
Keesokan harinya, tepatnya pertambangan kota, pembersihan jalur hampir mencapai sempurna. Seluruh jalur utama berhasil dibersihkan hingga sampai di depan pintu masuk kota bawah tanah. Pembersihan hanya sampai pada titik tersebut, karena atas perintah walikota, selain prajurit dan petualang terkait, warga sipil dilarang mengetahui informasi mengenai peninggalan kuno tersebut. Hal tersebut dilakukan demi mencegah bocornya informasi ke pihak-pihak gelap yang mencoba mengambil keuntungan dari peninggalan kuno tersebut.
“Bagaimana perkembangannya?” Tanya pemimpin pasukan tersebut kepada prajuritnya.
“Rute utama dari lantai pertama dan kedua telah selesai dibersihkan. Beruntungnya, gempa kemarin hanya menyebabkan longsoran ringan sehingga mempercepat proses pengerjaan.” Balas prajurit tersebut memberikan laporan.
“Bagaimana dengan para pekerja? Apakah kita bisa menyelesaikannya sesuai perkiraan?” Balas pemimpin pasukan kembali bertanya.
“Menurut para pekerja, jika jumlah titik timbunan tidak terlalu banyak, kemungkinan kita bisa menyelesaikannya sebelum hari berakhir.” Jawab prajurit tersebut mengira-ngira.
“Baguslah kalau begitu. Lalu, apa ada tanda-tanda kemunculan Golem lagi?” Ujar pemimpin pasukan sebelum mengganti topik.
“Sejauh ini, tim penjaga belum menemukan tanda-tanda mereka. Bahkan sejak membuka jalur di lantai 3, mereka sama sekali tidak menemukan adanya tanda-tanda Golem.”
“Hm. Cukup aneh juga...”
Pimpinan prajurit itu merenung sejenak setelah mendengarkan laporannya mengenai para Golem. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan mereka sebelum prajurit itu bertanya kepadanya.
“Ada masalah, kapten?” Tanya prajurit itu dengan wajah heran.
“Hm? Tidak, hanya saja aku merasa aneh dengan para Golem itu...” Balas pimpinan prajurit menurunkan bahunya.
“Apa maksud anda...?” Balasnya dengan wajah bingung.
“Mereka datang setelah gempa yang mengguncang tambang minggu lalu. Lalu, kini mereka juga menghilang karena gempa yang sama, seperti seolah gempa itu adalah isyarat bagi mereka untuk mundur...”
“Jika memang begitu, artinya mereka memiliki pemimpin, apa boleh saya berpikir demikian?”
“Saat ini aku tidak bisa menyangkalnya... Tetapi, tetap saja ini masih belum bisa dijelaskan...”
“Mungkin, kita akan menemukannya besok dalam penyelidikan...”
“Aku berharap demikian...”
Dengan segudang pertanyaan, mereka hanya bisa meneruskan pekerjaan mereka sambil berharap dapat menemukan jawaban dibalik semua keanehan yang terjadi.
Dengan laporan tersebut, pemimpin pasukan menyampaikan hal tersebut kepada walikota melalui sepucuk surat mengenai keadaan di dalam tambang selama proses pembersihan berlangsung.
“Jadi begitu, semuanya masih sesuai rencana. Bagaimana dengan bantuan dari pihak kerajaan?” Ujar sang walikota setelah membaca surat tersebut.
“Untuk saat ini, mereka masih dalam perjalanan. Kemungkinan sampainya sekitar 7 sampai 8 hari lagi.” Jawab sang sekretaris menyampaikan pesan dari pihak kerajaan.
“Humph. Siapa yang dikirim untuk masalah ini?” Balas sang walikota meletakkan rokoknya.
“Menurut surat dari kerajaan, Ksatria Suci Morgen yang dikirim untuk membantu menyelidiki masalah di tambang.”
“Morgen...? Dari fraksi mana dia?”
“Kalau tidak salah, fraksi Ksatria Suci Agung Richard-sama. Memangnya kenapa, tuan walikota?”
“Richard Brown, huh? Aku mengira yang datang dari fraksi Amsterdamm, tapi biarlah... Asalkan masalah di tambang bisa selesai, aku tidak peduli. Sudah terlalu banyak waktu yang terbuang untuk menyelesaikan masalah ini.”
Walikota mengambil kembali rokoknya sebelum menghisapnya perlahan sambil meneruskan pekerjaannya.
“Aku serahkan sisanya kepadamu. Sekarang, jangan ganggu aku.” Sambung walikota memberinya perintah.
“Baik, tuan walikota.” Balas sekretaris menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.
Dampak dari penutupan tambang sangat mempengaruhi perekonomian kota. Dengan sedikitnya barang yang diminta, membuat harga melambung tinggi. Hal ini mengganggu kestabilan pasar yang berdampak langsung pada nilai jual bijih yang masuk dan keluar dari kota tersebut. Jika dibiarkan, maka hal ini akan menjadi semakin memburuk.
“Ya ampun. Apa mereka tidak bisa mengerjakannya dengan cepat. Masalah harga bijih ini semakin membunuhku!” Gumamnya kesal menekan ujung rokoknya ke asbak.
***
Hari pun berlalu dan hari yang telah nantikan akhirnya tiba. Tambang telah sepenuhnya selesai dibersihkan dan penyelidikan pun kembali dilanjutkan. Atas perintah dari Guild, para petualang berkumpul untuk kembali melanjutkan investigasi bersama dengan pasukan prajurit kota.
“Ah. Itu mereka...!” Ujar Zen menunjuk ke arah Leo dan Lia yang baru saja tiba.
“Leonard-san...! Alicia-san...! Kami ada di sini...!” Seru Chrea memanggil mereka sambil melambaikan tangannya.
Mendengar panggilan tersebut, Leo dan Lia pun menghampiri mereka sebelum akhirnya menyapa mereka.
“Kalian semua datang... Kalian datang lebih cepat dari yang kami duga...” Ujar Leo melambaikan tangannya datang menghampiri.
“Karena ini adalah perburuan pertama ditemani dua orang petualang terkenal, kami tentunya tidak boleh sampai melewatkannya.” Balas Zen dengan wajah antusias.
“U-Uh... Ya, bisa dibilang begitu. Tepat seperti yang dia katakan...” Balas Gald tersenyum terpaksa sambil menggaruk pipinya.
“B-Begitu ya. Lantas, bagaimana dengan luka kalian berdua? Apa semuanya sudah baik-baik saja?” Balas Leo tersenyum canggung sebelum bertanya kepada Gald dan Zen.
“Aku sudah sepenuhnya sembuh. Ini waktu yang tepat untuk mengujinya.” Jawab Gald sambil meregangkan bahunya semangat.
“Tentu saja. Aku siap kapan pun kalian siap!” Balas Zen dengan senyum percaya diri.
__ADS_1
“Syukurlah kalau begitu...” Balas Leo tersenyum lega mendengarnya.
Leo melihat sekeliling dan menyadari bahwa terlihat beberapa wajah baru petualang yang mengikuti penyelidikan ini. Pada saat yang sama pula, ia menyadari bahwa beberapa petualang juga ikut menghilang. Seperti misalnya party yang sebelumnya Leo selamatkan di dalam tambang, mereka sama sekali tidak terlihat pagi ini.
“(Jadi begitu ya... Selain datang sebagai bantuan tambahan, mereka adalah petualang yang bertugas menggantikan mereka yang mengundurkan diri. Sekarang aku mengerti...)” Ujar Leo dalam hatinya merenung.
Kemungkinan besar, mereka yang mengundurkan diri adalah korban luka yang ikut dalam penyelidikan sebelumnya sekaligus mereka yang ketakutan setelah mengetahui bahaya tambang tersebut. Memang tidak mengherankan setelah semua kejadian sebelumnya menimpa, tidak ada yang salah dengan pemikiran tersebut.
“... Ada apa, Leo?” Bisik Lia bertanya melihatnya terdiam memandangi sekitar.
“Ah. Tidak, hanya saja aku sedang berpikir penyelidikan kali ini jadi jauh lebih ramai...” Balas Leo dengan wajah dingin.
“... Memang benar. Ini menjadi penuh dengan petualang. Tetapi, tidak semuanya ikut kembali dalam penyelidikan kali ini.” Balas Lia ikut melihat orang-orang di sekitarnya.
“Aku harap masalah ini bisa selesai dalam penyelidikan kali ini...”
“... Mm.”
Sambil berharap demikian, Leo pun mengikuti rombongannya yang sudah bersiap untuk memasuki tambang. Setelah pemimpin pasukan selesai dengan persiapannya, mereka semua secara bergiliran memasuki gua. Leo dan party-nya menjadi yang pertama, disusul oleh pasukan dari prajurit pelindung kota di belakang mereka dan regu gabungan dari prajurit dengan petualang.
Melalui jalan panjang dan menuruni elevator, mereka akhirnya sampai di lantai ketiga tempat di mana semuanya bermula. Dengan penuh waspada, Leo dan party-nya melangkah maju membuka jalan bagi yang lainnya sampai pada pintu masuk menuruni tangga menuju reruntuhan tersebut.
“Seperti kata para prajurit, para Golem itu lenyap tanpa meninggalkan jejak...” Ujar Gald melihat sekeliling dengan waspada.
“Ya. Tetap saja kita tidak boleh lengah...” Balas Leo tanpa mengendurkan kewaspadaannya.
“Aneh sekali... Padahal aku punya urusan dengan mereka yang harus diselesaikan...” Sambung Zen dengan nada kesal.
“Kalau kau ingin babak belur lagi, kami tidak keberatan membiarkanmu menghadapi mereka sendirian.” Balas Chrea mengejeknya.
“Hah...? Harusnya kau ingat kalau akulah yang melindungi bokongmu sebelumnya!” Balas Zen marah.
“U-Uh... Zen-kun, Rea-chan...” Ujar Kirishima mencoba melerai mereka namun tidak didengar.
“Dan kau juga harusnya sadar jika bukan karenamu, kita tidak mungkin terpojok seperti sebelumnya!” Balas Chrea mengangkat alisnya kesal.
“Diam kau papan cucian...!” Ujar Zen dengan nada tinggi.
“Kau yang diam ikan tenggiri...!” Balas Chrea berbalik menghinanya.
Keadaan semakin panas di antara mereka berdua. Selagi mereka berdua saling melempar ejekan, Kirishima berusaha melerai mereka. Namun, sayangnya hal itu sama sekali tidak didengar dan mereka terus saja bertengkar.
“U-Uh... Kalian berdua tidak seharusnya bertengkar di saat situasi seperti ini...” Ujar Kirishima mencoba menengahi.
“Kalau begitu harusnya kau melihat ekspresimu ketika kau ketakutan! Jika tanpaku, kau pasti sudah menangis dan mengompol!” Seru Zen marah kepada Chrea mengabaikan Kirishima.
“U-Ugh... Kapten... Mereka tidak mau mendengarkanku...” Ujar Kirishima melihat ke arah Gald dengan wajah cemas.
Pada akhirnya, Gald sendiri yang harus turun tangan melerai pertengkaran mereka.
“Kalian berdua, aku akan mengatakan ini satu kali dan aku tidak akan mengulanginya. Hentikan itu sekarang juga, kita sedang bekerja. Jangan sampai aku mengatakannya dua kali...” Ujar Gald melirik ke arah mereka dengan nada mengancam.
“U-Ugh...! T-Tentu... Tentu saja, kaka- maksudku, kapten...” Balas Zen dengan senyum pucat di wajahnya.
“... Maafkan kami.” Balas Chrea menundukkan kepalanya menyesal.
“Saat ini kita tengah dalam misi penting bersama dengan mereka berdua, aku harap kalian bisa menjaga sikap kalian.” Sambung Gald menasihati mereka.
“Kami menyesal, tolong maafkan kami...” Balas Chrea dan Zen bersamaan.
Gald menghela nafas panjang setelah berhasil melerai pertengkaran mereka. Ia sepertinya terlihat kerepotan bertindak sebagai kakak sekaligus kapten bagi mereka bertiga.
“Maaf untuk yang barusan... Mereka terkadang suka bersikap kekanak-kanakan...” Ujar Gald tersenyum pahit kepada Leo dan Lia.
“Tidak, tidak apa-apa. Itu sudah menjadi hal yang wajar. Terkadang petualang memerlukan sedikit bumbu agar tidak terasa hambar...” Balas Leo mencoba menghiburnya.
“Yah, kadang memang sulit mengatur mereka. Aku harap itu tidak mengganggu pekerjaan kita kali ini...” Balas Gald memalingkan pandangannya pada mereka bertiga di belakangnya.
“Kupikir, mereka cukup akrab.” Ujar Leo sekilas menoleh ke belakang.
“Benarkah...? Kenapa kau berpikir seperti itu?” Balas Gald bertanya heran.
“Orang kedua yang mengenal baik dirimu selain cermin adalah orang yang selalu bertengkar denganmu, itulah yang para penyair katakan untuk menggambarkan sebuah kisah pertemanan.” Balas Leo tersenyum kecil memberitahukannya.
“Aku tidak mengira hal itu... Ternyata kau tahu banyak tentang dunia luar...”
“Kau tahu, terkadang ada sisi baiknya menjadi seorang pengelana...”
“Kukira kau ada benarnya juga... Bagaimana pun, hal itu tidak akan menghalangi misi kita kali ini.”
“Ya, kau benar.”
Setelah perjalanan panjang, akhirnya mereka sampai di kota bawah tanah tempat tujuan utama mereka. Lia menyarankan agar mereka memusatkan penyelidikan pada bangunan menyerupai menara yang ada di pusat kota, tempat sebelumnya ia bertarung melawan makhluk aneh tersebut. Lia menduga masih ada hal yang tersembunyi di tempat tersebut.
“... Jadi begitu. Aku mengerti sekarang.” Ujar Gald setelah mendengar cerita Lia.
“Kita akan menyelidiki bangunan itu terlebih dahulu. Ada hal yang ingin kami pastikan di sana...” Balas Leo dengan wajah serius.
__ADS_1
Gald berpikir sejenak setelah mendengarkan penjelasan Leo. Ia pun mendiskusikannya kepada ketiga temannya sebelum akhirnya ia setuju untuk melakukan penyelidikan pada bangunan tersebut.
“Baiklah, kami akan ikut bersama kalian. Tapi sebelum itu, kita harus menyampaikan pesan terlebih dahulu kepada regu lain. Ada tempat yang aku ingin mereka selidiki juga.” Ujar Gald memberi syarat.
“Tempat mana yang kau maksud?” Balas Lia bertanya dengan nada curiga.
“Itu adalah sebuah jalan rahasia yang ada di ujung tempat ini. Aku rasa, Leonard tahu tempat yang sedang kumaksud...” Balas Gald melihat ke arah Leo.
“Ya, tepat seperti yang dia katakan. Itu adalah tempat ketika aku dan tuan Wein menyelamatkannya sebelumnya.” Ujar Leo meyakinkan ucapan Gald.
“Terdapat jalur yang belum selesai kami jelajahi di sana. Aku ingin mereka menggantikan kita untuk terlebih dahulu menyelidikinya.” Sambung Gald kembali menjelaskan.
Lia merenung sejenak sebelum akhirnya menyetujui syarat Gald. Mereka pun akhirnya mengutus Chrea dan Kirshima sebagai pembawa pesan sebelum akhirnya berangkat menuju bangunan yang Lia maksud.
Dari kejauhan, terlihat bangunan bergaya kuno menjulang tinggi ke langit-langit dengan beberapa bagiannya yang sudah hancur. Sambil menunggu kedatangan Chrea dan Kirishima kembali, mereka memutuskan untuk menahan penyelidikan. Mereka menunggu dan berjaga di luar bangunan sambil memastikan bahwa para Golem tidak kembali muncul.
“Meski kami telah menyelidiki kota ini sebelum kalian, tetapi kami tidak berhasil menemukan petunjuk seperti yang kalian temukan. Aku jadi semakin penasaran apa yang ada di dalam bangunan tua ini...” Ujar Gald melihat bangunan dari luar.
“Entahlah, aku juga kurang tahu. Menurut Lia, bangunan ini mungkin ada hubungannya dengan alasan kota ini berdiri.” Balas Leo ikut melihat ke arah menara.
“Alasan kota ini berdiri...? Aku tidak sempat memikirkannya... Lagi pula, dengan semua keanehan ini, aku tidak punya waktu memikirkan alasan itu...” Balas Gald dengan wajah heran.
“Yah, kurasa kau benar juga. Menemukan jejak peradaban di bawah tanah saja sudah cukup mencengangkan. Ditambah dengan semua kejadian aneh yang menyertainya...” Balas Leo menghela nafas singkat.
Dengan sejumlah pertanyaan di benaknya, Gald melihat bangunan menara itu sambil bertanya-tanya apa rahasia yang berusaha Leo dan Lia bongkar. Bekerja sama dengan mereka berdua adalah kesepakatan mereka, namun setelah mengetahui niat asli mereka, ia jadi tertarik untuk mencari tahu.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Chrea dan Kirishima kembali setelah membawakan pesan kepada regu yang ada di belakang mereka. Dengan ini, mereka sudah siap untuk menjelajahi bangunan menara tersebut.
“Baiklah, apa kalian sudah siap?” Tanya Leo kepada Gald dan teman-temannya.
“Ya. Kami sudah siap.” Jawab Gald dengan nada tegas.
“Kami siap kapan pun kalian siap!” Sambung Zen dengan wajah percaya diri.
Setelah persiapan selesai, mereka pun mulai memasuki bangunan menara tersebut. Lia sebagai orang yang pernah memasuki tempat ini sebelumnya bertugas sebagai pemandu, diikuti Chrea dan Kirishima di belakangnya. Sementara itu, Gald dan Zen berjalan di samping mereka berdua memastikan tidak ada serangan kejutan yang mengarah langsung pada Chrea dan Kirishima, sedangkan Leo berada di belakang barisan sebagai pengawas dan pelindung bagi mereka yang ada di depannya. Dengan formasi ini, mereka akan siap menerima serangan dari arah mana pun sekaligus dapat bergerak dengan lebih efektif untuk membantu yang lain.
Mereka menyusuri ruangan demi ruangan yang sudah ditinggalkan itu. Terlihat beberapa rak buku dan perabotan lama peninggalan orang-orang kuno di beberapa sudut ruangan yang sudah tidak utuh. Hal itu menandakan bahwa tempat ini sebelumnya ditinggali oleh manusia dan menjadi tempat yang cukup penting.
“Tempat ini sangat luas. Tidak seperti bayanganku sebelumnya...” Ujar Zen melihat sekeliling terpukau.
“Entah kenapa, hampir setiap ruangan selalu dijumpai rak buku, meja dan perabotan umum lainnya. Ini menjadikan tempat ini seperti kantor milik pemerintah setempat...” Ujar Chrea melihat sekeliling dengan perasaan heran.
“Jika dipikirkan, letaknya yang berada di tengah-tengah kota membuatnya terdengar masuk akal. Apa mungkin tempat ini adalah pusat pemerintahan kota ini?” Balas Gald dengan pertanyaan di benaknya.
“Jadi, maksudmu ada orang yang berkuasa di sini?” Balas Zen dengan wajah terkejut.
“Entahlah, itu hanya dugaanku saja. Kita tidak akan tahu sampai kita menemukan bukti untuk itu.” Balas Gald menurunkan bahunya kehabisan jawaban.
Pertanyaan yang sama juga mengganggu benak Leo. Sebenarnya, ke mana Lia akan membawa mereka dalam bangunan kuno ini. Semua benda yang mereka lihat selama penelusuran ini memang bisa dijadikan petunjuk, namun entah mengapa Lia sama sekali tidak tertarik dengan semua itu. Ia seperti tengah berusaha mencari sesuatu di bangunan ini.
“(Aku tidak yakin, tapi... Untuk sekarang aku hanya akan mengikutinya saja... Aku tidak tahu apa sebenarnya maksud Lia membawa kami ke tempat ini...)” Ujar Leo dalam hatinya cemas.
Dan tepat ketika mereka melewati ruangan perpustakaan yang sebelumnya pernah dimasuki olehnya, Lia terlihat menghentikan langkahnya sambil berdiri memerhatikan bagian dalam ruangan tersebut dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. Entah kenapa, namun saat Lia melirik ke arah Leo, ia seperti berusaha menyampaikan sesuatu kepadanya.
“(Tunggu dulu... Kenapa Lia memerhatikanku seperti itu...? Apa dia mencoba mengatakan sesuatu kepadaku...?)” Ujar Leo dalam hatinya bingung menanggapi hal itu.
Ia pun kembali meneruskan jalannya ketika rasa penasaran mengganggu pikiran Leo mengenai maksudnya sebelumnya. Terlihat jelas bahwa Lia berusaha memberitahunya sesuatu mengenai ruangan tersebut, namun entah mengapa ia tidak mau mengatakannya. Leo tidak yakin, namun kemungkinan, Lia berusaha menyembunyikannya dari Gald dan yang lainnya. Pasti ada maksud dibalik semua itu.
Lia menghentikan langkah kakinya tepat pada sebuah tangga melingkar yang menunjukkan jalan menuju lantai atas dan lantai dasar sebelum akhirnya ia bicara kepada yang lain sambil menunjukkannya.
“... Kita telah sampai.” Ujar Lia singkat.
“Uh... Tangga? Apa ini yang ingin kau tunjukkan?” Balas Leo menghampirinya sambil bertanya dengan wajah bingung.
“... Mm. Inilah yang ingin kutunjukkan kepadamu.” Balas Lia mengangguk.
“Jika dilihat-lihat, tangga ini cukup mengerikan juga...” Sambung Zen melihat tangga dari atas hingga ke bawah.
“Kau boleh mengompol sekarang jika kau takut.” Balas Chrea mengejek Zen.
“Hah..! Coba ulangi kau papan cucian!” Balas Zen marah.
“Kalian berdua, sudah hentikan!” Seru Gald menengahi mereka berdua.
Leo tidak terlalu mengerti, namun sepertinya Lia berusaha menunjukkan bahwa ada sesuatu yang masih belum diketahuinya di antara dua jalan tangga ini. Kemungkinan, penyelidikannya sebelumnya terhenti karena gempa tempo hari itu. Untuk itulah ia membawanya kemari untuk membantunya menyelidikinya.
“Jadi begitu. Lalu, bagaimana dengan ini, apa yang kau ingin kita lakukan?” Ujar Leo bertanya kepadanya.
“... Aku ingin menyelidikinya. Khususnya, jalan menuju ke ruangan di bawah sana... Aku ingin memastikannya..” Balas Lia dengan wajah serius.
“Memastikan...?” Balas Leo bingung.
“... Mm. Aku ingin memastikan jawaban dari kejadian sebelumnya di sana, di tempat itu.” Jawab Lia menunjukkan ekspresi dingin.
Melihat ekspresinya, Leo seketika menyadari apa yang dimaksud olehnya. Lia memperlihatkan ekspresi yang sama ketika mereka berpapasan dengan ruangan perpustakaan itu. Itu menandakan bahwa Lia mengalami sesuatu di dalam ruangan tersebut dan berusaha mencari tahu sebabnya di sini. Entah apa yang menimpanya di sana, namun Leo hanya bisa memikirkan satu kemungkinan di dalam benaknya.
“(Jadi dia bertarung melawan makhluk aneh itu di sana... Aku mengerti apa yang berusaha ia sampaikan kepadaku sebelumnya...)” Ujar Leo dalam hatinya merenung.
__ADS_1
Entah apa yang ada di bawah sana, namun Lia sangat yakin bahwa semua jawaban yang ia cari selama ini ada di sana. Terlepas dari benar atau tidak, Leo juga ingin mengetahui makhluk apa yang sebenarnya Lia lawan sebelumnya. Apakah jawaban itu akan sekaligus menjadi petunjuk mengenai pertanyaan yang selama ini mereka tanyakan mengenai alasan berdirinya kota di bawah tanah ini?