivia dan fokus pada pekerjaannya. Hanya dia yang bisa ia andalkan saat ini.
Setelah beberapa menit penuh dengan adegan mematikan, Leo pada akhirnya berhasil mencapai perbatasan kota. Ia membawa naga itu menuju tebing yang ada di sisi lain lembah sebelum akhirnya memutuskan untuk menghadapinya di sana. Tepat setelah ia melewati area hutan pinus, ia menghentikan langkahnya sebelum akhirnya melompat ke atas dahan pada salah satu pohon menggunakannya sebagai pijakan untuk melompat jauh ke udara langsung menuju ke arah sang naga yang terbang mengikutinya.
“Haaaa...!!”
Dengan pedang hitam yang berlumuran listrik, ia melesat langsung menuju naga itu. Sang naga yang menyadarinya lantas membuat manuver mengelak sesaat sebelum ia terbang kembali ke arahnya seketika menyambarnya.
“....?!”
Naga itu menghantamnya secara langsung membuatnya seketika terlempar jatuh dari ketinggian. Ia menghantam beberapa pohon di jalurnya hingga tumbang sesaat sebelum akhirnya ia terkapar tidak berdaya di tanah. Sambil berlumuran tanah dan ranting pepohonan, ia bangkit dari tempatnya melihat naga itu terbang mengitarinya.
“Melawan makhluk terbang di udara memang merepotkan. Aku harusnya belajar cara memanah...” Gumam Leo menggerutu.
Bagaimana pun juga, melawan seekor naga memerlukan lebih dari sekedar kemampuan memanah. Mungkin hal itu akan berpengaruh bagi Wyvern atau sejenisnya, tetapi tidak dengannya.
Ketika Leo hendak bangkit, naga itu terbang merendah menjatuhkan pepohonan yang ada di sekitarnya dengan cakar di kakinya hingga membentuk area melingkar yang mengepungnya. Leo yang mengira bahwa ia hanya menggertak seketika terkejut begitu menyadari maksudnya yang sebenarnya.
“(Pohon-pohon itu...! Jangan katakan dia hendak menjebakku...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
__ADS_1
Menyadari hal itu, ia langsung berlari secepat mungkin keluar dari sana. Akan tetapi, saat ia hendak berniat melakukannya, naga itu menghalangi langkahnya dengan membakar jalur yang hendak dilaluinya sebelum melanjutkan membakar seluruh area yang ditandai oleh pohon yang sebelumnya ia tumbangkan. Seketika itu pula seluruh area menjadi penjara api bagi Leo yang terjebak di dalamnya. Walau ia benci mengakuinya, namun naga itu satu langkah lebih cepat dibandingkan dirinya.
“(Sial...! Dia benar-benar menjebakku...! Padahal aku sendiri yang memancingnya ke hutan ini tetapi kini aku sendiri yang terjebak...! Dia lebih pintar dari dugaanku...!)” Ujar Leo dalam hatinya menggerutu kesal.
Ia menutup semua jalan keluar yang ada dengan apinya. Menembus kobaran api itu memang bukan hal yang sulit untuk dilakukan, namun lain cerita dengan api naga. Memang jarang orang yang mengetahuinya, namun para naga dapat memanipulasi api sesuai kehendak mereka. Hal itu termasuk merubah bentuk dan mengubah kekuatan panasnya. Bagi naga sekelas Wyvern mereka memang tidak mampu melakukannya sejauh itu, namun baginya, itu bukan perkara yang sulit. Menerobosnya hanya akan menjadi tindakan yang bodoh untuk dilakukan.
“(Sial...! Apa yang harus kulakukan...! Aku harus segera keluar dari kurungan ini...! Aku punya firasat buruk...!)” Sambung Leo dalam hatinya berpikir.
Saat Leo tengah memikirkan rencana untuk keluar, naga itu terbang tepat di tengah-tengah lingkaran api itu. Dan hanya selang beberapa saat setelah ia meraung, puluhan hingga ratusan pedang sihir memenuhi udara layaknya sekumpulan kunang-kunang. Semua bilah pedang sihir itu menghadap ke bawah ketika Leo yang menyaksikannya seketika terkejut. Dengan jumlah sebanyak itu, mereka akan memenuhi seluruh tempat yang ada dalam lingkaran api dan membunuh segalanya termasuk Leo.
“(Ini gawat...! Jika sihir itu sampai dilepaskan, aku pasti akan mati...!)” Ujar Leo dalam hatinya panik.
Terdesak dengan keadaan, Leo pun memutuskan untuk mengambil keputusan nekat menembus dinding api itu. Namun, seperti seolah mengetahui niatnya, naga itu mengangkat salah satu tangannya sesaat sebelum kobaran api yang ada di sana berubah menjadi semburan hebat layaknya barisan geiser. Warnya apinya pun turut berubah dati yang semula berwarna kuning kemerahan kini menjadi berwarna merah membara. Semua benda yang melewatinya akan hangus seketika begitu menyentuhnya. Hal ini membuat situasi Leo menjadi sangat buruk.
“(Aku terjebak sepenuhnya...! Seperti yang kuduga, dia bukan naga sembarangan...! Aku berada dalam bahaya...!)” Ujar Leo dalam hatinya gelisah.
Dengan terjebaknya Leo, kini naga itu hanya tinggal menghabisinya saja. Ia melepaskan sihirnya yang seketika membuat pedang-pedang sihir itu berjatuhan menghujani area yang ada di dalam lingkaran api tersebut.
“....!!”
Dengan serangan sebanyak itu, mustahil bagi Leo untuk menghindarinya. Menangkisnya juga tidak akan banyak membantu mengingat semua serangan itu datang secara bersamaan membuatnya nyaris tanpa celah. Ini adalah kekalahan telak bagi Leo.
Ketika cahaya sihir memenuhi pandangannya menjelang kekalahannya, secara mengejutkan perisai sihir tercipta di sekeliling tubuh Leo. Perisai sihir itu muncul tepat sebelum pedang-pedang sihir itu menghujaninya tanpa henti. Berkat hal itu, kini ia berhasil selamat tanpa menderita luka sedikit pun.
“(Sihir barusan... Tidak salah lagi Olivia...!)” Ujar Leo dalam hatinya menebak.
Tepat setelah guncangan akibat serangan itu berakhir, naga itu terkejut mendapati Leo masih hidup meski telah dihujani oleh sihir miliknya. Memang tidak bisa dipercaya, namun memang itulah kenyataannya. Pada saat yang bersamaan pula, naga itu merasakan kehadiran lain mendekat ke arahnya sesaat sebelum tembakan sihir keemasan melayang mendatanginya dari kejauhan.
“...?!”
Melihat serangan itu datang, sang naga lantas mengeluarkan medan sihir miliknya untuk menangkal semua serangan yang datang ke arahnya. Rentetan ledakan seketika mengguncang udara ketika sihir itu menghantam pertahanannya hingga membuat langit di sekitarnya diselimuti cahaya keemasan.
“(Serangan yang sangat kuat, tapi...!)” Ujar Leo dalam hatinya sambil melindungi pandangannya.
Meski serangan itu cukup mengesankan, namun semua itu masih belum cukup untuk menembus pertahanan sihirnya. Perisai sihir milik naga itu masih bertahan tanpa sedikit pun luka setelah menerima semua serangan tersebut. Hal ini akan membuat pertarungan ini menjadi sulit nantinya.
“Grrrr...!”
Naga itu mencoba mencari keberadaan yang baru saja ia rasakan tersebut. Akan tetapi, ketika ia hendak berpaling, secara mengejutkan kurungan api miliknya ditembus oleh sihir yang sama seperti yang barusan menyerangnya. Akibat hal itu, dinding apinya menjadi berlubang tepat ketika sesosok gadis misterius dengan rambut keperakan masuk ke dalamnya. Ia bergegas menghampiri Leo sesaat sebelum naga itu menyadari bahwa gadis itulah yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
“Master...! Mohon maaf atas keterlambatan Olivia...! Apa master baik-baik saja...?” Ujar Olivia berlari menghampirinya dengan wajah cemas.
“Olivi-- Olivia...!!” Ujar Leo sebelum berteriak dengan nada tinggi.
“....?!”
Tepat ketika Leo berteriak, naga itu melancarkan serangannya ke arah mereka berdua saat Olivia hendak menghampirinya. Ia menyemburkan sihir berkonsentrasi tinggi dari mulutnya menciptakan garis cahaya yang langsung mengarah pada mereka. Melihat hal tersebut, Olivia langsung menghentikan langkahnya dan dengan cepat merapalkan mantra sihirnya.
“Enchant: Gouden Barrièrschild.”
Lingkaran sihir emas tercipta tepat di hadapannya sesaat sebelum serangan itu menghantamnya dengan hebat. Tanah seketika berguncang begitu serangan itu menghantam sihirnya menciptakan gelombang kejut yang menggetarkan area hutan hingga membuat beberapa orang yang ada di kota ikut merasakannya.
“Gempa bumi...? Tidak, ini bukan gempa bumi, ini pasti mereka...! Mereka pasti sedang berhadapan langsung dengan naga itu...!” Gumam Lia dengan ekspresi cemas.
“A-Apa yang... Barusan itu..? Aku merasa.. Seperti ada guncangan...” Balas petualang yang sedang Lia obati.
__ADS_1
“Bukan apa-apa. Tolong jangan banyak bergerak dulu, lukamu nanti akan terbuka lagi...” Balas Lia mencoba mengalihkan pembicaraan.
“T-Tapi.. Aku barusan mendengar... Kau mengatakan sesuatu... Mengenai seseorang... Apakah mungkin... Kau teman dari pria... Yang menantang... Naga itu sebelumnya...?”
“....”
“H-Hey, nona... Kenapa kau.. Tidak menjawabku...? Jika benar, maka.. Kau jangan pedulikan.. Kami di sini... Temanmu.. Membutuhkan bantuanmu...”
“Tidak... Aku tidak bisa meninggalkan kalian di sini. Tidak sampai pasukan bantuan datang...”
Sambil mengabaikan rasa gelisahnya, Lia terus bekerja menolong petualang yang ada dengan segenap kemampuannya. Meski ia tidak tahu apa yang sedang berlangsung di sana, namun ia percaya bahwa Leo dan Olivia pasti bisa mengatasinya.
Sementara itu, Olivia yang sedang bertahan menahan serangan naga itu mulai mengambil langkah untuk membalas serangannya. Sementara satu tangannya menahan medan sihir yang melindungi mereka, ia menggerakkan tangan lainnya menciptakan sihir baru yang dimaksudkan untuk menyerangnya. Lingkaran-lingkaran sihir baru muncul di sekitarnya sesaat sebelum ia menembakkan sejumlah besar kekuatan sihir darinya langsung menuju ke arah sang naga yang tengah sibuk mengikis pertahanannya.
“...?!”
Terkejut dengan kedatangan sihir itu, naga itu lantas menghentikan serangannya sesaat sebelum ia menciptakan medan sihir untuk melindunginya dari serangan yang akan datang. Serangan Olivia berhasil ditangkis, namun pada saat yang sama pula, ia kembali melancarkan serangan setelah ia berhasil bebas dari tekanannya.
“Enchant: Lans van Zonlicht.”
Belasan hingga puluhan sihir emas membentuk tombak tercipta di sekelilingnya ketika Olivia merapalkan mantranya. Dan selang beberapa saat, ia menembakkan mereka semua ke arah naga itu dengan kecepatan yang luar biasa. Melihat kedatangan serangan itu, sang naga lantas menggunakan kekuatan sihirnya untuk menghalaunya. Ia menciptakan proyektil sihir dengan wujud yang serupa sesaat sebelum ia menembakkannya untuk melawannya.
Selang beberapa saat, serangan mereka saling bertemu menciptakan rangkaian ledakan tak terhindarkan di udara. Sebagai akibat dari ledakan itu, kini pandangan mereka sama-sama terhalang. Baik Olivia maupun naga itu, mereka sama-sama bersiaga guna mengantisipasi serangan yang mungkin saja muncul dari situasi mereka saat ini.
“....”
“....”
Untuk beberapa saat, keadaan di antara mereka berdua menjadi sunyi. Tidak ada tanda-tanda pergerakan dari masing-masing hingga sampai pada akhirnya situasi yang mengejutkan menimpa naga tersebut. Kilauan cahaya emas terlihat dari balik asap hitam ledakan itu sesaat sebelum perhatiannya tertarik olehnya. Hanya selang beberapa saat setelah menyadarinya, sihir emas milik Olivia berdatangan dari balik asap hitam itu menuju ke arahnya seketika mengejutkannya.
“...!!”
Sihir yang harusnya turut lenyap bersama dengan serangan sihir miliknya justru datang ke arahnya seperti tidak terpengaruh sedikit pun. Hal ini menandakan bahwa kekuatan sihirnya jauh mengungguli serangannya, menjelaskan mengapa mereka semua bisa bertahan sejauh ini. Meski mengejutkan, namun naga itu telah memperkirakannya sebelumnya sehingga dapat dengan sigap membuat langkah pencegahan. Ia memperkuat medan sihir yang melindunginya sesaat sebelum serangan itu menghujaninya. Dalam sekian detik, ledakan hebat tercipta ketika serangan milik Olivia menghantam medan sihirnya. Gelombang udara segera menyapu apa yang ada di sekitarnya, termasuk pepohonan yang ada di hutan hingga membuat beberapa bagian hutan ambruk sebagai akibatnya.
“(Kuat sekali...! Kekuatan setingkat ini harusnya dapat merusak perisai sihir miliknya...!)” Ujar Leo dalam hatinya sambil bertahan melawan sapuan udara yang menerpanya.
Dengan serangan sekuat itu, medan sihirnya bisa ditembus dengan mudah, harusnya demikian. Akan tetapi, kenyataan berkata lain.
“A-Apa...?!” Ujar Leo terkejut.
“....”
Bahkan setelah serangan kuat itu menghujaninya, sihir Olivia sama sekali tidak menggores pertahanannya sedikit pun. Naga itu masih tetap di tempatnya tanpa bergeming sesaat sebelum ia meraung menunjukkan kekuasaannya.
“(Dia jauh lebih kuat dari yang kuperkirakan... Ini tidak bagus, dia unggul dari segala aspek dari kami... Ini akan menjadi pertarungan yang tidak mudah meski Olivia bersamaku...)” Ujar Leo dalam hatinya termenung.
Pertarungan yang sebenarnya bahkan belum dimulai, namun Leo sudah merasa bahwa naga itu berada jauh di atas mereka. Mengalahkannya akan membutuhkan lebih dari sekedar kekuatan. Ia juga membutuhkan strategi yang matang agar bisa mengalahkannya.
“Master, anda baik-baik saja?” Tanya Olivia menoleh ke arahnya.
“Ya. Berkat kau. Tetapi, situasi kita sepertinya tidak menguntungkan...” Balas Leo sambil menghela nafas panjang.
“Master, apa yang harus kita lakukan?” Balas Olivia bertanya sebelum menatap kembali naga tersebut.
“Aku juga berharap tahu apa yang harus kulakukan...”
“E-Eh...?”
__ADS_1
Dihadapkan dengan pertarungan melawan makhluk perkasa yang mengerikan itu, Leo hanya bisa mencoba tetap tenang sambil berpikir keras mencari jalan keluar untuk masalah mereka. Ia hanya bisa berharap bahwa pengalaman serta pengetahuannya sebagai pemburu monster bisa membantunya mengalahkan naga kelas atas itu.